Oleh Antho M. Massardi

 Pertama, pemimpin yang tidak memenuhi syarat keahlian. Syarat pemimpin yang disepakati para ulama adalah Islam, balig, berakal, lelaki, mampu, kafãh, merdeka, bukan budak asing, sehat panca indera dan anggota badannya. Pemimpin yang tidak memiliki syarat keahlian pasti tidak amanah, karena ia memimpin hanya untuk memenuhi hawa nafsu duniawi, bukan dengan niat tulus untuk beribadah kepada Allãh. Jika pemimpinnya bodoh dan tidak mampu memimpin, pasti tidak amanah, karena ia tidak tahu apa harus dilakukannya. Ia akan diperalat oleh orang lain, sehingga kebijakannya bukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Itu sebabnya Rasulullãh saw. bersabda, “Seutama-utamanya jihad adalah menyampaikan kebenaran dengan kalimat yang benar kepada penguasa yang zalim,” (HR Ibnu Majah).

Kedua, mementingkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya. Pemimpin yang amanah berarti melaksanakan segala kepemimpinannya untuk memenuhi semua amanah rakyat dan bangsanya. Menegakkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Mengembangkan kekayaan negera semata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, bukan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, sebagaimana Fir’aun, Haman, dan Karun.

Ketiga, zalim. Pemimpin yang tidak amanah pasti berkhianat dan zalim kepada pemberi amanah, yaitu Allãh, Rasulullãh, dan rakyatnya. Karena kepemimpinannya diperoleh dengan cara zalim dan hanya untuk menguasai segala kekayaan negara secara zalim, maka yang dipikirkannya juga hanya kemewahan kekuasaan yang diraihnya secara zalim itu, sehingga ia tak peduli kepada apa dan bagaimana penderitaan rakyatnya akibat kezalimannya.

Rasulullãh shallallãhu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya akan datang di tengah-tengah kalian para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang di forum-forum dengan penuh hikmah, tetapi begitu turun dari mimbar mereka berlaku culas, hati mereka lebih busuk daripada bangkai. Barangsiapa yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kesewenang-wenangan mereka, maka aku bukan lagi golongan mereka dan mereka bukan golonganku dan tidak akan dapat masuk telagaku. Barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka, maka ia adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka, dan mereka akan datang ke telagaku,” (HR. at-Thabrani).

Keempat, menyesatkan umat. Pemimpin yang tidak amanah akan melakukan apa saja untuk menyesatkan umat. Mereka membeli media masa untuk menayangkan kebohongan, dusta, narsis, kemewahan, dan berbagai peristiwa bobrok yang menyesatkan, merusak kebenaran dan keadilan. Pemimpin yang seperti ini adalah pemimpin yang berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari Dajjãl laknatullãh. Rasulullãh bersabda, “Selain Dajjãl ada yang lebih aku takuti atas umatku, yaitu para pemimpin yang sesat,” (HR Ahmad).

Kelima, kehancuran dan kerusakan seluruh tatanan sosial masyarakat. Pemimpin yang tidak amanah akan mengakibatkan kiamat. Kiamat berarti merajalelanya segala bentuk kemaksiatan dan kezaliman, seperti korupsi, manipulasi, mafia anggaran, mafia pengadilan, kemiskinan dan ke-musyrik-an, perdukunan, pornografi, minuman keras dan narkoba, perampokan, pembunuhan, dan berbagai tindak kekerasan yang merusak akidah-akhlak-moral agama. Itu sebabnya, Allãh sangat membenci dan sangat keras siksanya kepada pemimpin yang zalim dan khianat.

Pemulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah  “Aku Anak Saleh