Pembaca Budiman,
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional,
mulai 2 Mei 2012, pada tiap hari Rabu selama bulan Mei 2012
Redaksi akan menurunkan tulisan serial tentang pendidikan.
Selamat mengikuti…

=============================================================================================

Pendidikan Karakter dalam Perspektif Holistik Islami

 Oleh DR. Amie Primarni

DR Amie Primarni

Sengaja judul ini diambil, bukan untuk menekankan pada aspek pendidikan karakternya, melainkan pada praksis pendidikan holistik Islami. Selain pembahasan pendidikan karakter telah banyak dibahas, namun menurut saya persoalan filosofi pendidikan yang mendasarinya belumlah menjadi topik yang tuntas terbahas.

Tidak mudah memang untuk mengkritisi perbedaan sudut pandang. Sebagaimana ilmu pengetahuan, selama mereka berlandaskan pada kesepakatan yang berlaku validasi yang dihasilkan akan dinyatakan benar. Sebagaimana pula halnya ilmu pengetahuan, polemik pemikiran pastilah selalu berkembang. Di satu sisi, hal ini memberikan ruang agar manusia menggunakan akal pikiran dan mengoptimalkan kecerdasannya. Namun, di sisi lain –tanpa ada fondasi kuat yang membangunnya– ilmu pengetahuan akan kehilangan arah.

Mengedepankan Unsur Manusia

Dalam kondisi ini, perlu diutarakan terlebih dulu perbedaan yang mendasari pemikiran ini, dan mengapa perlu mendapat perhatian. Dalam dimensi pemikiran Barat, pendidikan karakter didasarkan pada filisofi humanisme, dengan manusia menjadi sentral. Habluminannas, dalam pengertian Islami. Salahkah pandangan ini?

Secara ilmiah, pendekatan humanisme bisa dikatakan ‘berhasil’ (saya tidak menggunakan kata ‘benar’). Namun, menurut saya, pandangan ini tidak holistik. Dalam pendekatannya, kebaikan didasarkan pada ukuran manusia, sementara kita tahu bahwa ukuran manusia sangatlah terbatas. Tetapi dalam kajian yang lebih mendalam, filosofis humanisme –dengan ‘meninggalkan’ Tuhan dalam aspek kehidupan dan ilmu pengetahuan– jelas keliru.

Sementara paradigma holistik, memusatkan Allah sebagai titik pusat, awal dan akhir, serta melingkupinya. Paradigma holistik yang mengemban dua aspek –habluminannas dan habluminnallah– menjadi holistik, dengan tidak meninggalkan salah satu sisinya. Hubungan ini bersifat interrelasi, interkoneksi, dan integrasi. Mereka saling mempengaruhi, saling interdependensi.

(karakterbangkit.blogspot.com)

Dalam kaitannya dengan pendidikan karakter dalam perspektif humanisme, memunculkan sekaligus mengedepankan unsur manusia. Sehingga muncul, misalnya hak azasi manusia, yang seringkali dalam implementasinya menjadi ambigu. Bagaimana kemudian praksis pendidikan karakter dalam perspektif holistik Islami?

Paradigma holistik yang meletakkan Tauhid sebagai titik sentral, senantiasa bergerak mulai dari dan berakhir di sana. Secara praksis, hubungan masjid dan masyarakat menjadi sebuah konsep yang mampu membangun kekuatan karakter individu, sekaligus menjawab konsep hablumminannas dan habluminnallah. Bila dikatakan masjid sebagai titik sentral pembentukan karakter, bukan berarti segala aktifitas hanya dilakukan di dalam dan sekitar halaman masjid belaka. Tetapi esensi nilai-nilai religiuslah, yang harus diusung.

Masjid dan Sekolah

Dalam pandangan holistik Islami, terdapat tiga sumber yang berperan dalam pembentukan karakter individu. Pertama dan utama adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang memberikan potensi positif dan negatif dalam diri manusia melalui potensi fitrahnya. Kedua, adalah orangtua dalam bentuk pola asuh. Dan ketiga, adalah masyarakat sebagai ranah amal saleh. Dalam tataran praksis, saya akan menyoalkan sebuah ilustrasi dan berharap sudah ada yang mengaplikasikan.

(antaranews.com)

Saya mengusung konsep link and match pada masjid dan sekolah, yang dalam pendidikan Islam ditemukannya dalam konsep pesantren. Sekarang bagaimana jika konsep link and match pada masjid dan sekolah kita berdayakan, kita perluas. Misalnya, masjid bekerjasama dengan sekolah terdekat, sebagai sekolah binaan pendidikan karakter.

Program yang bisa dilakukan adalah pengenalan masjid, adab masjid, dan masjid sebagai tempat ibadah. Belajar melalui pengalaman ini merupakan ‘olah rasa’ (meminjam istilah Primadi). Olah rasa dapat mengembangkan aspek intrapersonal, yang menjadikan individu memiliki kepekaan rasa yang tinggi sebagai bagian dari pengendalian emosi.

Adab tertib, merupakan satu fondasi dalam pembentukkan karakter. Adab lain yang dihasilkan dari belajar melalui pengalaman di masjid adalah ‘kepatuhan’. Sikap patuh ini, adalah satu dari sekian unsur pembentukan karakter. Seandainya saja, siswa dilatih untuk ‘antri’ saat wudhu, berbaris rapi saat masuk ke dalam masjid, meletakkan sandal atau sepatu dengan rapi, sebagai bagian dari pengembangan aspek tanggungjawab, maka saya yakin aspek pengembangan karakter dapat tumbuh dalam diri setiap siswa.

Arus Penyadaran Diri

Dalam benak saya pendidikan karakter adalah sebuah proses yang ditumbuhkan, dikembangkan dan dimatangkan secara implementatif. Siswa dihadapkan pada masalah real, yang pada awalnya dibimbing bagaimana menghadapi, menyikapi dan menyelesaikan masalah, tentu saja sesuai dengan kondisi yang ada. Sejalan dengan tumbuh kembang kemampuannya, siswa diberikan keluasan untuk berani mengambil sikap dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Untuk tumbuh, siswa butuh tantangan dalam menghadapi kehidupan yang tidak steril.

(pesantrenluhur.com)

Setelah siswa diperkenalkan dengan adab masjid, tertib shalat, patuh mendengarkan, sikap lain yang dibentuk adalah persiapan menjadi pemimpin. Dengan dimensi masjid sebagai konsep, maka indikator pemimpin dapat memiliki ukuran yang mudah diakurasi. Standar untuk dapat menjadi Imam misalnya, dipilih yang paling baik hafalannya, paling baik bacaannya. Sementara untuk menyebarkan pesan kebaikan, membutuhkan pengetahuan tentang kandungan Al-Qur’an dan Hadits, sejarah Islam dan wawasan keislaman.

Proses menjadikan diri siap memimpin, dalam perspektif holistik Islami dipersiapkan dan dibekali sejak dini melalui konsep masjid sebagai pengalaman belajar. Berbeda dengan pengajaran agama di kelas, yang lebih bernuansa knowledge, siswa hanya dihadapkan pada penguasaan hafalan dan konseptual. Maka dalam implementasi konsep link and match masjid dan sekolah, siswa diajak untuk langsung menerapkannya dalam keseharian.

Saya belum melihat misalnya, ada seorang guru atau pendidik yang menuntun siswanya menuju masjid terdekat untuk bersama-sama menunaikan shalat Jumat. Memindahkan sejenak durasi pembelajaran agama, keluar dari kelas. Meski saat ini sudah ada sekolah yang membangun mesjid di lingkungan dalam sekolah, tetapi rasanya jumlahnya belum banyak. Kalau yang dimaksud untuk membuat gerakan pengembangan pendidikan karakter secara signifikan, konsep link and match masjid dan sekolah harus menjadi kebijakan nasional. Tetapi alih-alih menunggu, mengapa kita tidak memulainya sebagai sebuah arus penyadaran diri, menjadi bagian dari tanggungjawab pendidikan umat.

Wujud Kurikulum Holistik

Dalam bayangan konseptual saya, konsep link and match masjid dan sekolah sudah dapat dimulai sejak Taman Kanak-kanak. Utamanya saat Sekolah Dasar sebagai fondasi mengantar siswa menuju aqil baligh, menyiapkan tanggungjawab pribadi dalam ibadah, dan menuntunnya ke masa yang lebih bergejolak di usia remaja.

(al-yaklu.com)

Ketika mereka beranjak remaja, maka konsep link and match masjid dan sekolah dapat mengakomodir kegiatan yang lebih luas, memberikan mereka wawasan keislaman melalui media teknologi, melihat hasil penelitian dalam perspektif Islami. Musik sebagai bagian dari olah rasa, juga dapat dikembangkan. Olahraga, menjadi agenda yang dikembangkan secara optimum. Selain membentuk tubuh menjadi bagus, olahraga juga bermanfaat untuk mengoptimalkan perkembangan sel-sel saraf otak. Dan di sisi lain, siswa diajak untuk mematuhi aturan main yang telah disepakati. Sikap fairness maupun sportivitas, merupakan unsur yang amat baik dalam pengembangan karakter siswa.

Sehingga semua elemen yang ada dalam diri manusia –elemen intelektual, fisik, emosi dan spiritual– sebagai driving force dapat berkembang secara utuh dan mencapai titik optimumnya.

Konsep ini merupakan sebuah wujud kurikulum holistik yang menggunakan model link and match masjid dan sekolah. Konsep ini juga bisa dikembangkan hingga pendidikan tinggi, menjadi konsep link and match masjid dan kampus. Tentu berbeda dalam bobot pengembangan empat elemen holistik Islaminya. Jika ini diaplikasikan, akan menjawab tantangan terhadap praksis pendidikan holistik.  (tammat)