(energikultivasi.wordpress.com)

Oleh Abdur Rosyid

Berdakwah tidak boleh asal. Harus memakai kiat-kiat jitu, sebagai bentuk usaha optimal agar Allah mengkaruniakan kesuksesan. Berikut ini beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk dakwah yang sukses.

1. Ikhlas lillahi ta’ala. Bagaimanapun juga, ikhlas adalah syarat agar Allah memberikan taufiq dan pertolongan terhadap amalan yang kita lakukan. Jika Allah sudah menjadi penyerta dan penolong kita, siapa yang bisa menghalangi?

2. Selalu berpegang teguh pada norma dan aturan Islam. Karena berdakwah itu mengajak manusia pada norma dan aturan Islam, maka prosesnya pun harus dilakukan sesuai dengan norma dan aturan Islam. Apakah pantas kita mendakwahkan Islam dengan cara-cara yang bertentangan dengan norma dan aturan Islam?

3. Miliki fikrah yang syamilah (komprehensif, menyeluruh, tidak parsial). Islam adalah agama yang syamil. Inilah materi yang mesti kita dakwahkan. Jangan sampai kita menyebarluaskan persepsi yang parsial mengenai Islam.

4. Mu’ashirah (mengikuti perkembangan zaman). Peradaban dan cara hidup manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan ini harus disadari oleh para da’i. Materi yang didakwahkan dan cara-cara berdakwah harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika tidak, dakwah akan dianggap sebagai sesuatu yang kuno, membosankan, dan akan ditinggalkan oleh orang.

(muslimahsetangguhkarang.blogspot.com)

5. Memanfaatkan segenap sarana, tidak hanya dengan kata-kata. Sekarang ini banyak sekali sarana-sarana yang bisa dipakai untuk berdakwah. Dengan sarana-sarana baru ini, diharapkan dakwah akan tampil lebih menarik. Dengan bantuan komputer, slide, video dan multimedia misalnya, dakwah akan terlihat lebih menarik. Demikian pula dakwah jangan hanya sebatas retorika, tetapi harus diiringi dengan keteladanan. Saat ini masyarakat sangat membutuhkan keteladanan di tengah-tengah kehidupan yang tidak karuan. Seorang da’i yang bisa dijadikan teladan akan menjadi daya tarik tersendiri.

6. Think globally, act locally. Di zaman yang sudah serba global ini, kita juga harus memiliki cara berpikir yang global. Jangan sampai pikiran kita sempit dan picik. Meski demikian, tindakan dan aksi tetap harus bersifat lokal, sesuai dengan tantangan, situasi, dan kondisi tempat dimana kita berada.

7. Tidak melupakan dakwah fardiyah. Dakwah bukan hanya berceramah dalam suatu kegiatan tabligh akbar, lalu selesai. Para obyek dakwah memerlukan pendekatan yang bersifat lebih personal. Dengan pendekatan personal, obyek dakwah akan merasa lebih diperhatikan. Di samping itu, pendekatan personal memungkinkan mutaba’ah (evaluasi) terhadap obyek dakwah, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh forum-forum besar seperti majelis taklim dan tabligh akbar.

8. Perhatikan pentahapan dan fiqih prioritas. Jangan tergesa-gesa ketika berdakwah. Untuk bisa menjadi baik, seseorang butuh proses, dan proses butuh waktu. Perubahan menjadi lebih baik harus dilakukan perlahan-lahan, tidak bisa berlangsung seketika seperti membalik telapak tangan. Beban-beban ibadah harus diberikan secara bertahap, mulai dari yang paling ringan, kemudian meningkat lebih berat, kemudian lebih berat lagi, dan demikian seterusnya.

9. Tahu medan dan menyesuaikan diri dengan medan. Seorang da’i harus mengetahui medan dakwahnya. Masyarakat seperti apa yang dihadapi. Permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Tantangan-tantangan apa saja yang ada dan berpotensi menghadang. Demikian pula bahasa apa dan cara seperti apa yang disukai oleh masyarakat. Hendaknya seorang da’i berdakwah dengan menggunakan bahasa kaumnya, dan menyesuaikan kadar akal mereka.

(ikhwanulmuslimin89.blogspot.com)

10. Para da’i hendaknya memiliki bekal yang mencukupi, baik itu bekal ruhiyah (spiritual), tsaqafiyah (ilmu dan wawasan), maliyah (finansial), jasadiyah (fisik), maupun idariyah (manajerial). Tanpa bekal yang cukup, seorang dai pasti akan merasa berat atau bahkan tidak mampu untuk menanggung beban dan menghadapi tantangan-tantangan yang ada selama berdakwah.

11. Jaga ukhuwah dan soliditas, hindari perpecahan, dan kedepankan syura. Berdakwah membutuhkan amal jama’i (kerjasama, teamwork), bukan amal nafsi-nafsi. Karena keniscayaan amal jama’i inilah, ukhuwah dan soliditas menjadi sangat penting. Sebaliknya, perpecahan akan melemahkan dakwah. Untuk bisa menguatkan ukhuwah dan soliditas, hendaknya kita menjunjung tinggi prinsip syura (diskusi). Pecahkanlah dan bahaslah permasalahan-permasalahan penting melalui syura. Jika syura dilakukan dengan baik, insyaAllah potensi perpecahan akan bisa diminimalkan.

12. Perhatikan kaderisasi. Dakwah adalah sebuah proses yang panjang. Lebih panjang dari umur seorang manusia. Lebih panjang dari umur satu generasi. Untuk itu, diperlukan kaderisasi agar dakwah bisa terus berjalan dari generasi ke generasi. Kaderisasi penting untuk memastikan ketersediaan para da’i yang berkualitas dari generasi ke generasi, dari waktu ke waktu.

13. Lakukan staffing dan pengorganisasian SDM sesuai dengan potensi. Ini penting dilakukan agar setiap orang mendapatkan peran terbaik dalam amal dakwah. Harapannya, hasil dakwah pun bisa maksimal. Penempatan SDM yang salah akan menyebabkan inefisiensi, dan bahkan ketidakpuasan dan gejolak. Ini tentu saja kerugian bagi dakwah.

14. Terapkan manajemen yang baik. Sudah sama-sama diketahui bahwa kejahatan yang terorganisasi bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi. Agar ini tidak terjadi, kebaikan harus di-manage dengan baik. Tidak terkecuali dakwah. Manajemen dalam dakwah meliputi banyak hal. Mulai dari analisis, perencanaan (long-term, mid-term, short term; strategis, taktis, teknis), implementasi, kontrol dan evaluasi.

15. Padukan antara fiqih dakwah dan management tools. Seorang da’i mesti memahami fiqih dakwah sebelum berdakwah. Namun fiqih dakwah saja tidak cukup, karena fiqih dakwah hanya sebuah konsep. Diperlukan juga tools yang bersifat praktis untuk mendukung konsep-konsep fiqih dakwah yang sudah dipahami. Tools itu tidak lain adalah management tools.

(Dikutip dari: http://menaraislam.com/content/view/170/37/)