Ambon, Pemangku Adat
yang Kehilangan Bahasa

Oleh Cici A. Ilyas

Kalau sekarang kita ngomong “Ambon”, mungkin yang langsung muncul di kepala adalah rusuh, konflik berbau sara yang menyeramkan. Maka gak heran waktu saya bilang mau ke Ambon, banyak temen yang buka mata lebih lebar. “Hei…, hati-hati!” Paling sedikit ya begitulah pesannya.

Cici A. Ilyas

Lalu sampailah saya di sana. Teman yang sudah lebih dulu saya kontak dari Jakarta menjemput saya. Meski baru kenalan, ternyata dia begitu ramahnya. Sikapnya itu membesarkan hati saya untuk melangkah lebih jauh sesuai niat. Dan faktanya, ternyata orang Ambon sesungguhnya memang ramah. Tidak sedikitpun saya temui kesulitan selama bergaul di sana.

Dari teman-teman baru yang semuanya tulen nyong Ambon itu saya belajar banyak hal. (Oya, saya saya kasih sisipan dulu sedikit. Tahun 1988 an dulu saya juga pernah mengunjungi pulau-pulau kecil di Malutuku Tenggara). Oke, nah dari kunjungan saya Desember kemarin, ternyata kesan saya tentang orang Ambon atau Maluku pada umumnya gak berubah. Mereka tetap para pemegang adat yang patuh. Mungkin karena tatanan adat di sana terjaga dengan baik. Sebab dalam kepemerintahan, kepala desa umumnya diangkat dari para raja yang secara adat berkuasa atas negeri atau desa masing-masing.

Baik negeri yang berpenduduk muslim maupun negeri yang berpenduduk Kristen, semuanya menganut budaya pela gandong. Pela, katanya, hubungan kekerabatan dari adanya hubungan baik yang saling menguntungkan seperti hubungan dagang dan sebagainya. Sedangkan gandong itu hubungan sekandung dari nenek moyang, yang terpisah oleh nasib atau jalan hidup. Baik pela maupun gandong tidak memandang perbedaan agama. Mereka sadar dalam perjalanan hidup gandongnya bisa saja menikah dengan suku bangsa lain dan memeluk agama lain. Tapi saudara tetap saudara. Maka bukan hal aneh di sana bila umat Kristen membantu gandongnya yang muslim membangun masjid dan sebaliknya.

Dari adanya budaya itu, mestinya gak terjadi konflik berbau SARA di Ambon. Tapi kenapa justru Ambon dengan pela gandongnya yang jadi sangat rawan isu tersebut? Pertanyaan itu gak bisa saya tahan, dan meluncur begitu aja pas ada kesempatan bincang-bincang dengan para tetua adat. Ternyata baik dari pihak Kristen maupun Muslim jawabannya senada. Intinya mereka sendiri bingung, bagaimana hal itu bisa terjadi hingga sedemikian rupa. Sebab dalam hubungan pela gandong tidak mungkin bisa terjadi konflik sebesar itu. Kalaupun kelompok A tidak berpela dengan kelompok B misalnya, tapi para tetua adat mereka selalu berusaha saling menjalin komunikasi untuk pembinaan masyarakatnya secara adat. Dengan begitu konflik-konflik kecil selalu bisa segera teratasi.

So…, siapa dong ya, biang keladi yang bikin rusuh? Kalau dibilang ada yang gak kasat mata, kok kesannya jadi kayak cerita di “dunia lain” ya…. Hahaha.

Ok deh, saya lanjut aja. Lalu saya pergi ke Leihitu, satu kecamatan di wilayah Maluku Tengah. Di sana, tepatnya di desa Keitetu terdapat masjid tua Wapauwe, yang jadi saksi sejarah masuknya Islam di Maluku. Masjid ini dibangun tahun 1414. Tertulis dalam prasastinya: “Orang kaya Alahahulu bada tahun 1414 di Wawane. Tahun 1614 dipindah oleh Imam Rijalli ke Tehalla, 6 km sebelah timur Wawane.Tahun 1664 masjid turun ke negeri Atetu, lengkap dengan peralatan ibadahnya.” Ciri khas bangunan masjid ini, karena pada bangunan induknya tidak menggunakan paku.

Setelah mengunjungi tempat bersejarah itu saya pergi ke desa atau negeri Hitu Lama. Saya sempat berbincang juga dengan rajanya yang bernama Silhana pelu. Dari perbincangan itu saya kembali dapat kejutan. Ternyata sejak kepemerintahannya raja Silhana ini telah menghidupkan kembali hukum cambuk yang selama beberapa generasi sebelumnya sempat ditinggalkan. Hukuman itu di tujukan buat para warga yang ketahuan mengkonsumsi narkoba, miras, atau melakukan kejahatan. Hasilnya?

“Alhamdulillah, angka kriminalitas di sini sangat kecil. Karena saya juga tidak pandang bulu dalam penerapan hukum. Siapapun yang bersalah, mau dia warga yang usianya lebih tua, atau bahkan saudara,” kata sang raja.

Huuufh…, saya sempat merinding juga. Bagus sih hasilnya. Tapi nyambuk orang pake rotan, gimana rasanya ya….? Gimana juga yang ngerasain pecutannya….., hi….!!! Anehnya semua patuh-patuh aja tuh. Konon, gak seorang pun warga yang protes.

Sebenarnya gak perlu waktu seminggu buat menyelesaikan perjalanan di pulau Ambon. Karena jarak dari ujung utara ke ujung selatan hanya terbilang dalam hitungan puluhan km saja. Tapi banyak momen yang saya tunggu. Sambil nunggu itu saya terus melangkah dan menajamkan penglihatan.

Dalam tulisan tersendiri saya sudah berbagi tentang kali adat Waai Salaka yang dihuni ratusan morea (moa), pantai Natsepa yang terkenal dengan rujaknya, juga tentang Benteng Amsterdam di daerah Hila. Ternyata ada yang lebih seru lagi terkait peninggalan sejarah. Yaitu saat saya coba mengungkap asal muasal suku Ambon.

Dalam banyak tulisan saya baca, “Pada tahun 1575, saat dibangunnya Benteng Portugis di Pantai Honipopu, yang disebut Benteng Kota Laha atau Ferangi, kelompok-kelompok masyarakat kemudian mendiami sekitar benteng. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut kemudian dikenal dengan nama soa Ema, Soa Kilang, Soa Silale, Hative, Urimessing dan sebagainya. Kelompok-kelompok masyarakat inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Ambon.”

Mumpung lagi di sana, pastinya saya berhasrat besar mengunjungi pantai itu. Tapi waktu saya Tanya dimana pantai Hanipopu dan benteng Amsterdam, orang-orang yang kebetulan saya temui bingung menjawabnya. Salah seorang teman saya menunjuk satu tempat dengan nama berbeda, tapi teman yang lain tidak yakin. Kalau mereka bingung, ya… apalagi saya. Sejarah gitu lo….!

Lalu kami pergi ke Musium Negeri Siwalima. Di sana kami mendapat penjelasan akurat tentang lokasi yang kami cari itu. Ternyata monumen yang dalam guratan sejarah bernama benteng Amsterdam itu adalah yang sekarang mereka kenal sebagai Benteng New Victoria. Penggantian nama terjadi setelah Belanda berhasil merebut wilayah Ambon dari tangan Portugis. Victoria berarti kemenangan. Benteng ini terletak di depan lapangan merdeka. Sedangkan mengenai pantai Honipopu diperkirakan adalah lokasi yang sekarang lebih mereka kenal dengan nama pantai Losari (mirip namanya dengan pantai yang ada di Makassar). Ealah….! Sosialisasinya kurang banget kali ya…..?

Saya pun gak mau buang waktu buat meluncur ke benteng New Victoria. Ow…ow…., tapi sayang niat itu kudu tersandung birokrasi. Gak bisa masuk tanpa perijinan lengkap, karena kini situs sejarah tersebut telah menjadi Markas besar TNI AD. Bahkan menurut info yang saya dengar, sebagian ruangnya sudah dialihfungsikan jadi asrama atau mes. Yeaaah…., bingung lagi deh. Kok situs bersejarah dibegitukan ya….?

Saya terus jalan dan jalan. Langkah saya sampai ke daerah Siri untuk melihat kehidupan nelayan. Saya langsung ke pantai, berbasa-basi dengan beberapa orang yang lagi ngobrol untuk menyampaikan maksud kedatangan saya. Mereka menyambut baik, dan seorang diantaranya langsung mengacungkan tangan, meminta dialah yang diwawancara.

Begitu kamera terpasang orang itu pun langsung nyerocos sendiri. Dengan bahasa Ambon yang sedikit-sedikit mulai saya mengerti, dia minta pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki kehidupan mereka. Tapi dari bau mulutnya saya dan teman-teman pun langsung sadar, bahwa yang kami hadapi adalah nelayan yang lagi mabuk sopi di tengah hari bolong.

(Memang ada dilemma tentang sopi. Minuman dari air sadapan pohon sagu ini memiliki kandungan alkohol hingga 50%. Karena itu pemerintah melarang untuk dijual bebas. Tapi di sisi lain sopi adalah minuman khas yang biasa jadi pelengkap upacara-upacara adat. Dengan sendirinya sopi sudah begitu mengakar dalam kehidupan orang Ambon. Maka karena adanya kebutuhan khusus itu, produksinya terus berjalan hingga penyalahgunaannya pun bisa terus berjalan juga).

Kita lanjut. Saya tahu teman kameramen hanya menghadapkan kamera tanpa menyalakannya. Saya sendiri langsung mengkeret takut (ya… namanya ngadepin orang mabuk gitu….). Untunglah nelayan yang lain cepat mengatasi, memberi pengertian untuk bicara bergantian. Nelayan yang dianggap senior pun mereka panggil. Wawancara beralih. Tapi begitu selesai nelayan muda tadi kembali merangsek untuk memuntahkan unek-uneknya. Dengan sedikit basa-basi saya pun segera menghindar, menyusul teman yang sudah lebih dulu mengarahkan kamera ke laut. Kami pun membuang pandangan ke alam lepas sana.

Maaf, saya kehilangan kata buat mengungkap kesan tentang mereka. Gimana ya, mengeluh soal kesulitan hidup, tapi uang yang dihasilkan dihambur buat ber-sopi-ria….

Hari yang lain saya melakukan pengambilan gambar di Pintu Kota kecamatan Nusaniwe. Inilah tempat yang paling saya sukai. Sebuah karang menyembul di pinggir laut, membentuk gapura. Dari bagian atasnya yang agak rindang kita bisa membebaskan pandangan ke laut Banda. Sayangnya tempat ini belum tergarap baik sebagai lokasi tujuan wisata. Tidak ada penginapanj di sekitarnya.

Kemudian saya pun melanjutkan langkah memasuki hutan sagu. Upss…., banyak duri-duri sebesar jarum tangan di pelepah pohon yang jatuh merintang. Kudu ekstra hati-hati jalan di sini, karena tanah yang saya pijak juga becek. Tapi di sini saya dapat pengetahuan lumayan.

Saya menemui sekelompok orang yang sedang (istilahnya) pukul sagu. Nah, siapa bilang sagu sebagai makanan pokok orang Ambon sudah tergeser oleh beras? Nyatanya mereka masih ada. Mereka menjadi bukti, karena mereka memang hanya memproduksi sampai menjadi sagu mentah, untuk kebutuhan membuat papeda (nama makanan pokok orang Ambon). Bagian dalam batang sagu mereka hancurkan dengan nani (pisau pisau dari bambu). Ada juga yang sudah menggunakan mesin giling. Serbuk kasar itu kemudian dibawa ke tempat penyaringan dan diperas. Air perasan dialirkan pada saluran khusus dan pati sagu dibiarkan mengendap. Sagu mentah yang dihasilkan kemudian ditempatkan dalam tumang (wadah anyaman dari daun sagu). Mereka menjualnya ke pasar pe-satu tumang ini. Penjual di pasarlah yang nanti akan membentuknya lagi menjadi per-setengah kilogram.

Dari situ saya jadi tergiur buat mencicipi papeda. Banyak juga restoran yang menjualnya. Dan ternyata rasanya…. Wuwnaaak! Sepintas memang kayak mau makan lem panas-panas. Tapi setelah diguyur kuah ikan yang beraroma rempah dengan rasa asem-asem pedes…, woooow!

Satu pengalaman yang cukup berarti saya temui waktu saya dapat undangan menghadiri upacara adat pemasangan atap baileo di negeri Hutumuri. Saya memang gak menyaksikan seluruh proses di belakangnya, tapi justru cerita mereka bikin saya geleng kepala. Saya gak mengira kalau pemasangan atap untuk sebuah tempat pelaksanaan upacara adat sebegitu serius dan rumitnya.

Jauh hari sebelum pemasangan itu mereka mereka harus survey ke belantara dulu, untuk mencari kayu yang paling tepat dijadikan auneng. Sampai kemudian ditemukan akar beringin yang menjuntai lurus di pohon durian, sepanjang kurang lebih 20 meter. Dapat dibayangkan, berapa tua pohon beringin itu, bila akarnya saja sudah bisa dijadikan tiang utama untuk atap bangunan. Dari mulai pengambilan, lalu membawanya ke dalam negeri sampai meletakkannya, katanya auning itu tidak boleh menyentuh tanah. Tidak boleh juga kita lewat di kolong, apalagi melangkahinya. Konon bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kedengarannya agak-agak menyeramkan.

Kesibukan yang luar biasa pun terlihat pada malam menjelang hari H itu. Sebagian masyarakat bergotong royong menyelesaikan bagian bawah baileo yang masih perlu penuntasan. Para pemimpin soa mengarak perlambang soanya masing-masing. Ada kodok, ular, burung dan lain-lain. Tabaos (semacam juru kabar) berhalo-halo mengingatkan penduduk yang masih di rumah untuk bersiap-siap esok hari. Sementara para pengisi acara sibuk latihan.

Karena mereka menari sambil nyanyi laku berbahasa local, iseng-iseng saya Tanya orang di sebelah saya. “Artinya apa ya…?”

“Mungkin yang nyanyinya saja tidak tahu,” jawabnya.

Ha…., cerita apa lagi ini? Dari teman saya akhirnya terkuak satu kenyataan lagi, bahwa mereka yang di Ambon khususnya sudah lama kehilangan bahasa lokal. Mereka hanya tahu bahasa Ambon. Padahal disetiap negeri dulunya punya bahasa sendiri-sendiri. Sekarang bahasa itu hanya tersisa pada nyanyian untuk acara-acara adat. Yang mengerti, katanya, paling hanya para tetua adat. Parahnya lagi, mereka juga tidak punya bahan tertulis untuk mempelajari ulang.

OMG….! Pikiran saya langsung melayang ke tanah Jawa. Di sini bahasa Betawi saja sudah beragam , bahasa Jawan beragam, begitu juga bahasa Sunda. Gak kebayang kalau sampai bahasa-bahasa itu lenyap, lalu kita cuma kenal satu bahasa sehari-hari saja, Betawi, sunda atau Jawa. Terus gimana juga kita bisa mendalami budaya masing-masing….?

Yeah…, tapi itulah fakta. Dan saya hanya bisa mengabarkan. Cuaca ekstrim selama di Ambon akhirnya bikin saya batuk berat. Padahal tiket sudah terkirim lagi dan besoknya saya harus terbang ke Papua. Jadi…, ya saya tuntaskan perjalanan Ambon sampai di sini, karena saya perlu istirahat dulu. Salam….!

Penulis adalah mantan Redaktur Majalah Amanah