Semut.. Semut.. Semut..!

Oleh Cici A. Ilyas

Cici A. Ilyas

Tadi Cuneng main ke halamannya mas Yayok. Di sana ada semut. Mas Yayok lagi teriak “semut!” Lalu kita ngomong soal semut. Tahukah kalian, semut, kalau kalian bikin kita ketawa-tawa?

Tahukah kalian, semut, kalau kalian  bisa dibikin cerita lucu? Ah, Cuneng jadi perhatiin kalian, yang sekarang berarak di depan meja tulis. Kalian telah mengambil remah roti, dan memboyongnya rame-rame.

Semut.. semut.. semut..

Cuneng jadi pengen tanya nih, kalian ngerti soal  gender gak ya..? Cuneng tahu kalo yang bertelur, pasti semut betina. Tapi kalo yang ngegotong-gotong itu semut jantan, apa sama betina juga? Kalau semuanya jantan, ternyata kalian gak kalah romantis, deh, sama manusia. Tapi, apa kalian ngerti soal cinta juga ya..? Atau kalian asal kawin saja, mengikuti insting, hingga bertebaranlah telur-telur kalian itu.

Ah, Cuneng jadi pengen cerita sama kalian. Mut, di sini kita mengenal apa yang namanya cinta. Rasa itulah yang dijadikan landasan orang untuk menikah. Tapi sekarang makin banyak orang mempertanyakan kemurnian cinta. Karena faktanya banyak tipu muslihat berkedok cinta, yang terbongkar di ujung pernikahan. Menyedihkan ya, Mut..

Mut, kalau kamu saksikan yang seperti itu,  kamu harus merasa sebagai makhluk yang beruntung. Bagaimana pun cara kawin kalian, Cuneng yakin, tidak ada anak-anak kalian yang jadi korban. Beda sama kami, manusia. Karena apa yang terjadi pada orang tua, anak akan ikut  menanggung bebannya.

Tapi kalian jangan ge-er ya Mut. Bukan berarti dalam keberuntungan itu, kalian bisa mengajak Cuneng ke dalam dunia kalian. Karena tidak ada dinamika di sana. Kalian  tahu dinamika? Pastilah tidak, karena kalian semut dan dinamika cuma ada di alam manusia. Nah, lepas dari baik-buruknya, lepas dari menyenangkan ataupun menyakitkan, manusia hidup butuh dinamika. Jadi Cuneng, juga siapa pun, tetap harus selalu siap menghadapi dinamika yang ada, supaya hidup jadi lebih hidup.

Semut.. semut.. semut..

Cuneng memang tidak dalam dinamika yang buruk. Tapi. gak tahu kenapa ya.. Malam ini Cuneng lagi pengen berdoa. Cuneng ingin mendoakan sahabat Cuneng, saudara, tetangga, atau siapa pun, yang sedang sedih dan gundah, karena terlibat dalam satu dinamika yang kurang menyenangkan. Mudah-mudahan mereka diberi kekuatan. Karena kalau sudah begitu, Mut, manusia tidak bisa lain kecuali sabar, berusaha ikhlas, tawakal dan tetap bersyukur. Kalian jangan bilang Cuneng konyol ya, Mut. Orang lagi duka, kok, disuruh bersyukur. Karena kalian pasti gak tahu juga, kalau rasa syukur menerima ujian itu adalah obat paling mujarab untuk lara hati..

Mut, kayaknya kita ngobrol sudah cukup panjang ya. Cuneng mau balik kerja lagi. Tolong sampaikan salam Cuneng, buat mas Yayok. Jangan kalian berniat menggodanya, karena kalian tidak akan mampu. Jangan pula kalian menggigitnya, karena dia sahabatku. Ambil saja sedikit remah yang dia punya, dia pasti akan tersenyum pada kalian. Hai, satu pesan lagi. Jangan tergiur, meski manis senyumnya itu memang layak buat kalian gerumuti. Okay, Mut..?

(Cikarang, 08042011)

Penulis adalah mantan Redaktur Majalah Amanah