Maulid versus Valentine

(dikutip dari kiriman Assalam Putra)

Foto: Istimewa

Begitu mendengar kata Valentine pasti tersontak di dalam otak kita dengan warna pink, yang girly itu.

Segala macam aneka bunga berwarna pink/merah muda baik bunga yang dipetik asli dari pohonnya ataupun bunga-bungaan menghiasi setiap sudut toko atau supermarket. kartu-kartu ucapan selamat yang umumnya berlogo cheo pad (dewa cinta dalam keyakinan Romawi kuno), hotel-hotel dan restoran mewah menyediakan paket Valentine, siaran radio dan televisi disusun sedemikian rupa untuk memeriahkan hari Valentine yang jatuh tiap tanggal 14 Februari.

Sejarah Hari Valentine

Beberapa referensi menjelaskan bahwa hari Valentine adalah hari kasih sayang bangsa Romawi yang menganut Animisme yang dirayakan semenjak 17 abad yang silam, sebagai ungkapan kasih sayang Dewa.

Peringatan ini berasal dari sebuah legenda bahwa Romelius pendiri kota Roma disusui oleh seekor serigala sehingga ia tumbuh menjadi orang yang berbadan kuat dan berakal cerdas.

Maka bangsa Romawi mengabadikan peristiwa tersebut pada pertengahan bulan Februari dengan prosesi perayaan sebagai berikut: “Seekor anjing dan domba disembelih, lalu dipilih dua orang perjaka yang berbadan tegap untuk dilumuri tubuhnya dengan darah anjing dan domba. Setelah dilumuri darah anjing dan domba mereka dimandikan dengan air susu. Lalu diarak keseluruh penjuru kota sambil memegang cambuk yang terbuat dari kulit. Di sepanjang jalan para wanita Romawi menyambut hangat lesatan cambuk ke tubuhnya, karena diyakini berkhasiat menyembuhkan penyakit dan mudah mendapat keturunan”.

Hubungan Valentine dengan Perayaan Kasih Sayang

Valentine adalah nama seorang penganut Kristen yang dibunuh oleh Claudius pada tahun 296 M. melalui sebuah penyiksaan karena dia pindah agama dari seorang penganut Animis Romawi menjadi seorang Kristiani.

Setelah bangsa Romawi memeluk agama Kristen, mereka tidak membuang tradisi Animis tersebut, tetapi menggantinya dengan memperingati hari kematian Valentine sebagai tokoh penyebar cinta dan damai dan prosesi peringatannya dimodifikasi.

Mereka membuat sebuah perkumpulan massa, lalu menulis nama-nama wanita yang telah memasuki umur nikah pada lembar kertas, lalu digulung. Kemudian dipanggil seorang pemuda untuk mengambil satu kertas dan membukanya. Nama wanita yang tertulis di kertas tersebut akan menjadi pasangannya selama setahun, andai setelah satu tahun hidup bersama tanpa nikah mereka merasa serasi mereka melanjutkannya dengan pernikahan. Andai tidak ada keserasian maka pada hari valentine tahun mendatang mereka berpisah.

Perayaan ini ditentang oleh para tokoh agama saat itu dan mereka mengeluarkan larangan memperingatinya, karena dianggap merusak akhlak para pemuda dan pemudi. Tidak ada informasi yang jelas tentang siapa yang menghidupkan kembali tradisi ini. Beberapa cerita mengungkapkan bahwa di Inggris orang-orang memperingatinya sejak abad XV M.

Dari penjelasan di atas, seharusnya kita mampu berpikir manakah yang akan memberikan manfaat dan manakah yang memberikan mudharat.

Hukum bagi umat muslim yang merayakan Valentine para ulama’ sepakat mengharamkannya. Alasannya:

1. Dari asal-usulnya kita ketahui bahwa perayaan hari Valentine adalah suatu upacara suci orang-orang Romawi yang Animis sebagai ungkapan cinta kepada dewa mereka.

Tradisi ini adalah tradisi syirik tak ubahnya bagaikan ritual orang-orang Arab penyembah berhala mengungkapkan cinta berhala yang berada di sekeliling Ka’bah dengan cara mengelilinginya dalam keadaan telanjang tanpa memakai sehelai benangpun sambil bertepuk tangan dan bersiul, sebagaimana yang Allah jelaskan: “Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukatangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu“. (Q.S. Al Anfaal: 35).

Lalu tradisi ini dihapus Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam setelah menaklukkan kota Mekkah dan membersihkannya dari kesyirikan, dan Allah mengancam orang-orang yang melakukannya dengan siksaan yang pedih.

2. Sebagain besar umat Islam yang ikut merayakan Valentine dengan saling berkirim kartu ucapan atau menghadiahkan bunga mawar atau saling berkirim surat cinta atau ikut mengadakan atau hanya sekedar menghadiri acaranya.

Umumnya mereka mengajukan alasan sebagai berikut:

– Para pemuda-pemudi beralasan bahwa mereka hanya memanfaatkan kesempatan Valentine untuk mencari pasangan hidup yang setia

.- Para pria dan wanita yang sudah berumah tangga beralasan bahwa hari Valentine adalah kesempatan untuk melanggengkan rumah tangga dengan saling mengungkapkan rasa cinta.

– Orang-orang yang memiliki teman sejawat, sekantor, seprofesi yang beragama Kristen beralasan bahwa hari Valentine adalah kesempatan untuk mempererat hubungan. Alasan yang mereka ajukan laksana menegakkan benang basah, sadar ataupun tidak mereka termasuk dalam ancaman sabda Rasulullah: “Barang siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka dia dia adalah bagian dari kaum tersebut.” (H.R. Ahmad)

3. Kemudian umat Kristen Romawi mengadopsi tradisi ini dengan merayakan kematian Valentine sebagai lambang penebar cinta dan damai. Akan tetapi itu cuma slogan karena prosesi perayaannya tak lebih dari kesempatan mencari pasangan haram untuk setahun kedepan bagaikan kucing yang mencari pasangannya untuk musim kawin di bulan Februari.

Dan ini bertentangan dengan ajaran Kristen sehingga para pendeta melarangnya. umat Kristen saja melarang, kenapa kita malah menghidupkannya?

Valentine adalah bid’ah sayyi ah (bid’ah yang jelek).

Alangkah lebih baik, bila kita di bulan Februari –pada 05 Februari 2012 merupakan peringatan Maulid Junjungan Nabi Besar Muhammad saw– sebaiknya membaca Shirah Nabawiyyah (cerita-cerita Nabi). Contohnya Maulud Thiba’I, Al-Barjanzi, dan Shimthud Duror.

Mari, kita jadikan Junjungan Nabi Besar Muhammad saw sebagai Kekasih, sebagai suri tauladan yang baik..

(Ella – Komala Ahadiati)