Mari Bertengkar Sehat

Foto: Istimewa

MENIKAH adalah belajar menghadapi jatuh bangun.
Membangun sebuah mimpi dan cita, berwujud rumah indah pernikahan, berfondasi iman yang kuat. Berharap semua pasangan menginginkan kehidupan yang dibayangkan indah itu, akan selalu hadir sepaket dengan adanya kebersamaan maupun keharmonisan yang terlingkupi cinta, setia, sayang dan kasih.

Tetapi, akankah bisa proses membangun itu berjalan mulus?
Sandungan serupa batu dan duri, pasti jadi halangan…

Cinta yang diibaratkan kayu, lantas melapuk dimakan waktu. Rayap, serupa orang ketiga, hadir menggerogoti fondasi rumah yang indah. Butuh treatment untuk menjaga kualitas kayunya tetap terjaga. Sebegitu juga ekstra kerja keras memilih pembasmi jitu, agar si rayap tak lagi datang mengganggu.

Pasangan menikah manapun, mungkin sedang mati-matian juga menjaga fondasi rumahnya supaya tak rubuh. Inilah ujian yang sama-sama kita lakoni, bahkan mungkin akan lebih sulit dari sekadar ujian akhir semester atau ujian masuk perguruan tinggi.

Butuh belajar ekstra, tak hanya suami, istri pun iya. Tak bisa mengandalkan belajar sistem kebut semalam, karena memang harus belajar setiap hari, setiap saat. Dan sewaktu-waktu kaki terjegal langkah, kita telah siap diri bangun dari kejatuhan, karena kita telah pernah belajar menghadapi rasa sakit sebelumnya.

Pada sebuah kehidupan pernikahan, ada hal yang ingin sebisa mungkin kita hindari. Bertengkar. Tapi bisakah?

Kadang, agak susah mengakomodir dua keinginan yang berbeda, dari dua pribadi beda karakter, beda selera. Memunculkan banyak versi, ada yang rela mengalah demi kebaikan atau demi pasangan. Ada yang teguh kukuh tak mau mengalah,  ada yang memanfaatkan kuasanya, mengandalkan ego agar keinginannya terpenuhi, tak pernah sudi mengalah.

Pertengkaran, seharusnya membuat banyak pasangan belajar, menyibak yang sama-sama dimaui, diingini. Tentang segala hal yang dirasa, dialami atau dihadapi. Ini seperti sebuah peledakan segala yang menyumpal dada, menyumbat otak, asal jangan sampai mematikan rasa. Bertengkar yang mungkin akan jadi melegakan, jika kita bisa sama-sama menguasai diri, pun mengolah emosi dengan
baik.

Saya tak menganjurkan kalian bertengkar dengan pasangan, toh saya sendiri pernah mengalaminya, meski tak sering. Hanya saja jika ini harus terjadi, setidaknya ada beberapa batas yang harus dipagarkan, agar tak melewati koridor. Agar pertengkaran tak hanya menjadi sekedar adu urat dan otot semata. Debat tanpa hasil, tanpa win-win solution yang bisa menjembatani dua keinginan.

Sekedar beberapa tips bertengkar sehat, dari saya pribadi..

1. Pilih masalah

Siapa pun pasti kesal dan kecewa, jika pasangannya bikin gregetan dan makan hati, memicu diri untuk melawannya. Demi ego, jika perlu harus memenangkan ‘pertarungan’. Tak disadari, justru makin dilawan malah kian memperuncing masalah. Butuh bijak ternyata, untuk bisa memilah: Mana masalah yang harus dibicarakan dan yang harus diselesaikannya saat itu juga.

2. Waktu dan tempat yang tepat

Bertengkar dan berdebatlah jika memang harus, di waktu dan tempat yang tepat tentunya. Tak mudah, meski berarti harus menahan diri agar emosi tak meledak. Seburuk apapun masalah yang membentur kehidupan sebuah keluarga, hendaknya gejolak itu diredam di dalam.
Memunculkannya di luar, malah hanya akan mengumbar aib dan mempersilahkan orang lain mengintip private room kita dan pasangan.

3. Tak egois melebarkan masalah

Kesal karena dia datang terlambat menjemput, itu wajar. Tapi menjadi tak benar, jika lantas kekesalan itu merembet ke hal lain. Sisi egois yang kuat lalu dimunculkan: masih belum memaafkannnya karena terlambat datang, lalu melebarkan masalah, mengulik salah dan alpanya di masa lampau.
Hentikan! Memaksa mengingatkan salah terdahulunya, hanya akan malah membuka luka lama. [mengacu tips 1]

4. Be a good listener

Bertengkar itu seperti sebuah cara berkomunikasi, yang mesti berjalan juga dua arah. Bijak untuk mau mendengar apapun penjelasan dari sudut pandangnya.
Jadilah pendengar yang baik, malah membantu mengatasi kesalahpahaman yang timbul.

5. Mauku, maumu juga

Grundelan dan segala unek-unek memang bagusnya dikeluarkan, agar tak menyumpal isi otak, hati dan pikiran. Yang hanya akan memunculkan penyakit hati. Maumu dan maunya adalah harap yang ingin diwujudkan dan tercapai.
Share
yang menjadi ganjalan hati, setidaknya akan membantu mencari tahu yang terbaik untuk diputuskan.

[Sri Sulasteningsih, dikutip dari Situs Sarikata.com]