Indahnya Silaturahmi dan Memaafkan

Oleh Ahmad Rofi’ Usmani

Suatu saat Rasulullah Saw. sedang duduk di serambi Masjid Nabawi. Tiba-tiba para sahabat melihat beliau tertawa, sehingga gigi depan beliau tampak.

Ahmad Rofi’ Usmani dan Istri

Melihat hal yang demikian itu, ‘Umar bin Al-Khaththab  yang penasaran lalu bertanya, “Demi engkau, ayahku, dan ibuku! Apakah yang membuat engkau tertawa, wahai Rasul?”

“‘Umar,” jawab Rasulullah Saw.Aku baru saja melihat dua orang di antara ummatku sedang duduk berlutut di hadapan Tuhan Yang Memiliki Kemuliaan.

Lalu, salah seorang di antara kedua orang itu berucap, ‘Wahai Tuhanku! Ambillah kebaikanku karena kezalimanku yang pernah kulakukan atas diri saudaraku ini!

Allah SWT pun berfirman kepada orang yang kedua, ‘Berikanlah kezalimannya kepada saudaramu itu!

Selepas kebaikan demi kebaikan orang yang pertama diserahkan kepada orang yang kedua, kemudian orang yang pertama berkata, “Wahai Tuhanku! Kini, aku tidak lagi memiliki kebaikan.

Maka Allah SWT berfirman kepada orang yang kedua, “Kini, apakah yang akan engkau lakukan, sedangkan saudaramu itu kini tidak memiliki lagi?.”

Wahai Tuhanku! Biarkan ia menanggung seluruh dosaku,” jawab orang kedua.

Selepas mengemukakan demikian, air mata Rasulullah Saw. pun menetes, karena menangis.

Kemudian beliau bersabda, “Padahal, saat itu adalah hari yang sangat berat: hari yang diperlukan manusia supaya dirinya terlepas dari dosa-dosanya.”

Tutur Rasulullah Saw. selanjutnya, “Allah SWT kemudian berfirman kepada orang kedua, “Angkatlah kepalamu! Arahkanlah pandanganmu ke dalam surga!

Orang kedua itu lantas mengangkat kepalanya dan berkata, “Wahai Tuhanku! Aku melihat kota-kota menjulang tinggi dan terbuat dari perak dan istana yang terbuat dari emas dan bermahkotakan permata. Untuk Nabi siapakah kota-kota ini? Atau untuk orang shiddiq siapakah kota-kota ini? Atau untuk orang syahid siapakah kota-kota ini?

Untuk orang-orang yang mau membayar harganya kepada-Ku,” jawab Allah Swt.

Wahai Tuhanku! Siapakah orang-orang yang kuasa membayar harganya?

Engkau termasuk orang-orang yang kuasa membayar harganya!

Wahai Tuhan, dengan apakah harganya dapat dibayar?

Dengan kemaafanmu kepada saudaramu itu.

Wahai Tuhanku! Aku kini telah memaafkan saudaraku ini.

Bila demikian, kini peganglah tangan saudaramu! Ajaklah ia masuk ia ke dalam surga!

Usai bertutur demikian, Rasulullah Saw. kemudian berpesan, “Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah silaturahmi yang terjadi di antara kalian! Dengan demikian, Allah akan memperbaiki silaturahmi yang ada di antara kalian.”

*Penulis adalah mantan Redaktur majalah Kiblat,
kini menjadi Pimpinan  TPQ Qori’ati di Bale Endah, Bandung