Anne Rufaidah, Jihad yang Berlanjut

oleh Ella – Komala Ahadiati

Anne Rufaidah

Anne Rufaidah

Saya masih ingat, ketika itu —Teh Anne— begitu kami biasa memanggilnya, mengajari saya dengan sabar membuat desain baju muslimah. Di satu sisi, kala itu, saya menikmatinya, karena suka menggambar, Namun di sisi lain, saya sadar betul, kesabaran Teh Anne adalah bagian dari perjuangan perempuan berkerudung nan cantik ini.

Kala itu saya masih murid SMA –yang dekat lokasinya dengan Masjid Salman di Institut Teknologi Bandung (ITB)– tempat Teh Anne masih kuliah di Seni Rupa. Masa-masa yang menegangkan, karena masih banyak teman kami yang dikeluarkan sekolah karena berkerudung. Di selasar Masjid ini, mereka –dari sekolah-sekolah terdekat– dibantu para mahasiswa untuk tetap belajar.

Bantuan yang diberikan, bukan cuma perkara pakaian. Juga semangat kami untuk menegakkan kebenaran, pada masa itu sedang berkobar. Jadilah ITB sebagai salah satu kampus perjuangan orang-orang akademisi.

Sementara pro-kontra berkerudung di sekolah memanas, rancangan-rancangan Teh Anne terbit di media Salman. Desain- desain busana Muslimah yang kreatif dan menarik, sedikit demi sedikit mengubah pandangan negatif masyarakat. Tidak berhenti di situ, Teh Anne kemudian membuat pula busana-busana Muslimah yang siap pakai. Maka, keindahan busana Muslimah itu menjadi nyata di mata publik. Inilah jihadnya para akademisi seni.

Busana Muslimah yang semula dianggap ‘kampungan’ memulai era barunya. Di sana-sini orang mulai memproduksi busana muslimah. Para ibu sampai para gadis, mulai menggunakannya tanpa ragu. Pemerintah, terutama lembaga pendidikan, yang tadinya melarang dengan keras, kini melunak. Majalah Amanah menampilkan para artis berbusana Muslimah dan berbagai hasil rancangan yang praktis, sehingga busana muslimah bukan lagi menjadi halangan dalam berbagai kegiatan.

Peragaan Busana Anne Rufaidah

Para perancang Muslim seperti terbangun: Itang Yunaz dengan kebaya muslimahnya, Ida Leman dengan gaun lembutnya, Ida Royani yang gemar menampilkan celana panjang  –seperti model Baghdad– sampai  rancangan Ghea Sukasah dalam gaun panjang yang ringan terurai. Gebrakan bersama ini semakin nyata. Pada “Diskusi & Peragaan Busana Muslimah” di Festival Istiqlal Jakarta 1991, Ketua Panitia Pelaksana pada saat itu adalah Dra. Anne Rufaidah.

Tapi perkembangan ini bukannya tanpa ‘cibiran’. Anggapan –yang sering dijadikan syarat– bahwa berbusana Muslimah jika sudah baik akhlaq-nya, masih ada. Namun, apakah mau menunggu sempurna akhlaq-nya baru berbusana Muslimah? Maka orang mulai belajar, berbusana Muslimah seraya memperbaiki akhlaq adalah ibadah yang tidak boleh berhenti. Perintah adalah perintah, berlaku bagi siapapun juga. Soal nilai keimanan adalah hak Allah yang Maha Tahu dan Maha Pandai menilai sebagai Pemberi Perintah.

Kini, produk busana Muslimah yang beragam, bagai jamur di musim hujan. Orang-orang semakin berani membuat dan memasarkan  busana Muslimah yang kreatif dan menarik. Berbagai peragaan busana Muslimah diselenggarakan, ekspor digalakkan dan pujian dari luar menghujan. Media masa sebagai sebagai pendukung setia membuat busana Muslimah ‘naik daun’.

Tentu saja, hal ini membuat Anne tersenyum bahagia. Tetapi, bukan berarti menghentikan langkahnya. Penolakan-penolakan dari dunia luar masih saja ada, salah satunya dari Perancis yang getol menghujat muslimah yang berjilbab.

Disini, Indonesia menjadi kiblat fesyen Muslim

Langkah jihad Anne Rufaidah pun berlanjut. Pada Desember 2011 lalu,  ia dan rekan-rekan perancang lainnya: Irna Mutiara, Dian Pelangi, Nuniek Mawardi, Monika Jufry,  Hannie Hananto, Jenny Tjahyawati, Najua Yanti, Malik Moestaram, Nieta Hidayani, Merry Pramono, Boyonz Ilyas, dan Amy Atmanto, menggebrak  dunia fesyen Perancis yang bergengsi dalam acara “International Fair of Muslim World” yang diselenggarakan oleh Union Des Mussulmans de France (Perkumpulan Masyarakat Muslim Perancis) di Le Bourget Exhibition Center, Paris. Kemudian sebagai apresiasi, Indonesia telah dinobatkan menjadi kiblat fesyen Muslim 2020.

Memasyarakatkan busana muslimah adalah bagian dari dakwah, di tengah hingar bingarnya ‘modernisasi’ yang seringkali melewati batas-batas syariah. Adalah tugas setiap muslim untuk menggiringnya ke kehidupan yang islami..