Astaga, Tukang Becak Ini Hebat Sekali!

oleh Esther Wijayanti

Esther Wijayanti

Menerima kiriman gambar capture screen dari seorang teman via BBM yang sedang menginap di Wisma Gajah – Jogjakarta, sungguh mencengangkan saya. Sebuah gambaran profil seseorang di Twitter. Saya tanya sama teman saya, “Ada foto orangnya, nggak?”
Teman saya menjawab, “Nggak ada, kamu add pin BB-nya dan minta fotonya. Anakku lagi BBM-an sama dia.”
“Yang bener? Nggak usah deh, ku check twitter dan facebook-nya aja. Thanks.”

Saya menyalakan notebook saya. Membuka Twitter dan Facebook, mencari orang yang dimaksud. Ketemu: Harry Van Yogya. Saya pun minta pertemanan. Ditolak, karena sudah melebihi 5000 orang dalam friendlist-nya. Saya tercengang. Tadi tidak sempat memperhatikan, kalau daftar temannya sudah sebanyak itu.

Harry, Tukang Becak terkenal

Segera saya BBM teman saya lagi, “Ditolak, jumlah temannya melebihi kapasitas.”

Teman saya menjawab, “Coba request ke akun satunya lagi, Harry Van Yogya Nieuw. Ada di friendlist-ku.”

Akun Harry di Twitter

Got it. Saya request friend. Berhasil. Daftar temannya sudah 4400-an. Saya melihat beberapa Kompasianer, juga temasuk dalam friendlist-nya. Ini Tukang Becak apa calon Gubernur sih, kok daftar temannya sebanyak ini? Mata saya tertuju pada sebuah link yang dia posting. Artikel dari “Kompasiana.” Saya klik. Ternyata beliau adalah Kompasianer juga. Saya tambah takjub. Ini Kompasianer yang Tukang Becak atau Tukang Becak yang Kompasianer?

Beberapa hal menarik yang saya pelajari dari kehidupan beliau. Menjadi Tukang Becak, bukan lah sekedar Tukang Becak biasa. Ini adalah Tukang Becak out of the box. Keluar dari lingkupnya. Menggunakan jejaring sosial sebagai marketing tools (alat pemasaran), serta menggunakan teknologi untuk menerima pesanan, seperti via Facebook, Twitter dan Blackberry Messenger, membuatnya bukan hanya menjadi Tukang Becak yang laris. Tetapi, juga seorang Tukang Becak yang terkenal.

Harry saat diwawancarai televisi

Alhasil, beliau sudah diwawancarai oleh berbagai media elektronik. Dan telah menerbitkan buku.

Karya Harry

Popularitasnya, menimbulkan pertanyaan dalam benak saya. Jika pelanggannya bertambah, tentu produksi dan kapasitasnya harus bertambah. Bagaimana cara beliau menambah kapasitas genjotnya? Entahlah.

Namun, ada satu pelajaran berharga yang saya dapat. Apa pun profesi anda, jadilah luar biasa di bidangnya.

Harry Van Yogya Nieuw, terimakasih sudah menginspirasi saya.

Links:
http://ireport.cnn.com/docs/DOC-629450?ref=feeds%2Fpeople%2Fconnect%2Fnunung1
http://rimanews.com/read/20110719/35192/mas-gambreng-menulis-buku

*Penulis adalah seorang Kompasianer