Reuni

oleh Arbono Lasmahadi

Arbono Lasmahadi

Matahari belum beranjak jauh dari tempat persembunyiannya di malam hari. Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 6.30 pagi, saat Sarah (bukan nama sebenarnya)  tampak mulai sibuk menyiapkan pakaian dan asesoris yang akan dikenakannya pada acara reuni akbar sekolah menengah atas di sebuah wilayah terkenal di Jakarta.  Acaranya sendiri akan dimulai sekitar jam 11.00 pagi.

Buat Sarah acara ini merupakan momentum penting baginya untuk kembali ke sekolah, yang pernah membesarkannya sekitar 30 tahun yang lalu. Saat yang tepat baginya untuk melepas rindu dengan teman-teman dan para guru, sekaligus mengembalikan lagi kenangan indah yang pernah ia rasakan di masa lalu. Maka tidaklah mengherankan bila ia ingin tetap tampil menarik, seperti halnya saat dia menjadi salah satu murid di sekolah itu. Sarah adalah salah seorang primadona di SMA-nya saat itu.

Berbeda dengan Sarah, Julia (bukan nama sebenarnya) ingin tampil apa adanya, seperti halnya dirinya yang dulu. Tampil bersahaja, sederhana, dan bersahabat. Pada masa sekolahnya dulu, Julia pun merupakan salah satu favorit teman-temannya. Selain menarik, pandai, dia juga seorang yang rendah hati. Sehingga rasanya tak perlu melakukan persiapan khusus untuk menghadiri acara reuni ini. Dia hanya berharap, teman-teman dekatnya akan hadir. Seperti halnya Sarah, Julia ingin pula melepaskan rindu kepada teman-teman lamanya dan mendapatkan kabar terakhir mereka setelah sekian lama tidak bersua.

Lain halnya dengan Rahman (bukan nama sebenarnya). Momentum ini akan digunakan untuk menunjukkan keberhasilan karirnya  kepada teman-teman lama, sebagai salah seorang Chief Executive Officer (CEO)  di sebuah perusahaan multinasional asing. Hal ini dapat dimaklumi, karena semasa dia bersekolah dulu, Rahman seringkali menjadi bulan-bulanan dari teman-teman maupun para seniornya, mungkin lantaran fisiknya yang relatif kecil dibanding teman-teman sebaya. Tentunya Rahman berharap, pada hari ini, teman-teman yang dahulu mengolok-oloknya akan hadir.

Kisah fiktif di atas, menggambarkan betapa pentingnya acara reuni bagi para alumnus sekolah atau universitas.  Belakangan ini, acara reuni menjadi kegiatan yang makin populer, terutama di kota kota besar. Hal ini tentu tidak lepas dari peran Facebook (FB)  yang cukup fenomenal. FB membawa kembali komunikasi yang telah lama hilang di antara kawan lama. FB telah mendorong munculnya ribuan peristiwa reuni di tanah air. Mulai reuni SD, SMP, SMA, Universitas, hingga mantan warga satu komunitas (RT, RW, Kelurahan, kompleks, dan sebagainya).

Setiap orang, tentunya mempunyai perspektif berbeda terhadap acara reuni. Ada yang melihat reuni sebagai momentum untuk menunjukkan keberhasilan karir dan hidup, khususnya bagi mereka yang selama ini dikenal sebagai simbol sukses atau malah sebagai ‘underdog’, alias dipandang sebelah mata di zamannya. Bagi yang penah menjadi simbol kesuksesan, momentum reuni digunakan untuk menunjukkan mereka tetap sama dan tidak berubah. Sedangkan bagi mereka yang menjadi underdog, reuni merupakan momentum untuk menunjukkan keberhasilannya pada mereka yang memandang sebelah mata di masa lalu, bahwa masa lalu bukanlah ukuran penentu keberhasilan seseorang di masa yang akan datang.

Mereka yang berjiwa bisnis, akan memanfaatkan reuni untuk memperluas jejaring sosial, yang pada akhirnya akan memperluas jejaring bisnis. Namun tidak sedikit juga yang melihat momentum reuni akan mengoyak luka lama, yang telah lama terkubur di dalam hati sanubari seseorang. Biasanya perubahan dianggap negatif oleh mereka, yang bahkan boleh jadi menghindarkan diri untuk menghadiri reuni.

Walaupun beberapa perspektif berbeda terhadap kehadiran acara reuni, secara alamiah tidak bisa dipungkiri kalau manusia memang punya kecenderungan kembali kepada masa lalu dan tempat asalnya. Tidak mengherankan, acara reuni selalu ditunggu-tunggu.  Sangat banyak yang menjadikannya sekadar sebagai momentum untuk kembali merajut tali silaturahim yang telah putus bertahun-tahun, sekaligus melepas rasa rindu.  Begitu juga pulang kampung, merupakan bentuk lain dari reuni. Saat jutaan orang kembali ke kampung halamannya, bersilaturrahim dan mengenang masa kecil dengan teman-teman lamanya di kampung halaman.

Terlepas dari semua hal positif dan negatif terkait reuni, menurut penulis, kembali pada kita semua untuk menyikapinya secara positif. Penulis mengajak kita semua untuk melihat reuni sebagai wahana yang baik, untuk membangun silaturrahim dan memperkuat persaudaraan di antara kita. Apalagi kalau menyadari, Allah SWT telah menciptakan kita sebagai mahluk sosial untuk saling mengenal. Sisi positif lainnya, dari acara reuni kita bisa belajar atas masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik. Melalui reuni kita juga bisa belajar tentang keberhasilan orang lain dan bersyukur dengan melihat nikmat yang diterima orang lain.

Sebuah reuni akan lebih bermakna, seandainya acaranya disusun dalam agenda yang jelas. Juga memberikan manfaat bagi semua yang hadir, sehingga tidak sekadar acara kumpul-kumpul dan basa basi tanda tujuan yang jelas. Reuni dapat digunakan untuk acara pengumpulan dana abadi alumni, yang  hasilnya dapat digunakan membantu rekan-rekan lain yang belum berhasil atau pun bagi merejka yang mengalami kesulitan ekonomi. Dana abadi tersebut juga dapat digunakan sebagai beasiswa bagi anak-anak para alumni, yang berprestasi tetapi mengalami kesulitan pembiayaan.

Kita dapat menggunakan momentum reuni ini untuk memberikan dukungan sosial maupun psikologis, untuk rekan-rekan kita yang mungkin tengah mengalami kesulitan. Reuni juga dapat dimanfaatkan untuk  membantu para guru atau dosen, yang sekarang telah lanjut usia yang mungkin membutuhkan bantuan ekonomi dan sosial dari para muridnya. Seorang Guru tidak pernah meminta balas jasa atas semua yang telah mereka lakukan kepada para muridnya, namun murid yang berterima-kasih akan menghargai semua jasa para gurunya tanpa perlu diminta.

Semoga tulisan pendek ini dapat memberikan pembelajaran bagi penulis dan memberikan manfaat bagi yang membacanya. Sehingga manakala hadir di acara reuni, kita selalu mempunyai motif yang positif..

(Jakarta, 26  September, 2011, PK.05.20 WIB)