Pada Sebuah Taman

                        buat Gus Dur

Alex R. Nainggolan

oleh Alex R Nainggolan

pada sebuah taman engkau duduk sendiri. memandang rerumput hijau
rimbun bunga, tiang-tiang lelampuan. juga segerombol anak kecil yang berlarian
membaca sketsa negeri. tapi beberapanya malah memilih untuk mencabuti rumput, bahkan yang tidak kering. lalu menginjak-injaknya. dan kau tersenyum,
“matahari masih bundar,” ucapmu. agak parau menahan pahit
kenyataan. sembari mengingat symphoni no. 5 in c minor dari beethoven. juga beberapa baris puisi.
semestinya, ada kicau burung parkit dari reranting. tapi di atas, langit murung
mendung tertenung. “ah, hujan akan turun,” gumammu
sembari menghilangkan para pembisik dari kepalamu

lalu kaupun teringat pada hujan yang turun di muka tahun itu, seperti kau kenal
sebagaimana gambar buram kartu pos yang nyengat dingin
menghapus genang kemarau, membasuh debu-debu, menyabik
kulit tubuh. kita jadi kena teluh
“sudah berapa lama kita hilang hari?” apabila mimpi
tiba-tiba beranjak pergi, serupa kelokan-keloka
yang terendam di halaman depan

suatu hari nanti,
kau akan turut serta denganku
jalan entah kemana. menyimpan nama, tanda, sekaligus
cuaca yang pernah ada

ketika itu, aku sedang merapikan sepotong malam
yang jatuh di halaman
kudapati senyummu yang mengambang. di atas tanah,
berkisah daun-daun rebah
barangkali di sebuah taman yang lama kaukenal
yang sempat akrab di di gigir waktu terlambat

dan kau menata langkah, sembari menuntun segerombol anak kecil
ingin kaumembelikan mereka es krim sekadar mengobati tahun-tahun lama
yang pucat. namun yang kauucapkan,
“pulanglah anak-anak. lebih baik kembali ke rumah. hangat dan rapat. sebentar lagi
hujan tiba,”

pada sebuah taman
engkau masih saja duduk sendiri
langit masih mendung
angin basah
gerombolan anak kecil telah lama pulang
matamu berkaca
entah buat siapa

2010

Gus Dur

 1.

maafkan kami jika tak pernah berbuat baik padamu
padahal engkau selalu berbuat baik buat negeri
semua tangan telah tengadah
sekarang semua dosa terbelah
di angkasa, engkau mungkin akan mencatat
sebuah uulasan tentang pesantren atau sepakbola
sedangkan kami hanya sibuk memikirkan
akan guyonmu
yang sebenarnya tak pernah selesai engkau gambar

2.

di kursi roda itu, engkau tak pernah sendirian
seperti gema azan semua akan bertandang
menuju arah pulang
sahut-menyahut tak kunjung sudah

dari balik kacamata tebalmu
engkau seperti melukis sketsa lain
sebuah rencana yang urung selesai
melulu terkulai

2009/2010

Mengenangmu

            : gus dur

jalanan hitam. arak-arakan demonstran
memasuki lorong-lorong tubuh
negeri yang kecut, pengap, dan lembap
jiwa yang lelah. tangis lungkrah berdarah
negeri yang hampir terbelah

dan engkau di sana
sendirian
mungkin kesepian
lupa pada tawa
membaca satu-satu peristiwa

di kepalamu terpangku
tanda tanya;
luka ini milik siapa?

jalanan hitam. suara-suara pecah
waktu terbenam
engkau masih di sana
meski langit negeri tetap kelabu
tak mampu berdamai
dengan cuaca

Jakarta, 2010

Negeri Tanpa Moyang

Selalu kau ajak aku tiba di tanah pecah. Mengapungkan derit patah, suara yang resah. Tetapi, kita acap kehilangan moyang. Menggapai sekujur malang. Tak punya silsilah yang biasa ditulis dalam halaman buku sejarah. Kini, telah kudapati masa kecil yang tak beralamat. Miskin petuah dan renungan. Kehilangan hari demi hari. Dari geriap lengkung wajahmu, kucium bau matahari dan amis darah kemarin sore. Yang tak kunjung mengendapkan petualangan baru. Hanya dendam hitam yang tak habis semalam. Sekadar mencari pijak tanah bagi langkah kaki yang bersembunyi, di hamparan lumut. Mungkin, tanganmu akan gemetar, menyingkap siang-malam, ketika matahari tiba-tiba terbenam. Runcing ingatan tentang sebuah senja yang luka. Kau tikam berkali, namun tak berdarah.

Kita selalu kehilangan waktu. Musim-musim yang makin dingin, menyilet rindu yang tak pernah terkirim. Bahkan, ketika kau kunjungi kantor pos yang selalu mendentangkan keterjagaanmu. Pada suatu tempat, yang biasa kau datangkan sepucuk surat. Di mana kau bentangkan semua inginmu, pada pintu rumah yang kerap terbuka. Membawa semerbak angin, merujuk keturunan yang sungsang. Dan, tanah ini berdarah. Kau masih saja menuliskan sajak cinta. Tentang rasa takutmu di masa remaja, di mana tak ada perempuan yang mau singgah.

 Aku sendiri heran. Kau begitu melongo, melihat jendela yang luka.
“Aku lahir dari kelamin waktu, tak sempat menulis sejarah.”
Ah. Kau? Mengapa selalu kau percakapkan sejarah. Apakah penguasa sedang menetapkan darurat militer? Di genting rumah yang mulai cabik, karena cuaca kerap tergesa dan lupa. Kini, mimpimu terlihat begitu sendiri. Tak mau menjulang tinggi, dijerat kenangan yang serapah. Seperti pelepah-pelepah pisang, mendadak tumbang. Mungkin, anak cucu kita akan lahir penuh derita. Dengan demam tubuh yang menahun, wajah yang melulu dihuni koreng.

Tak punya moyang. Selalu menanam berang. Coretan takdir yang semilir. Sebagaimana kau tatap aku, penuh tanya—menghabiskan sisa petualangan yang makin membulir. Hanya dering telepon, yang selalu ingin diangkat, berucap, “Halo, kematian. Apa kabarmu?”

Selalu kau kabari aku. Benjana cemas baru, dari gigilmu yang sampai ke puncak bukit itu. Melihat layar televisi. Yang mengguratkan sejarah lalu, jika moyang telah lama hilang. Merenda pemakaman baru, di tanah pecah. Tak mampu menyelematkan matahari, juga waktu.

2010

Kopiah dan Sarung

                        : k.h.a.w.

kabarkanlah identitas negeri ini
ketika semua sudah tak punya ciri
kita kehabisan pangkal imaji
tak punya budaya sendiri
namun engkau bersikeras untuk tetap mengenakan
kopiah dan sarung
bahkan di istana megah
di televisi orang-orang tertenung
bukan sebagai lambang gengsi
yang kauberikan canda cuma isyarat
jika kita masih punya negeri
masih punya mimpi
yang bisa didaki

2010


Engkau Tak Pernah Pergi

                                    – bagi g.d.

engkau tak pernah pergi
bahkan ketika tanah di pemakaman
telah kering
masih saja mengalir
seribu peziarah
dalam dengus tahmid dan zikir

engkau tak pernah pergi
meski negeri ini masih saja menangis
cengeng dengan masalahnya
dengan airmata yang tak sudah
dari pelosok-pelosok

tapi setelah kematianmu
engkau tak juga benar-benar pergi
segala kabar masih tersebut
namamu masih saja tersengut
seperti nyala bara api
tak kunjung padam
walau hujan bertandang semalaman

2010

Alex R Nainggolan dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila.
Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat nyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina, situs sastradigital.com,  Majalah Sagang Riau, dll.

Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum (Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005), 5,9 Skala Ritcher (KSI & Bentang Pustaka, 2006), Negeri Cincin Api (Lesbumi NU, 2011), Akulah Musi (PPN V, Palembang 2011).

Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah terakhir di Radar Lampung  (Juara III, 2003), Majalah Sagang-Riau (Juara I, 2003), Juara III Lomba Penulisan cerpen se-SumbagSel yang digelar ROIS FE Unila (2004), nominasi Festival Kreativitas Pemuda yang digelar CWI Jakarta(2004 & 2005).