Jejak Warga Rifaiyah

Serat Cebolek (foto: Tanbihun Online)

Pada tahun 1989 muncul lagi kasus yang menyangkut nama baik KH. Ahmad Rifa’i. Sebuah artikel termuat di majalah Amanah No. 71 tanggal 24 Maret – 6 April 1989 berjudul, “Serat Cebolek, Kisah Sempalan Dalam Sastra Klasik Jawa”, yang ditulis oleh Sugiharto Sriwibowo. Isinya berupa penghinaan terhadap KH. Ahmad Rifa’i, ulama Kalisalak Batang Pekalongan dan KH. Mutamakin, Wali dari Kajen Pati, Jawa tengah.

Di dalam komentarnya Sriwibowo menulis, “Masalah sempalan dalam agama bukan barang baru. Pada awal abad ke-19 Kaji Mukamad Ripangi dari Pekalongan mengaku jadi wakil Nabi untuk meluruskan Islam di Tanah Jawa. Semua ulama dikafirkannya. Uniknya, masalah sempalan tersebut dapat diselesaikan dengan tuntas tanpa kekerasan.”

Saudara Nashir Budiman dalam tabloid Salam, No. 24/Th 11/8-14 Ramadlan 1409 H. tanpa memperhatikan berita tersebut akurat atau tidak langsung berkomentar, “Coba kalau Ripangi sempat bertemu Buya Bustami, tentu segala keributan yang tak perlu, yang sekadar ‘melariskan dagangan’ tidak akan pernah terjadi.”

Langkah awal yang penulis tempuh ialah melakukan koordinasi dengan teman-teman di Pekalongan dan Batang. Penulis menemui dan mengajak H. Ali Nahri Karanganyar ke Limpung, Batang, yang menjadi daerah kantong Rifa’iyah sejak dahulu. Salah satu tokohnya ialah Nur Hadi Mastur, seorang Kiai dan Haji yang menjadi Kepala Desa dan Ketua Golkar di Batang. Penulis bersama H. Ali Nahri bersilaturrahmi ke rumahnya guna memperoleh pengarahan untuk mengatasi suara sumbang di Amanah. Tetapi, dia justru membuat suara yang tidak enak di dengar orang awam.

Nur Hadi mengatakan di hadapan kami dengan nada tinggi. “Kalau Anda berdua sudah tidak sanggup mengatasi hal ini, serahkan saja kepada penulis. Dalam waktu yang singkat akan segera selesai tuntas.” Pernyataannya tidak membuat sejuk dan tidak menyelesaikan masalah. Akhirnya, kami putuskan datang ke Kendal. Di Kendal kami menuju ke rumah KH. Ali Munawir di Bantaran Tanjung Anom Weleri. Di rumah menantunya KH. Syafi’i ini, diadakan sidang yang dihadiri 15 tokoh dan ulama Rifa’iyah Kendal, di antaranya KH. Ali Munawir, KH. Fadlullah, Kiai Jemal, Kiai Syahid, Kiai Nur Yasin, Kiai Maskhun, H. Ali Nahri dan penulis sendiri. Sidang dimulai setelah shalat Isya’ berjamaah, sekitar pukul 20.00.

Suasana sidang menjadi panas, ketika ‘Serat Cibolek’ penulis bacakan di hadapan anggota sidang. Ada yang membanting majalah tersebut sampai tiga kali, karena isinya dianggap menghina martabat gurunya. Akhirnya sidang ditutup dengan doa oleh Kiai Syahid bin Abdurasyid pukul 23.00 dalam keadaan aman.

Sebelum sidang ditutup, hasil kesimpulannya, oleh sekretaris sidang dibacakan: “Bahwa untuk mengatasi masalah kasus Cibolek di majalah Amanah sepenuhnya diserahkan kepada Ketua Yayasan Pendidikan Rifa’iyah di desa Tanahbaya Randudongkal, Pemalang dalam waktu 15 hari. Apabila 15 hari ternyata tidak ada tindak lanjut, masalah ini sepenuhnya diserahkan kepada pemuda di Jakarta.”

Pemuda Jakarta menunggu jawaban dari Ketua Yayasan hingga lebih dari 15 hari. Tetapi belum ada jawaban. Setelah satu bulan ternyata tidak ada satu kalimat pun jawaban dari Ketua Yayasan tersebut, Pemuda Rifa’iyah dengan ikhlas hati melangkah untuk menyelesaikan masalah tersebut secara konsisten. Penulis memberanikan diri membentuk Tim Sukses yang terdiri dari 7 (tujuh) orang anggota yaitu: Penulis sebagai Ketua, Neneng, Wakil Ketua, H. Razim Khair, Sekretaris, H. Fakhrudin, anggota, H. Abdul Jamil, anggota, H. Su’udi, anggota, Zaelusi, anggota,

Sebelumnya penulis mengirimkan surat hak Jawab yang penulis lengkapi dengan data-data yang akurat ke Redaksi Amanah, Jl. Kramat VI Jakarta Pusat. KH. Khaerudin Khasbullah mengirim Surat Pembaca. Teman-teman yang lain pun berbuat demikian. Tetapi tidak pernah ada jawaban dari pihak Redaksi. Tanpa menunggu waktu lagi, penulis ke Jakarta untuk menemui teman-teman dan membentuk Tim Sukses.

Pertama Tim melakukan silaturahmi ke rumah KH. Syafi’i Hadzami untuk mendapatkan fatwa tentang rukun Islam Satu. Beliau menyatakan bahwa, “Rukun Islam satu dengan Rukun Islam lima itu berbeda dalam lafadz, sama dalam pengertian. Memang rukun yang menentukan seseorang kafir menjadi muslim hanya mengucap dua Syahadat.”.

Langkah kedua. Tim Sukses mendatangi kantor Redaksi Amanah di Jl. Kramat Jakarta Pusat perlu menanyakan jawaban surat-surat bantahan yang dikirim ke Redaksi. Karena di siang Ramadlan, tidak banyak aktifitas di ruang Redaksi. Salah satu Redaktur yang menemui kami adalah H. Ahmad Tohari yang berasal dari Banyumas. Ketika Tim mengajukan pertanyaan tentang realisasi jawaban Redaksi Amanah dalam kasus Serat Cebolek, Tohari menjawab: Jawabannya sedang dipersiapkan oleh Redaksi. Insya Allah Minggu depan sudah terbit. Kami mengusulkan, Bagaimana kalau kami yang menulis? Tohari menjawab, Tolong percayakan saja kepada kami (Amanah).

Selesai silaturahmi ke Redaksi Amanah, Tim Sukses mengantarkan tembusan-tenbusan surat tersebut ke beberapa instansi terkait, diantaranya: Depag RI, Deppen RI, Depdikbud RI, Kejagung RI, Kapolri, Kodam Jaya, MUI Pusat, PBNU, PP. Muhammadiyah dan Arsip. Masyarakat menunggu hasilnya.

Minggu depan yang dijanjikan Redaksi ternyata belum terbit. Sampai akhirnya Minggu depannya lagi janji Redaksi menjadi kenyataan. Pada kolom Khazanah tertulis judul, “KIAI AHMAD RIFA’I KALISALAK, Ulama Patriotik Meninggal di Tanah Buangan, oleh Ashar S. (Ahmad Syadzirin, Khairudin dan Karel A. Steenbrink). Pada sub judul tertulis: “Di dalam sejarah dakwah Islam, Ahmad Rifa’i bisa dianggap sebagai hampir satu-satunya tokoh yang bisa memberikan uraian tentang agama Islam tanpa memakai bahasa Arab dan mampu mengarang buku dalam bahasa yang menarik karena memakai bentuk syair (Dr. Karel A. Steenbrink). Sugiharto Sriwibowo akhirnya menyadari atas kesalahannya dan mengirim surat minta maaf kepada penulis. Penulis dan teman-teman Rifaiyah pun memaafkan.

(Oleh Ahmad Saifullah, Friday, 12 March, 2010 10:26 PM)

Dikutip dari: http://tanbihun.com/rifaiyah/jejak-warga-rifaiyah-2/