Alex R. Nainggolan

Letih Malam

letih malam bersandar di punggungmu. tak pernah usai kukecup atau dipeluk. hanya hari yang berjatuhan, seperti kelopak sunyi yang tertinggal angin. bahkan saat engkau gegas berangkat, tanpa pamit ke lain tempat. lalu semua kejadian nampak biasa. sebab tak ada yang mesti susah payah untuk ditandai. bahkan ketika kuingat cumbu kita yang sekejap membatu. dan di gigir kota, para serdadu menanam kantuk, berjaga di sepanjang malam. mengutuki serapah, mesti setia.

kulihat engkau terus berjalan. jauh memanjat segala keluh. tak pernah usai kukecup atau dipeluk.

2011

Menyibak Angin

seperti ada yang salah dengan negeri ini, saat kausibak angin. cuma bayangan epitaf, penuh ketakutan. bergelayutan seperti ayunan, juga ketika kautanyakan di mana ibu yang sesungguhnya. di kembaramu, setiap pelosok adalah tangis orok. tak pernah bisa ditenangkan bahkan saat kauhibur dengan sebotol susu hangat, tapi bukan payudara ibu. lalu kau berusaha menemukan jalan baru, saat kerumun orang melempari batu ke jalanan. semacam ingin mengirim ratusan onak di dalam mimpimu nanti malam. saat itu, kota-kota nampak tenang. tanpa angin. tanpa jejak suara gaduh yang biasa merambat di gendang telingamu. suara kerumun yang penuh dengan keluh.

2011

Semacam Perjalanan

mungkin ini bisa jadi semacam perjalanan. di mana kaubisa berkisah pada orang, ihwal sebuah tempat yang tenang. meski para penguasa berkomplot untuk terus menaikkan pajak, tapi yang kautinggalkan cuma seberkas jejak. langkah yang payah melintas di barisan rumah. kini akalmu terbela, memotret sketsa buram negeri, yang tak pernah bisa dipercaya. semuanya cuma lintasan tragedi, yang membangkitkan cercah. juga sejumlah gombal tanpa logika.

barangkali ini adalah sebuah perjalanan. saat kau tiba-tiba tua oleh usia. tanpa sempat lengkap membaca tentang gerimis yang jatuh mendekap hening, di suatu negeri.

2011

Kucing Belang

kucing belang melompat ke meja makan
diarunginya berbagai aroma
perutnya mulai buncit
mungkin bulan depan kelak
ia bakal beranak lagi
kilat matanya
dalam lapar yang tak tamat

dan kauterjaga
dari mimpi buruk
tanpa ceruk

2011

Tanpa Lagu

 1.

mungkin telah kaulupakan
bagaimana aku tertatih menjemputmu
di masalalu
menguliti malam yang tumbuh di sepanjang ranjang
dan kausibuk menjumlahkan segala gagal
yang telah lama terpanggul di tubuhku

2.

cuma malam merangkak
selebihnya sunyi dingin
ketakutan yang congkak
dan sejarah terpilin

3.

kau bergerak tanpa lagu
juga senyum beku
yang pudar di bibir

4.

entah dengan cara apa aku mesti menciummu?
ketika ragu menumpuk
dan kita serasa kutuk
menempuh semua upacara ganjil
di tengah gerung rindu yang gigil

5.

seperti biasa
aku termenung di kafe ini
sunyipun merayap
tanpa lagu yang berdenting
aku yang kehilangan

2011

Di Pucuk Laut

ada yang tak bisa kaupungut
segala sungut
yang terebut
bahkan saat kecipak ombak
meresap lenyap
terusir di pasir
bayangan angin
mimpi-mimpi remaja
aku yang kerap tertatih
mengibarkan bendera putih

di pucuk laut
masih kusebut
sebuah tanda
yang enggan dieja

2011

Segala Cakap di Telepon

hanya kidung
tanpa ujung
segala cakap di telepon
merayap di dinding malam
kau yang selalu kurindu
bahkan saat waktu
merekat dalam pilu

namun segala cakap
tak pernah selesai
untuk didekap
cuma kalimat lunglai

menembus
beku di jenjang perjalanan

2011

Percakapan Tentang Hujan yang Tak Jadi

 1/

ia menemui tanah
telah lama luka
seperti kepul debu
yang membasuhnya
dan panas pecah di kornea

tiba-tiba ia ingat adam…

2/

tapi adam telah pulang
masuk ke remang
ia sembunyi
berpura akrab pada sunyi

nyatanya segala bermula
dari lempung
tanah yang murung

3/

langit hitam
bayangan awan
tebal seperti kepul asap
dari cangkir kopi

sisa rindu beremuruh
juga di langit
namun hujan tak tumbuh
cuma debu luruh
tak tertempuh

2011

Alex R Nainggolan dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila.
Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat nyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina, situs sastradigital.com,  Majalah Sagang Riau, dll.

Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum (Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005), 5,9 Skala Ritcher (KSI & Bentang Pustaka, 2006), Negeri Cincin Api (Lesbumi NU, 2011), Akulah Musi (PPN V, Palembang 2011).

Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah terakhir di Radar Lampung  (Juara III, 2003), Majalah Sagang-Riau (Juara I, 2003), Juara III Lomba Penulisan cerpen se-SumbagSel yang digelar ROIS FE Unila (2004), nominasi Festival Kreativitas Pemuda yang digelar CWI Jakarta(2004 & 2005).