Bahasa Indonesia itu suatu Anugerah Sejarah

oleh Maskun Iskandar

Maskun Iskandar

Maskun Iskandar

Tanpa bahasa, banyak sekali kegiatan manusia akan terhenti,” tulis Mario Pei dari Universitas Columbia, Amerika Serikat[1]. Ia mencontohkan, “Pemerintahan tidak akan jalan.” Rasanya, ya, memang begitu. Coba, bagaimana mungkin pemerintahan akan jalan, bila tidak ada rapat dan surat. Apa mungkin ada rapat, apabila tanpa kata-kata. Apa mungkin ada surat, manakala tanpa tulisan. Ilmu pun mustahil akan tumbuh. Bagaimana kita akan bersekolah, jikalau guru dan murid tidak saling bicara. Tanpa bahasa, kita tidak akan membaca buku dan koran, mendengarkan radio, dan menonton televisi. Semua membisu, seperti ikan di akuarium.

Aih, sanggupkah kita hidup di dunia seperti itu?

Untunglah para leluhur mewariskan bahasa kepada kita. Dalam paket yang sudah jadi pula. Artinya, sudah ada kata-kata, tata bahasa, dan ejaan. Kita tinggal pakai dan mengembangkannya. Itu pun bukan satu dua bahasa. Ada ribuan bahasa di seluruh jagat. Di Indonesia saja terdapat lebih dari 750-an bahasa daerah, selain ribuan dialek dan logat. Di Papua, misalnya, terdapat 126 suku yang menggunakan 31 kelompok bahasa dan  224 logat atau dialek.

Kadang-kadang bahasa suatu suku tidak dipahami oleh suku lain. Orang Aceh boleh jadi tidak paham bahasa Sunda. Orang Jawa mungkin tidak mengerti bahasa Bugis, dan seterusnya. Namun, kita tetap dapat berkomunikasi karena memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Persoalannya sekarang, sejak kapan kita mempunyai bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Akan tetapi, para pakar masih berselisih paham sejak kapan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. H. B. Jassin, misalnya, mengatakan sejak tahun 1920, yakni ketika angkatan Pujangga Baru menggunakan bahasa Melayu dalam karya sastra mereka. Menurut Umar Junus, sejak 1928, yaitu sewaktu Kongres Pemuda II menobatkan bahasa Melayu  sebagai  bahasa persatuan.  Adapun Slametmuljana  berpendapat sejak tanggal 18  Agustus 1945, yaitu ketika disahkan Undang-Undang Dasar 1945 yang mencantumkan bahasa Indonesia, pasal 36,  sebagai bahasa negara.[2]

Mengapa Memilih Bahasa Melayu

Pada waktu Sumpah Pemuda dicetuskan, setidaknya ada tiga bahasa yang diusulkan sebagai bahasa persatuan, yakni bahasa Belanda, Jawa, dan Melayu. Akan tetapi, mengapa Kongres Pemuda II menobatkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan? Kongres tersebut membuat rumusan sebagai berikut:

Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia

Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia jang diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia yang berdasarkan kebangsaan, dengan namanja: Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia;
memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahoen 1928 dinegeri Djakarta;
sesoedahnja mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan dalam kerapatan tadi;
sesoedahnja menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini;
Kerapatan lalu mengambil poetoesan:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe berbangsa  jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Kongres pemuda tersebut diadakan di wisma Indonesia yang ketika itu dinamakan Indonesische Club Gebouw (gedung Perkumpulan Indonesia), Jalan Kramat Raya 106, Jakarta.

Ini merupakan kongres kedua. Yang pertama diselenggarakan pada tahun 1926. Peserta kongres waktu itu belum bulat bersatu. Kongres kedua lebih sukses “karena kemauan untuk bersatu telah mengatasi alasan-alasan lain seperti sejarah, bahasa, hukum adat”[3], sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda. Namun, tidak berarti tanpa silang pendapat. Ada tiga hal utama yang diperdebatkan pada kongres itu. Pertama mengenai “dasar perjuangan”, kedua “batas wilayah”, dan yang ketiga mengenai “bahasa persatuan”.

Teks Sumpah Pemuda tersebut berbahasa Melayu. Dengan demikian, yang dipilih sebagai bahasa persatuan adalah bahasa Melayu.

Mengapa bukan bahasa Belanda? Bahasa Belanda merupakan bahasa resmi pemerintah waktu itu. Namun, jumlah orang Belanda hanya sedikit, 170.000 orang. Lebih sedikit lagi yang bisa membaca. Contoh, saat itu di Indonesia terdapat 20-an surat kabar berbahasa Belanda dengan tiras (oplah) berkisar 60.000 eksemplar.[4] Jumlah orang Belanda yang membaca koran hanya 1/3-nya. Mengapa hanya 1/3? Soalnya,  sebagian orang Belanda buta huruf. Orang indo (Belanda campuran) umumnya  tidak bisa berbahasa Belanda. Mereka ini—seperti juga orang Tionghoa keturunan—sehari-hari berbahasa Melayu. Koran yang dibaca pun yang berbahasa Melayu.

Semangat antipenjajahan merupakan alasan utama mengapa bahasa Belanda tidak dipakai sebagai bahasa persatuan. Telah lama bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaan. Sumpah Pemuda merupakan rintisan menuju kemerdekaan. Wajarlah bila usulan bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan dikesampingkan.

Mengapa bukan bahasa Jawa atau Sunda? Penutur kedua bahasa tersebut memang banyak, budayanya pun tinggi, dan kesusasteraannya maju. Jumlah suku Jawa ketika 40,7 juta orang atau 60% dari seluruh penduduk Indonesia, orang Sunda 20 juta orang, sedangkan orang Melayu cuma ½  juta jiwa. Mengapa bahasa Melayu yang menjadi bahasa nasional?

Prof. Dr. Slametmulyana mengemukakan empat faktor penyebab[5]:

1. Sejarah telah membantu penyebaran bahasa Melayu. Bahasa Melayu merupakan lingua-franca di Indonesia, bahasa perhubungan/perdagangan. Malaka pada masa jayanya menjadi pusat perdagangan dan pusat pengembangan agama Islam. Dengan bantuan para pedagang, bahasa Melayu disebarkan ke seluruh pantai Nusantara, terutama di kota-kota pelabuhan. Bahasa Melayu menjadi penghubung antarindividu.

Karena bahasa Melayu itu sudah tersebar dan boleh dikatakan sudah menjadi bahasa sebagian besar penduduk, Gubernur Jenderal Rochussen lalu menetapkan bahwa bahasa Melayu dijadikan bahasa pengantar di sekolah untuk mendidik calon pegawai negeri bangsa bumiputra.

Dari satu segi kita katakan bahwa masa pendudukan Jepang telah membantu makin tersebarnya bahasa Indonesia karena Pemerintah (Balatentara) Jepang melarang pemakaian bahasa musuh, seperti bahasa Belanda dan Inggris. Karena itu,  bahasa  Indonesia mengalami kontak sosial di seluruh wilayah Indonesia dengan berpuluh-puluh bahasa daerah.

2. Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana, ditinjau dari segi fonologi, morfologi, dan sintaksis[6]. Karena sistemnya yang sederhana itu, bahasa Melayu mudah dipelajari. Dalam bahasa ini, tak dikenal tingkatan bahasa seperti dalam bahasa Jawa atau Bali, atau pembedaan pemakaian bahasa kasar dan bahasa halus seperti dalam bahasa Sunda.

3. Faktor psikologi, yaitu bahwa suku bangsa Jawa dan Sunda telah dengan sukarela menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, semata-mata karena didasarkan pada keinsafan akan manfaatnya segera ditetapkan bahasa nasional untuk seluruh Kepulauan Indonesia. Ada keikhlasan mengabaikan semangat dan rasa kesukuan karena sadar akan perlunya kesatuan dan persatuan.

4. Kesanggupan bahasa itu sendiri yang menjadi salah satu faktor penentu; jika bahasa itu tak mempunyai kesanggupan untuk dapat dipakai menjadi bahasa kebudayaan dalam arti yang luas, tentulah bahasa itu akan tak dapat berkembang menjadi  bahasa yang sempurna. Kenyataan membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang dapat dipakai untuk merumuskan pendapat secara tepat dan mengutarakan perasaan secara jelas.

Perkembangan Bahasa Indonesia

Siapa yang memberi nama Indonesia? Istilah Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh orang Inggris, George Samuel Windsor Earl, pada tahun 1848. Earl mengusulkan dua nama, yaitu  Indonesians dan Melayunesians. Earl lebih menyukai Melayunesians, istilah Indonesia dianggapnya terlalu luas untuk kepulauan ini.

Istilah Indonesia dipopulerkan oleh etnolog Inggris, James Richardson Logan, pada tahun 1850. Nama Indonesia dinilai lebih mencerminkan makna geografis pulau-pulau Indonesia. Nama Indonesia disebarluaskan oleh etnolog Jerman Adolf Bastian. Istilah ini lebih terkenal setelah dipakai oleh Mohammad Hatta untuk mengimbangi istilah Hindia Belanda[7].

Nama Indonesia juga diberikan kepada nama bahasa persatuan. Sumpah Pemuda tidak menyebutkan “satu bahasa”, melainkan “menjunjung bahasa persatuan”, bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia itu bukan  satu-satunya bahasa di Indonesia. Bahasa daerah pun bahkan harus dipelihara. Lebih-lebih karena bahasa daerah dapat saling melengkapi dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak akan menjadi modern, bila tidak menerima bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.

Baik, mari kita lihat, bagaimana bahasa kita itu tumbuh dan berkembang:

1. Bahasa Austronesia

Sarjana Belanda, Hadrian Reland, pada tahun 1706 menemukan kemiripan berbagai bahasa di pulau-pulau sebelah selatan Cina. Bahasa-bahasa tersebut disebut rumpun bahasa Austronesia (austro=selatan, nesia= pulau. Pulau-pulau di sebelah selatan Asia).  Rumpun bahasa ini jangkauannya amat luas: di barat sampai ke Madagaskar (Afrika), di timur sampai jauh ke Kepulauan Rapanui (di Lautan Teduh), di utara sampai Formosa (Taiwan), dan selatan hingga Selandia Baru. Austronesia itu merupakan rumpun bahasa terbesar di dunia[8].

Bahasa Austronesia itu berasal dari satu bangsa. Namun, hingga kini belum diketahui bangsa apa dan asalnya dari mana. Yang jelas mereka itu berbondong-bondong pindah, berlayar bertebar di wilayah yang luasnya sampai sekira ¾ keliling bumi.  Entah kapan. Sebagian pakar  menyebutkan pada zaman Neolitikum (zaman Batu Baru). Yang lain memperkirakan 2.500 tahun sebelum Masehi, lainnya lagi 2.000 tahun SM, 1.000 tahun SM, bahkan ada yang mengatakan abad pertama Masehi. Entah di mana tanah asal mereka. Ada yang mengatakan berasal dari Thailand, yang lain mengatakan dari Birma, dari Cina, India, Indocina, dll.

2. Bahasa Melayu Kuno

Bahasa Melayu tertua dijumpai pada prasasti (peringatan yang tertulis pada batu, dll) yang ditemukan Palembang, Jambi, dan Bangka. Piagam peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebut (abad ke-7—11) berbahasa Melayu Kuno berhuruf Palawa (huruf berasal dari India selatan). Bahasa Melayu pada waktu itu dipakai sebagai bahasa resmi dan bahasa pengantar di perguruan tingga agama Buda.

Contoh bahasa Melayu Kuno (abad ke-7)
nipãhat di welãnya yang wãla Çriwijaya kaliwat menapik yang bhûmi Jawa tida bhakti ka Çriwijaya (Dipahat di waktunya tentara Sriwijaya telah menyerang tanah Jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya)

3. Zaman Kejayaan Malaka

Bahasa Melayu berkembang sangat pesat pada zaman kejayaan Malaka. Pusat penyebaran bahasa Melayu ialah Kerajaan Tumasik (kini Singapura) pada abad  ke-12—13, Kerajaan Melayu Riau (di Malaka abad ke-14—15, di Johor abad ke-16—17, dan Riau Lingga abad ke-18—19). Bahasa  Melayu menjadi bahasa pengantar untuk perdagangan, penyebaran agama Islam. Kesusatraan Melayu kala itu banyak dipengaruhi oleh sastra Arab dan Persia (Iran).

Salah seorang yang berjasa membina bahasa Melayu ialah Raja Ali Haji (1809–1870) pujangga Melayu yang terkenal dengan “Gurindam Dua Belas”-nya. Ia menulis buku Bustanil Katibin (1857) yang isinya mencakup ilmu bahasa dan ejaan. Buku itu merupakan tata bahasa standar yang dipakai di sekolah-sekolah di Kerajaan Riau dan Singapura. Ia juga membuat semacam kamus, yaitu buku Pengetahuan Bahasa (1859) dan dapat dipandang sebagai ensiklopedia (Teeuw 1961). Raja Ali Haji turut melapangkan jalan ke arah terbentuknya bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Contoh bahasa Melayu (abad ke 14):
ada seorang raja terlalu besar kerajaannya daripada segala raja-raja syahdan maka bagindapun beranak dua orang laki-laki terlalu baik parasnya gilang gemilang dan sikapnyapun sederhana hatta maka berapa lamanya dengan takdir Allah swt maka bagindapun hilanglah kembali ke rahmatullah arkian maka anakda bagindapun tinggal dua bersaudara setelah demikian maka mufakat-lah segala menteri dan hulubalang dan orang kaya-kaya dan orang besar-besar menjadikan anakda baginda yang tua itu raja menggantikan ayahanda Hikayat Bakhtiar

4. Bahasa Resmi Zaman Belanda

Bahasa Melayu digunakan sejak lama sebagai alat komunikasi antara orang Belanda dan Indonesia, antara satu suku dan suku Indonesia lainnya. Selain itu juga dipakai di kalangan orang indo  dan orang Tionghoa karena umumnya mereka tidak paham bahasa ibunya, baik bahasa Belanda maupun bahasa Tionghoa.

Bahasa resmi pemerintah waktu itu ialah bahasa Belanda. Akan tetapi, pada kenyataannya bahasa Melayu lebih dipahami oleh penduduk di Indonesia. Ini dibuktikan sendiri oleh Gubernur Jenderal Rochussen. Setelah mengelilingi Pulau Jawa tahun 1859 ia berkesimpulan bahwa bahasa Melayu harus dipakai sebagai bahasa pengantar. Oleh karena itu, bahasa Melayu lalu menjadi bahas resmi kedua sejak tahun 1865 dan dijadikan bahasa pengantar di sekolah.

5. Bahasa di Media Massa

Mengingat bahwa bahasa Melayu merupakan bahasa penghubung dan bahasa resmi kedua, maka wajarlah bila koran pun menggunakan bahasa Melayu pula. Koran pertama berbahasa Melayu, yaitu Soerat Kabar Bahasa Melaijoe diterbitkan oleh orang Belanda, E.H. Fuhri,  di Surabaya tahun 1856. Koran tersebut ditujukan untuk kaum pedagang di Surabaya. Contoh lain: di Minahasa tidak ada satu pun orang Melayu waktu itu. Namun, penginjil Belanda, Nicolaas Graafland mendirikan surat kabar Tjahaja Sijang dalam bahasa Melayu. Surat kabar itu terbit pertama  Maret 1909 dengan bahasa Melayu pasar.

Orang Indonesia yang menerbitkan koran adalah R. M. Tirtohadisuryo. Korannya Medan Prijaji terbit di Bandung (1907). Di bawah logo korannya berkibar moto: Organ boeat sebagai bangsa yang terprentah di H.O. [Hindia Olanda]. Tempat akan memboeka swaranja Anak Hindia. Media massa dipakai untuk memengaruhi pendapat umum oleh kaum pergerakan, yakni mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, seperti Moh. Hatta, Bung Karno, dr. Soetomo, dll. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Melayu.

6. Ejaan Latin Pertama

Prof. Charles  Andrian van Ophuysen, seorang ahli bahasa Melayu, dengan dibantu oleh guru bahasa Melayu, Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Muhammad Taib Sutan Ibrahim,  menyusun Kitab Logat Melajoe. Kitab ini mereka selesaikan lima tahun sebelum diresmikan tahun 1901. Dengan demikian, sejak itu huruf Latin secara resmi mulai digunakan. Sebelumnya bahasa Melayu ditulis dengan huruf Arab. Ejaan yang mereka susun itu disesuaikan dengan ejaan Belanda. Ejaan ini kemudian dikenal sebagai ejaan Van  Ophuysen.

7. Bahasa Sastra dan Pustaka

Pada tahun 1908 Pemerintah Belanda mendirikan badan penerbit buku bacaan, Commisie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat) yang kemudian namanya berubah menjadi Balai Pustaka. Balai Pustaka menebitkan banyak sekali buku bermutu, misalnya roman Siti Nurbaya, Salah Asuhan. Bahasa Melayu juga dikembangkan oleh para sastrawan di majalah Pujangga Baru, antara lain oleh Armin Pane, St. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah.

8. Bahasa Persatuan

Bahasa Melayu, dalam hal ini bahasa Melayu Riau, dinobatkan sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia, lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.  Dalam Kongres Bahasa II di Medan tahun 1954 disebutkan bahwa bahasa Melayu Riau dinyatakan sebagai asal bahasa Indonesia.

9. Kongres Bahasa Pertama

Tahun 1938, sepuluh tahun setelah Sumpah Pemuda, dilangsungkan Kongres Bahasa I  di Solo. Kongres bahasa terus berlanjut sampai sekarang.

10. Bahasa Resmi Negara

Sejak Undang-Undang Dasar 1945 disahkan pada 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, bahasa Indonesia secara resmi menjadi  bahasa negara.

Setelah menjadi bahasa negara kedudukan bahasa Indonesia semakin penting. Perkembangannya pun kian pesat. Bayangkan jika kita tidak memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.  Hendak ditulis dengan bahasa apa buku pelajaran sekolah. Bahasa apa pula yang akan dipakai di televisi, pada perundang-undangan, kongres, dll. Bahasa Indonesia bagi kita memang benar-benar merupakan anugerah sejarah. Akan tetapi, kita sering tidak menghargainya.

Prof. Dr. J. S. Badudu mengatakan, “Kita sering menganggap enteng bahasa sendiri. Coba saja perhatikan, umumnya kita mempunyai kamus bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Namun, seberapa banyak yang mempunyai kamus bahasa Indonesia.” (Kompas, 27-10-1996).

Jika hendak masuk sekolah atau melamar pekerjaan pun, kita dites bahasa Inggris, meski sehari-hari kita berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia. La, pernahkah kemahiran berbahasa Indonesia diujikan?

Perhatikan pula tempat kursus bahasa. Bentangkan peta Jakarta. Tandai dengan warna merah pada setiap tempat kursus bahasa Inggris. Lihat! Atlas kita itu kini  penuh oleh bintik-bintik merah yang bertebar seperti biji wijen pada kulit  onde-onde.

Apa akibat ketidakpedulian kita terhadap bahasa Indonesia itu? Dengarlah gerutu Prof. Slamet Iman Santoso, mantan guru besar Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, “Setiap hari kita disuguhi pemakaian bahasa yang amburadul, itu menunjukkan kesemerawutan otak penuturnya.” (Media Indonesia, 17 April 1997).

(Sumber: http://www.maskuniskandar.wordpress.com‎)


[1] The New Book of Knowledge, vol. 11, Grolier Inc., 1980.
[2]
Hamidy, U.U., Bahasa Melayu Riau, Pustaka AS, Pekanbaru, 1981
[3]
Soeloeh Indonesia, 7 November 1928
[4]
Abdurrachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perekembangan Sejarah Pers di Indonesia, Deppen/Leknas-LIPIJakarta, 1980
[5]
Slametmulyana, Prof. Dr. dalam Dr. J. S. Badudu, Pelik-Pelik Bahasa Indonesia, Pustaka Prima, Bandung
[6]
Fonologi, ilmu tentang bunyi bahasa. Morpologi, ilmu tentang kata-kata. Sintaksis, ilmu tentang susunan kata dan kalimat
[7]
Ensiklopedi Nasional Indonesia, PT Cipta Adi Pustaka, 1990, Jakarta
[8]
The New Encyclopaedia Britannica, vol 22, ed 15, 1987


Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah,
kini sebagai Direktur Pendidikan Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta.