Orang Beriman Mengenal Allah

oleh Antho M. Massardi ·

Antho M. Massardi

Sahabat, pernah mendengar kalimat, “Siapa yang mengenal diri, maka dia mengenal Tuhannya?” Apa makna kalimat tersebut? Itulah yang akan kita bahas secara sederhana dalam Klik! kali ini. Sebagai seorang Islam (Muslim) yang beriman (Mukmin), kita wajib membedahnya berdasarkan kepada al-Quran dan Sunah Rasulullãh shalallãhu alaihi wasalam. Baca penjelasannya, ya?

 Siapa Kita

Sahabat, kita pasti yakin dan percaya, bahwa segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, termasuk manusia, pada awalnya tidak ada, kemudian ada karena ada yang menyiptakannya. Betul? Dalam sejarah agama-agama Tuhan, dijelaskan bahwa manusia pertama adalah Adam.

 Untuk mengenal diri, apa yang harus kita lakukan? Maka hendaklah manusia memperhatikan daripada apakah dia diciptakan?” (QS ath-Thãriq [86]: 5). Sebab, Sesungguhnya Kami telah menyiptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud,” (QS al-Hijr [15]: 26 dan 29).

 Ruh Hidup

Jadi, setelah Allãh menyiptakan jasad Adam, maka ditiupkanlah ruh kehidupan ke dalam tubuh Adam. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa ketika ruh ditiupkan dan diperintah Allãh SWT untuk memasuki jasad Adam, ruh bertanya, “Ya Rabb, melalui jalan mana hamba harus masuk?” Allãh berfirman, “Masuklah melalui jalan mana saja yang kamu sukai dan melalui jalan itu pula engkau keluar!” Maka masuklah ruh itu melalui lubang hidung sehingga Adam hidup, dan kelak melalui jalan itu pula ruh keluar dari jasad Adam dan keturunannya saat meninggal.

Sejak ditiupkan ruh itulah, jiwa manusia hidup tertanam di dalam kehidupan setiap tubuh. Jadi, manusia terdiri atas jasad, ruh, dan jiwa. Ingat ya, kalau manusia meninggal, itu karena ruhnya keluar dari jasadnya. Jiwanya tidak mati. Lalu ke mana?

Ayah-Bunda

Manusia hanyalah makhluk. “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menyiptakanmu dari seorang Adam, dan daripadanya Allãh menyiptakan istrinya; dan daripada keduanya Allãh mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allãh yang dengan menggunakan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah silaturahmi. Sesungguhnya Allãh selalu menjaga dan mengawasi kamu,”  (QS an-Nisã’ [4]: 1).

 Lalu, bagaimana kita ada? “Hai manusia, sesungguhnya Kami menyiptakan kamu dari seorang laki-laki (Ayah) dan seorang perempuan (Bunda) serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allãh ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allãh Mahamengetahui lagi Mahamengenal,” (QS al-Hujurãt [49]: 13).

 Kapan Mengenal

Sahabat, sekarang kita sudah tahu siapa diri kita, kan? Lalu, bagaimana atau kapan kita mengenal Allãh YME? Sesungguhnya ketika jiwa-jiwa kita diciptakan, Allãh sudah memperkenalkan diri-Nya. Kapan itu? “Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka (orang tua kita) dan Allãh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, Allãh berfirman, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, ‘Betul. Engkau Tuhan kami. Kami menjadi saksi!’ Kami lakukan itu agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap keesaan Tuhan’,” (QS al-A’rãf [7]: 172).

 Jadi, sudah sejak zaman azali kita mengenal Tuhan. Pertanyaannya, dari mana kita mengetahui nama Tuhan? Seperti kita, orang lain tahu nama karena kita memperkenalkan nama kita siapa, kan? Demikian juga dengan Tuhan. Tuhan sendirilah yang memperkenalkan Nama-Nya, yaitu melalui satu firman-Nya dalam al-Quran. “Tuhan berfirman, ‘Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allãh, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (QS an-Naml [27]: 9).

 Masuk Surga

Sahabat, jiwa-jiwa manusia itulah yang hidup dan ditanamkan dalam kehidupan setiap tubuh kita. Walaupun jasad kita mati karena ruh sudah meninggalkannya, jiwa-jiwa itu tidak mati. Ia akan kembali kepada Allãh, dalam keadaan suka atau terpaksa. Itulah sebabnya ketika ada musibah atau orang meninggal, kita disunahkan mengucapkan, “Innalillãhi wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya dari Allãh dan sungguh akan kembali kepada Allãh.

 Lalu, jiwa-jiwa itu ke mana? Di akhirat kelak setiap jiwa akan tahu ke mana harus berjalan, dan “Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya di dunia,” (QS at-Takwîr [81]: 14). Jiwa-jiwa orang-orang beriman akan disambut penuh kemuliaan di sisi Allãh YME. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku,” (QS al-Fajr [89]: 27-30).

 Jiwa-jiwa orang-orang kafir yang ingkar dan khianat, tentu saja kebalikannya dari itu. “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya,” (QS an-Nãzi’ãt [79]: 37-39).

 Di Dunia Lupa

Sahabat, setelah di dunia, ternyata kebanyakan manusia melupakan Allãh, bahkan tidak pandai  bersyukur atau kufur nikmat. Kenapa? Karena, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir,” (QS al-Ma’ãrij [70]:19). “Manusia telah dijadikan bertabiat tergesa-gesa,” (QS al-Anbiyã’ [21]: 37). Padahal tergesa-gesa adalah langkah setan. “Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allãh; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi,” (QS al-Mujãdilah [58]: 18).

Padahal, ayat-ayat dan tanda-tanda kekuasaan Allãh ada ke mana pun kita menghadap, termasuk di dalam tubuh kita. Allãh berfirman, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segala wilayah bumi dan dalam diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS Fushshilat [41]: 53).

Lupa Diri

Sahabat, semoga kita menjadi orang-orang beriman yang mengenal diri sendiri dan selalu ingat kepada Allãh SWT, sehingga Allãh tidak membuat kita lupa diri, lupa kepada diri sendiri, alias gila. Karena Allãh sesungguhnya menyayangi hamba-hamba-Nya yang saleh-salehah, dan selalu mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman. Salah satunya firman berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allãh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok di akhirat; dan bertakwalah kepada Allãh, sesungguhnya Allãh Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allãh, lalu Allãh menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri (gila). Mereka itulah orang-orang yang fasik,” (QS al-Hasyr [59]: 18-19).

Insya Allãh, kita akan selalu menjadi hamba yang mendapatkan rahmat dan hidayah Allãh SWT. Amin, ya Rabbana!

(dikutip dari rubrik “Klik! Eksklusif” pada Majalah “Aku Anak Saleh”, Edisi Pebruari 2012)

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah “Aku Anak Saleh