Komunitas Sastra “Performing Art?”

oleh Uki Bayu Sedjati
Uki BS

Uki Bayu Sedjati

Membincangkan euforia sastra facebook (FB) tak bakal usai, seiring dengan makin canggihnya teknologi komunikasi dan informasi (TKI) maupun meleknya warga masyarakat terhadapnya. Berbagai tulisan dapat ditulis dan diunggah, terlepas dibaca atau tidak oleh khalayak. Di tengah gempitanya informasi, siapa pun boleh urun rembug – tak ada batasan. Tak ada pengarah, tak ada wasit, tak ada juri – kecuali pribadi sendiri.

Tentu juga, asal ingat, lantaran dalam sesaat sekian juta informasi hadir di pancaindera dan benak menjadikan upaya ataupun kebiasaan menseleksi menjadi “tumpul.” Dengan kata lain, informasi yang baru saja diterima tak lama usianya, sebentar kemudian lindap ditimbuni ribuan informasi yang datang kemudian. Begitu seterusnya.

Time is Chance

Dulu ada radio amatir, yang menghubungkan percakapan suara saja, lantas muncul pager antar pengguna membaca kalimat, kemudian internet dan ponsel lengkap dengan kamera yang menjadikan percakapan seolah berdekatan padahal melalui dunia maya. Maka copy darat, hang out, ketemuan tatap muka, bahkan membentuk komunitas, melengkapi kecenderungan manusia sebagai mahluk sosial yang tak cukup puas hanya bercakap via dunia maya.

Sejalan pesatnya TKI, rupanya mobilitas manusia pun didorong untuk bersicepat, nyaris di segala ruang dan waktu. Kudu ngebut – yang lambat = siput! Tentu, berpengaruh pada psiko sosial manusia. Kecenderungan untuk ingin dan melakukan yang ‘instant‘ terus meningkat, tak hanya time is money, tapi juga time is chance. Kesempatan tak datang dua kali, kata pepatah. Termasuk yang negatif, ‘pukul dulu urusan belakangan.’ Selalu ingin cepat menjadikan manusia menghindari ‘kontemplasi,’ tak mampu merenung, apalagi meditasi, khusyuk.

Yang suka menulis, setelah kenal di FB kemudian bertemu, lantas berhajat membentuk komunitas sastra. Demikian pun hobiyist lainnya: fotografi, senirupa, komik, musik, motor, sepeda, dan sebagainya. Untuk wilayah Jabodetabek tahun 2000-an sempat booming membuat kafe/tempat nongkrong –yang satu per satu ambruk. Nah, pertemuan antar sesama penggemar, boleh jadi, difasilitasi juga oleh kafe/warung yang masih bertahan.

Yang juga unik, dan penting dicermati wa bil khusus pada komunitas sastra adalah keinginan para penggiatnya untuk tak sekedar datang hadir, melainkan merancang agar bisa tampil. Dengan kata lain, jika di FB mengunggah ‘ini karyaku,’ maka dalam pertemuan mengambil kesempatan ‘ini AKU menampilkan karyaKU.’ Menampilkan berarti bukan sekedar membaca, tentu.

Asyik Ngobrol

Maka baiknya membuka klipping lama. Doeloe, sekitar tahun 50-60-an seseorang yang tampil di panggung membacakan karya sastra – yang lelaki  disebut deklamator, yang perempuan deklamatris. ”To declamed” atawa deklamasi – mengucapkan suatu karangan dengan dihafal. Sejak Rendra pulang dari Amerika, sebutannya berubah menjadi poetry reading alias baca puisi. Tak harus hafal, karena si pembaca membaca tulisan di lembaran kertas yang dipegangnya. Ihwal penuh perasaan, penghayatan dan semacamnya, antara deklamasi dan baca puisi sama, artinya setiap orang tampilkan pertunjukannya sendiri.

Performing art  atawa seni pertunjukan, jelas sudah sejak jaman poerba dilakukan manusia. Termasuk prosesi ritual komunitasnya. Di Indonesia sekitar tahun 90-an seni pertunjukan menjadi fakultas mandiri, setara fakultas seni lainnya. Dan pembacaan puisi pun rupanya ikut dalam arusnya. Mulai dari baca puisi sendiri diiringi bunyi (di era deklamasi pun ada) dan baca puisi kelompok, kemudian dibuat aransementasi menjadi musikalisasi, maupun dramatisasi, dan seterusnya.

Komunitas sastra ada yang justru merasa kurang percaya diri ataupun kurang harga diri, jika dalam pertemuan tak ada pertunjukannya. Karenanya, bahkan, butuh panggung, dekor, lengkap dengan wardrop, sounds-system & lighting, agar suasananya 100% semarak. Meski, jika anda datang dan menyimak cermat, hadirin yang menonton pertunjukan yang tampil, rata-rata kurang dari 40%. Yang lainnya? Asyik ngobrol, cekakak-cekikik, foto-fotoan, dengan sesama hadirin.

Kecenderungan ini mungkin tak bisa dihindari, hemat saya, mengingat psiko sosiologis warga masyarakat jaman ini. Ekspresi diri, tampil di depan khalayak nyaris menjadi keharusan.

Bayangkan, tanpa memiliki kemampuan penguasaan panggung, seseorang tampil: wajahnya tertutup kertas/buku yang dipegang, atau mulutnya jauh dari microphone. Jadi, suaranya sayup, tampangnya tenggelam. Sebaliknya, ada yang bergaya berlebihan. Entah kata, entah kalimat, entah tanda baca, semuanya dibaca rata, atau ada juga yang tampil dengan berteriak-teriak. Belum lagi ada yang tangan, atau kepala, atau  badan, kakinya terus digerakkan, mirip kena penyakit ayan. Dan banyak lagi. Puisinya bicara apa, gaya tampil, iringan bunyi-bunyiannya entah ke mana? Benarkah yang penting gaya? Jika malu-malu tampil apalagi takut, dikira bakal ketinggalan dan ditinggalkan. Sebutan ‘narsis’ bukan lagi ejekan?!

Sekali lagi TKI berperan besar merubah penampilan seseorang. Butuh dan haus panggung terlampiaskan dengan tampil,  di mana pun, kapan pun. Bahkan, sekalipun audience tak menyaksikan.

Pertanyaan berikutnya: masihkah sastra = ‘karya’ tulis? Atau: benarkah sastra bukan sekadar ‘karya’ tulis?

(14 September 2011 pukul 14:22)

Penulis adalah mantan Redaktur Seni Budaya Majalah Amanah