Pemimpin dan Amanah

oleh Antho M. Massardi

Antho M. Massardi

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allãh dan Rasul-Nya, juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahuinya,” (QS al-Anfãl [8]: 27).

Sahabat, setiap orang adalah pemimpin. Setiap pemimpin diberi amanah atas kepemimpinannya. Ayat di atas mengingatkan kita, bahwa orang beriman yang diberi amanah dilarang berkhianat. Orang beriman kalau dipercaya ia amanah, kalau berjanji ditepati, kalau bicara benar. Itulah ciri yang membedakannya dengan orang munafik yang selalu berkhianat, ingkar janji, dan berdusta kepada pemberi amanah, Rasulullãh, dan kepada Allãh. Singkatnya, amanah adalah tugas mulia yang harus ditunaikan sepenuh kesanggupan si penerima tugas, yaitu “orang yang kuat dan dapat dipercaya,” (QS al-Qhashash [28]: 26).

Kuat Raga, Ruh, dan Jiwa

Itu sebabnya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,”  (QS al-Baqarah [2]: 286). Untuk itu, sebelum mendapat amanah yang lebih besar, kalian harus menyehatkan raga, menguatkan ruh, dan meluaskan jiwa keimanan kalian dengan ilmu agama, pengetahuan, teknolgi, budi-pekerti luhur, dan segala keahlian untuk menghimpun kekuatan. Dengan kekuatan raga, ruh, dan jiwa, insya Allãh, kalian akan mampu melaksanakan perjalanan hidup untuk melaksanakan amanah dari Allãh, Rasulullãh, dan umat.

Empat Dimensi

Sahabat, di dunia ini, hidup kita dibatasi oleh empat dimensi. Yaitu bumi, tempat kita beramal; umur, sebagai batasan waktu kita hidup; iman Islam, sebagai landasan beribadah; dan potensi diri, sebagai modal beramal saleh. Nah, sebagai generasi penerus kaum Muslimin, kalian harus terus meningkatkan pengetahuan dengan serius belajar dan berlatih, agar memiliki potensi yang berkualitas dan produktif sehingga memberi banyak manfaat kepada umat. Orang-orang beriman yang dirahmati Allãh adalah mereka yang memiliki jiwa besar, visioner, dan selalu sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah untuk berkarya dan beramal saleh bagi kehidupan. Sebab, kehidupan di dunia ini sungguh-sungguh sangat singkat.  

Fitrah 

Sahabat, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, semuanya enggan untuk memikul amanat itu karena khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia,” (QS al-Ahzab [33]: 72). Artinya, dalam fitrahnya, kita adalah satu-satunya makhluk yang harus melaksanakan amanah Allãh. Yaitu, amanah hidayah, makrifah, dan iman kepada Allãh atas dasar niat, kemauan, usaha, dan tujuan penghambaan diri. Semua itu tercakup di dalam Rukun Iman dan Rukun Islam, sebagai pengakuan dan kesaksian, bahwa tiada tuhan yang patut disembah selain Allãh dan bahwa Nabi Muhammad shallallãhu alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan terakhir pilihan-Nya yang membawa syariah Islam di bumi Allãh sebagai rahmat-Nya. Amanah itu akan diminta pertanggungjawabannya. Barangsiapa menunaikan atau meninggalkan amanah sekecil apa pun, niscaya akan mendapatkan balasannya dan dihadapkan kepada Allãh SWT. Balasan pahala akan memberikan kebaikan, balasan dosa akan membawa keburukan bukan hanya bagi dirinya, juga bagi keluarga dan lingkungannya.

Yang Berhak

Setiap Muslim wajib menyampaikan amanah sekecil apa pun, amar makruf wa nahi munkar, dan saling menasihati tentang kebenaran dengan kesabaran. Namun, amanah harus ditunaikan dengan benar dan disampaikan kepada ahlinya. “Sesungguhnya Allãh menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allãh memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allãh adalah Mahamendengar dan Mahamelihat”. (QS an-Nisã’ [4]: 58).

Paling Tinggi

Amanah yang paling tinggi adalah amanah bagi pemimpin untuk berbuat adil dalam menetapkan hukum. Itu sebabnya, pahala yang paling tinggi diberikan kepada pemimpin yang melaksanakan keadilan sebagai pemimpin umat. Begitu pula sebaliknya, bahaya paling tinggi adalah pemimpin yang melakukan kezaliman pada saat memimpin umat. Kezaliman pemimpin akan menimbulkan kehancuran dan kerusakan total bahi bangsa negaranya. Kalau pemimpinnya korup, pendusta, tak dapat dipercaya, khianat, dan hanya mementingkan diri, keluarga, dan golongannya, maka rakyat dan negaranya akan bangkrut. Bahkan, akan dilaknat sebagaimana Fir’aun, Haman, dan Karun.  (Baca Kalam Ilahi).

Kiamat

Demikian pentingnya pelaksanaan amanah harus oleh orang yang beriman, adil, jujur, dan ahlinya, sebab bila tidak maka akan terjadi kiamat. Nabi Muhammad shallallãhu alaihi wa sallam pernah bersabda,”Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat. Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat,” (HR Bukhari). Artinya, jika pemimpin tidak amanah maka kita tinggal menunggu kiamat atau kehancurannya. Apakah di negara kita para pemimpinnya tidak korupsi, sudah amanah, dan tidak berkhianat?

Paling Dicintai 

Sahabat, manusia memang zalim dan bodoh, “sehingga Allãh mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan,” (QS al-Ahzab [33]: 73). Padahal, menjadi pemimpin yang adil mendapat banyak jaminan dari Rasulullãh: 1. Mendapat perlindungan Allãh pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan Allãh. 2. Sehari bersama pemimpin yang adil lebih baik dari ibadah seorang lelaki 60 tahun. 3. Termasuk tiga kelompok yang tidak ditolak doanya: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai berbuka, dan doa orang yang tertindas. 4. Paling dicintai dan paling dekat kedudukannya di sisi Allãh pada hari kiamat. Dan masih banyak lagi.

Wajib Berjihad

Kewajiban kitalah, terutama kalian sebagai generasi Anak Saleh, untuk menjadi pemimpin yang amanah, jujur, adil, sederhana, dan senantiasa menegakkan kebenaran dan mengutamakan amal untuk kemaslahatan dan kemakmuran hidup rakyatnya. Kalian Anak Saleh harus berjihad untuk menjadi dan melahirkan pemimpin yang bertakwa, amanah, berani, jujur, adil, sederhana, seperti  yang diamanahkan Allãh dan Rasulullãh. “Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”  Sebagai generasi penerus Anak Saleh, kalian juga akan ditanya, untuk apa dan bagaimana kamu menggunakan waktu, untuk belajar dan berlatih ilmu dan keterampilan iptek atau bermalas-malasan main game dan bersenda-gurau saja?

Khalifah Umar bin Khaththab berkata, ”Jika ada seekor keledai jatuh di Irak karena jalannya rusak, maka aku akan ditanya di hadapan Allãh SWT, ‘Kenapa kau tidak memperbaiki jalan itu, padahal itu termasuk wilayah kekuasaanmu?’” Allãh sangat membenci dan sangat keras siksanya kepada pemimpin yang zalim dan khianat pada hari kiamat kelak.

Sahabat, semoga kita dan kalian mendapatkan anugerah istri/suami dan keturunan yang saleh, serta menjadikan kita sebagai pemimpin dan imam bagi orang-orang yang bertakwa. Amin ya, Rabbana.

(5 Februari 2012 pukul 14:10 )

Baca juga: Ciri Pemimpin Tidak Amanah dan Khianat

Pertama, pemimpin yang tidak memenuhi syarat keahlian.
Kedua, mementingkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya.
Ketiga, zalim.
Keempat, menyesatkan umat.
Kelima, kehancuran dan kerusakan seluruh tatanan sosial masyarakat.

Mau tahu lengkapnya?

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah “Aku Anak Saleh

Iklan