Karena ‘Kebodohan’-nya, Diperlakukan Rendah

Oleh Ella – Komala Ahadiati

Para "Amah' ke luar Rumah, saling Bertukar Cerita

Suatu hari Pak Din (sebut saja begitu) membayar kurang lebih sebesar 2.000 Real kepada seseorang, untuk ‘membebaskan’ Siti salah seorang TKW kaburan. Setelah dibebaskan, Siti pun dipinang menjadi istrinya. Namun tak lama setelah pernikahan, barulah Pak Din tahu kalau Siti ternyata memiliki suami di Indonesia.

Tidak hanya itu –tanpa sepengetahuannya– apabila Siti ditinggal di rumah Pak Din, dia akan pergi entah ke mana untuk melayani laki-laki lain. Masya Allah, Siti memang sudah biasa menjual diri, akibat ‘haus’ pada Real.

Jangan aneh, kalau Anda menemukan kasus TKW yang bersuami di tanah air, tapi di Saudi juga menikah lagi, alias Poliandri. Selain faktor uang, alasannya karena manusiawi. Seorang perempuan tetap membutuhkan lelaki, apalagi jauh dan bertahun-tahun. Apakah ini kesalahan mereka semata?

Seorang kawan dari Bangladesh, yang berprofesi sebagai ahli reparasi elektronik, melihat saya lalu memalingkan muka dan tersenyum masam. Dia bicara dalam bahasa Inggris yang terbatas.

“Perempuan Indonesia itu murahan.. Mereka bisa dibeli, hanya dengan lima puluh real..”

Hey, tidak semua!” tegur suami saya. Keduanya lantas berdebat. Tapi mau dibela seperti apa pun, memang kenyataannya banyak TKW kaburan yang menjadi pelacur.

Saya tidak bisa menyangkal pendapat orang Bangladesh itu, terutama apabila kami pulang sepesawat dengan para TKW. Bila Anda mendengar perbincangan mereka di  toliet wanita di bandara, bisa jadi Anda akan terkejut luar biasa. Mereka yang tadinya bercadar dan berjubah hitam, kemudian tampil dalam bentuk aslinya. Berpakaian seksi dan berdandan ala artis. Mereka ramai dalam pembicaraan, antara canda dan tawa cekikikan.

Tau kamu majikanku bilang apa? Dia suruh aku berdiri, dia bilang .. (perempuan ini bicara dalam bahasa Arab, yang saya tidak faham) ..dia suruh aku copot semua bajuku..” Mereka yang tengah sibuk merias diri, langsung ramai tertawa. Ini hal biasa dan lucu untuk mereka.

*****

Seruan Menyelamatkan TKW

Dari Dubai hingga dalam pesawat menuju tanah air, saya memegang erat tangan suami. Jangan sampai saya disamakan dengan TKW yang genit-genit, dan para pramugari maupun petugas bandara memahami sikap ini. Tentu saja saya –sebagai perempuan Indonesia– sangat malu melihat sikap mereka. Tidak semua, tapi kebanyakan mereka demikian. Kerena kegenitan mereka, membuat orang tidak menghargai mereka. Anda dapat perhatikan, bagaimana perlakuan merendahkan para petugas bandara di tanah air terhadap mereka.  Lalu sikapnya sendiri –yang membuat mereka diperlakukan rendah– dan karena ‘kebodohannya’, mau saja diperlakukan demikian. Setalah itu –ketika mereka berada di Bandara Internasional negara lain, Dubai misalnya– mereka duduk di lantai berkumpul, lesehan…

Dalam pesawat, seorang laki-laki Arab tertawa bercanda pada TKW. Dari yang saya dengar, ia ingin temasya ke Indonesia. Apa yang terjadi kemudian, sungguh memalukan. Laki-laki itu berbaring tidur di pelukan TKW, yang tertawa-tawa dan memeluknya dengan bangga. Tapi rupanya bukan TKW itu saja yang ‘tanggap’ terhadap laki-laki ini, TKW lainnyapun menanggapinya dengan ‘riang’. Dari berebut toilet, hingga berebut kursi. Akhirnya saya gebuk keras pintu toilet yang sedang saya gunakan, dan begitu saya keluar saya pelototi laki-laki dan TKW tadi.

Sementara TKW yang duduk di samping saya, sibuk termenung. Setelah ia berhasil mengelabui majikannya –dengan minta izin pulang sebentar– padahal sebenarnya karena ia sudah tidak kuat alami pelecehan seksual. Betapa baik, bijaksana dan polos majikan perempuannya, sehingga tidak tahu kalau suaminya memperlakukan Amah-nya secara tidak senonoh.

“Ti, lihat, ada Amah yang disetrika, sambil menunjukkan berita koran. Majikan perempuan geleng-geleng kepala sambil membelai saya. Tapi dia tidak tahu, kalau suaminya juga begitu..” kisah Amah tentang majikannya. Bagaimana ketika sang istri pergi, sang suami lantas membuka seluruh pakaiannya di depan Amah-nya dan..

“Kamu diperkosa?” tanya saya.

“Tidak, tapi kalau saya tetap di sana, entah apa yang akan terjadi? Ibu saya merasakan firasat yang tidak baik dan menyuruh saya segera pulang. Saya harus pulang bu…” tuturnya sedih.

*****

Sekali lagi, tidak semua TKW genit atau nakal. Tapi sebagian lainnya adalah TKW yang menderita, teraniaya, dan terpaksa bekerja sebagai TKW, karena tidak ada pekerjaan lainnya.

Atau, memang, ada yang bahagia menjadi TKW? Mungkin, hanya sekian persen dari mereka..

Penulis adalah mantan Redaktur Majalah Amanah