Hentikan Pengiriman TKW ke Luar Negeri

Oleh Ella Komala Ahadiati

Hentikan TKW, sekarang..!!

Seorang wanita cantik membuka pintu dan mempersilahkan kami dengan ramah. Dari jilbab dan caranya menyambut kami, tentu bukan Amah (pembantu) biasa. Warna jubah bercorak keemasan dan gerakannya yang lincah membuat kami terpana. Kami diajak masuk ke rumah majikannya, apartemen yang ditawarkan pada kami untuk penginapan jamaah Haji atau Umroh, terdiri dari beberapa tingkat  dan cukup bagus.

Dia menunjukkan beberapa ruangan, seakan-akan dia memiliki peranan besar menawarkan penginapan ini. Namun di sela-sela percakapannya yang menggunakan bahasa Indonesia dengan lantang dan cepat, ia sempat menyelipkan ‘pesan-pesan’ yang mengejutkan.

Saat berjalan cepat maupun ketika naik lift, Neng –ia menyebut dirinya begitu– menuturkan, ia sudah lama tidak melihat kawannya –sesama Amah— yang bekerja di majikan tak jauh dari tempat ini. Sambil terus menunjukkan beberapa ruangan Neng pun melanjutkan, ternyata setelah diselidiki, temannya dikurung di kamar dan telah mengalami sejumlah penganiayaan.

“Teman saya pernah tertawa, tetapi oleh majikannya malah disangka mengejek. Jadi, lidahnya dipotong. Karenanya saya bilang ke majikan, kalau kamu berani menganiaya saya, saya akan bunuh kamu. Saya tidak takut sama kamu!” tuturnya berapi-api. Sebentar kemudian dipanggilnya majikan laki-laki, seorang Arab yang tidak lebih tinggi dari Neng. Dia menyambut kami dengan ramah dan mempersilahkan menuju ruang tamunya. Neng kemudian bicara –dalam logat bahasa Arab yang kental– dengan cepat kepadanya. Yang membuat kami terpukau adalah sikapnya ketika berbicara kepada majikan, yang mungkin telah membuatnya bertahan dan masih aman bekerja di sini.

“Bicara dengan mereka, tidak boleh menunduk. Harus tegas, “ jelas Neng dan menyempatkan kisahkan kepahitan hidupnya.

Neng sudah lama di sini. Orangtua meninggal, Neng tidak dikasih izin pulang, Neng cuma bisa nangis. Tapi selama mereka baik, Neng layani semua perintah majikan. Neng juga yang menggosok punggung majikan. Tapi mereka baik sekali, mereka kirim uang untuk bangun mesjid di kampung Neng,” cerita Neng nyaris tanpa jeda, seakan tak ada koma.

Banyak Hal yang Terjadi

'Amah-amah' yang Gundah, Berkeluh-kesah

Neng memang salah satu Amah beruntung, memiliki majikan yang baik. Sepasang majikan yang berusia lanjut, namun masih semangat berbisnis. Tapi tidak jauh dari tempat ini, beberapa Amah kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan, membuat miris kita yang mendengar ceritanya.

Kehidupan TKW seperti Neng adalah kehidupan yang ‘masih aman,’ sehingga kisahnya seolah menjadi ‘rayuan’ para wanita di kampung halaman untuk segera bekerja di kawasan Timur Tengah, Namun sebenarnya banyak hal yang terjadi pada TKW Indonesia, khususnya yang di Saudi Arabia. Antara lain:

1. Penipuan, yang terjadi pada berbagai unsur.

a. Pekerja dibohongi dengan janji akan dipekerjakan di tempat yang jelas siapa majikannya, aman, dan sebagainya. Tetapi tidak.pada kenyataannya, malah seringkali lepas tangan ketika timbul masalah.

b. Pekerja dipalsukan keterangan biodatanya, misalnya disebutkan usianya telah dewasa. Padahal masih anak-anak, yang berarti kondisi fisik, mental dan pengetahuannya pun masih sangat labil dan rawan.

c.  Orangtua atau keluarga juga ikut dibohongi, baik tentang kondisi maupun tempat tujuan bekerja.

d. Majikan pun tak luput dibohongi. Setelah mereka mengeluarkan banyak uang membayar berbagai biaya agar mendapatkan Amah, ternyata mendapat Amah yang tidak sesuai. Melarikan diri atau dilarikan oleh penyalurnya, sehingga kerap justru membahayakan para TKW sendiri.

2. Sindikat penjualan wanita (woman trafficking).

Hal ini sudah banyak terjadi. Bilamana Amah berada di tangan penyalur jahat, mereka akan menjadi ‘barang dagangan’ sejak di tanah air maupun setelah sampai di negara tujuan.

3. Pemerasan.

Bisa jadi seorang TKW pulang dengan membawa gajinya dari majikan yang baik, tapi bagaimana sesampainya di Indonesia? Sejak di bandara sampai kampungnya, ia akan menghadapi berbagai pungutan liar yang besarnya sampai ratusan ribu rupiah, meski sekadar untuk ongkos bis atau ojek sekali pun.

Lalu, bagaimana bila dia sampai di rumahnya? Apa yang terjadi, setelah bertemu dengan agen penyalur pekerja?

4. Penganiayaan dan Pembunuhan.

Dalam berbagai bentuk: mulai dari tak dibayar gajinya, tidak diberi makan sepantasnya, diperlakukan kasar, dilukai sampai dibunuh. Bagi TKW pemilik dokumen resmi saja, belum tentu aman. Apalagi untuk mereka yang berangkat melalui para calo, Berbagai kemungkinan buruk lebih mungkin terjadi. Antara lain:

5. Pemerkosaan. Sudah tidak aneh lagi banyak TKW yang pulang dengan membawa bayi atau hamil.

6. Pelecehan seksual

7. Hukuman yang tidak adil

8. Poliandri

9. Pelacuran

10. TKW  ‘kaburan’ (melarikan diri dari majikan)

Tidak semua kejadian buruk terungkap ke media, namun memang terlalu banyak cerita kelam tentang TKW. Yang paling menyedihkan adalah pemerintah kita selaku pengambil kebijaksanaan –dan tentu akibatnya juga para TKW– telah berperan besar dalam ‘mengotori’ tanah suci Makkah Al Mukarramah. Sampai kapan kah ini akan dipertahankan?

 Bagaimana halnya dengan TKW Malaysia? O, rupanya sama saja..

Bila moratorium TKW belum dapat dilakukan, bukankah lebih baik sistem (termasuk prasyarat bagi TKW dan negara penerima) serta cara pengirimannya yang diperbaiki..? Sulitkah..?!

Penulis adalah mantan Redaktur Majalah Amanah

Iklan