Kacung Dipancung

oleh Uki Bayu Sedjati

Uki Bayu Sedjati

Kacung, jongos, bediende, pesuruh, pembantu ternyata memang warisan dari kolonial. Koloni itu wilayah, maka kolonial adalah nafsu menguasai wilayah. Sifat sikap manusia menguasai manusia lain oleh ahli kemasyarakatan dinyatakan sebagai homo homini lupus alias manusia serigala bagi manusia lainnya. Praktek yang paling jelas adalah jual-beli budak belian. Bahasa sekarang: trafficking. Setelah menguasai wilayah melalui perang penaklukan atau pun bujuk rayu dusta – tipu daya perjanjian maka mereka yang penguasa merasa boleh seenak perutnya mengangkangi yang dikuasai. Misal:

Semula Belanda menunjukkan sikap bersahabat kepada penguasa pribumi, dengan tujuan mencari komoditas lada dan rempah-rempah lain pada umumnya. Namun, tidak puas atas keuntungan yang biasa diperoleh dalam perdagangan, mereka mendirikan serikat dagang, Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada 1602 atas ide Jaques I Hermite. VOC kemudian tidak segan-segan melaksanakan kekuasaannya secara fisik terhadap penguasa yang tidak mau mengakui monopoli perdagangan. Arah politik yang demikian itu semakin jelas ketika Jan Pieterszoon (J.P.) Coen diangkat menjadi gubernur jenderal VOC pada 1618.

Cuplikan catatan Mohammad Guntur Shah, S.Ag. dan Martin Moentadhim S.M. (baca bukuSit-Lam,  Sejarah Cina-Islam di Indonesia, Sanggar Jangka Langit, Bekasi, Januari 2004) —menunjukkan bahwa sifat angkara nyaris menjadi perilaku dasar PENGUASA

”Hei, kau lagi apa?!” mendadak dari belakang kudukku ada suara Boss Gedhe. Tumben dia masuk ke ruang karyawan. Ada apa, yaa?

”Mmm, nulis..nulis sejarah, BosDe,”gemetar aku dibuatnya.

”Apa itu sejarah?? Buat kacung seperti kau, mana ada sejarah?!!”

”Iyya, yaa..”

 Biarpun cuma dua kalimat, rasanya kakinya menginjak leherku. Itulah penguasa.

Merapi: Isyarat Mutakhir

Maaf, setiap kali membaca kata: penguasa, jangan langsung diartikan sebagai perpaduan pejabat dan pengusaha. Sebab tidak semua penguasa perilakunya dhalim (baca: ZALIM), meski memang sebagian besar mengindap penyakit itu boleh disebut:  inheren – minimal gejalanya sudah ada dalam dirinya.

”Wooiii, Ikke dengar Yiy dapat nyai baru ha haa..?”

”Psst, Yiy jangan keras bicara nanti Yiy punya mevrouw melotot ….”

”Oke, oke, ssst…dapat pasokan dari koloni Java atau luar Java?”

”Itu anak bediende ikke, zeg. Campuran, dia punya papa Cina en bidende Ikke Jawa..”

”Inlander heh? Tapi Yiy hati-hati heeh, jangan sampai bunting. Masalah kita sudah banyak. Jangan sampai lahir inlander seperti Untung Surapati yang berontak lawan kompeni..!”

”Yiy punya otak tumpul, zeg. Mau bunting terus buat apa takut, kita tiru cara Arab lihay…bikin laporan dia bermasalah pemerintah pasti bela kita, en..bediende itu dipancung..”

”Oww yaa, Yiy punya cara jitu..!”

Kacung, jongos, bediende, pesuruh, pembantu nasibnya buntung jika bertemu dengan majikan yang penguasa. Maaf, sekali lagi, jangan langsung diartikan sebagai perpaduan pejabat dan pengusaha. Sebab perilakunya sudah sama dengan penjahat. Biadab.

Obrolan seperti itu dapat berlangsung di mana saja, siapa saja, kapan saja. Setiap kali baca atau dengar orang menyebut Saudi Arabia, Malaysia, Singapura, RRC, Mesir, Uni Emirat Arab, langsung saja obrolan seperti itu muncul di benak. Apakah kita yang pernah lantang serukan Sumpah Pemuda: satoe Nusa, satoe  Bangsa, satoe Bahasa, tidak tergerak dan peduli menyaksikan saudara-saudara yang nasibnya dipermainkan oleh penguasa dhalim alias zalim?!

Asal tahu saja – jika KPK boleh menyadap siapa saja yang punya apartemen mewah, yang mukim di perumahan mewah, yang setiap hari lobi di hotel-hotel mewah pastilah nilai rekamannya jadi komoditas dunia, bahkan bisa jadi devisa – yaa, obrolan semacam itu juga ada di sini, di Nusantara yang kita cintai.

Psst, bukan mustahil –entah porsi kecil, entah sedang, mungkin juga besar– sifat sikap dhalim alias zalim itu ada dalam diri kita masing-masing. Lihat cermin, segera!

(21 Juni 2011, pukul 18:59)

Penulis adalah Redaktur Senior bidang Seni Budaya Majalah Amanah