Orang Lain adalah Neraka, Benarkah?

Oleh  Nur Fuad

Nur Fuad

JP Sartre, filosof eksistensialis Perancis pernah berpendapat, orang lain adalah ‘neraka.’ Sebuah pandangan yang pesimistis terhadap hubungan antar manusia. Sartre memandang manusia –dengan kebebasannya– siap memangsa sesamanya. Manusia pada dasarnya tidak senang, melihat tetangganya bahagia. Diam-diam, manusia itu ber-jingkrak ke-girang-an, bila tetangga yang menjadi saingannya mendapat celaka.

Perjumpaan dua manusia boleh jadi akan meletupkan konflik, karena yang satu mungkin meng-‘obyek’-kan yang lain. Orang juga sering menghindari beradu pandang satu sama lain, karena yang sebenarnya akan terjadi adalah upaya saling menundukkan.

Sartre di satu sisi benar, manusia mempunyai sisi gelap dan kelam. Hidup manusia, dipenuhi bayang-bayang perang, kekejaman dan penyalahgunaan kebebasan. Seperti disebut dalam Al-Qur’an, satu sisi manusia bersifat al-fujur atau sifat yang cenderung pada kesesatan. Namun Sartre keliru, jika isi perut dan kepribadian manusia hanya al-fujur saja. Banyak fakta menunjukkan manusia memiliki sisi baik, seperti sifat ingin menolong, gampang merasa iba, perasaan solidaritas dan lain-lain.

Di zaman modern seperti sekarang, hubungan antar manusia terjerat oleh faktor kepentingan, entah kepentingan positif atau negatif. Sehingga manusia tak mungkin bisa hidup sendiri, tanpa berhubungan atau bekerjasama dengan orang lain. Seandainya dalam diri manusia tidak dikaruniai perangai yang baik –atau dalam istilah Al-Qur’an disebut sifat taqwa– dunia dan peradabannya akan hancur. Manusia –sepanjang hidupnya– akan sibuk mengatur siasat untuk membunuh dan melenyapkan yang lain. Masyarakat, begitu juga negara dan suara hati, akan lenyap ditelan pertikaian abadi.

Karena itu, Allah menawarkan solusi, seperti firman-Nya dalam QS: Al-Hujurat ayat 13 ”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Allah menawarkan ta’arruf, saling mengenal, untuk mencegah terjadinya kehancuran oleh pertikaian manusa. Kata ta’arafu berasal dari kata dasar arrafa, yang berarti saling mengenal. Banyak kata atau istilah yang diambil dari kata dasar arrafa, seperti al-urf  (yang berarti adat istiadat), atau al ma’ruf (perbuatan baik).

Ta’muruna bil ma’ruf  bisa kita terjemahkan sebagai ajakan kepada perbuatan baik, yang kita kenal dengan baik. Apa saja perbuatan baik yang kita kenal itu? Banyak, dan perbuatan baik tidak harus berasal dari informasi Al-Qur’an dan Hadits. Adat istiadat yang baik, saling berkunjung, gotong royong, unjuk rasa melawan ketidakadilan, melawan korupsi dan penguasa yang korup, semuanya masuk kategori al-ma’ruf,  perbuatan baik yang kita kenal manfaatnya.

Saling mengenal dan bekerjasama

Baiklah, kita kembali ke ulasan soal ta’aruf. Apa pentingnya, proses mengenal itu bagi manusia? Jawabannya, memang, bisa tidak sederhana. Mengenal adalah sifat asasi manusia. Nabi Adam, unggul melawan para malaikat, karena kemampuannya mengenal nama-nama yang menjadi simbol ilmu pengetahuan. Mengenal adalah proses kognitif yang melibatkan kesadaran, bahwa ada sesuatu atau ada orang lain di luar dirinya yang memiliki kadar kemuliaan yang sama. Tapi proses mengenal orang lain juga tidak mudah. Seorang wanita cantik akan keberatan, berkenalan dengan seorang pria lusuh dan kampungan. Begitu juga orang kaya dan terhormat, tidak sudi mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan pria jelata yang miskin.

Kenapa begitu? Ya, karena mengenal atau berkenalan adalah proses saling membuka diri. Dan sebagian orang keberatan mengakui, ada orang lain yang cukup penting menyokong kehormatan hidupnya. Manusia tidak bisa menjadi apa pun, kecuali kalau orang lain mengakuinya. Jika ada manusia yang menolak konsep ta’aruf, maka dia harus siap menghadapi kehancuran. Dapat saya katakan, proses ta’aruf  adalah proses yang harus dilalui untuk melanggengkan kedamaian.

Ber-ta’aruf sama dengan mengakui, bahwasanya saya sama dengan orang lain –atau al-musawa, yang berarti sama kedudukannya sebagai makhluk– yang diberi kebebasan dan tanggungjawab oleh Allah. Meski pun status sosialnya berbeda. Ada yang kaya dan ada yang miskin, juga ada yang pandai dan ada yang bodoh.

Saling mengenal ini, tidak pula dibatasai hanya dengan orang Islam. Sebab pada ayat di atas, Allah memanggil seluruh manusia. Baik manusia yang beragama Islam, Kristen, Yahudi, atau preman maupun tukang ojek, bahkan manusia atheis atau anti Tuhan, kita dianjurkan berkenalan.

Output ta’aruf, selain melahirkan kesadaran al-musawa atau equal, proses saling mengenal juga semestinya melahirkan kesadaran saling menghargai —tepo-seliro atau al-tasammuh— toleran terhadap kemungkinan adanya perbedaan. Bisa saja perbedaan pada status sosial maupun keyakinan atau sekadar perbedaan selera musik (dangdut, rock, pop dan lain-lain).

Namun, lahirnya kesadaran al-tasammuh atau toleransi belum cukup. Sebab toleransi, kadang masih menyisakan perasaan terpaksa, tidak ikhlas. Terpaksa toleran pada perbedaan, karena takut dibilang tidak nasionalis –misalnya. Nah, dalam ber-ta’aruf, butuh tidak hanya tepo-seliro, tapi juga ketulusan untuk saling memahami (al-tafahum) di tengah heterogenitas masyarakat.

Jika ditarik garis merah –sebagai masalah pokok kita, dalam hubungan antar warga dan antar umat beragama– adalah kurangnya pengembangan rasa  saling  pengertian  yang tulus dan berkelanjutan. Kita hanya akan mampu menjadi bangsa yang kukuh, kalau ummat masing-masing agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain, rasa saling  memiliki (sense of  belonging), yang sungguh-sungguh tanpa melihat latarbelakang suku, agama dan derajat sosial.

Pada akhirnya, hanya Allah yang tahu, siapa di antara kita yang paling mulia di sisi-Nya. Inna akramakum indaallahi at-qaakum.  Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Penulis adalah mantan Redaktur Majalah Amanah