Maskun Iskandar

Saya Ingin Menjadi Penulis,
Adakah Cara Belajar  yang Cespleng?

(Seri 1)

oleh Maskun Iskandar

=====================================

Pokok bahasan lanjutan:

  1. Membuat tulisan yang berisi dan berbobot
  2. Piawai menyusun tulisan

=====================================

S

aya ingin sekali menjadi penulis, tetapi tak punya bakat,” tulis Ance dalam e-mail yang dikirimkan kepada saya di Jakarta. “Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat. Dada ini rasanya sesak, penuh oleh ide. Namun, ketika saya tulis, tak satu pun surat kabar yang mau memuatnya. Adakah cara belajar menulis dengan cepat?”

D

ada ini rasanya sesak, penuh oleh ide. Namun, ketika saya tulis, tak satu pun surat kabar yang mau memuatnya, begitu tulis Ance sebagaimana disebutkan pada awal tulisan ini. Perihal menembuskan ide pada pikiran orang lain sudah kita bicarakan, kini giliran berikutnya: bobot isi tulisan. Inilah faktor yang paling menentukan apakah suatu tulisan diterima atau ditolak oleh redaktur.

 IV. Tulisan yang Berisi dan Berbobot

    B

obot isi tulisan ini ditentukan oleh cara mencari bahan tulisan. Contohnya begini: kita tahu bahwa di Amerika Serikat ada penghargaan jurnalistik bergengsi yang disebut sebagai “hadiah Pulitzer”. Pulitzer adalah wartawan yang sangat dihormati. Inilah kisah ketika ia pertama kali bekerja sebagai wartawan.

Joseph Pulitzer

Pulitzer segera meluncur. Di tengah kerumunan orang di depan toko buku itu tampak sekelompok orang berpakaian mentereng, dagu terangkat, angkuh seperti burung merak, membawa buku catatan dan potlot (bukan bolpoin  karena bolpoin baru ditemukan 20 tahun kemudian, 1888). Mereka itu wartawan.  Tak seorang pun di antara mereka yang sudi menjawab ketika Pulitzer menanyakan, mana di antara mereka yang bernama Peters.

Peters itu koordinator para wartawan. Pada waktu itu di St. Louis, Amerika Serikat, polisi hanya memberi informasi kepada Peters. Keterangan polisi tersebut kemudian disampaikan oleh Peters kepada para wartawan.

Ketika Peters keluar dari toko buku setelah mewawancarai polisi, wartawan segera mengerubunginya. “Tak banyak informasi yang kita peroleh pagi ini,” katanya. “Perampokan terjadi pagi tadi sebelum Pak Roslein sampai di tokonya ini.  Kunci pintu dibuka paksa. Peti besi dibongkar. Uang 175 dolar lenyap. Pak Roslein mencurigai seorang yang mondar-mandir tengah malam di depan toko ini. Orangnya tinggi, berambut kuning keemasan, di pelipisnya ada cacat luka. Polisi juga mencurigai orang itu. Sudah kalian catat?”

“Cuma itu, Peters?” tanya para wartawan.

“Ya, cuma itu.”

Para wartawan pun kemudian pulang. Pulitzer celingukan. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat. Pak Redaktur tadi tidak memberikan pengarahan apa yang harus dilakukan oleh seorang wartawan. Dia heran melihat para wartawan yang terhormat itu ngeloyor begitu saja, sedangkan pada pikiran dia, keterangan dari Peters tersebut banyak yang tidak jelas. Maka, dengan teramat takzim ia mendekati Peters dan bertanya, “Maaf Tuan Peters, saya Joseph Pulitzer dari harian Westliche Post. Baru hari ini saya bekerja. Boleh saya bertanya, mengapa polis mencurigai orang yang berambut kuning keemasan?”

Peters tertegun mendapat pertanyaan itu. “Mengapa? Ya… ya… ya… mengapa. Tadi tak terpikir oleh saya untuk bertanya mengapa. Eu… begini saja. Kamu tanyakan saja langsung pada polisi. Tuh, mumpung masih ada di dalam toko.”

Pulitzer bergegas masuk. Hampir saja ia menubruk polisi gendut yang berdiri di balik pintu.

“Buka matamu!” bentak Pak Polisi. “Baca enggak tulisan di luar bahwa toko ini ditutup! Ini perintah polisi: keluar! K-a-m-u  h-a-r-u-s  k-e  l-u-a-r!”

“Maaf Pak Polisi. Saya Pulitzer, Joseph Pulitzer, wartawan baru dari Westliche Post. Saya….”

“Aku baru saja memberi keterangan sama Peters. Tanya saja sama dia, kecuali kalau kamu mau tahu cara menuliskan namaku, nih, baca: BACKUS. B-a-c-k-u-s. Jelas? Sekarang, kamu keluar!”

Pemilik toko datang menghampiri polisi. Rupanya ia mendengar percakapan tadi. Lalu berkata pada polisi. “Pak, pemuda ini saya kenal. Ia sering datang ke toko ini. Kalau Bapak tidak keberatan, berilah kesempatan baginya. Ini hari pertama dia bekerja sebagai wartawan. Jadi, harap maklum kalau …..”

 “Ya… ya… ya… cukup! Sekarang kamu, Tuan Wartawan! Apa yang ingin kamu tanyakan?”

“Terima kasih. Saya ingin tahu jam berapa persisnya pencurian itu terjadi.”

 “Ya, enggak bisa persisnya, dong! Emang aku nyaksiin pencurian itu! Tapi kira-kira pukul 6 pagi. Soalnya, waktu Pak Roslein tiba di sini pukul 7 gembok pintu sudah kedapatan dirusak. Pukul 5 ada satpam lewat melihat gembok masih utuh.”

“Yang buka pintu,” kata Pulitzer, ”mestinya, John, pembantu Pak Roslein, apakah Pak Polisi sudah menanyai John….”

Polisi bertanya kepada Roslein, “Apa Bapak punya pembantu?”

 “Iya, Pak!” jawab Roslein. “John Eggers namanya. Hari ini ia tidak masuk. Kemarin minta izin tidak masuk kerja, katanya tidak enak badan.”

 “Pak,” kata polisi kepada Roslein.”Kenapa Bapak tadi tidak bilang punya pembantu?”

“Maaf, Pak Polisi. Saya kira itu tidak penting. Lagi pula dia itu sakit.”

“Apakah John tahu nomor kode peti besi?”

“Oh, ya! Saya beri tahu. Dia itu merangkap kasir. Orangnya jujur….”

“Saya berani bertaruh,” kata polisi. “Pencurinya pasti si John. Dia sekarang sudah pergi ke arah barat naik kereta api yang pukul 7 pagi. Besok akan saya tangkap…”

Pulitzer tidak menunggu keterangan polisi selesai. Ia segera menyewa kereta kuda ke stasiun kereta api (belum zamannya mobil waktu itu). Dia bertanya-tanya kepada orang-orang di stasiun, apakah mereka melihat John yang cirinya begini…. begini… begini.  Beberapa orang menyatakan bahwa mereka memang melihat John. Setelah itu Pulitzer kembali ke kantor dan membuat berita kasus pencurian itu.

Esoknya Pak Redaktur Westliche Post, koran yang berbahasa Jerman itu mencak-mencak. Ia memarahi Pulitzer habis-habisan. “Mengapa kamu tidak nurut kata-kataku? ‘Kan kemarin aku bilang, cukup kamu temui Peters. Tidak usah bertingkah macam-macam. Nih, akibatnya! Koran kita diketawain orang. Berita yang kamu buat, beda dengan koran-koran lain. Semua mengatakan pencurinya orang kurus, rambut kuning keemasan…. Eh, kamu nulis yang lain. Tahu enggak, ini bisa mengacaukan pekerjaan polisi. Merusak reputasi koran kita….”

Pulitzer diam saja.

Pak Redaktur kemudian mengadukan kelakukan Pulitzer kepada atasannya. Sang atasan membaca sepintas semua koran yang memuat berita pencurian itu. “Wah, kamu  ternyata telah membuat kesalahan yang buruk sekali. Ini bagaimana ceritanya, kok, bisa sampai begini?” tanya atasan kepada Pulitzer.

Saat Pulitzer sedang bercerita, tiba-tiba terdengar suara menyela dari arah pintu. “Anak ini benar. Baru saja saya bertemu dengan pemilik toko buku. Ia mengatakan bahwa pencurinya telah ditangkap dan mengaku terus terang kepada polisi. Pencurinya, ya, si John, seperti yang ditulis di koran kita. Saya kira besok Westliche bisa memuat cerita bagaimana wartawan kita membantu polisi menangkap pencuri.”

Medali Pulitzer

Walhasil Pulitzer dinilai berhasil. Pertama karena ia kritis, tidak begitu saja menerima keterangan dari Peters dan polisi. Kemudian, dia mempunyai iniasitif mengecek kebenaran tentang perkiraan polisi dengan jalan pergi ke stasiun untuk mengetahui apakah ada yang melihat John naik kereta api. Ia membuat berita yang eksklusif, yang informasinya tidak ada di koran lain.

Apa yang dilakukan oleh Pulitzer sesuai dengan persyaratan untuk menjadi wartawan sebagaimana dikatakan oleh Peter Henshall dan David Ingram (The News Manual), antara lain dapat dipercaya, kritis, gigih, dll.

Dengan cara mencari bahan tulisan seperti itu dimungkinkan akan menghasilkan tulisan yang berbobot, yakni tulisan tersebut:

  1. Informatif. Informasi yang disampaikan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan pembaca,
  2. Benar. Peristiwanya benar-benar terjadi, faktual, bukan dikarang-karang, tidak bohong, tidak memanipulasi, dll. Tiap keterangan atau pernyataan ditunjang oleh bukti dan data.
  3. Akurat. Tepat, tidak menyimpang dari keadaan sesungguhnya.
  4. Objektif. Adil, jujur, tidak berpihak, tidak hanya menurutkan kehendak dan kepentingan sendiri,
  5. Bermanfaat. Membawa kemajuan, menambah pengetahuan, memperluas wawasan bagi pembaca.
  6. Istimewa. Ada keluarbiasaan, berbeda dari yang lain, dan ada kelebihannya dibandingkan dengan yang lain.

Masalahnya, dari mana kita memperoleh bahan-bahan tulisan dengan persyaratan bobot seperti itu. Bahan tulisan itu sebenarnya bertebar di mana-mana, misalnya dapat kita peroleh dari:

  1. bacaan (buku, ensklopedi, kliping, internet, selebaran, dll.),
  2. wawancara (wawancara  pribadi, jabatan, profesi, profil),
  3. liputan (meliput seminar, pidato, peristiwa, dll.).
  4. penelitian dan pengamatan.

Yang jadi masalah, umumnya kita kurang tekun dalam hal menggali bahan tulisan. Perhatikanlah bagaimana para wartawan mencari berita. Misalnya saja hari ini ada sidang kabinet. Para jurnalis menunggu  sampai rapat selesai. Seketika usai dan salah seorang menteri ke luar ruangan, segera wartawan mengerumuninya. Yang ditulis oleh wartawan koran hanya sebatas yang diucapkan beberapa menit oleh narasumber. Esoknya kita baca berita dari menteri tersebut yang semuanya sama isinya.

Demikian juga jika memperoleh siaran pers, umumnya kita sudah merasa cukup mendapatkan bahan dari siaran pers tersebut. Hampir tidak pernah kita mengembangkannya sebagaimana dilakukan oleh Pulitzer. Umpamanya, pagi ini kita mendengar keterangan dari polisi bahwa di suatu kampung terjadi pembunuhan dan polisi berhasil menangkap tersangka. Setelah menerima keterangan tersebut, apakah kita menggali bahan tulisan lebih lanjut? Misalnya, mendatangi ke tempat kejadian, mewawancarai keluarga korban, ngobrol dengan saksi, mengungkap latar belakang peristiwa tersebut, dan seterusnya. Bila hal itu kita lakukan niscaya berita kita akan lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih bernilai, berbobot.

Saya tidak tahu tulisan Ance itu ditolak oleh redaksi karena masalah isinya dianggap tidak berbobot atau mungkin dipandang kurang piawai mengolah tulisan. Teknik menulisnya dinilai lemah. Apa itu teknik menulis?

 V. Kepiawaian Menyusun Tulisan         

S

eibarat memasak, kepiawaian juru masak menentukan kelezatan makanan. Bahan yang sama-sama berkualitas, belum tentu sama enaknya, bila yang memasak berbeda. Masakan yang enak ditentukan oleh kecukupan dan kualitas bahan masakan, cara masak, ketepatan memilih dan menakar bumbu, dll. Begitu pula halnya kualitas tulisan ditentukan oleh teknik menulis.

Andai menulis itu sama dengan membuka restoran atau membuat masakan, maka kepiawaian menyusun tulisan itu ditentukan oleh hal-hal berikut ini:

 A. Motivasi

 Apa motivasi kita membuka restoran? Tentu tak semata-mata demi uang, melainkan mungkin juga ada maksud lain, misalnya, ingin ikut memopulerkan masakan khas daerah atau negaranya. Tengok di sekitar kita: ada rumah makan padang, warung tegal, sunda, makassar, jepang, korea, vietnam, dll. Di Jedah ada orang berjualan gado-gado. Meski tidak enak, bahannya tidak lengkap, dan mahal pula, para jamaah haji kita melampiaskan kerinduannya akan  tanah air dengan jalan jajan gado-gado di sana.

Motivasi menulis pun bermacam-macam. Motivasi seseorang menjadi penulis itu antara lain karena ingin menyalurkan aspirasi, agar tenar, untuk meninggalkan warisan bagi keturunannya, dan sebagainya.

B. Persyaratan

Persyaratan untuk membuka restoran antara lain punya modal, pintar memasak, dll.

Persyaratan untuk menjadi penulis, sebagaimana juga disebut terdahulu, antara lain mempunyai ketertarikan pada keadaan sekeliling, mencintai bahasa, dapat dipercaya, kritis, gigih, bersahabat.

C. Tujuan

Jika kita membuka restoran, ya, tentu dengan suatu tujuan. Demikian pula  halnya dengan menulis, meskipun ketika menulis kadang-kadang kita tak terpikirkan untuk apa kita menulis. Kita menulis biasanya karena empat hal:

  1. Menyampaikan informasi. Menyampaikan keterangan yang baru, yang sesuai dengan kepentingan pembaca, yang menarik, istimewa, dan lain-lain.
  2. Memperluas wawasan dan pengetahuan pembaca,
  3. Menyalurkan aspirasi, kata hati, pendapat, dll.
  4. Melakukan kontrol sosial

D. Cara Mencapai Tujuan

Supaya makanan dapat kita makan yang sesuai dengan selera, makanan itu ada yang digoreng, direbus, dibakar, atau dimakan mentah.

Bagaimana agar tulisan bagus?

Supaya tulisan kita mencapai tujuan ada empat cara yang kita lakukan, yakni dengan jalan:

  1. Eksposisi: menjelaskan, membeberkan, menerangkan. Tujuan utamanya memberitahukan atau memberi informasi mengenai objek tertentu. Dengan informasi tersebut pandangan atau pengetahuan pembaca bertambah luas.
  2. Argumentasi::meyakinkan orang lain dengan disertai bukti atau alasan yang kuat. Tujuan utamanya membuktikan suatu kebenaran. Argumentasi berusaha memengaruhi serta mengubah sikap dan pendapat orang lain untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti mengenai objek yang diargumentasikan itu.
  3. Deskripsi: menggambarkan, memaparkan, menjelaskan dengan kata-kata secara jelas dan  rinci. Tujuan utamanya menyajikan suatu objek atau peristiwa, sehingga seolah-olah pembaca melihat, mendengar, dan merasakan sendiri hal itu.
  4. Narasi: menuturkan, menceritakan, atau mengisahkan. Tujuan utamanya menceritakan suatu peristiwa, mengisahkan apa yang terjadi dan bagaimana kejadian itu berlangsung. Masakan terdiri atas beberapa jenis, seperti nasi goreng, sop, soto,  dll. Demikian pula tulisan. Dalam tulisan ilmiah ada skripsi, disertasi, dll. Dalam sastra ada puisi, cerita pendek, novel, dll. Dalam tulisan jurnalistik ada berita (news), news feature, feature, opini, dan reproduksi.

E. Jenis Tulisan

Masakan terdiri atas beberapa jenis, seperti nasi goreng, sop, soto,  dll. Demikian pula tulisan. Dalam tulisan ilmiah ada skripsi, disertasi, dll. Dalam sastra ada puisi, cerita pendek, novel, dll. Dalam tulisan jurnalistik ada berita (news), news feature, feature, opini, dan reproduksi.

Berita.  Tujuan utama “berita” ialah menyampaikan informasi.

Feature. Feature lebih menekankan pada segi kemanusiaan. Tujuannya bisa untuk menyampaikan informasi, menambah pengetahuan.

Opini. Opini itu berupa kolom dan tajuk rencana. Tujuan utamanya meyakinkan orang lain, memaparkan, dll.

Reproduksi. Reproduksi merupakan hasil ulang. Hasil ulang yang berupa tinjauan atau penilaian disebut resensi (buku, kaset, video, dll). Selain itu ada juga reproduksi yang berupa ringkasan.

F. Struktur
Suatu tulisan pada dasarnya terdiri atas:

  1. judul
  2. by-line
  3. date-line
  4. eye catcher
  5. intro (teras, lead)
  6. tubuh (body)
  7. penutup (ending)

Judul, eye catcher, dan intro merupakan bagian terdepan suatu tulisan, yakni bagian yang pertama-tama dibaca orang. Oleh karena itu, isinya harus menarik dan mampu menggugah rasa kepenasaranan pembaca untuk melanjutkan membaca tulisan kita.

Mengingat hal itu:

  • Isinya harus langsung menyentuh kepentingan pembaca,
  • Kalimatnya jelas, singkat, padat, dan memikat

1. Judul

Judul terdiri atas:

  1. Tag-line atau kicker, yakni judul kecil yang letaknya paling atas dan berfungsi sebagai pemicu atau pembangkit. Untuk itu yang biasanya menjadi daya tarik ialah nama orang terkenal atau kasus yang sedang ramai dibicarakan.
  2. Head-line atau judul utama, yakni yang merupakan daya tarik utama dan umumnya ditulis besar-besar.
  3. Subhead-line atau anak judul, yaitu judul pelengkap atau penjelas judul utama dan ditulis lebih kecil daripada judul utama.

Yang menarik untuk dijadikan judul biasanya yang:

  • Kontradiktif. Misalnya:   Ayah Masih Punya Kambing, Tetapi Aku yang Dijual
  • Superlatif, yakni “yang ter”, entah terbesar, terkecil, terkaya, termiskin, dan “yang ter” lainnya. Umpamanya: Laporan dari Kongres Anak Sedunia: Wajah Indonesia Paling Penuh Luka
  • Angka yang mengesankan. Misalnya: 17 LSM Mengadukan Pelecehan 17 Gadis di Semarang
  • Sesuatu yang baru terjadi atau yang baru diketahui oleh pembaca, yang sedang aktual.
  • Pelesetan dari peribahasa, judul buku, judul film, pemeo (olok-olok yang sedang jadi buah mulut, seperti: kesian, deh, lu! Alhamdulillah, ya, sesuatu!), dll.  Contoh pelesetan: Bajaj di Jakarta akan dilarang  beroperasi. Judul lagu dan film “Badai Pasti Berlalu”  lalu dipelesetkan: Bajaj Pasti Berlalu

2. Eye catcher

Eye catcher biasanya berupa ringkasan atau kutipan dari bagian tulisan yang menarik. Ditulis dengan huruf yang besar-besar dan mencolok. Adakalanya diletakkan di bawah judul, kadang-kadang di tengah atau di samping tubuh tulisan.

3. By-line

Baris nama penulis.

4. Dateline

Baris tanggal. Biasanya pada tulisan berita diletakkan di bawah judul di atas intro.  Misalnya, JAKARTA, Kompas

5. Intro

Intro atau biasa juga lead, atau teras merupakan bagian awal suatu tulisan. Intro umumnya terdiri atas satu paragraf, tetapi bisa pula lebih dari satu alinea. Mengingat bahwa intro  ini merupakan bagian yang penting dari suatu, maka variasinya pun banyak. Intro dapat berupa ringkasan, kutipan, pertanyaan, deskripsi, narasi, menuding langsung, menggoda, kontras, latar belakang, kasus, dll.

6. Body

Body atau tubuh merupakan bagian isi suatu tulisan

7. Ending

Ending atau penutup.

G. Menggayakan Tulisan

Menentukan gaya tulisan

1. Cara menyusun tulisan

Seperti tata letak ruangan atau kamar di rumah, tulisan pun dapat disusun bermacam-macam. Dapat secara kronologis, piramid terbalik, kronologis, kilas balik, delayed-delayed drop, dll.

2. Merangsang rasa kepenasaran

Judul, eye catcher, dan intro/lead merupakan bagian yang paling awal dibaca oleh pembaca. Oleh karena itu, harus dibuat secara menarik agar pembaca ingin terus melanjutkan membaca tulisan kita.

Teknik menyusun tulisan delayed-delayed drop juga merupakan upaya untuk merangsang rasa kepenasaranan pembaca. Untuk penulisan berita biasa kita menggunakan piramid terbalik agar pembaca segera mengetahui yang terpenting. Dengan piramid terbalik kita menyusun tulisan berdasarkan urutan terpenting à pentingà kurang penting à tidak penting benar.

Teknik delayed-delayed drop  lain lagi. Ini seperti susunan cerita detektif. Dalam cerita detektif hal yang paling ingin diketahui oleh pembaca ialah siapa si pembunuh dan ini biasanya diletakkan pada bagian akhir cerita. Sebelumnya pembaca dibuat bertanya-tanya dan penuh  penasaran. Nah, delayed-delayed drop juga seperti itu.

 H. Gaya tulisan

Sejak zaman dulu, 1930-an, para wartawan senantiasa berusaha membuat tulisan yang lain daripada yang biasa.  Maka bermunculan istilah penulisan jurnalistik, ada disebut interpretative reporting, investigative reporting, precision journalism, gonzo jurnalism, new journalism, journalism of attachment, peace journalism, dan masih banyak lagi.

Dengan menggayakan dimaksudkan untuk:

  • Memperjelas.

Suatu pernyataan atau pendapat akan lebih jelas dan lebih tergambar bagi pembaca bila kita menyertakan ilustrasi, contoh, perbandingan, bukti, atau keterangan pendukung lainnya. Misalnya, tak terbayang oleh kita bila ada yang mengatakan bahwa Jakarta setiap hari memproduksi sampah sebanyak 60.000 ton. Informasi tersebut akan segera terbayang manakala kita perbandingkan bahwa sampah sebanyak itu harus diangkut oleh seribu truk. Tergambar betapa panjang antrean seribu truk.

  • Mendeskripsikan

Pada tulisan yang bersifat liputan hendaknya deskripsi  tidak dilupakan. Pemaparan  suatu keadaan, situasi, benda, orang, atau lainnya akan membawa pembaca  seakan ikut melihat, merasakan, mendengarkan apa-apa yang kita ceritakan. Contoh:

Penyanyi terkenal asal Kanada, K.D. Lang, tampak selalu necis dengan stelan jas. Mukanya yang tirus terlihat manis dipoles make up tipis. Rambutnya yang kelimis tersisir rapi.

Penampilannya sama sekali berbeda dengan penyanyi rock yang berambut gondrong awut-awutan, yang mukanya dicoreng-moreng bak Indian turun perang, yang celana jeans belelnya sobek di dengkul. Rumah mereka pun biasanya kotor dan acak-acakan.

Lain halnya dengan rumah K.D. Lang. Lain? Anda menyangka rumahnya rapi?

Baiklah, mari kita lihat. Ia tinggal di suatu rumah di kaki gunung tak jauh dari kawasan peternakan. Rumah tua. Cat temboknya sebagian sudah mengelupas. Di sana sini terlihat bekas air hujan warna cokelat berjalur-jalur. Di ruang tamu  hanya ada sofa butut yang dekil dan robek-robek. Di kolongnya seekor anjing tertidur pulas. Di bak kamar mandi seekor kupu-kupu mati terapung dan seekor kumbang menggelepar-gelepar di lantai berdebu.

  • Mempermanis

Mempermanis ialah upaya untuk membuat kalimat tidak hambar seperti air tawar, tidak kesat seperti salak mentah, tidak dingin dan kaku seperti batang pisang. Kalimat kita buat menjadi berdaya getar dan indah berwarna-warni. Misalnya:

Kalimat biasa: Pada zaman Kumpeni di Jakarta ini banyak sekali rawa, di mana-mana ada rawa.

Kalimat bergaya: Jika setiap rawa di Jakarta pada zaman Kumpeni diberi tanda titik pada peta Kota Jakarta, maka atlas ibu kota kita akan tampak berbintik-bintik seperti biji wijen pada onde-onde.

Contoh kalimat bergaya lainnya:

  • Istana adalah penjara terindah di dunia.
  • Semua orang ingin panjang umur, tetapi tak seorang pun ingin menjadi tua.
  • Mereka riuh, berjingkrak-jingkrak, dan berteriak-teriak seperti Indian sedang perang.

Demikanlah, surat Ance yang singkat telah kita bahas secara luas, meski masih banyak lagi yang belum dijelaskan. Yang belum dijelaskan tersebut akan dibahas dalam tulisan tersendiri di bagian lain, termasuk salah satu faktor menentukan suatu tulisan dimuat atau ditolak oleh redaksi, yakni faktor bahasa.

Dari surat tersebut yang sulit dijawab: adakah cara cepat belajar menulis. Ini susah karena hal itu tidak  semudah menghidupkan alat elektronik, tinggal tekan tombol, klik!, listrik pun langsung menyala. Tidak juga secespleng seperti iklan obat batuk di televisi, sekali teguk langsung sembuh. Yang penting adalah ada kemauan untuk terus-menerus belajar. R.A. Kartini yang tamatan SD pun bisa membuat tulisan yang amat bagus. (tunggu Seri 2)

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo