Bermegah-megahan, Bukan Soal Kecil

Oleh Ella – Komala Ahadiati

Ella Komala Ahadiati

Bermegah-megahan ibarat penyakit kanker yang menjalar, merusak seluruh sistem dalam tubuh kita. Dalam keluarga, sikap ini bisa menular pada anak-suami/istri, kerabat, dan masyarakat.

Seperti seseorang wanita yang memilih Hummer, Mercedes-Benz dan Ferrari untuk dia dan suami sirinya, lalu sebuah apartemen di Jakarta untuk ditempati anak pertamanya yang dibelinya saat di Sydney. Tak hanya itu, ia pun memiliki sejumlah rumah mewah di beberapa tempat. Semua kemewahan itu, didapatnya dengan cara menyediakan blanko kosong untuk ditandatangani nasabah yang telanjur percaya.

Lain lagi dengan seseorang pria –mantan petugas pajak yang dicurigai korupsi ini– konon memiliki puluhan milyar di rekening Bank dan Show Room, yang lazimnya –pada level golongan setingkatnya– sangat tak mungkin didapat.

Itulah beberapa cuplikan figur, pada kasus-kasus yang sedang ramai dibicarakan sekarang ini.  Tapi bukan mereka saja, begitu banyak saat ini –baik pejabat maupun bukan pejabat– yang korup atau curang untuk mendapatkan ‘kemegahan’. Di antara mereka ada yang tertangkap, benyak juga yang masih ‘selamat’ dan bersenang-senang dengan kemegahannya.

Kemegahan bukan hanya kemewahan hidup dengan bergelimang harta, namun juga bisa berarti kedudukan tinggi yang lebih mengarah pada kekuasaan, yang dapat membuatnya berbuat sekehendak hati. Contoh yang paling mudah diingat adalah Fir’aun, dan di zaman sekarang ini Fir’aun modern tentu ada..

*****

Apa yang sedang terjadi? Mengapa mereka begitu gelap mata, sehingga berani mempertaruhkan akhirat untuk kemegahan dunia? Apakah ini semacam penyakit minder yang berlebihan, sehingga membentuk ketamakan?

Bermegah-megahan tidak mesti melalui jalan buruk, dapat juga melalui jalan benar yang diperoleh dari usaha keras maupun keberuntungan atau faktor kebetulan. Tapi tetap saja dalam Islam, bermegah-megahan merupakan perilaku buruk dan akan berdampak buruk. Tampaknya ini persoalan kecil, padahal ini kesalahan fatal!

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.
kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”
(QS. At-Takatsur)

Mabuk Kemegahan (Ilustrasi: M. Fahmi)

Mabuk kemegahan ibarat terbius narkoba, kenikmatan ini bisa menjadi candu hingga kita terbuai sampai mati. Allah Maha Tahu bahwa manusia sangat menyukai bermegah-megahan, sehingga perlu diperingatkan berulang-ulang. Tampaknya ketika bermegah-megahan, manusia tidak tahu atau belum yakin akan akibat dari perbuatannya, dan kelak harus bertanggungjawab atas sikap demikian. Apalah artinya jika untuk mendapatkannya, kita harus mempertaruhkan kemuliaan akhirat?

*****

Namun Allah selalu memberi kebebasan bagi mahluk-Nya untuk memilih. Dalam Al-Isra, ayat 18 – 20 tampak jelas pilihan dan apa yang akan dialami kemudian. Bagaimana Allah dengan kehendak-Nya akan memberi segala bantuan dan kemurahan-Nya, bagi yang memilih ‘dunia’ maupun bagi mukmin yang memilih ‘kehidupan akhirat’ dan bersungguh-sungguh berusaha ke arah itu.

Pilihan ini tidak menjadi patokan, sehingga orang yang memilih akhirat akan sengsara. Dan orang yang memilih dunia, akan kaya raya. Manusia tidak perlu heran, jika ‘si duniawi’ hidup berlimpah dengan segala kemudahan dan kekayaan, yang pastinya di akhirat akan celaka. Namun ‘si duniawi’ –boleh jadi– sudah susah di dunia, susah pula di akhirat. Sedang bagi mukmin, mau susah atau senang di dunia, tetap saja di akhiratnya ia akan bersenang-senang..

“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS.Al-Isra: 21)

Dan ini bukanlah soal kecil..  Wallahu’alam…

Penulis adalah mantan Redaktur Majalah Amanah