Ka’bah yang Terkucilkan

Oleh Ella – Komala Ahadiati

Ella - Komala Ahadiati

Jika Anda melihat masterplan, Makkah akan menjadi benda kecil dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit yang megah. Dekat Ka’bah ini akan ada mal-mal, hotel-hotel dan pusat perdagangan lainnya. Begitu dekatnya! Jika Anda berada di halaman Masjidil Haram sekarang, Anda akan melihat tiang-tiang pancang yang tinggi mengelilingi masjid ini.

Makkah dan Madinah kini telah menjadi tempat tamasya orang-orang kaya. Bukit-bukit batu yang dahulu dijejaki oleh Rasulullah dan para sahabatnya, dihancurkan untuk pembangunan hotel-hotel bertaraf international. Pembangunan besar-besaran di kota ini luar biasa, tanpa mempertimbangkan kepentingan ummat Islam seluruh dunia terkait sejarah Islam dan faktor penting yang meningkatkan motivasi ibadah. Sekitar 400 sampai 500 situs bersejarah telah punah, bahkan rumah Siti Khadijah kini menjadi blok toilet di Masjidil Haram. Rumah Nabi Muhammad ketika beliau dilahirkan dan rumah Hamzah – pamannya Nabi Muhammad- pun terancam dihancurkan.

Sebagai contoh lain, banyak yang ber-haji dan umroh belum mengetahui, rumah kecil tempat Nabi Ibrahim hendak mengurbankan Ismail berada di sisi luar bukit di lingkungan kerajaan. Begitu banyak situs-situs yang menjadi tidak berharga di tangan mereka. Dengan alasan takut menjadi ajang syirik dan demi kepentingan jamaah, bukti sejarah Islam di Tanah Suci ini telah berkurang dengan cepat tanpa ada yang menghalangi.

Masterplan Makkah tahun 2020

“Kedua kota (Makkah dan Madinah) secara historis hampir punah. Anda tidak menemukan apa-apa kecuali gedung pencakar langit.” kata Sami Angawi, pakar Arsitektur Islam Arab Saudi.

Kemudahan untuk jamaah memang hal penting, tapi apakah harus mengorbankan keagungan Baitullah? Memang enaklah, modar mandir dari penginapan ke Masjidil Haram.. Bisa jalan kaki, ngopi dulu, lalu kembali lagi untuk shalat di sekitar Ka’bah. Tapi jika kemudahan itu yang dituju oleh pemerintah Arab, lalu apa maksudnya dibangun gedung-gedung tinggi sedekat ini?

Padahal jika kemudahan untuk sampai ke Mesjidil Haram dari penginapan, yang terpenting adalah fasilitas tranportasi. Bukan penginapan-penginapannya yang didekatkan ke sini.

Setiap pembangunan –baik gedung pencakar langit atau hotel dan mal yang tinggi– pasti mengandung resiko. Soal air saja, misalnya, bukankah air yang ada di Masjidil Haram akan tersedot? Atau bisa jadi terkontaminasi oleh air kotor di sekelilingnya?

Kota Makkah kini

Kekhusukan ibadah pun akan terganggu oleh hingar-bingarnya pembangunan yang akan terus berlanjut di sekeliling Masjidil Haram, apalagi jika gedung-gedung itu sudah jadi. Bayangkan saja, bagaimana nantinya jika Ka’bah tinggal menjadi sebuah benda kecil ‘nyempil‘ di sela-sela gedung tinggi. Ka’bah akan menjadi begitu terkucilkan. Tapi siapa yang mau menghentikan mereka?

Peziarah memang selalu bertambah banyak, tapi sekali lagi, mestinya itu bukan alasan membangun gedung-gedung tinggi sedekat itu dengan Masjidil Haram.

Maret ini ramai orang akan berangkat umroh, yang kelak disusul dengan umroh di bulan Ramadhan dan Haji. Mari doakan, agar Kota Suci ini tetap menjadi situs bersejarah. Dan kita berperan menjaganya, dengan cara yang terbaik bisa kita lakukan..

Sebagaimana kita telah diajarkan dalam kalimat-kalimat doa berikut ini.

Ya Allah, kota ini adalah Tanah Haram-Mu dan tempat aman-Mu, maka hindarkanlah daging, darah, rambut, dan kulitku dari neraka. Dan selamatkanlah diriku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali hamba-Mu, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang selalu dekat dan taat kepada-Mu.” (Do’a memasuki Makkah).

Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan kehormatan dan wibawa pada Bait (Ka’bah) ini. Dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau yang berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kebaikan.” (Do’a ketika melihat Ka’bah).

Semoga Allah SWT mengabulkan doa kita dan Makkah kembali ber-wibawa’.. Aamiin ya Rabb..

Penulis adalah Mantan Redaktur Majalah Amanah