Menyeimbangkan Ushalli dan Usaha

Nur Fuad

Oleh Nur Fuad

Ketika berada di Yogyakarta, saya bertemu seorang wanita tua yang unik. Kalau malam hari, dia tirakat (merenung tanpa tidur –red). Sementara di siang harinya, ia terlibat membantu mengasuh anak-anak yatim. Namun ada hal ‘aneh,’ yang membuat saya agak lancang memberanikan diri bertanya kepada beliau.

”Ibu, saya lihat kalau malam tirakat. Paginya bantu anak-anak yatim. Tapi, aku kok ndak pernah lihat ibu salat ya?”

“Oh, begini, nak. Allah itu memerintahkan kepada manusia dua perkara, salat dan berbuat baik. Allah menyuruh kita memilih,  lalu saya pilih berbuat baik,” jawabnya.

Sebenarnya kesimpulan sang Ibu, tidak sepenuhnya salah. Hanya saja beliau melihat dari kaca mata, yang seolah perintah salat dan berbuat baik adalah dua hal berbeda. Padahal merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi, salat harus membawa implikasi sosial yang baik. Tidak ada gunanya,–salat jungkir-balik, malah sampai histeris menangis– namun tidak melahirkan kepekaan sosial.

Dalam sebuah Hadits diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar pertanyaan perihal nasib seseorang di akhirat. Orang tersebut rajin salat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi sering menyakiti tetangga dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.”

Hadits di atas mempertegas arti, ibadah ritual saja belum cukup menyelamatkan seseorang dari api neraka.  Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.

*****

Shalat dan Maslahat Ummat

Pemikiran keagamaan seperti ibu Yogya tadi, pernah juga ditemui Ahmad Sobary, seorang penulis, saat melakukan  penelitian tentang hubungan antara agama dan tingkah laku ekonomi di Di Desa Ciater, Serpong, Banten.

Ia bertemu bapak Haji tua, namanya Haji Asnen bin Haji Thalib seorang pedagang kecil, yang agak lain pemikiran keagamaannya. Menurut dia, kesalehan tidak terletak pada banyaknya salat atau berdoa, Tetapi dalam praktek hidupnya, dengan sesama manusa.

Sobary lalu bertanya, “Bagaimana yang disebut sebagai orang saleh?”

Haji Asnen menjawab, “Orang yang menyeimbangkan ushali dan usaha,”

Baginya, kedua hal tersebut harus diseimbangkan. Namun jika harus memilih, Haji Asnen akan lebih memilih yang kedua, usaha dulu baru ushali.

“Mengapa?”

“Karena kalau anak-anak lapar, kita harus memberikan jawaban kongkret: kasih makan. Dan, makan kita peroleh dari usaha. Doa mah kagak enak dimakan,” katanya lagi.

Dengan kata lain, Haji dari Betawi ini pun menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu semestinya kesalehan sosial terasa lebih dibutuhkan. Karena itu, perlu didahulukan dari kesalehan ritual.

*****

Boleh jadi pemikiran Haji Betawi dan Ibu Yogya tadi, bermula dari fenomena kehidupan beragama kaum Muslimin sendiri. Sering kita jumpai sekelompok orang yang tekun beribadat –berlama-lama sujud hingga berurai airmata, bahkan berkali-kali haji, misalnya– namun terlihat sangat bebal terhadap kepentingan masyarakat umum. Mereka tak tergerak, melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas.

Seolah Islam hanya mengajarkan untuk melakukan beberapa hal, yang menjadi hak Allah semata. Sebaliknya juga, sering dijumpai orang-orang Islam yang sangat concern terhadap permasalahan ummat dan memperhatikan hak sesamanya, namun mengabaikan ‘ibadah pribadi’-nya.

Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus, harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Seseorang dapat disebut sebagai muslim saleh yang kaffah (sempurna), tidak cukup hanya dilihat dari seberapa sering hadir di masjid untuk salat berjamaah. Atau hanya karena sering menangisi diri dalam setiap berdoa, sementara –beberapa meter dari rumahnya– ia tak ambil pusing dengan tetangga yang menjerit karena lapar atau menangis kebingungan untuk membayar SPP anaknya.

Dalam agama, kedua corak kesalehan tersebut merupakan wajah sebuah kemestian, yang tak usah ditawar. Secara normatif, keduanya haruslah merupakan bagian hidup yang tak terpisahkan. Ketika saya berani ber-ushali, saya juga wajib menciptakan kemaslahatan dan kedamaian di tengah masyarakat..

Penulis adalah mantan Redaktur Majalah Amanah