oleh Ella – Komala Ahadiati

Ella Komala Ahadiati

“Nanti saja pak, kalau sudah ada pembayaran dari penjualan barang kita, baru ada uang untuk Bapak,” begitu terngiang-ngiang di telinga Pak Soma, ketika ia hendak meminta gaji sebagai kuli angkut kepada majikannya. Pak Soma berjalan pulang dengan wajah yang murung. Langkahnya lunglai, sesekali terantuk batu, yang berserakan di jalan tak beraspal menuju rumahnya. Sudah satu bulan majikannya tak membayar upah yang dijanjikan, sedang ia tahu barang-barang yang diangkut itu sudah dibayar oleh pembelinya kepada majikannya.

Di bawah pohon yang rindang ia berhenti sejenak, terduduk lesu dengan pandangan nanar. Apa lagi yang harus dilakukan, sementara kondisi kesehatan Imah -anaknya- semakin menurun. Pak Soma membuka topi yang warnanya telah kusam, sekusam kulinya yang legam. Diperbaikinya sandal jepit yang telah lepas talinya,  disekanya keringat yang mengucur di pelipisnya. Hari makin panas terik, biasanya setelah panas begini akan turun hujan yang deras. Dipandangnya langit, yang seolah tak menghiraukan penderitaannya.

Ya, Rabbi.. Engkau Maha Tahu, Engkau tidak buta dan Engkau Maha Pemurah. Ya, Razaq.. tolonglah aku, karena aku miskin, sedang Engkau Maha Kaya, Ya, Qowiyu.. tolonglah aku, karena aku lemah, sedangkan Engkau Maha Kuat..” Pak Soma bangkit perlahan dan kembali melangkah. Seolah do’a itu menjadi obat penenang, karena baginya tak perlu cemas bila ada Yang Maha Melindungi. Ia yakin benar, setelah semua do’a diucapkan, akan terjadi apa yang dikehendaki Allah. Karena Allah tidak tuli dan tidak akan diam. Ia sudah berdo’a dan berusaha, apa pun yang terjadi harus diterimanya dengan ikhlas.

*****

Langkahnya dipercepat, ketika teringat anaknya pasti menunggu sedari tadi. Bungsu dari enam anaknya ini memang sering sakit, dokter bilang kurang gizi –diperparah dengan buruknya cuaca– membuat Imah mudah sakit. Bukan tak ingin Pak Soma membeli makanan yang cukup dan menyehatkan, tapi kondisi ekonomi di desanya sekarang ini kian memburuk. Banyak sawah dan kebun yang gagal panen karena cuaca, sementara bantuan Pemerintah yang dijanjikan tak juga sampai.  Terdengar kabar bahwa bantuan telah dikirim, tapi desa tempat Pak Soma yang menjadi tujuan, tak sepeserpun menerimanya. Ah, lagi-lagi korupsi menyengsarakan penduduk yang telah lama menderita ini. Bukan hanya Pak Soma, tapi juga puluhan, bahkan mungkin ratusan orang menjadi korban kejahatan ini.

Ya, kejahatan! Korupsi hanya kata lain dari pencuri atau kasarnya.. maling! Pak Soma tak habis pikir, betapa teganya orang yang memakan hak orang lain begitu banyak. Bahkan, hak orang-orang yang sedang menderita. Tapi itulah, mungkin peran yang mereka ambil dan akan mereka terima bagiannya. Dan, inilah bagian yang sekarang harus diterima keluarga Pak Soma.

*****

Pintu perlahan dibuka, deritnya memecah keheningan di rumahnya yang sederhana. Belum lagi ia melepaskan lelahnya, Imah segera menyambutnya. Anak ini –yang sedari tadi dikhawatirkan– tiba-tiba menghabur dan memeluknya eret-erat. Senyuman kecil tersungging di wajah istri Pak Soma, yang sedang menyapu lantai.

“Itu, tadi Nek Iroh datang. Dia mengirim jambu merah, katanya baik untuk menurunkan panas Imah. Eh.. ya, alhamdulillah, ternyata panasnya turun. Jadi, gak usah dibawa ke rumah sakit lagi,” tuturnya.

Ya, seharusnya Imah dibawa kembali ke rumah sakit, ketika dokter yang memeriksanya mencurigai ada penyakit berbahaya. Mungkin thypus, demam berdarah atau entahlah, Pak Soma tak paham. Tapi apakah benar, ia tak perlu membawa Imah kembali ke Rumah Sakit? Kalau pun ia harus membawanya ke Rumah Sakit, tentu butuh biaya yang tidak sedikit.

Disentuhnya dahi Imah, lehernya, kakinya yang dingin kemarin seperti beku, kini meloncat-loncat dengan riang.

“Imah sudah sembuh, Bapak.. Imah sudah sembuh.. Imah mau main sama teman-teman…” rajuknya, sambil berlari ke halaman.

*****

Pak Somad memandang seakan tak percaya. Ia teringat Nek Iroh, perempuan tua dan papa yang tinggal seorang diri dan terasing dari penduduk desa. Suatu hari Pak Soma baru saja pulang bekerja, jadi kuli angkut di pasar. Sedang sangat lelahnya saat itu, Pak Soma melihat Nek Iroh yang kurus dan bungkuk, berusaha menyangga atap bagian depan rumahnya yang hampir rubuh. Pak Soma segera membantunya, diperbaikinya atap rumah Nek Iroh sampai menutup bagian-bagian yang miring dan bocor.

“Mana Nek Iroh?” tanya Pak Soma.

Istri Pak Soma hanya menggeleng. “Katanya, mau pergi ke saudaranya,” sambil terus menyapu. Namun tiba-tiba diam dan menghampiri. “Pak, tadi Pak Haji datang, minta bantuan Bapak untuk membangun mesjid di desa Utara. Mau kan, Pak? Tadi saya bilang, Insya Allah Bapak mau.. Katanya, Bapak juga mau diminta bekerja di pabriknya. Nanti digaji bulanan. Eh, berapa ya..? Pokoknya, banyak pak!” tutur istri Pak Soma dengan semangat.

“Tapi, tadi ada lagi berita,” lanjutnya, “Pak Camat  ditangkap, katanya karena korupsi..” bisik istri Pak Soma.

Pak Soma geleng-geleng kepala, tertawa, lalu menarik nafas panjang.

Ya, Allah.. Alhamdulillah.. astaghfirullah.. innalillah..”

Istri Pak Soma mengernyitkan dahinya. “Kenapa, pak?”

“Yang miskin memberi, yang kaya malah mencuri..” Pak Soma mengusap wajahnya dan istighfar. Diambilnya jambu sebutir, digigit dan dikunyahnya. Terasa sangat manis, semanis keyakinannya pada Allah.

Allah tidak diam..” bisiknya. Antara sedih dan senyuman..

 Ella – Komala Ahadiati adalah mantan Redaktur di Majalah Amanah