Humor Gus Dur

(dikutip dari situs http://estibx.blogspot.com/)

Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Selain dikenal sebagai tokoh pluralis, almarhum mantan Presiden Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang humoris. Banyak celetukan, guyonan, dan tanggapannya atas peristiwa dan masalah pelik membuat masyarakat yang keningnya berkerut, dengan refleks menarik ujung bibir dan membentuk seulas senyuman.

Bahkan suatu saat, ketika ditanya tentang ‘hobi’-nya ini, bagi Gus Dur, humor sudah menjadi makanan sehari-harinya.

“Gus, kok suka humor terus sih?” tanya seseorang, yang kagum karena humor Gus Dur selalu berganti-ganti.

“Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari-hari,” jelasnya. “Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat,” sambungnya.

Beberapa humor tersebut, di antaranya:

Humor NU

Seperti saat menggambarkan fanatisme orang Nahdatul Ulama (NU), bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” jelasnya tentang jenis yang pertama.

Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, Itu namanya orang gila NU.

“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.

Obrolan Presiden

Saking sudah bosannya keliling dunia, Gus Dur mencari suasana baru. Saat itu dia mengundang Presiden Amerika Serikat dan Perancis terbang bersama Gus Dur keliling dunia dengan pesawat kepresidenan RI 1. Boleh dong, memangnya hanya AS dan Perancis saja yang punya pesawat kepresidenan.

Seperti biasa, setiap Presiden selalu ingin memamerkan yang menjadi kebanggaan negerinya. Betul dugaan Gus Dur, tidak lama Presiden Amerika, saat itu, Bill Clinton, mengeluarkan tangannya ke luar pesawat.

Sesaat kemudian dia berkata, “Wah kita sedang berada di atas New York.”

Lho, kok bisa tau ?” tanya Gus Dur.

“Ini patung Liberty saya pegang.”

Presiden Perancis Jacques Chirac tak mau kalah. Dia ikut mengulurkan tangannya ke luar pesawat.

“Kita sedang berada di atas Paris,” katanya.

“Wah, kok bisa tau juga ?” kata Gus Dur.

“Itu.. menara Eiffelnya, saya bisa sentuh.”

Gus Dur panas mendengar kesombongan Clinton dan Chirac. Kali ini giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya….

“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang,” teriak Gus Dur.

Lho, kok bisa tau ?” tanya Clinton dan Chirac heran, karena tahu Gus Dur tidak bisa melihat.

“Ini jam tangan saya hilang,” jawab Gus Dur kalem.

Doa Mimpi Matematika

Jauh sebelum menjadi presiden, Gus Dur dikenal sebagai penulis yang cukup produktif. Hampir tiap pekan tulisannya muncul di koran atau majalah. Tema tulisannya pun beragam, dari soal politik, sosial, sastra, dan tentu saja agama. Dia pernah mengangkat soal puisi yang ditulis oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun yang dimuat majalah Zaman. Kata Gus Dur, anak-anak itu ternyata lebih jujur dalam mengungkapkan keinginannya. Enggak percaya? Gus Dur membacakan puisi yang dibuat Zul Irwan

Tuhan …
berikan aku mimpi malam ini
tentang matematika
yang diujikan besok pagi

Telepon Menteri Agama

Gus Dur dari ruang kerjanya menelepon Menteri Agama di kantornya. Kebetulan yang mengangkat telepon di kantor Menteri Agama adalah seorang staf menteri. Dialognya demikian:

Gus Dur: Hallo, saya mau bicara dengan Menteri Agama

Staf Departemen Agama: Ini siapa ?

Gus Dur: Saya Abdurrahman Wahid

Staf Departemen Agama: Abdurrahman Wahid siapa ?

Gus Dur: Presiden…!!

Hanya Tiga Bangsa yang Mendarat di Bulan

Pernah dalam wawancara di televisi Gus Dur bertanya kepada pewawancara, “Orang dari bangsa apa saja yang telah sampai ke bulan?”

Jawab si pewawancara, “Jelas orang Amerika, dong!”

Gus Dur bertanya lagi, “Bangsa apa lagi yang lain?”

Si pewawancara terdiam tidak tahu.

Jawab Gus Dur, “Ada tiga bangsa yang telah mendarat di bulan. Pertama, jelas orang Amerika yang mendarat di bulan dengan pesawat Apollo. Kedua, orang RRC karena jumlah penduduknya yang terbanyak di dunia. Mereka sepakat satu persatu naik di pundak, terus sampai ke atas, dan akhirnya mencapai bulan. Ketiga, orang Indonesia. Mengapa? Karena orang Indonesia paling doyan seminar. Kertas-kertas seminar ditumpuk begitu banyak dan saking banyaknya akhirnya sampai ke bulan.”

Lupa Tanggal Lahir

Gus Dur, nama lengkapnya adalah Abdurrahman Al-Dakhil. Dia dilahirkan pada hari Sabtu di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Ada rahasia dalam tanggal kelahirannya.Gus Dur, ternyata tidak tahu persis tanggal berapa sebenarnya dia dilahirkan.

Sewaktu kecil, saat dia mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah SD di Jakarta,

Gus Dur ditanya, ” Namamu siapa Nak?”

“Abdurrahman,” jawab Gus Dur.

“Tempat dan tanggal lahir?’

“Jombang …,” jawab Gus Dur terdiam beberapa saat.

“Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjutnya

Gus Dur agak ragu sebab dia menghitung dulu bulan kelahirannya. Gus Dur hanya hapal bulan Komariah-nya, yaitu hitungan berdasarkan perputaran bulan. Dia tidak ingat bulan Syamsiah-nya atau hitungan berdasarkan perputaran matahari. Yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Syakban, bulan kedelapan dalam hitungan Komariah. Tetapi gurunya menganggap Agustus, yaitu bulan delapan dalam hitungan Syamsiah. Maka sejak itu dia dianggap lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Syakban 1359 Hijriah atau 7 September 1940.

Tak Punya Latar Belakang Presiden

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid memang unik. Dalam situasi genting dan sangat penting pun dia masih sering meluncurkan joke-joke yang mencerdaskan. Seperti yang dituturkan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat diinterview salah satu televisi swasta. “Waktu itu saya hampir menolak penunjukannya sebagai Menteri Pertahanan. Alasan saya, karena saya tidak memiliki latar belakang soal TNI/Polri atau pertahanan,” ujar Mahfud.

Tak dinyana, jawaban Gus Dur waktu itu tidak kalah cerdiknya. “Pak Mahfud harus bisa. Saya saja menjadi Presiden tidak perlu memiliki latar belakang presiden kok,” ujar Gus Dur santai.

Tuhan Tak Perlu Dibela

Kebanyakan orang saling menunjukkan diri sebagai ‘pihak yang paling garang’ dan ‘paling ngotot,’ mengatakan diri mereka sedang dalam perlawanan membela agama Tuhan. Jelas ini adalah sikap yang lagi-lagi gegabah.

“Tuhan nggak perlu dibela,” jawaban Gus Dur kala itu.

Karuan saja omongan itu, juga menimbulkan kontroversi. Hingga akhirnya teman Gus Dur, KH Mustafa Bisri pun ikut angkat bicara.

“Tuhan itu sebenarnya nggak butuh kita. Kalau se-Indonesia ini mau jadi kafir semua, Tuhan juga nggak akan bermasalah,” sambung Gus Mus menguatkan pernyataan Gus Dur.

Gus Dur Ngelu

“Saya mau bertanya sama pak Permadi dan para hadirin.” kata Sutradara Film Garin Nugroho dalam wayangan. Biasanya, tokoh-tokoh baik itu kalau situasinya susah pada berubah semua. Petruk misalnya, ketika mau jadi raja tiba-tiba berubah wataknya.

Permadi yang ditanya, Gus Dur yang menjawab. Ia membenarkan, watak Petruk berubah ketika ia mau menjadi raja. “Makanya, kalau mencari pemimpin, mestinya yang tak gampang berubah,” tambah Gus Dur.

“Kalau menurut pak Permadi, Gus Dur berubah tidak? celetuk seorang hadirin.

“Ya, agak berubah,” jawab Permadi.

“Misalnya dalam hal apa?”

“Misalnya, kalau dulu Gus Dur masih suka kumpul-kumpul dengan saya, sekarang hampir tidak pernah lagi.”

“Kalau itu, sih, sebabnya sederhana,” sahut Gus Dur.

“Sederhana bagaimana, Gus?” kejar hadirin.

Ngelu (pusing).”