Maskun Iskandar

Tiba-Tiba,Slap,
Ada Ide Hinggap!
(Seri 2)

oleh Maskun Iskandar

=====================================

Pokok bahasan:

  1. Bagaimana memperoleh ide?
  2. Bagaimana cara mengolah ide?

=====================================

M

embuat tulisan itu seperti  menulis surat cinta: susah sekali memulai. Baru dapat satu dua kalimat, eh, terasa jelek. Lalu, kertas diremas-remas. Dibuang. Kemudian, menulis lagi. Gagal lagi. Diremas lagi semakin gemas. Begitulah, mengawali tulisan memang tidak mudah. Itu kesulitan yang dialami oleh setiap penulis. Mengapa sukar? Ini karena salah kita. Bukankah Anda juga menganggap bahwa membuat tulisan itu dimulai dengan bagian pembuka? Nah, justru di situlah letak kekeliruan itu.

Jika bukan dari alinea awal, lantas dari mana  harus kita mulai?

Baik. Saya akan menceritakan bagaimana seorang penulis ulung mengarang. Saya pernah melihat sastrawan dan wartawan kawakan Mochtar Lubis membuat tajuk rencana untuk harian Indonesia Raya yang dipimpinnya.  Cepat sekali, hanya dalam tempo 15 menit. Seolah kata-kata bertimbun dalam pikirannya. Lalu, dialirkan melalui tangan. Dan, di atas mesin ketik jemarinya menari-nari selincah pemandu sorak (cheerleader).  Tanpa terbengong-bengong terlebih dahulu.

Mochtar Lubis

Anda mungkin mengatakan, “Pantas saja begitu. Ia ‘kan telah berpengalaman mengarang puluhan tahun.” Memang ada orang yang mengibaratkan bahwa menulis itu sama dengan naik sepeda. Orang yang baru belajar bersepeda susah benar memulai, malah sampai jatuh berkali-kali. Berbeda dengan orang yang sudah mahir, melaju begitu saja seolah tanpa mikir. Ya, seperti Mochtar Lubis menulis. Kian pandai semakin cepat. Akan tetapi, benarkah seperti itu? Mengapa ia bisa menulis dengan amat lancar? Inilah rahasianya:

Pada suatu hari, misalnya, ketika berangkat ke kantor Mochtar melihat seorang wanita gila berpakaian dekil dan compang-camping sedang lunglai tergolek di emper toko. Rambutnya awut-awutan. Mukanya cemong seperti montir mobil. Mochtar merasa iba.  Esoknya ia memberikan pakaian bekas kepada perempuan itu. Namun, sewaktu orang gila tersebut didekati, ia justru melotot penuh curiga. Diajak ngomong baik-baik, malah lari terbirit-birit.

Peristiwa ini membuat hati Mochtar tergetar. Ia terheran-heran, mengapa perempuan itu takut. Seketika itu juga muncul ide untuk membuat cerita pendek.

Apakah kemudian dia langsung menulis?

Tidak. Tidak seperti yang biasa kita lakukan. Bila tiba-tiba, slap, ada ide hinggap, lazimnya kita langsung mengetik di komputer. Namun, baru menulis beberapa baris sudah macet, mandek, tak tahu apa lagi yang akan ditulis.

Seandainya Mochtar langsung menulis, ceritanya mungkin hanya begini: Kemarin  siang saya bertemu dengan orang gila. Ia telanjang. Tadi pagi saya memberikan baju kepadanya. Ia bukan berterima kasih, malah lari ketakutan.

Ini seibarat omongan teman saya, “Jika sudah tua, saya ingin punya rumah di kampung.” Ucapan ini tidak mengesankan apa-apa.

Akan berbeda bila ia bercerita lebih lengkap, “Saya ingin membuat vila di punggung gunung yang berpemandangan indah dan udaranya sejuk bersih. Berdekatan dengan sungai yang airnya jernih gemercik. Berpuluh-puluh ikan mas lenggang-lenggok di kolam. Di halaman depan yang luas terhampar bunga mawar aneka warna. Di belakang rumah akan saya tanami buah-buahan. Saya akan membuat ayunan dan rumah pohon untuk menyenang-nyenangkan cucu-cucu bila berkunjung waktu liburan.” Itulah yang tergambar dalam angan-angannya.

Mochtar pun memperkaya idenya dengan bahan cerita dari hari ke hari. Berangsur-angsur seperti orang membangun rumah. Suatu saat ia memperoleh ide sepotong cerita. Selang beberapa hari kemudian tambah lagi sepotong demi sepotong. Akhirnya tergambarlah dalam pikirannya sebuah cerita  yang hampir jadi dan berbentuk. Tema dan topiknya sudah ada. Tujuan yang hendak dicapai dengan tulisan itu telah jelas. Sudah tergambar apa-apa saja yang akan diceritakan, bahkan juga dari mana akan memulai cerita.

Proses memamah dalam pikiran tersebut berlangsung sampai sebulan. Barulah kemudian dia mengetik. Berapa lama ia mengetik? Tidak lebih dari setengah jam.

Apakah kita harus berlama-lama mengulum suatu ide setiap hendak menulis?

Itu bergantung pada lamanya proses mengembangkan sebuah ide dalam pikiran, bisa sebentar, sebulan, bahkan boleh jadi pula bertahun-tahun. Mengapa ide perlu dikembangkan sampai matang sebelum kita menulis?

Soalnya, ide merupakan awal sebuah tulisan. Ide itu seibarat bibit. Benih yang bagus akan menghasilkan tanaman yang bagus pula. Demikian pula halnya dengan ide. Ide harus diolah dulu sampai benar-benar bagus sebelum dituangkan ke dalam tulisan.

Jadi, membuat tulisan itu sesungguhnya bukan diawali dengan kalimat atau alinea pembuka, melainkan dimulai sejak mendapat ide. Ide tersebut kemudian dimatangkan dalam pikiran.

Masalahnya kini,  dari manakah kita dapat memperoleh ide? Bagaimana cara mengolah suatu ide sehingga menjadi bagus? Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

1. Sumber Ide

Ide atau  gagasan adalah rancangan yang tersusun dalam pikiran (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Ide berasal dari kata idein (Latin) yang berarti ‘melihat’ (Webster’s Students Dictionary). Penglihatan memang merupakan sumber untuk memperoleh ide. Demikian juga indera lainnya, yakni pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa. Selain kelima indera tersebut ide bersumber juga dari pemikiran. Berikut ini beberapa contoh:

 Ide Lewat Penglihatan

Ada banyak ide yang dapat kita tangkap lewat mata, di antaranya:

  1. Bacaan, seperti koran, majalah, tabloid, buku, ensiklopedi, selebaran, internet, dll. Saya sangat menganjurkan Anda mempunyai kliping dan bundel koran atau majalah;
  2. Tontonan, umpamanya siaran televisi, pameran, pertunjukan, perlombaan.
  3. Pengamatan, misalnya, mengamati  ulah tingkah pedagang kaki lima, keramaian lalu-lintas, perilaku remaja di mal.

Contoh ide yang diperoleh dari pengamatan:

Seorang guru sekolah dasar di pinggiran Jakarta sering melihat keadaan telepon umum yang memprihatinkan. Adakalanya rusak tak bisa dipakai, atau gagangnya hilang,  dicoret-coret, dan bahkan uangnya dicuri pula.

Lalu, ia menulis dan diikutkan dalam lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh PT Telkom Jakarta dan sekitarnya. Dalam tulisannya itu ia mengusulkan  agar telepon umum dipasang di sekolah-sekolah dasar. Alasannya? Pertama, guru dapat mendidik para pelajar bertelepon secara benar. Kedua, bila ada keperluan para siswa dengan mudah bisa berkomunikasi dengan orang tuanya lewat telepon di sekolah. Ketiga, anak didik dibiasakan memelihara fasilitas umum, seperti telepon.

Dewan juri menganggap ide ini unik, sederhana, dan dapat dilaksanakan. Maka, ditetapkanlah tulisan Pak Guru tersebut sebagai juara I yang menyisihkan lebih dari 600 naskah lainnya.

Contoh lain ide yang diperoleh melalui penglihatan:

Suatu siang wartawan majalah Amanah, Ida Ahdiah, sedang menunggu bus di Tanjungperiuk, Jakarta Utara. Tiba-tiba lewat seorang pria naik kuda dengan memakai jubah putih dan serban bagaikan Pangeran Diponegoro.  Oh, ini peritiwa aneh. Naluri kewartawanannya bangkit.  Segera saja ia memanggil bajaj untuk mengikuti pria berjubah itu.

Sesampai di rumah orang tersebut sang wartawan tercengang. Di sana banyak sekali pemuda berjubah. Apa ini markas Lasykar Jihad? Bukan. Ini sebuah pedepokan silat. Tetapi mengapa memakai serban? “Kami ingin meneruskan cita-cita Pangeran Diponegoro,” jawab pria yang tadi berkuda itu. Ia mengaku keturunan Pangeran Diponegoro dan terobsesi meneruskan perjuangan leluhurnya yang anggap belum selesai. Zaman Belanda telah lama lewat, tetapi ia ke mana pun masih berkuda di hiruk-pikuk keramaian lalu-lintas Jakarta, berjubah, dan menyelipkan keris di pinggang.

Majalah Amanah yang memuat cerita tersebut mendadak oplahnya melonjak.

Ide Melalui Pendengaran

Ide lewat telinga ini acapkali tercetus manakala kita mengobrol dengan tetangga, teman, tamu, atau pada saat mendengarkan ceramah, seminar, pidato, dan pertemuan lainnya. Contoh:

Seorang wartawan bertemu dengan kenalan lamanya di suatu kantin. Mereka ngobrol ke sana kemari. Si teman menceritakan bahwa salah seorang kawan mereka, alumni Institut Pertanian Bogor, kini kerjanya keluyuran di hutan di Sumatra. Yang dilakukannya sungguh unik: mencari kutu harimau. Jika bertemu dengan harimau, binatang buas itu dibius untuk dicari kutunya. Setelah kutu habis, harimau pun dilepaskan kembali.

Obrolan itu melahirkan ide bagi sang wartawan. Dia kemudian mewawancarai si penyelamat harimau. Mengapa ia melakukan pekerjaan yang ganjil itu? “Saya ingin mencegah agar harimau sumatra jangan punah seperti harimau jawa,” ujarnya. “Kematian harimau kebanyakan karena dibunuh oleh pemburu dan menderita sakit setelah digigit oleh caplak, kutu harimau yang gigitannya berbisa.”

 Berkat Pendapat

Sumber ide lainnya adalah pengetahuan penulis atau narasumber. Biasanya ide  seperti ini bersifat memperluas wawasan, menambah pengetahuan, atau mencetuskan pendapat yang bermanfaat. Sebagian di antaranya mempunyai dampak yang besar, bahkan mengubah wajah dunia, meski pada awalnya kadang-kadang dipandang ganjil. Sebagaimana  disinggung pada tulisan “Mengasah Bakat Menulis I” berikut contoh ide tersebut:

Seorang pemuda pada tahun 1926 melamar pekerjaan sebagai penjaja (salesman)  pada perusahaan resleting  Hookless Fastener di Pennsylvania, Amerika Serikat.  Si pelamar diwawancarai, antara lain ditanya  apa idenya untuk mengembangkan perusahaan, bila lamarannya diterima.

Pemuda tersebut menjawab, “Alangkah baiknya jika resleting dipakai untuk bagian depan celana pria.”

Si pewawancara terbelalak. “Apa?” Ia kaget. Setelah tertawa panjang terkakak-kakak sampai mengeluarkan air mata ia berkata, “Nak, pria terhormat mana yang sudi memakai resleting pada celananya?”

Ini dianggap sebagai ide gila pada waktu itu.

Tidak setiap orang tergerak hatinya untuk membuat tulisan seandainya bertemu dengan wanita yang tidak waras seperti yang dialami oleh Mochtar Lubis. Mengapa baginya hal itu melahirkan sebuah ide tulisan?

Ini bertautan erat dengan latar belakang kehidupan masing-masing. Mochtar terkenal sebagai wartawan yang berani memperjuangkan kebenaran (membongkar korupsi dan ketidakadilan lainnya), meski harus meringkuk di rumah tahanan selama bertahun-tahun tanpa diadili. Ia juga gigih memperjuangkan kemajuan kaum wanita, sampai-sampai pernah ada yang menjulukinya “Bapak Kaum Feminis”. Ia sangat peduli terhadap nasib rakyat kecil. Oleh karena itu, tidak heran apabila tergerak hatinya untuk menulis perihal wanita yang tidak waras itu.

Bagaimana agar ide kita tidak ditolak dan bagaimana cara mengembangkan sebuah ide? Mari kita bahas:

2. Mengembangkan Ide

 Banyak wartawan yang mengeluh betapa sulit menembuskan ide ke kepala redaktur. Mereka menganggap bahwa idenya bagus, tetapi tetap ditolak oleh redaktur.

Itu mungkin karena antara seseorang dan orang lain berbeda cara berpikir, berlainan pengalaman, pengetahuan, pendidikan, dan lingkungan bergaul. Saya biasa menceritakan kepada yang mengeluh itu pengalaman seorang wali kota di Jakarta yang saya baca di buku Karya Jaya Kenang-kenangan Lima Kepala Daerah Jakarta 1945—1966.  Begini:

Pada tahun 1955-an  di suatu perkampungan kumuh Krekot Bunder, Jakarta, terjadi kebakaran besar. Pemerintah mengalami kesulitan membuatkan rumah bagi korban musibah tersebut. Jumlah orang yang harus ditolong banyak sekali. Lahan sempit. Biaya mahal.

Wali Kota Jakarta Soediro

Sudiro, Wali Kota Jakarta (Jakarta waktu itu termasuk Provinsi Jawa Barat) mengajukan gagasan untuk membangun rumah susun. Rencana tersebut disampaikan pada sidang Dewan Pemerintah Kota Sementara (cikal bakal DPRD) yang diketuai oleh walikota.

Di Indonesia ketika itu belum ada rumah susun. Rumah susun pertama di Jakarta baru ada sekira 20 tahun kemudian, sehingga tak terbayangkan oleh para anggota dewan bagaimana hidup di bangunan bertingkat. Usul walikota ditolak. Salah seorang anggota dewan beralasan, “Wah, repot nanti. Bayangkan, kalau yang di atas kencing, yang di bawah kebasahan, dong!”

Menjual ide memang kadang-kadang tidak mudah. Hal ini juga sering terjadi pada rapat redaksi “bursa ide”. Pada rapat tersebut tiap wartawan mengajukan usul tulisan yang akan dibuatnya. Sama seperti usulan Wali Kota Sudiro, wartawan menganggap idenya bagus, tetapi redaktur menolaknya. Mengapa ditolak?

Selain perbedaan cara berpikir dll. yang saya sebutkan tadi, ada beberapa kemungkinan lain:

a, Ide tersebut tidak sesuai dengan visi dan misi media.

Visi adalah pandangan di alam khayal tentang inti persoalan. Visi itu seibarat bintang kejora yang tampak besar dan bersinar terang pada dini hari di sebelah timur. Dengan melihat bintang tersebut kita dapat mengetahui arah, tetapi bintang tersebut tidak dapat dijangkau. Demikian pula halnya dengan visi, arahnya jelas, tetapi tidak dapat dicapai. Contoh: suatu majalah wanita menetapkan visi memperjuangkan emansipasi wanita. Adapun misi lebih spesifik dan konkret. Ini seumpama menuju gunung, meski jauh dan sulit tidak mustahil tercapai.

Jika Anda bekerja pada majalah wanita tersebut dan mengajukan usul akan membuat tulisan yang tidak sejalan dengan visi dan misinya, ya, tentu saja akan ditolak.

b. Tidak diminati oleh pembaca.

Selain corak media, kita juga perlu memperhitungkan faktor pembaca. Tiap media mempunyai pangsa pem-baca tersendiri. Pembaca membeli suatu media massa karena menghendaki sesuatu yang bermanfaat baginya. Manfaat bagi yang satu akan berbeda dengan lainnya. Misalnya saja, selera, kebutuhan, dan kepentingan harian Kompas berbeda dengan harian Pos Kota. Entah karena perbedaan pekerjaan, tingkat pendidikan, pengalaman, lingkungan sosial, tempat tinggal, golongan ekonomi, kegemaran, dll. Perbedaan tersebut memang tidak sekontras hitam dan putih, tetapi terasakan.

Sekaitan dengan itu sebelum mengajukan usul ide kita harus memper-timbangkan terlebih dulu hal-hal itu. Kita jangan terlalu rendah atau terlalu tinggi memperkirakan kepentingan pembaca.

c. Pernah disiarkan di media lain.

Boleh jadi ide Anda bagus, tetapi hal itu sudah disiarkan di media lain. Sia-sia saja kita mengajukan usul tersebut karena pembaca menginginkan sesuatu yang baru, unik, dan eksklusif.

Itulah antara lain alasan suatu usul ide ditolak. Hal itu pula yang harus kita perhatikan agar ide kita diterima. Sekaligus juga menentukan nilai bagus tidaknya suatu ide.

Faktor lain yang menentukan nilai suatu ide adalah sebagai berikut:

Sekalipun suatu ide sudah disiarkan oleh media lain, tidak berarti hal itu tertutup sama sekali untuk membuat tulisan baru. Kita bisa mengembangkannya dengan cara:

  1. Menindaklanjuti. Jika Anda membaca tulisan menarik di suatu koran, tabloid, atau majalah; pertanyakanlah pada diri sendiri apakah berita atau cerita tersebut menarik untuk ditindaklanjuti. Misalnya, dengan mencari latar belakang suatu peristiwa dan kelanjutan peristiwa tersebut.
  1. Ditulis dari segi lain. Tentu saja suatu perisitiwa bisa kita tulis dari bermacam-macam segi, baik menurut umur (anak-anak, remaja, dewasa), jenis kelamin (pria atau wanita),  golongan masyarakat, bidang profesi, lokasi, dan lain-lain.
  1. Bagaimana jika sebaliknya. Bukan hanya dari segi lain, kita dapat juga membuat tulisan baru yang bertolak belakang dengan informasi yang sudah tersiar. Umpamanya, menurut versi pemerintah, utang luar negeri digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Benarkah begitu? Kita akan dapat memperoleh informasi yang bertentangan dengan itu, misalnya, dari lembaga swadaya masyarakat. Mereka akan mengatakan bahwa dana pinjaman itu tidak menetes kepada rakyat kecil karena dikorupsi di tengah jalan oleh para pejabat.

d. Topik dipertajam.

Seorang wartawan mengajukan usul untuk membuat tulisan tentang Jakarta. Hal ini ia sampaikan dalam rapat bursa ide di suatu majalah hiburan. Semua yang hadir mengernyitkan kening. “Apa lagi yang akan ditulis. Kita sudah bosan,” komentar pimpinan rapat.

Komputer Harvard Mark I yang sedang dioperasikan. Tahun 1944

Dengan demikian, ide yang kita ajukan itu harus disertai “informasi awal” yang menarik. Informasi tersebut akan membuat hal biasa menjadi istimewa. Misalnya, sehari-hari kita akrab dengan komputer. Tidakkah Anda tergerak untuk menulis mengenai hal itu? “Tapi itu ‘kan hal biasa? Tidak ada yang aneh tentang komputer,” mungkin begitu kata Anda.

Literatur akan membantu hal biasa menjadi luar biasa. Misalnya, menurut ensiklopedi The New Book of Knowledge, komputer—mesin  pintar yang tak berotak itu—mampu  menyelesaikan sebuah hitungan dalam bilangan detik. Hitungan tersebut jika kita kerjakan akan memakan waktu 30 tahun tanpa istirahat sekejap pun, tanpa tidur, tanpa diseling makan, mandi, dll. Kita bisa menulis mengenai “keajaiban” komputer seperti itu. Dapat juga tentang perkembangannya yang dahsyat. Umpamanya komputer pada generasi pertama gedenya bukan main, sebesar gudang. Terdiri atas 19.000 tabung hampa yang kemudian diringkas menjadi chip sekecil kuku. Bandingkanlah dengan sekarang. Bandingkan kemampuan komputer zaman dulu dan sekarang.

Contoh lain: ketika Anda menatap akuarium tidakkah Anda tergerak untuk menulis perihal ikan koki. Itu, lo, kalau kita perhatikan bentuknya, kok, aneh-aneh. Ada yang gembrot, ada yang matanya gede melotot, yang siripnya panjang berumai-umbai, yang kepalanya kayak monster. Semua itu mulanya ikan mas biasa. Lalu dibudidayakan. Siapa yang membudidayakannya, di mana, kapan, bagaimana.

Begitulah. Ide yang dilengkapi oleh informasi awal yang menarik akan memudahkan kita memulai tulisan.  Suatu tulisan akan menjadi bagus manakala direncanakan. [bersambung ke Mengasah Bakat Menulis (4)]

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo