Maskun Iskandar

Mengenal Dunia Jurnalisme

Oleh Maskun Iskandar

 ============================================================

Pokok bahasan

  • Apa arti dan bagaimana asal-usul istilah: jurnalis, pers, reporter, dan wartawan
  • Sekilas sejarah pers: di dunia dan Indonesia

 ============================================================

Pengantar:

Sebelum melanjutkan pembahasan tentang teknik menulis, ada baiknya kita mengenai sejarah pers secara sekilas.

S

ejarah jurnalisme dimulai pada zaman suatu kerajaan sedang gemilang. Emas berlimpah, budak belian  tak terhitung lagi banyaknya. Berbagai patung dan piramid yang ajaib-ajaib dibangun di mana-mana. Raja juga merombak sistem pemerintahan. Di antaranya membuka jalur komunikasi dengan cara baru. Raja tersebut Amenhotep III (1405–1367) mengutus ratusan “wartawan” membawa “surat berita” ke semua provinsi. Itulah cikal-bakal jurnalisme.

Mengapa dikatakan cikal-bakal?

Amenhotep III

Amenhotep III

Ini terjadi 3.400 tahun yang silam. Ketika itu di Mesir sudah lama ada kerajaan, malah telah memasuki periode masa “Kekaisaran Baru” (1567–1080 SM). Pada saat yang sama kita mengetahui apa yang terjadi di Indonesia. Mungkin baru sampai pada tahap Zaman Batu. Orang-orang di Mesir sudah pandai membuat piramid, kubur para raja. Dibangun dengan batu-batu besar yang masing-masing beratnya antara 28–32 ton.

Batu-batu tersebut amatlah keras, sehingga tak lekas hancur. Akan tetapi, bagaimana cara memotong-motong batu tersebut sampai  berbentuk kubus. Ada batu yang didatangkan dari hulu Sungai Nil yang jauhnya seribu kilometer. Nah, bagaimana cara mengangkutnya, padahal belum ada mobil dan kereta api.

Di piramid itu ada jebakan-jebakan untuk menghindari pencurian harta raja yang dikubur di situ. Di peninggalan budaya yang termasuk salah satu di antara tujuh keajaiban dunia itu terdapat tulisan dengan “huruf paku” yang membuat kita mengetahui sejarah bangsa itu. Inilah pentingnya peninggalan tertulis.

Secara tertulis pula Raja Amenhotep III yang memerintah selama sembilan tahun (1420–1411) mengirimkan berita yang mengabarkan tentang kejadian-kejadian penting di kerajaannya. Tindakan raja yang lahir dari rahim wanita kulitb hitam yang cantik seperti Nefertiti itu dipandang sebagai cikal-bakal jurnalisme.

Asal-usul Beberapa Istilah

Di sini "Acta Diurna" dulu dipasang

Istilah “jurnalis” berasal dari kata diurna, sehari-hari. Ceritanya: pada zaman kekaisaran Romawi sekira 2.500 tahun yang lalu setiap peristiwa penting di lingkungan pemerintahan dipublikasikan di papan pengumuman. Isi mengenai aktivitas sehari-hari di istana, misalnya, kelahiran, penobatan, kunjungan tamu agung, dan lain-lain. Dari situ timbul istilah acta diurna, kegiatan atau tindakan atau peraturan atau kejadian sehari-hari. Selain Acta Diurna ada juga sebutan Acta Populi atau Acta Publica.

Selain di istana, Senat juga menerbitkan pengumuman aktivitas Senat. Umpamanya, mengenai perundang-undangan atau peraturan yang dibuatnya. Publikasi ini disebut Acta Senatus atau Commentarii Senatus  yang diprakarsai oleh sentor Tiberius pada tahun 1 Masehi.

Pada zaman Romawi tersebut sudah ada orang yang bekerja sebagai wartawan–secara sederhana tentu. Mereka itu menjual informasi kepada orang-orang yang enggan nimbrung berkerubung di depan papan pengumuman.  Jadi, istilah jurnalis dikaitkan dengan hal itu.

Selain istilah jurnalis kita juga mengenal sebutan wartawan, reporter, dan pers.

Istilah “wartawan” berasal dari kata Sanskerta, wrtta, artinya digerakkan, terjadi, lalu, lewat, soal, peristiwa, tindakan, tingkah laku, atau bisa juga berati berita. Istilah wartawan digunakan pada masa kemerdekaan sebagai pengganti kata jurnalis pada zaman Belanda.

Istilah reporter diambil dari dunia birokrat pada abad ke-15. Para birokrat pada waktu itu patut dijadikan teladan  karena tulisan mereka itu rapi, jelas, bagus, jujur, dan objektif. Pemungutan istilah “reporter” ke dunia jurnalistik dilakukan karena wartawan diharapkan bekerja seperti para birokrat Eropa abad ke-15 itu.

Istilah pers (bahasa Belanda) atau press (bahasa Inggris) muncul setelah ditemukan mesin cetak oleh Johannes  Gutenberg tahun 1450. Pria yang tinggal di tepi Sungai Rhein, di Kota Mainz ini merintis pembuatan mesin tersebut sejak sepuluh tahun sebelumnya. Masalahnya, tak mudah mencari jenis kayu yang mudah digunakan untuk mengukir huruf, tetapi kuat untuk dipakai mencetak banyak dan tahan ditekan berulang-ulang. Cetak berasal dari kata Belanda zhetaak. Pers  atau press artinya tekan. Istilah tersebut dipakai pula untuk sebutan wartawan televisi dan radio yang tidak menggunakan media cetak.

Sejak awal mesin cetak kerap digunakan untuk membuat selebaran mengenai suatu peristiwa atau pengumuman. Pada mulanya mesin tersebut masih amat sederhana, makin lama kian canggih dan sanggup menggandakan secara banyak, misalnya, ketika kemudian diciptakan mesin cetak yang menggunakan timah.

Maka dapat dimaklumi bila surat kabar pertama di dunia baru terbit setelah 169 tahun mesin cetak Gutenberg.

Pers Masa Awal

Jurnalisme di Indonesia berawal pada masa Gubernur Jenderal Belanda, Jan Piterszoon Coen (1587—1629). Pada tahun 1615 ia memprakarsai penerbitan newsletter  yang dinamakan Memorie der Nouvelles. Ini adalah surat yang ditulis tangan berisi berita-berita dari Nederland dan disebarkan dari Jakarta untuk kalangan pejabat VOC sampai yang tinggal jauh di  Ambon. Adapun yang memperoleh newsletter  tersebut hanya orang-orang yang dianggap penting. Soalnya salinan surat tersebut terbatas hanya 30 eksemplar.  Waktu itu di Indonesia belum ada mesin cetak, mesin stensil, apalagi mesin fotokopi, sehingga salinan harus ditulis tangan.

Newsletter itu bukan surat kabar, melainkan siaran berkala. Surat kabar dalam bahasa Inggris disebut newspaper.

Surat kabar pertama di dunia, Avisa Relation Oder Zeitung, terbit  di Augsburg, Jerman, secara teratur sejak 15 Januari 1609 atau, itu tadi,   169 tahun setelah mesin cetak Gutenberg.

Surat kabar pertama berukuran folio

Surat kabar pertama di Indonesia Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnmenten (Berita dan Penalaran Politik Batavia) dicetak pada 7 Agustus 1744  dalam ukuran kertas folio. Sebetulnya keinginan untuk menerbitkan surat kabar di Indonesia sudah lama, tetapi selalu dihambat oleh pemerintah VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie, Perkumpulan Dagang Hindia Timur). Keinginan tersebut baru terwujud setelah VOC dipimpin oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff yang moderat (Abdurrachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia)..

Penerbit surat kabar pertama di Indonesia itu ialah Jan Erdmans Jordens. Ia memperoleh izin  untuk masa kontrak tiga tahun. Seketika terbit langsung dikirim ke Belanda. Perjalanan kapal laut dari Jakarta ke Belanda waktu itu memakan waktu tujuh bulan. De Heeren Zeventien, yaitu direksi VOC di Belanda serta-merta melarang penerbitan koran itu. Surat perintah pelarangan dikirim dari Negeri Belanda pada November 1745 dan baru sampai di Jakarta 20 Juni 1746. Dengan demikian, seraya menunggu izin, surat kabar tersebut sempat beredar selama dua tahun.

Peristiwa yang sama terjadi pula sebelumnya di Amerika Serikat. Benjamin Harris pada tahun 1690 menerbitkan koran Public Occurrences Both Foreign an Domestic. Seketika terbit surat kabar tersebut langsung dibredel oleh Gubernur Massachussets.

Napoleon Bonaparte

Mengapa dilarang terbit?

Pers itu mempunyai pengaruh yang besar antara lain karena dapat membentuk opini publik. Hitam kata pers, hitam pula anggapan masyarakat. Putih kata pers, putih pula pendapat umum. Umpamanya, pers secara terus-menerus memberitakan bahwa ada seorang pejabat yang berbuat jahat atau pemerintah melakukan tindakan salah. Citra itu pulalah yang terbentuk di benak masyarakat, padahal berita tersebut mungkin saja salah.

Pemerintah mana yang tidak takut akan hal itu, bahkan Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis yang jagoan perang itu pernah berujar, “Saya lebih takut pada sebuah pena (tulisan wartawan) ketimbang seribu pedang.”

Jadi, tidaklah heran jika Inggris pada waktu itu memberlakukan hukum yang keras terhadap pers. Tulisan harus disensor sebelum diterbitkan. Untuk memudahkan mengontrol pers, kantor penerbitan tidak boleh jauh dari istana. Bila pers melakukan kesalahan yang merugikan pemerintah, maka ancaman hukumannya pun luar biasa beratnya. Bukan pembredelan. bukan hukuman penjara, bukan pula dikenakan denda, melainkan hukuman potong kepala bagi pemimpin redaksinya atau yang lebih ringan lagi: potong lidah. Sistem pers dengan kekuasaan yang sewenang-wenang seperti itu dinamakan autotarian.

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo