Maskun Iskandar

Berita Itu
Menyampaikan Informasi Istimewa (1)

Oleh Maskun Iskandar

 

======================

Pokok Bahasan:

  1. Definisi berita
  2. Bahan berita
  3. Tujuan berita
  4. Persyaratan berita

 ======================

 

I. Definisi Berita

J

ika kita ditanya, apa itu kursi? Dengan mudah kita jawab, kursi ialah tempat duduk yang bersandaran dan berkaki. Bila kita ditanya, mana tangan kiri? Dengan gampang pula dapat kita tunjukan. Akan tetapi, andai ditanya, apa itu kiri? Nah, apa jawab Anda? Kiri adalah….

Susah, bukan?

Demikian pula halnya dengan berita. Berita itu ada di mana-mana dan mudah dikenali, tetapi susah didefinisikan. Bukalah surat kabar, niscaya kita akan menjumpai tulisan berbentuk berita hampir di seluruh halaman. Radio dan  televisi menyiarkan berita pada waktu-waktu tertentu. Pada media online berita terus-menerus disiarkan dan diperbarui. Adapun tabloid dan majalah biasanya sedikit sekali menampilkan berita dan lebih banyak menyajikan tulisan dalam bentuk lain, seperti news feature, feature, cerita pendek, dll.

Berita juga mudah dibedakan dari bentuk tulisan lainnya karena penulisannya singkat padat, informatif, aktual, lugas, dan sederhana. Namun, susah  didefinisikan.  Banyak sekali definisi berita, tetapi semakin banyak definisi, kian bingung kita. Silakan simak beberapa definisi berikut ini:

Ilustrasi buku The News Manual oleh Bob Browne

 “When a dog bites a man, that’s not news. But when a man bites a dog, that is news.” (John Bogart, Harian Sun, New York)

“Berita dapat didefinisikan sebagai suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik perhatian sebagian besar pembaca.” Dean M. Lyle Spencer, buku News Writing)

“Berita itu ialah segala sesuatu yang kemarin belum diketahui orang. ( Turner Catledge, Harian The New York Times)

“Berita adalah sesuatu yang aktual yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar karena hal itu dapat menarik atau mempunyai makna bagi pembaca surat kabar atau karena hal itu dapat menarik perhatian para pembaca.”  (Dr.  Willard C. Bleyer, buku Newspaper Writing and Editing)

“Berita adalah laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.” (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Jelaskah definisi-definisi itu? Bila belum jelas juga, silakan simak terlebih dulu:

II. Bahan Berita

Berita berasal dari bahan tulisan. Sama seperti  makanan, tanpa bahan kita tidak dapat membuat bolu, lemper,  atau agar-agar. Berita juga tidak dapat dibuat tanpa bahan. Adapun bahan untuk membuat berita ialah:

  1. Peristiwa atau keadaan atau kenyataan. Misalnya ada kejadian: (1) Seorang anggota DPR dipecat karena dianggap melanggar kode etik, (2) Kereta api terguling di Bekasi menewaskan 113 orang, (3) Kebakaran memusnahkan 50 rumah. Tidak ada korban jiwa, (4) Seorang pejuang hak asasi manusia diracun di kapal terbang, (5) Panggung pertunjukan musik roboh karena penonton berjejal, (6) Koruptor melempar hakim dengan sepatu, (7)  Kekeringan melanda suatu kabupaten, (8)  dll.
  2. Masalah. Misalnya masalah: (1) Penyelundupan bahan bakar minyak merajalela karena perbedaan harga yang mencolok, (2) Indeks Pembangunan Manusia Indonesia rendah karena masih banyak penduduk miskin, (3) Wabah dengan cepat menyebar ke seluruh Asia karena belum ada obat penangkalnya, (4) Korupsi sulit diberantas karena sudah membudaya, (5) Dampak kawin muda, (6) Masalah narkoba di kalangan remaja, (7) Persoalan perbatasan dengan negara tetangga, dll.
  3. Ide atau pendapat narasumber (bukan pendapat wartawan), misalnya: (1) Pendapat pejabat untuk mengatasi masalah rendahnya Indeks Pembangunan Manusia itu tadi, (2) Tanggapan anggota DPR tentang rencana pemerintah untuk merombak susunan kabinet, (2) Pendapat pakar mengenai kebakaran hutan yang mengakibatkan musnahnya beberapa jenis tanaman obat di Kalimantan, (3) Komentar ulama perihal sekte yang dianggap menyimpang,  dll.

Yang dikemukakan pada contoh tersebut baru topik dan belum menjadi bahan berita. Untuk menjadikan bahan berita, topik tersebut harus ditambah dengan data-data.  Contoh:

Topiknya: penerima hadiah Kalpataru ditangkap oleh polisi.

Data-datanya sebagai berikut:

  • Mayar (73 tahun) yang tinggal di Banyuwangi bekerja sebagai nelayan sejak muda.
  • Ketika umurnya semakin tua ia beralih pekerjaan menjadi pencari telur penyu.
  • Penyu termasuk binatang yang dilindungi karena hampir punah akibat diburu dan telurnya dijarah oleh  babi hutan, anjing, biawak, kera, dan manusia.
  • Untuk mencari telur penyu diperlukan keahlian khusus. Jarang yang mempunyai keahlian seperti itu. Satu di antaranya Mayar.
  • Agus Gunadi, Kepala Subseksi Wilayah Konservasi Sarongan, Banyuwangi, membujuk Mayar untuk menjadi jagawana yang bertugas memelihara kelestarian penyu. “Bapak ‘kan tahu bahwa penyu tak boleh diburu dan telurnya tak boleh diambil,” kata Agus. “Kalau Bapak kepergok ngambil telur penyu, Bapak akan dipenjara. Nah, kalau Bapak dibui, siapa yang akan ngasih makan anak istri Bapak. Mendingan jadi jagawana. Tiap bulan Bapak dapat uang. Tugas Bapak cuma  mengumpulkan telur penyu sampai menetas menjadi tukik (anak penyu). Jika sudah besar, tukik dilepas ke laut supaya penyu tak cepat habis.”
  • Mayar menerima tawaran itu. Dia memang ahli. Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan 833.357  telur penyu dan melepas 748.357 tukik ke laut. Dengan demikian, dia telah membantu melestarikan penyu.
  • Atas jasanya itu Mayar mendapat hadiah Kalpataru yang langsung diberikan oleh presiden di istana. Peristiwa ini disiarkan di TV, dimuat di koran dan majalah. Mayar mendadak ngetop dan banyak uang.
  • Lalu? Lalu apalagi kalau bukan kawin lagi. Mayar menikahi Katemi yang usianya 40 tahun lebih muda.
  • Uang cepat habis. Honor sebagai jagawana amatlah kecil. Mayar kembali miskin. Maka, ia balik pada pekerjaan semula menjadi pencari atau  pencuri telur penyu.
  • Pada dini hari 5 Februari lalu ia memperoleh 600 telur penyu. Ia untung besar. Untung? Tidak juga. Saat hendak pulang Mayar tepergok oleh polisi dan  dia ditahan.

Itulah contoh bahan berita. Bahan tersebut dapat juga digunakan untuk membuat tulisan dalam bentuk lain, misalnya feature, opini, bahkan cerita pendek. Ya, sebagaimana dikatakan tadi dari satu bahan, misalnya beras,  kita dapat membuat bermacam-macam penganan, entah itu lemper, nasi goreng, nasi uduk, tumpeng, dll. Hal ini bergantung pada tujuan kita.  Apakah kita membuatnya untuk sarapan, cemilan, atau hajatan.

Demikian pula halnya dengan bahan tulisan. Kasus Mayar tadi dapat dijadikan berita dan feature, opini, atau lainnya. Semua itu juga bergantung pada tujuan kita membuat tulisan.

Lalu, apa tujuan kita membuat berita?

III. Tujuan Berita

Lambang Kalpataru

Anda membuat tulisan. Untuk apa tulisan itu dibuat? Mungkin ini salah satunya:

  1. Menyampaikan informasi
  2. Meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan
  3. Menyalurkan aspirasi atau kata hati atau hiburan
  4. Melakukan kontrol sosial.

Tiap bentuk tulisan mempunyai tujuan yang spesifik. Misalnya, Anda membuat cerpen dengan maksud  untuk mencurahkan aspirasi atau kata hati. Ini berbeda dengan tujuan membuat berita. Tujuan membuat berita lebih menekankan pada menyampaikan informasi, sehingga berita identik dengan informasi.

Mengingat tujuan yang spesifik itu, maka berita mempunyai persyaratan yang khas pula, yakni:

IV. Persyaratan Berita

Persyaratan berita adalah:

  1. Faktual. Berita harus ditulis berdasarkan hal yang  sungguh-sungguh ada dan terjadi, bukan yang dikarang-karang atau yang mengada-ada. Jadi, jika kita memberitakan tentang penerima hadiah Kalpataru ditangkap polisi, hal itu haruslah sungguh-sungguh terjadi. Siapa orangnya, di mana, kapan, mengapa, bagaimana hal itu terjadi; semuanya harus konkret. Adapun untuk membuat cerita pendek bahannya bisa kita karang-karang, tak perlu ada peristiwa yang konkret terjadi.
  2. Aktual.  Aktual itu baru saja terjadi atau sedang ramai dibicarakan orang atau baru diketahui pembaca.  Seperti nasi, enaknya selagi hangat. Jika sudah basi tidak enak lagi. Demikian juga berita. Bila sudah lama lewat, ya, bukan berita lagi.  
  3. Segera. Berita harus segera disiarkan karena sifatnya informatif. Ada yang mengatakan bahwa koran itu seperti lalat: umurnya hanya satu hari. Koran penuh dengan berita. Berita itu cepat basi. Ini berbeda dengan bentuk tulisan lainnya, misalnya, feature yang sifatnya awet.
  4. Informatif. Artinya pemberitahuan. Dengan demikian, berita itu mengandung isi yang sebelumnya tidak diketahui oleh pembaca. Sesuatu yang baru bagi pembaca. Jika pembaca sudah mengetahuinya, maka berita itu tidak berharga lagi.
  5. Istimewa. Masih ingat definisi Bogart? Jika anjing menggigit orang, itu bukan berita. Bila orang menggigit anjing, itu baru berita. Sesuatu itu baru menjadi berita, apabila ada keistimewaan. Misalnya karena jumlahnya banyak, pertama kali terjadi, menyangkut jiwa manusia, superlatif (terkaya, termuda, termiskin,  tertinggi, terendah, tercepat, dsb.) Contoh lain: tiap hari banyak orang melakukan joging mengitari Stadion Utama Senayan, Jakarta. Tidak ada yang istimewa. Namun, alangkah luar biasa bila yang joging itu opa berusia 90 tahun.
  6. Penting. Penting itu pokok, utama, menentukan, dan sangat berharga. Dalam penulisan berita hal ini erat berkait dengan kepentingan pembaca. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan siapa pembaca media kita. Kita harus selalu memperhatikan apakah pembaca berkepentingan dengan berita yang kita tulis.
  7. Menarik. Menarik itu sama dengan memikat. Kita mungkin tidak mempunyai urusan apa pun dengan anak jalanan. Tidak ada kepentingan kita di situ. Boleh jadi kita tidak peduli apakah mereka sudah makan atau belum, tidur di mana, masih punya orang tua atau tidak. Namun, hal itu tiba-tiba menarik bagi kita ketika seorang anak gelandangan dipukuli oleh petugas karena melawan sewaktu dirazia.
  8. Berimbang. Manakala dalam suatu berita ada hal yang kontroversial, wartawan wajib meliput dari pihak-pihak yang bersengketa secara adil. Wartawan tidak boleh memihak, kecuali jika membela golongan lemah yang tertindas dan tidak bisa membela dirinya sendiri.
  9. Singkat. Berita harus ditulis secara singkat dan padat, tidak boleh bertele-tele. Tidak boleh ada informasi yang mubazir. Dengan demikian, yang kita tulis itu yang penting-penting atau pokok-pokoknya saja. Jika Anda mendengarkan suatu  berita di radio atau nonton siaran berita di televisi, betahkah Anda mendengarkan hingga lebih dari satu jam? Bosan bukan?  Bila ada berita yang tidak menarik, kita segera beralih ke saluran lain. Demikian juga berita di koran.

Bagaimana jika ada kejadian yang dramatis, misalnya, tsunami Aceh, bom Bali, bom Kuningan, gempa Jogja, dan lainnya. Itu, sih, perkecualian. Koran pun memuatnya panjang lebar dan berhari-hari.

  1. Komplet.  Berita memang harus ditulis secara singkat dan padat, tetapi juga harus lengkap. Berita yang lengkap adalah yang mampu menjawab pertanyaan 5 w 1 h (who, what, where, when, why, dan how). Tuntas. Tidak ada bagian informasi yang bolong.
  2. Objektif. Berita yang kita buat tidak boleh dipengaruhi oleh pendapat pribadi kita. Kewajiban kita hanyalah membeberkan peristiwa yang terjadi. Biarkanlah pembaca yang menilai bahwa suatu perbuatan kriminal yang kita beritakan itu, misalnya, merupakan tindakan kejam, keji, bejat, atau lainnya.
  3. Akurat. Tepat, cermat, teliti. Dalam membuat berita wartawan harus menulis secara tepat, tidak boleh menyimpang dari yang sebenarnya terjadi, tidak boleh ditambah-tambahi atau dikurangi. Tidak boleh berprasangka. Misalnya, seseorang yang dituduh korupsi, belum tentu dia itu koruptor, meski hartanya berlimpah. Contoh lain: kebakaran di suatu pabrik, belum tentu karena sabotase.
  4. Dekat. Ada dua kedekatan: 1. geografis dan 2. kepentingan. Kedekatan geografis, misalnya, kesebelasan  sepak bola Indonesia berlaga di Asia.  Kesebelasan negara lain unggul segala-galanya, tetapi kita tetap mendukung kesebelasan Indonesia karena kedekatan geografis. Contoh kedekatan kepentingan:  ujian nasional SMA Cilegon diulang. Bagi orang yang berkepentingan, berita tersebut menarik. Bagi yang lain boleh jadi tidak menarik. Contoh lainnya lagi: berita Indeks Pembangunan Manusia Indonesia yang rendah itu menarik bagi kita karena menyangkut bangsa kita.
  5. Manusia. Faktor utama dalam berita adalah manusia. Gempa atau badai sebagaimana pun hebatnya tidak akan menjadi berita, apabila tidak menyangkut manusia atau kepentingan manusia. Sebaliknya, seorang anak tercebur ke sumur sedalam 12 meter akan menjadi berita  menghebohkan. Lebih-lebih lagi, bila penyelamatannya dramatis. (Bersambung)

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo