Orang Jalanan

Ella - Komala Ahadiati

Matanya berkunang-kunang, ia duduk tak tenang.
menunggu adzan Subuh berkumandang, pikiranpun melayang.
dibukanya kedua telapak tangan
seolah memandangi kehidupan
dari masa ke masa, Ia menghitung berbagai kesalahan
ia lalu menghibur diri dengan berbagai hal
yang menurut perkiraannya merupakan kebaikan
barangkali bisa menghapus berjuta jejak kekhilafan
di antara resah, apakah impas dengan kebaikan

Pikiran menerawang, samar terbayang
bunda yang melahirkan, kini entah di mana
ayahanda dan sanak saudara, seperti apakah mereka?
adakah adik kakak yang merindukan
adakah teman masa kecil yang pernah mengajaknya bermain

Beranjak remaja, yang ia tahu
ia telah menjadi bagian dari sekelompok peminta-minta
mencari belas kasihan di jalanan
asal cukup buat makan

Remaja tumbuh dewasa
mecoba jadi pedagang asongan
sedikit merubah bentuk kehidupan
barangkali terhitung lebih berharga

Menekuk jari jemari
mendekatkan ke bibir yang bergetar
menampung sebuah bisikan
Ya Allah, aku ikhlas..”

Tubuh berbalut pakaian basah oleh air hujan
di emper toko di sisi jalan
dinihari dingin tak berangin
hening tiada suara
tergolek ia dengan senyuman
di atas sajadah dari koran bekas

Dunia,
selamat tinggal..

Si Buta dan anaknya

Nak,
bawa bapak ke jalan
kita cari uang buat ibumu
buat makan adik-adikmu

Perlahan nak,
kita berjalan di antara kendaraan
bapak takut jatuh
bapak takut kehilanganmu

Sabarlah nak,
beri waktu untuk mereka yang berbelas kasihan
sekeping dua keping uang
buat mengganjal perutmu yang lapar

Dekatkan bapak nak,
ke tuan-tuan pengendara
mungkin mereka tak percaya
kalau bapak tak berdaya

Tidak nak,
biar bapak saja yang begini
kau harus bekerja setelah ini
jangan jadi seperti bapak

Penjual Koran

Berita hari ini
si pencuri ditembak mati
pejabat korup diadili

Kecelakaan
maut merenggut belasan orang
jalanan semakin tak aman

Berita buruk, berita menarik
belilah
biar kau lihat dunia
dan kau berpikir sebelum mengambil keputusan

Sang Penari

Musik mengalun jarinya menjentik
melenggok mengikuti irama
di perempatan jalan

Ketika lampu merah menyala
sang penari berkebaya
mengibaskan selendang
berjoget di antara kerumunan kendaraan

Berhenti sejenak menanti uluran tangan
lalu berlari ke sisi kendaraan lainnya
berjoget lagi

Berjoget lagi
hingga lampu merah berganti

Mbak atau Mas?

Merayu para pengemudi
percaya diri dalam kepalsuan
berbalut pakaian ketat
bulumata panjang, berbedak tebal
mempercantik diri dalam kepalsuan

Aih, abang
minta duit sedikit
jangan suka pelit
biar nanti ike pijit..”

Si abang berkelit
“Mbak atau mas
minggirlah sedikit
mataku jadi sakit
melihatmu pakai baju sempit”

(awal 2012)

Ella – Komala Ahadiati adalah mantan Redaktur Majalah Amanah