Maskun Iskandar


Feature Itu

Tulisan yang Gurih dan Renyah (1)

(Seri 4)


Oleh
Maskun Iskandar

===================================

Pokok bahasan:

  1. Pengertian Feature
  2. Perbandingan Berita dan Feature

===================================

M

enjelang ajal, seorang raja memberikan dua perintah kepada ajudannya. Perintah pertama, “Hancurkan berlian kerajaan!” Titah ini kedengarannya aneh. Berlian tersebut amatlah indah dan mahal. Alangkah sayang bila harus dimusnahkan. Namun, sang ajudan patuh seperti robot. Ia melaksanakan instruksi tersebut itu tanpa tetapi, tanpa barangkali, dan tanpa kecuali.

Perintah kedua lebih aneh lagi, “Bunuh selir baru!”

Duh, padahal selir itu masih belia dan cantik sekali. Ini benar-benar aneh!

Ali Pasha 1741 - 1822 (Wikipedia)

Aneh? Sebetulnya tidak aneh benar. Raja Albania tersebut, Ali Pasha (81 tahun), mempunyai beberapa putra. Ia khawatir, setelah meninggal dunia keturunannya itu akan bertikai. Ada dua hal yang akan menjadi bahan rebutan: berlian dan selir cantik itu.

Berlian memang sering menjadi sumber bencana. Berlian dapat membuat seorang anak tega menikam orang tuanya, saudara membunuh saudara, suatu negara menyerbu negara lain. Di India, misalnya, seorang raja menyerang raja lainnya yang memiliki berlian terkenal.  Raja yang diserang itu kalah. Akan tetapi, ia sama sekali tidak mau memberitahukan di mana berliannya disembunyikan. Walaupun diancam, ia tetap diam. Dicambuk sampai berdarah-darah pun tetap bungkam. Bahkan, hingga dikucuri aspal panas sekalipun.  Ya, sekalipun dikucuri aspal panas!

Raja Ali Pasha tidak ingin keturunannya bunuh-membunuh, gara-gara berlian Pigott miliknya. Berlian tersebut berasal dari India. Elok bukan main dan besar pula. Ali Pasha membelinya seharga $150.000 pada tahun 1818.

Seorang sultan dari Turki pernah mengirimkan balatentara untuk merebut berlian tersebut. Ali Pasha yang berusia 80 tahun ketika itu terluka, tetapi berlian dapat diselamatkan.

Perebutan seperti itu tidak mustahil terjadi pada anak-anaknya. Itulah sebabnya, ia tersenyum lega ketika menyaksikan sang ajudan menghancurkan berlian Pigott dengan gada besi yang berat dan besar. Demikianlah, tugas pertama selesailah sudah ditunaikan. Raja pun wafat dengan tenang.

La, lalu bagaimana dengan tugas membunuh selir? Ajudan juga manusia. Setelah melihat sang Raja telah tiada, setelah melirik sang selir cantik, maka ia pun kabur bersama selir tersebut. (Diolah dari The New Book of Knowledge.)

Itulah contoh tulisan feature (baca: ‘fẽ-cher). Feature? Apa itu feature?

I. Pengertian Feature

Menurut Webster’s New World Dictionary, feature berasal dari facere (Latin). Arti aslinya: suatu bentuk, format, dan penampilan seseorang atau suatu benda. Kini antara lain diartikan: suatu cerita atau artikel khusus di surat kabar atau majalah yang kadang-kadang ditampilkan secara mencolok.

Kata ‘khusus’ dan ‘mencolok’ menyiratkan bahwa feature termasuk karangan yang penting.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutnya sebagai karangan khusus, yakni karangan yang melukiskan suatu pernyataan dengan lebih terperinci sehingga apa yang dilaporkan hidup dan tergambar dalam imajinasi pembaca.

Ini berarti bahwa membaca feature itu sama dengan membaca novel yang dapat membuat kita terbayang-bayang bagaikan nonton sinetron.

Definisi yang populer dikemukakan oleh Daniel R. Williamson dalam buku Feature Writing for Newspaper, “A feature story is a creative, sometimes subjective, article designed primarily to entertain and to inform readers of an event, a situation or an aspect of life.” [1]

Masih se-abrek-abrek lagi definisi feature. Pengertian feature akan lebih jelas, apabila terlebih dulu kita usut latar belakangnya dan (pada bab II) membandingkannya dengan berita:

Sewaktu Perang Dunia I (1914—1918) radio digunakan untuk keperluan perang. Radio amatir dibungkam. Sebaliknya, koran ramai oleh berbagai cerita pertempuran. Agaknya hal ini berpengaruh pada radio. Seusai perang, radio pun ketularan menyiarkan berita (Mike Adams, “A Century of Radio”).

Dunia jurnalistik berubah wajah. Radio dengan cepat menarik hati pendengarnya karena dapat menyiarkan berita penting dengan cepat. Koran kelabakan kalah bersaing. Ketika itu surat kabar terancam bangkrut. Namun, tak selamanya mendung itu kelabu. Selalu saja ada “sisi perak” yang berkilau. Demikian pula halnya surat kabar. Ada sisi lain dari suatu peristiwa yang tetap menarik untuk ditulis. Sisi perak itu feature.

Feature telah menyelamatkan koran dari kebangkrutan dalam persaingan dengan radio tahun 1920-an.

Persaingan serupa dan lebih berat lagi terjadi pada tahun 1960-an. Ketika itu televisi berkembang pesat. Sudah ada televisi berwarna dan jangkauannya pun telah mendunia berkat keterkaitan dengan satelit buatan pada tahun 1962. Koran kembali terpukul. Namun, sekali lagi feature tampil sebagai salah satu penolong dari keterpurukan.

Mengapa feature menjadi penyelamat?

Manusia itu tak pernah puas. Jika mendapat sekepal, ia ingin sepiring. Dapat sepiring ingin sebakul. Demikian juga dalam hal memperoleh informasi. Kita ingin mengetahui lebih jelas, lebih rinci, dan ingin mengetahui bagaimana kelanjutannya. Misalnya:

Ya, peristiwa tsunami. Anda tentu masih ingat, ketika itu kita tidak cukup mendengarkan radio, nonton televisi, dan membaca koran. Tidak cukup membaca berita. Feature pun kita baca karena kita ingin mengetahui: mengapa di Indonesia sering terjadi tsunami, tsunami itu apa, daerah mana saja yang rawan tsunami, apa yang harus kita lakukan jika terjadi tsunami, kapan dan di mana lagi diramalkan akan terjadi tsunami, bagaimana negara lain, Jepang misalnya, menanggulangi tsunami, dan seterusnya.

II. Perbandingan Berita dan Feature

Berikut adalah  persamaan dan perbedaan antara berita dan feature:

 

BERITA

 

FEATURE

 Tujuan

 

Persamaan:

(1) menyampaikan informasi, (2) memperluas wawasan dan pengetahuan, (3) menyalurkan aspirasi, termasuk menghibur,

(4) melakukan kontrol sosial.

 

Perbedaan:

Berita lebih menekankan pada penyampaian informasi. Feature: informasi plus lainnya.
 Isi

 

Persamaan:

Bahan tulisan berdasarkan fakta yang berasal dari: (1) ide atau pendapat, (2) peristiwa atau kejadian, (3) permasalahan

 

Perbedaan:

  • Isi yang diberitakan hal yang pokok dan penting saja
  • Sifat penulisan objektif
  • Isi lebih rinci, lebih menda-lam, lebih luas
  • Lebih menekankan aspek manusiawi.
  • Cara penulis kadang subjektif

 

 Struktur

Perbedaan:

Lazimnya piramid terbalik Bebas. Tidak terikat oleh bentuk piramid terbalik.
Bahasa

 

Persamaan:

(1) ringkas, (2) jelas, (3) sederhana

 

Perbedaan:

Lugas Bergaya

Penjelasan:

1. Tujuan menulis:

  1. Menyampaikan informasi,
  2. Memperluas wawasan dan pengetahuan,
  3. Menyalurkan aspirasi,
  4. Melakukan kontrol sosial

Informasi itu seibarat balon:
jika sudah pecah, tak berharga lagi

Berita lebih menekankan pada penyampaian informasi. Informasi itu pemberitahuan atau penerangan. Ini berarti bahwa yang kita tulis itu isinya harus merupakan hal yang baru diketahui oleh pembaca. Misalnya:

Pada jenis tulisan berita informasi itu seibarat balon. Apabila telah pecah, habislah sudah tiada harga. Tragedi tsunami di bumi Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004 merupakan berita besar pada saat itu. Kini sudah tidak menjadi berita lagi karena semua orang sudah mengetahuinya.

Lain lagi dengan feature. Feature itu awet. Berita koran pagi, esoknya –bahkan siang atau sore hari– sudah basi. Adapun feature tak terikat waktu. Peristiwa Ali Pasha, misalnya, tetap awet, walau umur cerita itu sudah hampir dua abad. Soalnya, melalui feature selain mendapat informasi boleh jadi juga kita menyerap ilmu, memperoleh hiburan, dan lain-lain.

  2. Isi Tulisan

Seibarat bahan makanan, beras misalnya, suatu bahan dapat diolah menjadi beberapa jenis masakan. Beras dapat dibuat menjadi nasi. Nasi dibuat lebih lanjut menjadi bubur, atau nasi goreng, nasi tim, nasi kebuli, tumpeng. Suatu bahan tulisan pun dapat dijadikan berita, feature, kolom, dll. Bahan berita, misalnya, dapat kita kembangkan menjadi feature.

Pada dasarnya isi tulisan terdiri atas:

  1. Ide atau pendapat, misalnya: kita mewawancarai pakar mengenai ide atau pendapatnya tentang kebakaran hutan yang mengakibatkan beberapa jenis tanaman obat di Kalimantan musnah. Ide penataan kota agar lalu-lintas dan bangunan tidak semerawut, dll.
  2. Peristiwa atau kejadian atau keadaan (realitas). Misalnya ada kejadian: (1) Pencuri ayam ditangkap oleh polisi. Eh, ternyata si pencuri itu kaya raya,  (2) Kisah keluarga korban tabrakan kereta api, sehingga delapan sekeluarga yang hendak mudik Lebaran menderita luka dan dua meninggal dunia, (3) Kebakaran memusnahkan 50 rumah, seorang anak dan pembantu rumah tangga tewas mengenaskan terkurung api, (4). Kisah di balik sejarah, seperti cerita Ali Pasha.
  3. Permasalahan. Misalnya masalah: (1) Kenaikan harga bahan bakar minyak karena kebutuhan terus meningkat, sedangkan cadangan kian menipis, (2) Kemiskinan yang makin meningkat, (3) Wabah flu burung menyebar ke seluruh penjuru, padahal belum ditemukan obat yang ampuh, (4) Korupsi sulit diberantas karena sudah membudaya, (5) Perselingkuhan di kalangan artis, (6) Dampak kawin muda,  dll.

Contoh berita:

Ratusan rumah hangus dilalap api

Enam belas orang menderita luka bakar dan ratusan rumah hangus dilalap api di Pademangan, Jakarta Utara. Menurut polisi, kebakaran Jumat kemarin  itu terjadi sejak pukul 21.30. Api berasal dari rumah Aliong (36 tahun) yang memperbaiki sepeda motor sambil merokok. Aliong dan istrinya menderita luka parah, sedangkan anak mereka Iwan (7) dan pembantu rumah tangganya, Amik (19) tewas mengenaskan.

Contoh feature:

Amik (19 tahun) tiba-tiba terbangun ketika panas terasa menyengat. Ia kaget melihat api yang menyambar-nyambar dengan buas. Segera saja ia merangkul Iwan (7), anak majikannya, dan membawa pergi. Jendela kaca dipecahkannya dengan kursi. Ia berhasil keluar dari kamar. Akan tetapi, balok kayu mulai berjatuhan. Amik menjerit-jerit meminta tolong.

Silakan simak persamaan dan perbedaannya.

Itu hanya contoh intro. Dari segi intro saja sudah tampak beda, apalagi isi tulisan. Isi tulisan pada feature lebih terinci, detil yang menarik diceritakan. Pada berita hanya dikatakan bahwa Iwan dan Amik tewas mengenaskan. Feature menceritakan bagaimana keduanya itu tewas.

Untuk bentuk berita, fakta itu harus ditulis secara objektif. Artinya, penulis tidak boleh memasukkan pendapat atau kepentingan pribadi atau kepentingan sesuatu pihak. Bila ada hal kontroversial harus ditulis secara berimbang. Bagaikan di sidang pengadilan, pihak-pihak yang berselisih harus diberi kesempatan yang sama.

Pada feature –sebagaimana kata Williamson– kadang subjektif, tetapi tidak memaksakan pendapat pribadi. Penulis hanya mengekspos (mengungkapkan, memaparkan, dan menjelaskan). Misalnya, penulis mengatakan bahwa daerah wisata laut Bunaken, Sulawesi Utara, kini keindahannya terganggu oleh –fakta– banyaknya sampah. Nah, dalam hal ini pembaca boleh sependapat dan boleh juga tidak sependapat dengan penulis.

Subjektivitas feature berbeda dengan opini (kolom, tajuk rencana, surat pembaca, dll). Pada opini penulis berargumen untuk menggiring pembaca agar sejalan dengan pendapatnya, sedangkan pada feature opini itu cenderung pada mengekspos. (Bersambung)

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo