Masjid Putih Telur

Oleh Uki Bayu Sedjati

Uki Bayu Sedjati

Ke Batam terasa tak lengkap jika belum  mengunjungi masjid kuno di Pulau Penyengat. Dari tepian Tanjung Pinang kita dapat melihat dari jauh sosok bangunan – berwarna kuning keemasan – itu berdiri megah.

Warna kuning tampak dominan. Menurut catatan sejarah pada tahun 1805 di wilayah itu ada kerajaan Riau-Lingga yang kala itu rajanya adalah Sultan Mahmud. Ada yang menyatakan bahwa masjid dengan keindahan arsitektur bergaya India – karena pekerja/tukangnya adalah orang-orang India. Keturunan mereka, Raja Ja’far yang memperlebar bangunan, dan kemudian penggantinya yakni Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII membangun masjid menjadi megah.

Seruan untuk membangun masjid secara bergotong royong  disampaikan oleh Raja Abdurahman kepada warga masyarakat setempat, pada 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai shalat Ied.

Simbol 17

Konon, dalam kerja gotong royong siang malam secara bergiliran itulah masyarakat yang membawa berbagai perbekalan –termasuk telur–  karena berlimpah tak habis dimakan. Maka  putih telur itu dijadikan campuran adukan pasir dan kapur. Menurut mereka, dengan campuran putih telur, bangunan akan lebih kokoh dan tahan lama. terutama untuk memperkuat beton kubah, menara dan bagian tertentu lainnya Karena itulah masyarakat menyebut masjid di pulau Penyengat ini dengan masjid putih telur.

Inilah Masjid Putih Telur yang Megah dan Indah

Masjid yang tercatat dalam sejarah sebagai merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau – Lingga seluruh bangunannya terbuat dari beton, berukuran 18 x 19,80 meter. Di bagian dalam ruang utama terdapat empat buah tiang utama. Pada keempat sudut bangunan, berdiri empat buah menara. Atapnya memiliki 13 buah kubah yang unik, sehingga jumlahnya 17 sebagai simbol dari rakaat shalat wajib bagi ummat muslim.

Selain bangunan yang indah, masjid Penyengat menyimpan pula kitab-kitab kuno  yang dulunya menjadi koleksi perpustakaan raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X. Kini hanya tersisa 1 lemari saja dari awalnya ratusan buku.

Kita dapat pula melihat mushaf Alquran tulisan tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh putera Riau yang dikirim belajar ke Turki pada tahun 1867. Namanya, Abdurrahman Istambul.

Ada pula kitab al Quran tulisan tangan lain yang ada di masjid. Namun, tak diperlihatkan kepada umum karena khawatir sudah terlalu rentan. Ditulis pada tahun 1752. Uniknya, di bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran. Bahkan, terdapat berbagai terjemahan dalam bahasa Melayu, kata per kata di atas tulisan ayat-ayat tersebut. Mushaf ini tersimpan bersama puluhan kitab lainnya.

Wisata Religi

Kehadiran wisatawan menjadikan warga masyarakat yang tinggal di sekitar mesjid itu, tidak menyia-nyiakan peluang dengan berjualan. Berbagai jenis dagangan dipasarkan. Mulai dari beberapa jenis makanan khas, hingga souvenir hasil karya masyarakat setempat.

Kentalnya nilai sejarah di pulau Penyengat membuat banyak pengunjung – yang datang dari berbagai wilayah, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, bagi yang muslim selalu menyempatkan diri untuk beribadah di Mesjid Putih Telur ini. Apalagi bila hari Jumat, dipenuhi para jamaah yang hendak melakukan Sholat Jumat. Bukan hanya warga pulau ini yang hadir, melainkan juga warga dari Tanjungpinang.

Menurut seorang warga yang menjual hiasan dinding hasil karyanya sendiri, bahwa kehadiran pengunjung ke tempat itu, sangat membantu perekonomian masyarakat, “Memang disini banyak sejarah yang bisa digali. Karena, di pulau Penyengat ini, juga terdapat makam Raja-Raja. Yang selalu diziarahi pengunjung adalah makam Engku Putri. Jadi, kami sebagai warga setempat memang memanfaatkan peluang ini, “terang Renny, 42 tahun, seraya melayani pengunjung yang membeli dagangannya.

Ikon Wisata Religi yang Tersohor dan Mengundang Turis

Seorang pengunjung, Saimah, 20 tahun, asal kota Tanjungpinang. menyatakan bahwa pulau Penyengat itu, memang penuh dengan sejarah Melayu Riau, “Saya sudah beberapa kali ke sini. Selain masyarakatnya ramah, tempat ini juga memang indah. Apalagi tak cuma melihat tapi juga merasakan kemegahan Mesjid yang sangat tersohor ini “jelasnya bersemangat.

Pendapat senada,” Guru saya bilang ini tempat ideal untuk wisata rohani. Menurut saya yang penting sarana yang pendukung, seperti toilet umum dan alat transportasi dilengkapi,” ungkap Riana, siswa kelas 2 SMA.

Perjalanan dan kesan mendalam di masjid Putih Telur mengasyikkan. Dari Tanjungpinang hanya sekitar lima belas menit, kita menyaksikan suatu pemandangan yang memadukan antara keindahan alam – birunya laut –  dan ketinggian religiusitas lingkungan sekitar. 

(dari berbagai sumber)