Beri Bantuan Masyarakat, Oh, Bukan Beban Menyengsarakan
(BBM, Oh, BBM)

Oleh Azhmy F Mahyddin

Azhmy F Mahyddin

Petang ini Tresnawati sumringah. Kalkulator dan kertas-kertas bertuliskan angka, berserakan di meja kerjanya. Sebagai seorang Master bidang Ekonomi, ia telah menghitung dengan cukup rinci.  Keinginan untuk  membantu rakyat kecil akan dapat terlaksana, tanpa mengganggu belanja rumah tangganya. Tak sabar rasanya, ia ingin segera menyampaikan ide dan hasil perhitungan ini kepada suaminya.

Dalam kebahagiaannya, Tres –begitu panggilan akrabnya– tak lupa sujud syukur. “Ya Allah, terima kasih karuniaMu. Rezeki yang Engkau berkahi ini, akan segera kubagi kepada hamba-hambaMu yang lain. Berikan hamba kekuatan pengaruh, agar ide ini dapat disetujui suami dan teman-teman. Supaya kami dapat membantu lebih banyak saudara sesama Muslim yang dhuafa.. Aamiin ya Rabb..”

Semenjak isu kenaikan harga BBM bergulir dan menjadi pembicaraan masyarakat, Tres memutar otaknya mencari solusi. Meski sanubarinya trenyuh melihat penderitaan rakyat, tapi ia tahu masalah tak akan terselesaikan bila sekadar bersedih. Tres juga tahu, pemerintah tak lagi peduli pada rakyat kecil. Jadi buat apa protes hingga berbusa kata-kata, jika mereka tetap keras kepala dan hanya mementingkan citra.

Sebenarnya masih banyak alternatif solusi, yang dapat dilakukan pemerintah. Misalnya saja, pelarangan pembelian premium bersubsidi untuk mobil mewah yang berharga lebih dari 200 juta rupiah. Atau penurunan besarnya gaji pejabat negara –termasuk anggota Lembaga Negara, seperti DPR/MPR– dan berbagai fasilitas maupun tunjangan, yang mendorong mereka bersikap hedonis. Atau pengembalian seluruh aset negara yang dikorup serta penyitaan harta kekayaan koruptor hingga sehabis-habisnya. Atau.. Ah, bila ketiga alternatif ini saja dijalankan dengan penuh kesungguhan secara transparan, sudah cukup. Bahkan masih ada kemungkinan, sisa dananya digunakan untuk membayar hutang negara yang terus bertambah.

Yang diketahui Tres melalui media, hidup sebagian besar rakyat sekarang telah cukup menderita. Penghasilan rakyat kecil yang tidak menentu, membuat mereka tak mampu memenuhi kebutuhan pokok, bahkan yang paling mendasar sekali pun. Apalagi bila BBM jadi  dinaikkan, pasti menambah beban hidup mereka yang seakan tak berkesudahan. Karena kenaikan harga BBM akan memicu harga-harga kebutuhan pokok, menjadikan derita yang mendera rakyat semakin bertubi-tubi.

Tres sadar sesadar-sadarnya, percuma mengharapkan solusi yang memerhatikan kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Maka yang kini diharapkan adalah peranserta sebagian masyarakat yang berkecukupan, untuk membantu mereka yang hidup berkekurangan. Banyak cara yang bisa dilakukan, meski yang paling baik adalah memberi kail –bukan sekadar bantuan dalam bentuk ikan yang melenakan..

*******

Awalnya ketika Guru Honorer SMU ini kehabisan bensin motornya sepulang mengajar, di tengah perjalanan yang jauh dari SPBU. Untunglah di lokasi tersebut ada kios bensin eceran, sehingga tidak terlalu lama Tres nenuntun motornya. Sambil meminta diisikan 2 liter bensin, Tres mengobrol bagai melakukan reportase mendalam. Naluri kewartawanannya muncul, segala seluk beluk penjualan bensin ditanyakannya. Mulai dari besarnya modal, jumlah bensin yang terjual dalam sehari, keuntungan yang diperoleh hingga kehidupan sang penjual bensin.

Sesampainya di rumah –tanpa memerdulikan kewajiban makan siang, yang juga sudah lewat waktu– ia langsung mengambil kalkulator dan kertas untuk menuliskan hasil ‘wawancara’ dengan penjual bensin. Oh, ternyata ide brilian telah hinggap di kepala Tresnawati selama perjalanan pulang. Ia harus segera menuliskan, sebab sore nanti akan disampaikannya pada arisan Paguyuban Istri Pengusaha Muslim Mandiri, organisasi sesama pengusaha yang didirikan atas usulan suaminya.

Sebagai Master bidang ekonomi, tentu ia kan menuliskan idenya secermat mungkin. Menurut sang penjual bensin eceran, dalam sehari laku terjual 50 liter bensin. Bila diberikan subsidi sebesar kenaikan harga yang ditetapkan pemerintah, ia membutuhkan (50 X Rp. 1500) Rp. 75.000,- Berarti dalam sebulan harus disediakan dana (30 X Rp.75.000) Rp. 2.250.000,- Tres yakin, bila pun selaku Bendahara Paguyuban mengusulkan diberikan bonus Rp. 250.000 tiap bulan kepada sang penjual, kemungkinan besar disetujui. Tentunya dengan catatan, harga jual bensin konsisten tidak dinaikkan, tetap menggunakan harga lama sebesar Rp. 4.500 per liter..

*******

Sambil makan siang sendirian, Tresnawati merenung. Kalau saja Paguyuban mampu membuka 3 kios bensin eceran, tentu akan menolong lebih banyak masyarakat yang tidak mampu. Paling tidak, beban hidup mereka tidak bertambah. Sekarang saja sebelum kenaikan harga BBM diberlakukan, kebutuhan pokok sudah demikian tak terjangkau. Apalagi bila BBM jadi naik, tentu harga-harga semakin meroket tinggi. Dan pastinya, rakyat kecil menjadi kian menderita. Beri Bantuan Masyarakat, oh. Bukan Beban Menyengsarakan. BBM, oh, BBM..

Terlebih bila solusi ini menjadi program nasional yang dilakukan oleh semua organisasi sejenis, LSM maupun perorangan yang mempunyai rezeki berlebih. Tentu proses pemiskinan rakyat semiskin-miskinnya melalui penaikan BBM, menjadi pepesan kosong. Pencitraan yang diharapkan melalui pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) untuk menggiring suara dalam pemilu kelak, menjadi sia-sia tak membuahkan simpati. Akhirnya dengan terpaksa para Pemangku Kebijakan mengubah sikapnya, memberikan kesempatan bertumbuhnya kesejahteraan rakyat dengan sebenar-benarnya dalam dunia nyata –bukan sekadar angka-angka di atas kertas hasil rekayasa.

Sebagai penutup usulan idenya, Tres mengutip Surah Ibrahim (14) ayat 31, yang artinya: “Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang telah beriman: ‘Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (Kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.”