Maskun Iskandar

Feature Itu
Tulisan yang Gurih dan Renyah (2)

(Seri 4)

Oleh Maskun Iskandar

======================

Pokok Bahasan Lanjutan:

3. Bahan Penulisan Feature

======================

3. Struktur

Berita pada contoh tadi menggunakan struktur piramid terbalik. Piramid itu bentuknya seperti segi tiga sama kaki. Bagian atas kecil meruncing, makin ke bawah kian melebar. Adapun struktur piramid terbalik bentuknya berlawanan: atas lebar, kian ke bawah semakin mengecil. Bagian yang paling lebar menandakan hal yang paling pokok, yang paling penting, dan makin ke bawah kian kurang penting.

Yang paling penting dalam peristiwa kebakaran tersebut ialah hal yang dapat menjawab 5 w 1 h:

(1). Apa (what) yang terjadi:  Enam belas orang menderita luka bakar dan ratusan rumah hangus dilalap api.

(2) Di mana (where): di Pademangan, Jakarta Utara.

(3) Kapan (when): Jumat kemarin sejak pukul 21.30.

(4) Mengapa (why): Kebakaran terjadi karena Aliong memperbaiki sepeda motor sambil merokok.

(5) Siapa (who) yang menjadi korban: 16 orang, termasuk Aliong dan istrinya, anak mereka Iwan dan pembantu rumah tangganya, Amik.

(6) Bagaimana  (how): Aliong dan istrinya menderita luka parah. Iwan dan Amik  tewas mengenaskan.

Jika peristiwa Raja Albania, Ali Pasha, ditulis dalam bentuk berita, maka penyusunannya akan mendahulukan hal pokok.  Misalnya:

Raja Albania, Ali Pasha, kemarin wafat setelah ia menyampaikan dua wasiat. Ia memerintahkan ajudannya untuk  menghancurkan berlian Pigott dan membunuh selirnya. Ajudan tidak melaksanakan perintah yang kedua. Ia malah kabur bersama selir tersebut.

Ini yang disebut dengan intro ringkasan. Hal-hal yang pokok diringkas pada alinea pembuka.

Nah, bukankah berbeda dengan struktur penulisan feature?

Menjelang ajal seorang raja memberikan dua perintah kepada ajudannya. Perintah pertama, “Hancurkan berlian kerajaan!” Titah ini kedengarannya aneh. Berlian tersebut amatlah indah dan mahal. Alangkah sayang bila harus dimusnahkan. Namun, sang ajudan patuh seperti robot. Ia melaksanakan instruksi tersebut itu tanpa tetapi, tanpa barangkali, dan tanpa kecuali.

Perintah kedua lebih aneh lagi, “Bunuh selir baru!”

Intro pada feature ini bukan merupakan rangkuman hal-hal yang paling penting. Materi intro tersebut hanya mengambil salah satu bagian cerita yang menarik. Dan, bagian itu tidak tuntas habis diceritakan, sehingga pembaca bertanya-tanya: mengapa sang raja memberikan perintah yang aneh. Ini yang disebut dengan delayed lead. Ada sesuatu yang ditunda, yang tidak diselesaikan dalam pembuka tulisan. Maksudnya agar pembaca penasaran. Kepenasaran pembaca terus digelitik alinea demi alinea. Tulisan itu ditutup dengan hal yang membuat kita tersenyum: ajudan kabur bersama selir.

Jadi, feature tidak terikat oleh struktur piramid terbalik. Tidak harus mendahulukan yang paling penting (hal yang menjawab 5 w 1 h).

Feature kebakaran di Pademangan disusun dengan mengambil sisi lain (angle) dari peristiwa tersebut. Si penulis mengambil sudut pandang dari cerita Amik, pembantu yang baru tiga bulan merantau ke Jakarta. Ia diajak oleh suatu  perusahaan biro jasa. Baru satu kali menerima cicilan gaji, Rp100.000. Lalu dikirimkan ke kampung melalui biro jasa itu tadi karena ibunya dikabarkan sakit.

Penulis memulai tulisan dengan tuturan (narasi) yang menceritakan apa yang dilakukan oleh Amik dan dipadu dengan penggambaran (deskripsi) keadaan atau suasana di tempat itu pada waktu itu. Dengan demikian, feature ini juga tidak menggunakan struktur piramid terbalik.

4. Bahasa

Silakan baca lagi kedua contoh tulisan tentang kebakaran  itu. Perhatikan bahasa yang digunakan. Apakah Anda merasakan perbedaannya?

Keduanya menggunakan bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik adalah variasi bahasa yang digunakan di media massa. Bahasanya harus ringkas, jelas, dan sederhana. Ringkas karena dibatasi oleh ruang. Menulis di koran tidak seleluasa di buku yang berpuluh-puluh halaman tebalnya.

Bahasa jurnalistik bukanlah puisi yang susah dimamah dan untuk mengartikannya harus direnung-renungkan dulu. Bahasa jurnalistik harus mudah ditangkap. Seketika kita membaca, saat itu pula diketahui maksudnya, bahkan—seperti kata definisi—harus segera terbayang bagai nonton sinetron. Oleh karena itu, bahasa jurnalistik harus jelas dan sederhana.

Bahasa berita dan bahasa feature itu berbeda karena tujuannya berlainan. Berita bertujuan menyampaikan informasi. Katakanlah, ada kebakaran. Lalu, Anda menceritakannya kepada teman. Yang Anda ceritakan tentu hal yang pokok-pokok saja. Anda akan dimarahi orang bila menceri-takannya begini:

“Suatu sore yang cerah. Ketika itu saya santai berjalan-jalan di alun-alun.  Lalu lintas sangatlah ramai. Orang-orang berlalu lalang. Tiba-tiba saya melihat asap mengepul. Tinggi membubung ke angkasa….”

Stop! Jangan diteruskan! Jangan membuat pendengar jengkel. Jangan sampai Anda dibentak orang. Please, jangan, ya!

Itu semua “buih”, bukan inti isi. Bahasanya pun melingkar-lingkar. Bahasa berita adalah bahasa yang lugas: polos, tegas, tanpa embel-embel.     Bahasa feature lain lagi. Ini bacaan santai. Bahasanya pun santai. Bahasa yang gurih, renyah, enak dibaca, dan mempunyai daya getar.

3. Bahan Penulisan Feature

Seperti dikemukakan pada halaman 6 kita bisa mengail bahan tulisan melalui (1) ide atau pendapat, (2) peristiwa atau kejadian, atau keadaan, (3) permasalahan.

Hanya tiga kelompok. Akan tetapi, bila diurai dan terus diurai-urai, maka tak terhingga panjangnya. Soalnya, feature itu erat menyangkut manusia. Adapun masalah manusia itu tidak ada batas habisnya sepanjang manusia itu ada. Ada-ada saja persoalannya. Koran tidak kekurangan berita, meski terbit tiap hari dan halamannya semakin banyak.  Majalah tidak pernah kekurangan bahan tulisan. Demikian juga media massa lainnya.

Peristiwa  yang hanya sekali terjadi dan itu pun cuma sekejap, seperti gempa bumi atau tsunami, ceritanya tidak habis sampai berbulan-bulan.

Selain itu bahan penulisan feature juga ada di mana-mana, bahkan di sekeliling kita. Misalnya, setiap hari Anda mengamati ikan hias di ruang tamu. Anda tertarik membeli ikan hias karena bentuknya unik dan warna-warninya menarik. Nah, mengapa tidak Anda tulis dalam bentuk feature.

Caranya? Bukalah buku koleksi Anda atau cari di perpustakaan, baca ensiklopedi, telusuri di internet. Lebih bagus lagi bila mewawancarai narasumber yang kompeten. Anda akan memperoleh banyak bahan dan mendapat cerita yang menarik mengenai ikan hias. Umpamanya:

Ikan gurami yang pencemburu

Ada ikan yang selalu menjunjung jutaan telurnya ke mana pun pergi. Ada yang bertelur sambil meloncat-loncat. Ada ikan jantan yang sangat cinta anak.  Mengulum ribuan telur sampai telur menetas. Selama itu ia tidak pernah sempat makan. Si bapak pula yang mengasuh anak. Jika ada bahaya, segera anak-anaknya itu diisap diamankan di mulutnya. Akan tetapi,  setelah si anak mulai besar,  si ayah memburunya dengan ganas karena ia pencemburu berat.

Itu baru masalah telur, belum lagi hal lainnya, entah itu soal mata (misalnya, ada ikan yang mempunyai mata di sekujur tubuhnya yang bulat), tentang bentuk tubuh ikan yang ganjil, tabiatnya yang aneh-aneh, dll.

Singkatnya, bahan tulisan itu dapat diperoleh  melalui empat cara:

  1. Bacaan
  2. Wawancara
  3. Liputan
  4. Pengamatan

1. Bacaan. Ya, itu tadi: buku, ensiklopedi, koran, kliping, majalah, internet. Yang unik-unik, seperti kisah Ali Pasha dapat kita peroleh di sini.

2. Wawancara. Misalnya, kita akan membuat tulisan mengenai mutiara. Untuk itu kita bisa mewawancarai pakar di bidang itu, para pedagang, pembudi daya, konsumen, dll.

3. Liputan, yakni reportase di lapangan. Bahan tulisan biasa diperoleh  wartawan dengan meliput suatu acara, peristiwa, atau keadaan. Misalnya, liputan dari sidang pengadilan, perlombaan, bencara alam.

4. Pengamatan. Dalam hal ini termasuk riset, angket, jajak pendapat, dan sebagainya.

Jadi, ada banyak cara untuk mengumpulkan bahan tulisan. Dalam penulisan feature kita memerlukan beberapa cara sekaligus karena isi tulisan lebih mendalam dan terperinci dibandingkan dengan berita.

Sebagaimana dikatakan oleh Daniel Williamson, salah satu unsur feature adalah kreatif (definisi feature, halaman 3). Kreatif itu memiliki kemampuan daya cipta. Kreativitas ini sangat penting untuk mencari bahan tulisan feature. Umpamanya:

Flu burung baru saja menyergap Medan. Penduduk kota itu panik karena beberapa orang tewas oleh penyakit tersebut. Untuk mencegah agar wabah tidak meluas dan untuk menenangkan penduduk, pihak Rumah Sakit Umum Pusat Adam Malik, Medan, mengadakan konferensi pers.

Seorang wartawan di Medan bercerita bahwa ia sudah kenal dengan semua orang yang hadir dalam pertemuan itu, baik itu para pejabat maupun para wartawan. Di salah satu deretan kursi ia melihat seseorang yang belum dikenalnya. Bila menilik pakaian yang dikenakan orang itu, tampak seperti orang biasa-biasa saja, bukan pejabat dan bukan pula orang penting.  Si wartawan berinisiatif mengajak ngobrol orang tersebut saat rehat kopi.

Setelah ngobrol ke sana ke mari, eh, ternyata orang itu mempunyai cerita menarik. Ia berasal dari pinggiran Kota Medan. Seluruh keluarganya, lima orang, terkena flu burung dan meninggal semua setelah dirawat di rumah sakit. Hanya ia yang selamat.

Wartawan kita itu memperoleh bahan cerita untuk dibuat feature. Ia melakukan wawancara eksklusif  dengan orang itu dan dengan narasumber lain, plus membaca buku di perpustakaan. Ia menghasilkan tulisan yang cukup menarik. Wartawan lainnya hanya memperoleh bahan tulisan sebatas yang diucapkan pejabat dalam konferensi pers. Ya, beritanya kering.

Selain kreativitas seperti itu, ada hal penting lagi dalam menulis feature, yaitu kejelian memilih angle tulisan sebagaimana contoh feature tentang pembantu rumah tangga yang tewas terbakar.

Contoh lain:

Dulu kita sering membaca berita bahwa penyanyi Michael Jackson bolak-balik diajukan ke pengadilan karena dituduh melecehkan anak laki-laki.

Berita tersebut tidak aneh lagi karena sudah sering kita baca. Lain lagi ketika saya membaca feature di  suatu majalah asing yang jeli memilih angle, yakni kisah masa kecil

Michael Jackson

Michael Jackson.

Diceritakan bahwa ayahnya, Joe Jackson, sudah bosan hidup miskin. Dia itu buruh kasar yang sering dihina orang karena berkulit hitam dan tinggal di kampung kumuh. Joe tidak menghendaki  sang anak  menderita seperti dia. Angan-angannya ingin agar kelima anaknya menjadi penyanyi terkenal yang gampang meraup dolar.

Oleh karena itu, kelima anaknya di-genjot habis-habisan siang malam untuk berlatih menyanyi. Bila lalai, tak ampun lagi bocah-bocah  itu   disiksa. Disabeti dengan cemeti,  sehingga tubuh mereka penuh berbilur-bilur merah berdarah-darah.

Sang ibu sering tidak tega melihat anak kecil menggeliat-geliat kesakitan. “Joe, please hentikan! Anak itu tulangnya masih rapuh ….”

Akan tetapi, Joe malah semakin kesetanan.

Jacko (nama kecil Micahel Jackson) dan saudara-saudaranya bukan hanya menderita fisik, melainkan mentalnya juga. Mereka kehilangan masa  kecil karena   dipaksa bekerja oleh ayahnya, sehingga tidak sempat bermain-main dan tidak punya teman sepermainan.

Satu-satunya kawan bermain Jacko adalah seekor tikus. Mungkin bagi orang lain, binatang itu menjijikkan. Jika saja masuk ke rumah, tentu akan diburu dan dibunuh. Namun, Ben (nama tikus tersebut) bagi Jacko bukan sekadar teman, melainkan juga tempat curhat. Bila Jacko digebuki oleh ayahnya, kepada tikus itulah ia mengadukan nasib.

Kita tentu tidak mengalami hal itu, tetapi boleh jadi dapat menyelami perasaan Jacko yang kehilangan sahabatnya itu. Ya, Ben suatu hari  dijumpai mati mengenaskan. Terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh Joe.  Tubuh Ben gepeng berlumuran darah karena tergencet gerigi besi yang tajam.

Jacko kecil menangis meraung-raung. Kesedihan hatinya kemudian dicurahkan dalam sebuah lagu yang mengharukan: “Ben”.

Setiap mendengar lagu itu  saya selalu teringat pada kisah sedih Michael Jackson. (Bersambung)

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo