Kunci Penting Keberhasilan Politeknik

(Tanggapan artikel “Antara Tahu dan Mengerti, Antara Ada dan Tiada”)

oleh Dipl.-Ing. Zainal Nur Arifin, MT

Dipl.-Ing. Zainal Nur Arifin, MT

Menyimak tulisan Bapak Hadiwaratama di atas, memang kita merasa ‘ngenes‘ dan ‘nelongso‘ melihat kondisi Politeknik saat ini. Kini saatnya kita yang merasa ‘peduli,’ ‘memiliki’ dan ‘tahu’ tentang Politeknik. Harus segera bersatu menyamakan persepsi dan bangkit untuk mengembalikan Politeknik pada khittah-nya (tujuan semula), seperti yang disarankan Bapak Hadiwaratama, agar sejarah Politeknik tidak berakhir.

Saya yakin, Politeknik di Indonesia tidak akan berakhir. Karena saya melihat ada beberapa trend yang perlu dicermati, antara lain:

1. Bapak Hadiwaratama mengatakan, Pak Kokok Harsono –satu-satunya alumni Politeknik yang telah jadi mantan Direktur Polman– sekarang sedang ditugaskan Dikti memimpin pembangunan 14 Politeknik baru bersama Pemda-Pemda setempat.

Hal ini berarti, Politeknik di Indonesia tidak akan berhenti. Namun sebaliknya, akan makin bertambah banyak. Saya yakin, Pak Kokok dan timnya (teman-teman di Polman) mampu membangun 14 Politeknik tersebut, seutuhnya sesuai ‘jiwa’ dan ‘pola fikir’ Politeknik. Karena –kebetulan saya sering ngobrol dengan Pak Kokok dan teman-teman dari Polman dan 6 Politeknik lainnya (Poltek USU, UNSRI, UI, ITB, UNDIP, dan UNIBRAW), saat kami sama-sama kuliah di Technikum, Swiss (sekarang namanya Fachhochschule (FH)/University of Applied Science) sebagai penerima beasiswa dari Politeknik/Swisscontact (1984-1990)– tentang bagaimana mengembangkan Politeknik di Indonesia.

2. Saat di Swiss, kami selalu diingatkan oleh Swisscontact bahwa kami harus pulang dan mengembangkan Politeknik di Indonesia. Karena Politeknik di Indonesia didesain dengan mengadopsi sistim pendidikan Technikum di Swiss (identik dengan Fachhochschule (FH) di Jerman), yang merupakan jalur pendidikan ‘skill oriented‘ bukannya ‘science oriented‘ seperti Universitaet atau Technische Hochschule (TH).

Hal tersebut pernah saya ceritakan kepada Bapak Hadiwaratama saat saya menjemput beliau di Legenda Wisata, ketika beliau kami undang jadi pembicara pada acara Seminar Dasawarsa PNJ di kampus PNJ Depok. Pada saat itu beliau hanya bilang, keberadaan Politeknik saat ini seperti jari keenam yang tumbuh di tangan kita. Dipotong sayang, tapi sudah terlanjur tumbuh, jadi dibiarkan saja oleh Pemerintah..

Namun kenyataannya sekarang, DIKTI sedang membangun 14 Politeknik lagi. Apakah kita akan membiarkan jari-jari tersebut tumbuh berkembang, tanpa ada manfaatnya? Sepertinya kita akan sibuk membantu Pak Kokok dan timnya membangun Politeknik di seluruh Indonesia –karena saya yakin mereka punya keterbatasan– apabila pembangunan Politeknik di seluruh Indonesia semakin bertambah dan saya tahu kita punya potensi untuk melakukannya!. Kita memiliki personil-personil yang sudah memiliki ‘jiwa’ dan ‘pola fikir’ Politeknik, namun sepertinya sudah lama tidak diberdayakan dan hampir pupus, sehingga sekarang menjadi ragu. Ayo bangkit dan jangan ragu kawan!

3. Politeknik telah dikenal oleh banyak industri dan sudah memiliki banyak kerjasama industri. Namun, belum dimanfaatkan secara maksimal. Masih sebatas untuk memperoleh revenue saja, khususnya penghasilan tambahan bagi dosen. Belum dimanfaatkan untuk kegiatan di bidang akademik dan lainnya, seperti menyediakan lapangan pekerjaan bagi lulusan secara berkesinambungan, menjadikan industri sebagai donatur penyediaan alat-alat lab dan bengkel serta sebagai sponsor pendanaan tugas akhir (TA), agar TA mahasiswa kita lebih berbobot dan bisa dikomersialkan, menyediakan tempat PKL mahasiswa di industri, menjadikan industri sebagi tempat untuk meningkatkan skill dosen dan staf administrasi, dll.

Sebagai penutup, kunci penting keberhasilan Politeknik adalah (1) kerjasama industri yang kuat dan (2) menjadikan lab/bengkel sebagai ‘profit centre‘ (bukannya ‘budget centre‘ seperti yg selama ini dilakukan) dan ‘skill building‘ bagi mahasiswa. Caranya, materi praktek di laboratorium dan bengkel disusun untuk menghasilkan produk yang dipesan oleh industri atau yang bisa dijual di industri.

Memang, untuk melakukan semua itu dibutuhkan SDM yang berkualitas, manajemen yang baik, dan teknologi/peralatan yang handal. Kita perlu banyak bebenah. Namun saya yakin, dengan memiliki ‘jiwa’ dan ‘pola fikir Politeknik, keinginan untuk bekerja keras dan cerdas, saling gotong-royong dan menghargai (tanpa saling menghujat dan berkelompok), Politeknik bisa lebih maju dari sekarang dan lebih bermanfaat bagi kita semua, bangsa dan negara Indonesia. Semoga. Aamiin YRA

Dipl.-Ing. Zainal Nur Arifin, MT adalah Staf Pengajar Politeknik Negeri Jakarta