Antara Tahu dan Mengerti, Antara Ada dan Tiada

oleh Ir. Hadiwaratama M.Sc.E

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hadiwaratama (foto: kidemang.net)

Kalau Pejabat hanya tahu tapi tidak mengerti Politeknik bisa saya maklumi, karena mereka datang dan pergi. Tetapi kalau insan Politeknik yang tidak mengerti, maka berakhirlah Sejarah Politeknik! Mudah-mudahan bukan begitu! Tetapi saya tegaskan sekali lagi, suka apa tidak suka, bahwa peraturan yang mengharuskan Instruktur/Dosen Politeknik harus setidaknya bergelar S2, beserta pengaruh-pengaruh turunannya, itulah yang telah mulai menghancurkan budaya Politeknik!

(Baca juga: “Keinginan Bekerja Keras dan Cerdas”)

Ada yang mengatakan program praktek bengkel/laboratorium hanya tinggal 1 hari saja, dari yang seharusnya minimal 3 hari dalam sepekan. Kalau sepintas saya perhatikan, memang, tanpa kecuali Budaya Politeknik sudah mulai tergerus. Itu tanda-tanda bahwa cepat atau lambat ‘Sejarah Politeknik’ akan berakhir, kecuali insan Politeknik sendiri bertekad untuk menyelamatkannya. Kalau itu tendensinya, seperti yang saya nyatakan dipertemuan 2 bulan sebelumnya, langkah paling tepat adalah menyerahkan seluruh asset Politeknik kepada Fakultas Teknik dari Universitas/Institut yang dulu jadi induknya. Dengan demikian mereka dapat menyiapkan calon calon Sarjana yang intellectually sound and skillful, karena sampai saat ini sarana teknologi mereka sangat minim! Lantas keperluan Teknisi Indonesia bagaimana? Import saja dari India, Pakistan, China, Taiwan, Korea, Malaysia, Vietnam ataupun negara-negara lain yang bagus pendidikan teknisinya.

Indikator-indikator Penting

Ada beberapa indikasi yang pernah saya cermati.

1. Kunjungan Direktur Jendral Pelatihan Kementerian Tenaga Kerja Filipina ke Politeknik Mekanik Swiss – Institut Teknologi Bandung (PMS-ITB), yangmelahirkan kontrak pelatihan instruktur-instruktur pelatihan Kementerian Tenaga Kerja Filipina di PMS-ITB (sekarang Politeknik Manufaktur/POLMAN). Beberapa saat kemudian dia menulis di surat kabar Hongkong, yang menyatakan pembangunan industri Indonesia terlihat jelas dimulai dari pembangunan Politekniknya. Dia menyayangkan pemerintah Filipina tidak secerdik Indonesia, tidak memiliki rencana/roadmap pembangunan industri nasionalnya. Memang, sistem pendidikan Politeknik akhirnya diikuti oleh banyak negara yang sedang membangun industrinya, karena mereka sadar dan mengerti penting dan strategisnya pendidikan tenaga mahir/teknisi ini. Sayangnya, kesadaran itu di Indonesia masih sebatas Naskah Akademik dan Peraturan yang justru kontra produktif.

Perawatan turbin pesawat Garuda (Foto:okezone.com)

2. Kunjungan Dirut Garuda, Marsekal Wiweko saat itu, yang didampingi Prof. Diran ke PMS-ITB. Sesudah keliling melihat proses dan peralatan pembelajaran beliau menyatakan, hasil pendidikan teknisi semacam inilah yang Garuda butuhkan. Pak Wiweko sangat mengapresiasi pendidikan semacam ini. Garuda ingin memborong seluruh tamatan PMS untuk beberapa tahun ke depan. Tentu saja sulit untuk memenuhinya, karena mereka mahasiswa bebas, tidak terikat Ikatan Dinas atau wajib kerja.

3. Kunjungan Vice President INCO Canada, kami kebetulan bersama Boiler Maker dari Purdue University AS. Dia berkunjung ingin melihat kontrak PT INCO Indonesia dengan PMS-ITB untuk membangun Akademi Teknik di INCO memang tepat adanya. Dia mengatakan pendidikan semacam ini memang tepat untuk industri, karena dikaitkan dengan kegiatan industri dan bersifat production based. Indonesia, sungguh, memerlukan pendidikan semacam ini, yang di Canada pun tidak ada. Kirimkan instruktur-instruktur terbaikmu ke INCO katanya. Saya jawab, justru kirimkan calon-calon instruktur terbaikmu ke PMS, akan kami latih sebaik baiknya, dan kami akan supervisi ketika mereka mulai mengajar di INCO. Pesannya ketika kami berpisah, “Make INCO Academy as good as your school. Saya jawab: Sure, understood. Have a nice trip back to Canada.”

4. Pertemuan dengan Pak Habibie. Sebenarnya saya ingin menghadap Pak Habibie, saat itu Menristek, hanya ingin minta pekerjaan untuk PMS dalam tool manufacturing yang diperlukan oleh Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN). Saya diantar oleh (alm) Ir Harsono D Pusponegoro dan Ir Paramayuda. Mereka adalah among key staffs Pak Habibie, yang mengatur kesempatan itu.

Meja yang berbentuk dampar besar itu amat mengesankan, penuh dengan beragam model pesawat di dunia. Teh yang disajikannya pun hanya dapat tempat di gawir meja. Saya belum bicara apa-apa, malah sudah diawali dengan sambutan beliau sambil melotot, “Saya sempatkan dalam kesibukan saya untuk menerima Anda, karena Politeknik yang amat penting keberadaannya. Kalau tidak penting, untuk apa saya terima Anda.”

Padahal, Pak Habibie belum pernah berkunjung ke PMS atau Politeknik lainnya. Yang pasti, 100 orang lebih alumni Politeknik yang bekerja sebagai backbone di shop floor IPTN. Barangkali dari situ beliau tahu. Beliau menyatakan, ingin memborong seluruh tamatan Poli untuk IPTN dan industri-industri strategisnya. Saya katakan Indonesia sudah banyak membangun Politeknik, tepatnya yang mana Bapak kehendaki. Rupanya terutama yang manufacturing, di samping yang lainnya.

Panjang lebar cerita tentang industri, khususnya pembuatan pesawat terbang, kapal, dan lain-lain. Satu jam lebih kami bertemu, hanya berempat saja. Yang selalu saya ingat, “Banyak orang yang tahu Politeknik, tetapi sedikit saja yang mengerti. Kalau ada yang mempertanyakan atau mempersoalkan Politeknik, laporkan saya, akan saya buat mereka mengerti”.

Kunjungan Habibie ke Garuda didampingi Ibu dan putra sulungnya (foto: ocidbrass.com)

Rupanya Pak Habibie benar adanya, sampai kini justru kekurangmengertian itu yang menjadi hambatan Politeknik. Politeknik hanya dimengerti oleh mereka yang betul-betul menggumuli industri!

Tentang permohonan pekerjaan? Rupanya kami saling punya hambatan, Pak Habibie tidak dapat memberikan pekerjaan dari IPTN karena memerlukan lisensi, sedang IPTN pun belum mendapatkannya saat itu. Beliau menyarankan silahkan dengan Pusat Industri Angkatan Darat (PINDAD). Tetapi justru dalam sektor weaponry manufacturing PMS punya hambatan. Pemerintah Swiss, sebagai mitra kerjasama teknik Pemerintah RI, berkeberatan.

Mereka tahu, PMS mampu melakukannya. Dalam kunjungannya ke PMS, Direktur Jenderal Bantuan Teknik Luar Negeri Swiss menyatakan, “I know PMS can manufacture weapon, but please don’t because it will create problem in our home front”. Dan itu kami pahami dan hormati.

Namun, diam-diam, juga suka dapat pekerjaan dari PNDAD. Peralatan untuk Quality Control bila mana mereka tidak mampu membuatnya, yang tidak secara langsung untuk manufacturing senjata. Demikian juga dari IPTN, pernah order kerja manufacturing tools ketika dapat pesanan dari Boeing. Lumayan, dari pekerjaan itu selesai dalam 2 tahun, sehingga PMS mampu membeli spark erosion machine seharga US$125.000 tunai, dan masih terpakai sampai sekarang.

5. Kunjungan Prof. Spur, diantar oleh Pak Joddy dari Mesin ITB, rupanya promotor/pembimbingnya ketika studi S3 di Jerman. Prof. Spur adalah DirectorFraun Hover Manufacturing Engineering Research Center di Berlin. Fraun Hover sangat terkenal di dunia, dan sangat dikagumi.

AS pun menirunya dengan membuat Engineering Research Center (ERC) semacam itu di berbagai universitasnya. Mereka bilang, memang terinspirasi dari Fraun Hover. Indonesia pun ingin membuatnya dengan proyek MEPPO, tetapi kandas sebelum terlaksana.

Kunjungan tersebut diatur oleh Prof. Kei Mertin, wakilnya yang kemudian jadi pengganti ketika Prof. Spur pensiun. Kebetulan saya kenal baik dengan Pak Mertin ini. Kunjungan tersebut lebih dari 2 jam, dan dilanjutkan dengan diskusi –sesudah keliling yang biasanya makan waktu 1 jam. Diskusi menarik dan asyik tentang teknologi manufaktur, baik yang sedang berjalan maupun yang akan datang. “Pendidikan semacam inilah yang sangat diperlukan industri, di negara maju sekali pun,” komentarnya. Dia mengharapkan, supaya saya dapat bekunjung ke Berlin.

Ketika saya sempat mengunjunginya, dia sudah pensiun. Tetapi Prof. Mertin yang menerima dengan baik, bahkan mengatur kunjungan-kunjungan saya ke lembaga-lembaga lainnya di Berlin. Termasuk penginapan saya. Saya diantar seorang asistennya dari Indonesia.

Nggak enak juga saya, ketika Prof. Spur ke Bandung bersama istrinya, saya tak sempat mengundangnya dinner. Tetapi ketika saya ke Berlin, Pak Mertin ngundang saya dengan isteri dinner, dan uenaak tenan!

Mengunjungi Fraun Hover sangat inspiring. Jadi tahu research yang sedang mereka kerjakan dan hubungannya dengan industri. Demikian juga diskusi saya dengan profesor-profesor dari Berlin Technology University/TU ataupun Technische Hochschule/TH maupun Berlin Fraun Hover/FH (semua Fraun Hover School/FHS sekarang jadi University of Applied Science). Seandainya ITB punya ERC semacam itu, bukan main kontribusinya dalam real engineering technology! Mengunjungi Perguruan-Perguruan Tinggi di Eropa itu hanya bikin ngiler, technological means dan budaya akademiknya itu, lho, yang kita minim!

Jadi Politeknik harus ke mana?

Direktur PNJ kunjungi Lab Listrik

Kembalilah ke budaya awalnya, perkuat melalui technology updating! Kalau peraturan tidak mendukung? Tanyalah pada rumput yang bergoyang, barang kali mereka yang tahu jawabnya. Kalau rumputpun tidak mampu menjawab, siapa lagi kalau bukan insan Politeknik yang menjawabnya! Budaya mengandalkan ‘gelar’ dan ‘kertas’ itu yang harus dikikis, dan unjuk kerja yang harus ditonjolkan. Sekalipun gelarnya rentengan, kalau hanya bisa bikin Naskah Akademik atau Project Proposal untuk apa? Tidak menghasilkan nilai tambah apapun untuk masyarakat. Bisa-bisa malah menyulitkannya, seperti Politeknik sekarang. Cintailah pekerjaan bengkel dan laboratorium, itu bukan hina! Di situ lah nilai tambah betul-betul terjadi. Banyak hal-hal empirik yang bisa kita kaji secara induktif akademik. Itu kalau insan Politeknik ingin kreatif, inofatif, produktif, dan problem solving.

Politeknik memang harus ada, namun bukan layaknya tiada. Harus dimengerti, bukan sekedar diketahui. Apa susahnya sih? Kayak-nya, kok, repot banget? Kalau saja Politeknik kita bisa kembali ke azas dasarnya, seperti yang banyak dikemukakan di atas, maka homework berikutnya adalah pendidikan Insinyur. Dengan demikian, Indonesia punya kelompok kerja yang kreatif, inovatif, dan produktif terdiri atas Insinyur-Teknisi-Juru Teknis, yang merupakan satu kesatuan kerja.

Saya dengar jumlah Sistem Kredit Semester (SKS) program S1 akan dikurangi. Apa itu sebagai excuse, karena tidak mampu mencukupi technological means yang diperlukan? Untung tidak jadi, kata Bu Ilah.

Saya memang terobsesi dengan sistem dan proses pendidikan Jerman dan Eropa pada umumnya. Jerman terkenal sebagai pusatnya kualitas, sedang Swiss pusatnya presisi. Semua orang tahu makna Made in Germany dan Made in Swiss. Padahal awalnya kata ‘made in‘ itu sebagai ciri produk-produk non Inggris yang dianggap lebih rendah mutunya dari produk dalam negeri Inggris. Kok sekarang jadi terbalik, ya! Iya, ya….!

Kalau saja technological means yang dimiliki oleh Universitas/Institut Indonesia memadai seperti di Jerman, Swiss, dan lain-lain negara Eropa atau setidaknya seperti yang dimiliki Politeknik, pasti kita juga mampu mendidik Insinyur seperti luaran dari TU (bukan FH !) di Jerman. Real contact hours = 29 jam per minggu, dan hampir 40% waktunya adalah kerja laboratorium/bengkel dan 60% nya theoretical study. Dengan komposisi semacam itu, saya hitung dengan sistem SKS Indonesia ketemu 153 sks, atau tidak lebih dari 160 SKS dalam waktu 4 tahun. Itulah yang saya bayangkan untuk membangun industri endogen Indonesia, bukan sekedar screw driver migrated industry yang mengandalkan buruh murah serta mengotori lingkungan.

Budaya Endogen

Kadang-kadang saya merenung, apakah karena budaya endogen Nusantara yang membuat kita lebih menghargai status daripada hasil karya? Candi-candi kita itu yang bikin pribumi Nusantara atau asing, padahal kita banggakan? Apakah budaya kita itu terpaku terus pada budaya budi daya saja? Budaya yang menggantungkan musim, oleh karena itu punya sistem penanggalan surya yang ternyata cukup tua. Lantas kita juga punya penanggalan candra/bulan yang kelihatannya untuk mengatur peri kehidupan bermasyarakat maupun dengan yang dipujanya dan tidak jelas kaitan maknanya dengan penanggalan surya. Ada lagi penanggalan Kartika yang mungkin untuk keperluan navigasi saja.

Apakah ini akibat kekalahan kita terhadap Portugis, yang membuat kita dengan sengaja menanggalkan budaya dagang dan hanya mempertahankan budaya ksatria saja, sehingga status dan penampilan menjadi amat lah penting? Tapi itu kan hanya di Jawa, kok, jadi merata di seluruh Indonesia?

Saat Dikti visitasi persiapan pendirian Politenik Mekatronika

Dalam karya teknologi, apalagi manufaktur perealisasi pertambahan nilai nyata, kok juga tidak ada bekas-berkas yang masif pengaruhnya dalam perikehidupan Indonesia. Menurut catatan perahu terbesar yang dibuat tenaga-tenaga pribumi, hanya muat 135-150 prajurit. Padahal perahu buatan China bisa muat 450 orang, hampir sama kapasitasnya dengan perahu Portugis yang berkapasitas 500 orang. Yang terbesar buatan Semarang –bisa memuat sampai 400 orang– ternyata pekerjanya Cina. Rupanya memang diperlukan perjuangan budaya.

Begitu juga Politeknik. Tidak bisa kita berlarut-larut antara ada dan tiada, antara tahu dan mengerti. Pilih salah satu, bukan dua-duanya. Hanya Kepastian dan Disiplin kuncinya! Bukan Ragu dan Malu ke Bengkel dan Laboratorium! Simulasi komputer dengan Virtual Reality-nya, kalau mampu, tetap saja bukan akhir dari segalanya. Penentu akhir tetap berada di bengkel atau manufacturing/processing floor! Itulah yang seharusnya dibawa kembali ke komputer untuk penyempurnaannya. Mengapa tidak….?! (Dikutip dari milis Kamisetembang)

Ir. Hadiwaratama M.Sc.E dikenal sebagai Bapak Politeknik Indonesia