Berani Gagal dan Berani Jatuh, Mengapa Tidak?

Oleh Handry TM

Handry TM

Ada dua pilihan untuk menjadi orang terpandang: Sukses karena tercela, atau gagal karena mulia? Kenapa kegagalan senantiasa menjadi hantu, dan sukses besar selalu impian?

Berdiri di lantai atas hanggar Changi Airpot, titik pandang Viona mengikuti gerakan pesawat yang terus menjulang tinggi. “Aku ingin menjulang tinggi di awan, dan hilang entah,” katanya bak berpuisi.

Ia tidak bisa membayangkan, menjadi cewek tidak bermakna bagi lingkungannya. Tidak dipandang teman, apalagi oleh orang yang jauh dari tempat kakinya berpijak. “Aku tidak bisa membayangkan, menjadi orang terpuruk dan lantas terjungkal begitu saja di tempat sampah.”

Yang menjadi pertanyaan sekarang, seberapa jauh ukuran sukses Viona? “Untuk menjadi bintang rasanya mustahil. Aku mesti masuk koran, main sinetron, paling tidak, menjadi model video klip grup musik kelas menengah,” katanya.

Tapi, ternyata Tuhan memberi banyak pilihan. Manusia tidak akan menikimati kesuksesannya jika dari awal ia hidup di lingkungan sukses. Ukuran ‘nikmat’ bakal dibandingin dengan kadar ‘tidak nikmat’ tempat dimana ia kini berdiri.

Viona merasa dirinya cewek tajir sejak kecil. Kekayaan turun-temurun dari neneknya, hingga kelak kalo ia punya anak, kekayaan itu belum akan beranjak. Ukuran enak di mata keluarga Viona sangat faali (fisik). Makan enak, tidur nyenyak, pokoknya yang serba nikmat. Ada pula ukuran sukses lain di luar itu. Eh, si Titi, teman sekelasnya, sekalipun anak pegawai negeri rendahan, sukses juga lho menjadi penyanyi. Eh, perasaan hepi ternyata tidak melulu harus membelanjakan duit, tapi juga confession.

Ada orang bertepuk, menyapa dan mencubit pipi Titi dengan sapaan mesra: “Elok nian penampilan kamu di televisi.” Aduh, kenapa tak ada yang nyeletuk, “Bagus bener rumah kamu di Kawaraci,” atau apalah.

Viona mendapagkan bandingan yang beda. Ada “bobot sukses” yang lebih kualitatif di seberang sana. Yakni Reputation. Sukses yang terlebih dahulu diperjuangkan. Bukan sukses lantaran Reward.

Tipologi Jiwa

Andai jiwa ini bisa dibedah, maka menurut Plato – akan terdiri atas tiga bagian dengan sifat yang berbeda. Yakni jiwa yang bersifat Logos (pikiran), Thumos (kemauan) dan Epithumid (hasrat). Logos terletak di batok kepala kita. Ia penerjemahan pikiran-pikiran kita. Kemudian Thumos berada di dada kita, sementara Epithumid terjadi di perut kita.

Masing-masing punya kekuatannya tersendiri. Viona rupanya tipe pribadi yang cuma mengandalkan hasrat dan kemauan, sementara logika tidak tampil kuat. Adonan itu memunculkan tipologi kebajikan yang sekadar berani dan tampil dengan penguasaan diri, namun tidak ada kebijaksanaan dalam dirinya.

Dalam tipikal lain, Titi mungkin sangat beda dibanding Viona. Ia anak dari keluarga biasa-biasa aja, segala sesuatunya mesti diraih dengan “berlari kencang” melalui standar reputasi yang terukur. Bisa dibayangkan, untuk mencapai puncak karir seperti penyanyi pop yang sekarang, ia mesti ikut ber-audisi.

“Yang pertama jelas gagal, kedua tetap gagal, ketiga masih saja gagal, keempat itu juga gagal. Kelima hingga seterusnya, kegagalan itu berangsur-angsur surut. Aku enak saja menjalaninya, karena logikaku bilang, pelatihan sangat penting untuk mencapai sebuah keberhasilan.” Jadi, dare to fail, dare to down adalah modal keberanian yang luar biasa tinggi.

Maka Plato memberi peringatan keras pada kita, bakalan ada 3 tipologi manusia, masing-masing: ia yang dikuasai cuma oleh pikir, ia yang dikuasai kemauan dan ia yang hanya dikuasai oleh hasrat.

Yang paling aman adalah mengapresiasi ketiganya dalam takaran kebutuhan yang berbeda.

KESUKSESAN adalah…

1. Andai capaian kita jauh lebih baik, dan belum pernah kita rasakan sebelumnya.
2. Sebuah situasi dimana orang menganggap, kita telah memenangkan pertarungan seru dalam hidup.
3. Tidak ada orang lain yang dikalahkan dan teraniaya karena keberhasilan kita.
4. Tahap tengah, dimana kita akan mengalami keterjatuhan di tahap berikutnya.

BERANI GAGAL berarti…

1. Berani sukses dong, bukankah yang gagal telah kita lewati?
2. Mampu mengontrol diri sendiri, dan menjaga jarak terhadap ego pribadi.
3. Memberi keleluasaan orang lain untuk maju, sementara kita yakin mengikuti.
4. Berani mengulang dan mencoba yang kita upayakan, sampai berhasil.

(Dikutip dari http://mjeducation.co/dare-to-fail-dare-to-down/)