Maskun Iskandar

Kritik atas Bahasa Jurnalistik

(Seri 5)

Oleh Maskun Iskandar

Apa itu bahasa jurnalistik? Anda mungkin akan mengatakan bahwa bahasa jurnalistik itu tidak ada. Bahasa di koran, majalah, televisi, radio, dll. tidak ada yang spesifik. Semuanya sama dengan bahasa di buku, pidato, atau lainnya. Lagi pula, bukankah bahasa Indonesia itu satu?”

Baiklah. Pendapat Anda itu benar. Akan tetapi, apakah benar-benar begitu? Mari kita ingat-ingat kejadian tadi pagi. Menjelang sarapan Anda membaca koran. Sambil menghirup kopi, Anda menyeruput pula beberapa berita. Apa yang kita baca itu langsung dapat dimengerti, tanpa harus berpikir berat. Mengapa? Ini  karena berita tersebut ditulis dengan bahasa jurnalistik. Coba, apa jadinya bila koran menggunakan bahasa resmi, seperti bahasa pidato pertanggungjawaban presiden atau bahasa perundang-undangan.

 Bahasa perundang-undangan itu, misalnya, begini:

Jika suatu tindak pidana mengenai narkotika dilakukan oleh atas nama suatu  badan hukum, suatu perseroan, suatu perserikatan orang yang lainnya atau suatu yayasan maka tuntutan pidana dilakukan dan hukuman pidana serta tindakan tata tertib yang dijatuhkan, baik terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan atau yayasan itu maupun terhadap mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana narkotika itu atau yang bertindak sebagai pemimpin atau penanggung jawab dalam perbuatan atau kelalaian itu, ataupun terhadap kedua-duanya.

Pasal 49
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976
tentang Narkotika 

Koran tadi pagi tentu tidak seperti itu bahasanya. Harian Kompas, Jakarta, pernah menyajikan berita dengan bahasa seperti ini:

London—Dua murid pembolos mengaku sangat menyesal telah mengakibatkan ibunya harus masuk penjara. “Saya ditelepon saudara perempuan saya yang mengatakan bahwa ibu dipenjara karena kami tidak sekolah dan saya langsung menangis,” kata Emma kepada radio BBC, Senin. “Saya merasa itu kesalahan saya karena saya sering membolos,” lanjut pelajar berusia 15 tahun itu.

Berdasarkan hukum baru di Inggris, orang tua yang tidak bisa menangani anak sehingga anak membolos, diancam hukuman penjara.

Patricia Amos, ibu dari dua siswa pembolos—Emma dan Jackie (13)—adalah orang tua pertama yang menerima hukuman itu. Wanita tersebut semula dihukum 60 hari, tetapi pengadilan banding kemudian mengurangi hukumannya menjadi 28 hari.

Kedua anak Amos menyatakan bahwa hukuman  terhadap ibunya benar-benar membuatnya kapok, sehingga keduanya berjanji untuk kembali ke sekolah.

Hukum baru tersebut dimaksudkan untuk menekan angka kenakalan remaja di Inggris. Pemerintah Inggris percaya ada korelasi antara kenakalan remaja dengan angka bolos sekolah yang mencapai 50.000 murid tiap hari.

Alasan membolos macam-macam. Emma, misalnya, mengatakan, “Saya mulai membolos sejak nenek meninggal. Ini merupakan peristiwa sangat menyedihkan bagi kami.”

Emma kemudian membolos seminggu. Ketika masuk sekolah, katanya, dia diolok-olok. Sejak itu ia sering membolos.

Nyata benar bedanya kedua bahasa itu, bukan?

Contoh lain: ketika tadi Anda sarapan tiba-tiba datang seorang anak kecil. Sebut saja anak tetangga itu Cecep. Anda mungkin mengatakan begini kepadanya, “Eh, Cecep! Udah makan, Cep? Makan, yu, dengan tante! Pake telor. Mau?”

Jika yang bertamu itu bapak si Cecep, tentu lain pula cara Anda menawarinya makan. Bahasa untuk tamu yang teman akrab berbeda pula dengan bahasa untuk tamu yang baru dikenal, atau tamu orang gedean, yang lebih tua, dan seterusnya. Dengan ramah Anda akan mengatakan, “Silakan, lo, Pak! Tapi lauknya hanya telur.”  Dan, Anda tidak mungkin mengatakan kepada mertua begini, “Makan, yu, dengan tante! Pake telor. Mau?”

Kita juga membedakan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa tulisan pun bisa dibedakan lagi menjadi bahasa baku dan nonbaku, formal dan nonformal. Jadi, bahasa itu tidak satu. Selalu ada variasinya.

Apakah bahasa jurnalistik termasuk dalam bahasa baku, bahasa formal, atau apa? Untuk menjawab hal itu kita harus melihat bahasa dari segi penuturnya. Dalam hal ini bahasa dapat kita bedakan menjadi: (1) dialek, (2) sosiolek, dan (3) laras.

Dialek adalah ucapan-ucapan khas suatu daerah. Perhatikan bagaimana tiap suku atau daerah di negeri kita berbahasa Indonesia. Bahasa mereka berlain-lainan, entah karena perbendaharaan kata atau entah karena lagu bahasanya. Dialek Ambon, Batak, Sunda, Jawa, Bali, dll. berbeda satu dan lainnya. Berbagai daerah mempunyai istilah-istilah khas setempat. Pada dialek Jakarta, misalnya, ada kata-kata dong, deh, doang, beneran, ngedumel, banyak bacot. Dialek di daerah lain, lain lagi.

Sosiolek adalah bahasa yang digunakan  di lingkungan sosial tertentu. Dengarlah obrolan di antara remaja, antarsesama tukang becak, nelayan, lingkungan kaum intelek, dan lain-lain. Bahasa mereka berbeda antara satu dan lainnya karena kedudukan sosial dan tingkat pendidikan masing-masing yang berlainan.

Para remaja mempunyai ragam bahasa tersendiri. Mereka lazim menggunakan istilah “gue” dan “elu”. Bukan untuk merendahkan, melainkan suatu cermin keakraban. Tidak dianggap santun, malah menggelikan, bila ada di antara mereka yang bertanya kepada temannya, “Duhai, hendak ke manakah Anda gerangan sepagi ini?”

Istilah-istilah khas mereka, di antaranya: nyokap, bokap, kece, tajir, cembokur. Mereka menggunakan  singkatan “PD” untuk percaya diri, “pdkt.” untuk pendekatan, ABG untuk anak baru gede. Dari waktu ke waktu mereka juga mempunyai pemeo, seperti,  “So what gitu, lo?”,  “Kesian, deh, lu!”, “Enggaklah yauw”, “Alhamdulillah sesuatu”, dll.

Laras atau register atau kalangan adalah bahasa di kalangan profesi. Misalnya, bahasa hukum, politik, ekonomi, militer, dan pers. Masing-masing mempunyai cara dan ciri tersendiri berbahasa karena yang dituju, tujuan, dan medianya berbeda-beda.

Bahasa hukum, umpamanya, dibuat untuk mengatur sesuatu. Tujuan utamanya menegakkan keadilan dan kebenaran. Dalam contoh tadi, demi keadilan, maka disebutkanlah secara rinci badan hukum, perserikatan orang, perseroan, dan yayasan. Itulah sebabnya dalam bahasa hukum acapkali kalimatnya panjang-panjang (dalam satu kalimat saja pada contoh tersebut  terdapat 73 kata). Misal lain, di bidang hukum ada istilah tersangka, tertuduh, terdakwa,  tergugat, penggugat, terhukum, dan terpidana. Semua itu dibedakan karena status masing-masing pesakitan berlainan.

Di bidang militer cirinya lain lagi. Militer itu harus tegas, lugas, disiplin, dan berahasia. Hal itu berpengaruh pada bahasanya, di antaranya di kemiliteran banyak kita jumpai singkatan dan akronim. Misalnya, TNI, ABRI, GPK (gerakan pengacau keamanan), secaba (sekolah calon bintara), danramil (komandan rayon militer), kopatdara (komando pasukan tempur udara), parako (para komando), ranpur (kendaraan tempur).

Di bidang ekonomi ada istilah khusus, seperti saham terizin (authorized shares), pasar marak (boom market),  arus kas (cash flow), polis bencana (catastrophe policy), pialang tandingan (contra broker), anjak piutang (factoring cost), pencagaran atau pelindungan nilai (hedging), sewa guna usaha (leasing), pemasaran (marketing).

Bahasa Jurnalistik

Persoalannya sekarang, apakah media massa mempunyai bahasa tersendiri?

Bahasa jurnalistik itu variasi bahasa. Sama halnya dengan ikan mas koki

Bahasa jurnalistik (bahasa pers atau bahasa koran atau bahasa media massa) hanyalah salah satu variasi bahasa. Variasi itu suatu perubahan keadaan yang tidak mengubah sifat aslinya. Ikan mas koki, misalnya, memiliki banyak variasi. Warnanya bermacam-macam. Bentuknya berlain-lainan. Ada yang pipih, ramping, yang gembrot, yang siripnya panjang berumbai-umbai, yang berjambul, dan yang matanya gede melotot. Berbeda-beda, tetapi tetap ikan mas jua. Meski dibudidayakan telah ratusan tahun, tidak ada ikan mas yang menyeleweng menjadi lele, gurame, atau hiu.

Variasi bahasa pun seperti itu. Bahasa jurnalistik–seperti halnya ikan mas koki–adalah salah satu variasi bahasa yang tetap berinduk pada bahasa Indonesia. Tetap terikat pada sifat, adat, dan kaidah bahasa baku, baik tata bahasanya, istilah, maupun ejaan bahasa Indonesia.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat bahasa pers membentuk variasi tersendiri, yaitu karena:

  1. fungsi media massa,
  2. karakteristik cara kerja pers, dan
  3. keadaan media.

1. Fungsi media massa

Media massa diterbitkan dengan fungsi:

  • menyampaikan informasi,
  • membentuk opini publik,
  • agen perubahan,
  • menyebarkan pengetahuan,
  • menyalurkan aspirasi,
  • memberikan hiburan, dan
  • menjalankan kontrol sosial.

Informasi “lazimnya” dibungkus dalam bentuk berita (news). Bahasanya lugas, ringkas, sederhana, mudah dicerna, kadang berderap-derap seperti irama lagu mars.

Pengetahuan, wawasan, atau penjelasan “umumnya”  dikemas dalam wadah feature. Bahasanya lebih luwes, imajinatif, menggugah perasaan layaknya orang mendongeng.

Aspirasi dan kontrol sosial “biasanya” disalurkan lewat kolom atau opini. Bahasanya cenderung formal, namun tetap enak dibaca, tidak dingin dan kaku seperti batang pisang.

Saya menggunakan kata-kata “lazimnya”, “umumnya”, dan “biasanya” karena perbedaan yang satu dengan yang lain tidak kontras hitam putih. Informasi, misalnya, tidak mutlak milik berita sebab bisa saja ada pada feature atau opini.  Demikian juga penggunaan bahasanya.  Bahasa berita n  news feature n  feature n opini sering serupa, hal itu bergantung pada materi yang disajikan, gaya penulis, dan corak medianya.

2. Karakteristik cara kerja pers

Berikut adalah ciri-ciri pekerjaan jurnalis yang berpengaruh pada bahasanya:

  • Pekerjaan wartawan dan redaksi media massa  selalu berpacu dengan waktu. Batas waktu (dead-line atau tenggat) merupakan hal yang mutlak harus dipatuhi. Sastrawan boleh santai bekerja, sedangkan wartawan tak dapat berlama-lama karena harus selesai menulis tepat pada waktunya. Oleh karena itu, keduanya beda berbahasa.
  • b. Panjang tulisan dibatasi karena keterbatasan halaman yang tersedia. Informasi yang sebanyak-banyaknya ditulis seringkas-ringkasnya. Dengan demikian, bahasanya pun harus ekonomis;
  • Jumlah media massa di Indonesia dewasa ini berbilang ribuan. Oleh karena itu, persaingan di antara media massa semakin meruncing, sehingga bahasa yang digunakan, tulisan yang disajikan, dan tata muka media harus lebih menarik ketimbang saingannya;
  • d. Tulisan pada media massa sebagian besar berbentuk berita dan feature. Bahan bakunya fakta, sehingga jurnalis tidak dapat membuat tulisan dengan bahasa yang muluk-muluk seperti pada cerita rekaan yang berbentuk penulisan fiksi (cerpen, novel, puisi) yang kadang susah dimamah.

Bahasa yang Dianjurkan

Mengingat fungsi media dan karakteristik kerja tersebut, maka pemakaian bahasa di media massa dianjurkan agar:

<  jelas                  < lugas                  < logis                   <  menarik

< baik,                   < benar                 < singkat padat     <  sederhana

  1. Jelas, lugas, logis, singkat padat, sederhana. Suatu penelitian menyebutkan bahwa seseorang membaca surat kabar tidak pernah sampai lebih dari 30 menit. Tidak lama. Dalam waktu sesingkat itu pembaca harus dapat menangkap maksud yang ditulis di koran dan media massa lainnya. Media cetak halamannya terbatas dan media elektronik waktunya sempit.  Oleh karena itu, penulisan di media massa harus jelas, lugas, logis, singkat padat, sederhana atau komunikatif, efektif, efisien. Untuk itu kita dianjurkan menggunakan kalimat yang mudah ditangkap:
    • Kalimat tidak berkepanjangan. Pembaca akan susah menangkap maksud kita bila kita menggunakan kalimat yang panjang.  Sebaiknya memakai kalimat tunggal atau kalimat majemuk dengan satu anak kalimat.
    • Pilihlah kata yang tepat. Misalnya, kata  “sekitar” hanya digunakan untuk menunjukkan tempat dan waktu (sekitar pukul 10, sekitar Jakarta. Bukan sekitar 100 orang, melainkan sekira atau kurang lebih 100 orang). “Senilai” digunakan untuk kata bantu bilangan uang. Umpamanya, senilai Rp40 miliar, bukan  sebesar Rp40 miliar.
    • Hindarkan penulisan angka Romawi yang sulit dibaca.
    • Tulis kepanjangan akronim dan singkatan, terutama yang belum populer. Misalnya, Panglima Komando Pelaksana Operasi (Pangkolaops), gurdacil (guru di daerah terpencil).
    • Hindarkan pemakaian istilah yang belum populer, baik istilah Indonesia, asing, dan daerah. Misalnya, wigati, sangkil, mangkus, pindai.
  2. Baik dan benar. Tulisan yang baik adalah tulisan yang sesuai dengan jenis media  dan segmen pembacanya. Tulisan yang benar adalah tulisan yang sesuai dengan kaidah bahasa (tata bahasa, istilah, dan ejaan baku).
  3. Menarik.Tulisan yang menarik adalah tulisan yang bergaya dan berdaya getar. Ada banyak cara untuk membuat tulisan menjadi menarik, antara lain dengan menggayakan bahasa, misalnya:
    • Memilih kata yang lebih spesifik. Kata tertatih-tatih, terseok-seok, terhuyung-huyung, bergegas, terbirit-birit, dapat  mengganti-kan kata berjalan yang lebih umum.
    • Perumpamaan. Perumpamaan “semudah membalik telapak tangan” sudah sering dipakai, sehingga membuatnya aus. Oleh karena itu, pergunakanlah perumpamaan yang lebih baru. Untuk menunjukkan kemudahan bisa kita ganti menjadi begini: semudah menghidupkan kompor gas, hanya dengan memutar tombol, klik, api pun menyala.
    • Perbandingan. Setiap hari Pemerintah Provinsi Jakarta mengangkut 50.000 ton sampah ke tempat pembuangan akhir. Saya berani bertaruh bahwa Anda tidak dapat membayangkan jumlah 50.000 ton itu. Jumlah tersebut dapat tergambar dalam pikiran pembaca, apabila kita perbandingkan. Umpamanya, dengan menyebutkan bahwa sampah tersebut harus diangkut dengan 10.000 truk.

Contoh lain: Agar pembaca dapat membayangkan betapa Kalimantan kaya akan pertambangan dapat kita katakan begini:  Bentangkan peta Kalimantan.  Beri tanda titik pada setiap daerah pertambangan. Lihat! Atlas Borneo kini penuh berbintik-bintik.

Kritik atas Bahasa Jurnalistik

Lewat pers kita mengenal anjuran untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, namun pers sendiri tidak memedulikan bahasa yang baik dan benar. Pers sering menyimpang dari kaidah bahasa yang sudah ditetapkan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Simak saja penulisan istilah yang berlain-lainan antara satu media massa dan media massa lain: ada yang menulis asasà azas,  milyar à miliar, Nopemberà November, rapi à rapih, risi à risih, cinderamata à cenderamata, dan lain-lain. Yang dianggap baku oleh Pusat Bahasa adalah  asas, miliar, November, rapi, risi, cenderamata.

Untuk mengetahui sesuatu kata atau istilah itu baku, kita dapat mencarinya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia.

 Hal lain yang sudah dibakukan adalah tata bahasa (lihat buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia), ejaan (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan), dan pembentukan istilah (Pedoman Pembentukan Istilah).

 Media massa juga sering mengekor memakai istilah yang salah kaprah. Misalnya, ia membunuh dengan semena-mena. Seharusnya: ia membunuh dengan tidak semena-mena. Arti semena-mena justru kebalikan dari sewenang-wenang. Mena berasal dari bahasa Sanskerta, manas, yang berarti sebab. Tidak semena-mena = tanpa sebab = sewenang-wenang.

Salah kaprah lainnya, di antaranya:  bola bundar (seharusnya bola bulat), mengejar ketertinggalan (seharusnya mengatasi ketertinggalan), dll.

Baru-baru ini seorang wartawan mewawancarai pengusaha tambang batu bara di Kalimantan Timur.  Pengusaha tersebut menceritakan bahwa ia pernah melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Akan tetapi, tidak selesai karena ia teringat terus pada ibunya yang sudah tua. Lalu, ia pulang ke Indonesia. Setahun kemudian ibunya meninggal dunia. “Saya memang menyesal tidak tamat kuliah, tetapi akan lebih menyesal lagi bila tidak mendampingi ibu saat sakit dan wafat,” kata pengusaha tersebut.

Bagaimana sang wartawan menuliskan hasil wawancaranya? Ini cuplikannya:

Perjalanannya kembali ke tanah air juga cukup unik. Ibunya yang sudah lanjut menarik naluri seorang anak untuk kembali ke Indonesia. Kebetulan setelah ditunggui setahun pada 1998 ibunya wafat.

Mari kita simak kalimat pertama: “Perjalanannya kembali ke tanah air juga cukup unik.” Kata “perjalanannya kembali” terasa mengambang. Mengapa ia tidak menggunakan kata “kepulangannya” yang lebih singkat dan jelas. Kata “juga cukup unik” lebih tidak jelas lagi maksudnya. Kita tidak diberi tahu apa yang unik.

Kalimat kedua: “Ibunya yang sudah lanjut menarik naluri seorang anak untuk kembali ke Indonesia.”  Yang dimaksud dengan sudah “lanjut” tentu “lanjut usia”.  Kalimat ini akan berhasil, apabila dibuat lebih sederhana.

Kalimat ketiga: “Kebetulan setelah ditunggui setahun pada 1998 ibunya wafat.” Ini menggelikan. Kontras dengan kalimat sebelumnya. Ibunya wafat, eh, dikatakan “kebetulan”.

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo