Hiperbolisme Isu Bola Salju

Oleh Azhmy F Mahyddin

Azhmy F Mahyddin

Teori ‘Bola Salju’ ternyata benar adanya. Tresnawati tersenyum. Baru saja ia mendengar gunjingan tetangga tentang sikap pak Ricky, yang menjawab ketus saat terpergok membeli bensin premium untuk BMW 520 i miliknya di SPBU cukup jauh dari kompleks perumahan mereka. Padahal bu Rochim sekadar menyampaikan say hello, menurut bu Fitni yang memang tengah mendampingi bu Rochim berbelanja dan cuci mata.

Bu Fitni pun kemudian menceritakan kembali kronologi kejadian kepada ibu-ibu yang sedang merubung tukang sayur. Dengan ‘Semangat 45’ yang dimiliki para penggosip, ia memanfaatkan keingintahuan bergosip dari para ibu yang masih ‘sibuk’ menawar sayuran.

“Jeng, wah kemarin seru deh. Mosok pak Ricky ngotot ketika kami sapa di SPBU. Heran, kenapa ya?” ujar Bu Fitni membuka percakapan.

Lho, emang kenapa? Lagi berantem kali sama istrinya. Bu Ricky kan tukang ngatur, cerewet lagi. Pantes, deh..” sahut bu Welly sigap, meski tangannya sibuk memilih tomat.

“Iya, memang. Waktu arisan bulan lalu saja, dia sendiri yang sibuk atur-atur. Semua serba dikomentari, padahal yang ketempatan arisan kan bukan dia. Untung bu Istiqomah sabar dan pengertian, jadi tidak sampai timbul masalah,” jawab mbak Jayus menimpali.

“Mungkin juga, ya. Tapi waktu itu sebenarnya saya dan bu Rochim kaget juga. Wong cuma ditanya, beli bensinnya banyak pak.. eh pak Ricky langsung marah,” tukas bu Fitni mengembalikan tema pembicaraan, takut obrolan melebar tak karuan.

“Terus? Pak Ricky jawabnya apa?” selak Tante Icam tergesa, sampai menjatuhkan sebungkah kol akibat tersenggol sikunya.

“Ketus. Dia bilang, ini kan hak semua rakyat, tidak ada aturan yang membatasi siapa pun untuk membeli premium. Saya kan rakyat juga, terserah saya mau beli banyak atau sedikit. Apa saya salah? Pemerintah dong yang salah, kenapa gak buat aturan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi.” jelas Bu Fitni, mengulang jawaban pak Ricky dengan seksama.

Meski Tres –begitu panggilan akrab Tresnawati– diam saja, tetapi pikirannya sibuk menyahut. Kalau mereka yang kaya semua bersikap begini, hancurlah Negara. Untuk urusan harta, mereka tak ragu menyerobot jatah rakyat jelata. Keserakahan membutakan etika dan menghinakan diri. Duh, ini pemafaatan isu demi nafsu..!!

*******

Tres menyadari nafsu merupakan sifat alami manusia, yang jika tidak dikendalikan akan membuahkan kepedihan. Seperti contoh di atas, keserakahan pak Ricky atas selisih harga premium dan pertamax yang sedikit –untuk ukuran dirinya yang memiliki mobil sekelas BMW—cukup mampu memutuskan urat malunya dan berkilah dengan alasan yang salah. Sehingga yang dipersoalkan adalah haknya sebagai rakyat, bukan pemahaman tentang penderitaan rakyat jelata atas kesulitan hidup mereka. Menyedihkan, memang.

Ya, banyak orang yang menanggapi sebuah persoalan hanya sebatas permukaan. Yang lebih menyedihkan, ‘cuplikan’ persoalan itu –yang seringkali menjadi sekadar isu– kemudian dibesar-besarkan. Bagai bola salju kecil yang digelindingkan dari puncak bukit es, kian ke bawah makin membesar hingga ketika sampai di kaki bukit bola salju sanggup menghancurkan sebuah pondok. Begitu pula isu dari bahasan persoalan yang mengemuka, cenderung malah menutup intisari persoalan sebenarnya yang jauh lebih penting.

Terlebih rakyat Indonesia yang cukup dikenal sebagai masyarakat easy going. Yang bukan dalam arti membuat mudah persoalan, tetapi menganggap mudah segala persoalan. Ngentengke, begitu istilah dalam bahasa Jawa ngoko menyebutnya dengan lebih tepat.

Apa yang salah dalam kultur Indonesia, begitu pikir Tres mencoba menguraikan satu persatu yang mungkin menjadi penyebab. Apa akibat mental jajahan, sehingga cenderung minder dan memilih yang mudah saja dan inginnya instant? Atau keterbatasan pendidikan pada rakyat kebanyakan, sehingga tak tak berani mengemukakan pendapat yang menentang agar ‘selamat’? Atau naluri dasar manusia yang egois sehingga menutup kemauan berpikir analitis? Ah..

*******

Begitulah. Saat menyimak tayangan tentang kejadian yang dilakukan Denny Indrayana, sungguh membuat asumsi orang Indonesia yang suka membesar-besarkan ‘cuplikan’ masalah kian tergambar nyata.  Tres tak habis pikir, tujuan sidak (inspeksi mendadak) yang dilakukan Wamenkumham bersama Tim BNN (Badan Narkotika Nasional)  akhirnya menguap. Kalah heboh dengan isu kasus penamparan.

Padahal kunjungan itu dalam rangka menangkap pengedar narkotika –yang bahayanya sudah pasti merusak masa depan anak bangsa– di dalam lapas. Dan agaknya sudah menjadi rahasia umum kalau peredaran NAPZA ini akan ada oknum yang melindungi, karena uang yang beredar bersamanya sangat menggiurkan siapa saja.

Memikirkan hal itu, Tres jadi teringat Firman Allah SWT dalam Surah Adz-Dzaariyaat (51) ayat 8 – 11 yang artinya: “Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al-Qur’an) orang-orang yang dipalingkan. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang  terbenam dalam kebodohan lagi lalai..