Pulau Penyengat yang Memikat

Uki Bayu Sedjati

Oleh Uki Bayu Sedjati

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
(cuplikan Gurindam pasal ke 5)

”Itu pulau Penyengat”

Dari Dermaga Panjang dan Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang, dengan bantuan teropong terlihat bangunan Masjid Raya Sultan Riau yang berwarna kuning cerah tampak megah di antara bangunan-bangunan lainnya di pulau Penyengat, pulau kecil seluas 240 hektar

Masuk ke dermaga beli tiket @ Rp 35 ribu kaki melangkah ke kapal -lebih tepatnya berupa speed boat kecil – disebut: pompong – yang menampung sekitar 10 orang.

Dari dermaga ke pulau Penyengat jaraknya sekitar 1,5 km. Pompong bermotor dan beratap menyibak laut  yang biru – tak lama hanya 15-20 menit – sampai pulau yang luasnya 3,5 kilometer bujur sangkar ini. Sebagian wilayahnya bukit-bukit, tanahnya terdiri dari pasir bercampur kerikil, sedangkan pantainya landai, berlumpur dan diselingi dengan batu karang. Dermaganya berupa kayu yang memanjang sekitar 50 meter dan lebar 5 meter..Untuk memasuki lokasi ini, pengunjung tidak dipungut biaya. Namun, cukup banyak pengunjung yang spontan beramal di pintu utama masjid memasukkan ke kotak sumbangan secara sukarela.

Tempat singgah para pelaut

Doeloe, pulau ini selalu menjadi tempat singgah pelaut-pelaut yang lewat, terutama untuk mengambil air tawar. Konon, sekali peristiwa pelaut-pelaut yang datang mengambil air itu diserang oleh sejenis lebah yang disebut penyengat. Karena serangga itu sampai menimbulkan korban jiwa, hewan itu dianggap sakti pula. Sejak itulah pulau ini dinamakan Pulau Penyengat Indra Sakti, selanjutnya lebih dikenal Penyengat saja sampai sekarang.

Di pulau ini selain terdapat banyak benda-benda peninggalan masa silam, maupun objek lainnya yang menarik. Alamnya yang lumayan indah, baik di pantai maupun di bukit-bukit serta perkampungan tradisional penduduk, balai adat dan atraksi kesenian, memikat untuk dilihat.


Obat Bedil

Doeloe, lebih dari 3 abad lalu, masa peperangan melawan penjajah Belanda pulau Penyengat menjadi salah satu pusat perlawanan Kerajaan Riau (1782-1794 M). Pulau ini – karena letaknya di muara sungai, dijadikan kubu penting. Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau IV  – bergelar Raja Haji Syahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang –  memimpin peperangan melawan kompeni itu.  Benteng-benteng lengkap dengan meriam-meriam berbagai ukuran didirikan di  Bukit Penggawa, Bukit Tengah dan Bukit Kursi.  Kini  kita masih bisa melihat saksi sejarah berupa gudang mesiu, benteng dan parit pertahanan.

Untuk melihat dari dekat situs-situs itu kita bisa jalan kaki ataupun naik kendaraan roda tiga, mirip becak motor,– disebut, betor, yang jumlahnya sangat terbatas Kita cukup membayar sekitar Rp.30.000/trip keliling pulau melalui jalan kampung yang sudah direhabilitasi oleh pemerintah daerah.

Uniknya arsitektur, beradonan putih telur

Menyaksikan keanggunan masjid raya pulau Penyengat bakal tak terlupakan. Pengurus masjid dapat menjelaskan ihwal masjid – dengan 13 buah kubah dan 4 menara, sehingga jumlahnya sama dengan rakaat shalat wajib – yang dikenal pula  sebagai masjid Putih Telur. Ya, konon, saat membangun dinding masjid adonan pasir dan kapur dicampur dengan putih telur sehingga rekat melekat. Arsitektur bangunan ini  unik, apalagi warna kuning yang menghiasi seluruh dinding bagian luar. Di dalam masih tersimpan kitab al Quran tulisan tangan.

Setelah itu kita berjalan menuju ke sebuah bangunan kecil yang seluruhnya terbuat dari beton: gudang mesiu. Tampak amatlah kokoh dengan temboknya setebal satu hasta dengan jendela-jendela kecil berjeruji besi. Sesuai dengan namanya, gedung ini tempat menyimpan mesiu, yang oleh penduduk di daerah ini disebut obat bedil. Di sini kita bisa membayangkan betapa siapnya kerajaan Riau-Lingga dalam menentang penjajahan Belanda. Di pulau ini terdapat empat buah gedung tempat menyimpan mesiu namun sekarang hanya tinggal satu.

Lain pula yang satu ini. Saat perang ataupun damai manusia bisa sakit, maka ahli obat berperan, sebutannya tabib. Pada masa itu tersebutlah Engku Haji Daud sebagai  tabib kerajaan. Walau kini hanya berupa empat bidang dinding tembok dengan beberapa buah rangka pintu dan jendela namun gedung peninggalan Engku Tabib dapat menunjukkan bahwa ihwal kesehatan menjadi bagian penting dalam kehidupan kerajaan Riau-Lingga.

Kemudian naiklah ke bukit – perlu sedikit tambahan tenaga – nah, di antara tiga bukit itu masih terlihat bekas-bekas kubu dan parit pertahanan yang sudah dimakan waktu. Lebih dari itu dari tempat ketinggian ini kita menyaksikan keindahan alam sekitar, pepohonan hijau dan laut biru bertaut langit di cakrawala – selepas mata memandang.

Gurindam 12

Makam Raja Haji

Situs yang penting untuk ditelusuri sejarahnya adalah makam Raja dan bangsawan Riau. Makam Raja Haji -Yang Dipertuan Muda Riau IV adalah pahlawan Melayu yang amat termashur. Sejak berusia muda sampai akhir hayatnya berperang melawan penjajah Belanda. Ini membuktikan kehandalannya sebagai pemimpin, hulubalang dan ulama. Pihak penjajah menganggap, bahwa perang yang dipimpin Raja Haji sempat menggoncangkan kedudukan Belanda di Nusantara. Karena kepahlawanannya itulah masyarakat Melayu menyebutnya dengan gelar Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang. Ketika beliau mangkat jenazahnya sempat dikebumikan di Malaka, namun beberapa tahun kemudian dipindahkan dan disemayamkan di Bukit Selatan pulau Penyengat.

Ada pula makam putra Raja Haji Sahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang yaitu Raja Jaafar -Yang Dipertuan Muda Riau VI yang ketika mangkat bergelar Marhum Kampung Ladi. Di kompleks makam Raja Jaafar terdapat pilar-pilar, kubah-kubah dari beton yang dihiasi ornamen menarik. Di luar cungkup makam ini ada kolam air yang dilengkapi tangga batu tempat berwudlu. Di kompleks makam ini terdapat pula makam-makam keluarga bangsawan lainnya.

Kemudian kita ziarah pula ke makam Raja Abdurrakhman-Yang Dipertuan Muda Riau VII, ketika mangkatnya digelar Marhum Kampung Bulang. Dikenal taat beribadah, salah satu hasil upayanya adalah pembangunan Mesjid Raya Penyengat. Karena itu malamnya hanya beberapa ratus meter di bagian belakang mesjid, di lereng bukit.

Yang tak boleh dilupakan adalah makam Engku Putri, Permaisuri Sultan Mahmud. Menurut catatan Pulau Penyengat Indra Sakti adalah miliknya, karena pulau ini dihadiahkan suaminya Sultan Mahmud Syah sebagai mas kawin sekitar tahun 1801-1802. Selain itu Engku Putri adalah pemegang regalia – perangkat kebesaran kerajaan Riau. Bangunan makam terbuat dari beton, dikelilingi oleh pagar tembok yang cukup tinggi.

Seperti diketahui Batam dan sekitarnya adalah wilayah kebudayaan Melayu. Pada tahun 2002 kotaTanjungpinang ditabalkan sebagai Kota Gurndam Negeri Pantun. Tentulah muasalnya karena karya monumental Raja Ali Haji, pujangga Riau yang menorehkan Gurindam 12. Sastrawan ini dimakamkan di pulau Penyengat. Agar setiap pengunjung semakin memahami dan lebih berminat pada karya sastra  maka di sekeliling tembok makamnya tertera 12 gurindam karyanya yang memiliki kandungan nasehat agar manusia memiliki akhlak mulia (Lengkapnya baca: “Sajak-sajak Gurindam 12 yang telah terbit –red). Kajilah tuntunan ini :

Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil

(gurindam pasal ke 10)

Pantun yang menjadi lirik lagu didendangkan dengan iringan musik corak Melayu juga dapat kita nikmati, juga dipetik sarinya sebagai tuntunan berperilaku. Bahkan jika beruntung dapat pula menyaksikan bujang dan gadis – penduduk pulau ini – menampilkan tarian maupun berbagai bentuk upacara adat Melayu yang diperagakan di gedung dengan arsitektur tradisional yang disebut Balai Adat. Jelas persembahan kesenian tersebut merupakan salah satu bentuk partisipasi aktif warga masyarakat setempat dan merupakan wujud sadar wisata yang disemai-tumbuhkan oleh Dinas Pariwisata.

“Kami suka memberi persembahan ini juga kerena melestarikan adat di sini,” terang Yati, 20 tahun, salah seorang penari, yang diiyakan oleh kawan-kawannya.  Lebih dari itu mereka juga mengajak warga yang usianya lebih muda untuk menjadi anggota sanggar dibawah asuhan pengurus Balai Adat –  agar pada saatnya nanti menggantikan posisi –  siap mementaskan pertunjukan bagi para tamu. Orangtua mereka pun memberikan keleluasaan. Hal yang sama dilakukan pula oleh warga yang siap menjadi pemandu wisata.  Klop.

Kesediaan  seperti itu patut diacungi jempol, sebab menunjukkan bahwa kesadaran warga masyarakat terutama generasi muda sudah berpartisipasi ikut menyemarakkan suasana sekaligus memberikan rasa senang dan kenyamanan bagi pelancong sehingga diharapkan berniat untuk datang dan datang lagi. Masyarakat memberdayakan diri – dan berjaya – karena memanfaatkan lokasi wisata.

Keindahannya memikat, bujang dan gadis pun saling terpikat

Pulau Penyengat memang memiliki begitu banyak hikmah. Bahkan, bagi mereka yang meyakini tentu juga bakal tertarik pada ungkapan seorang pengunjung, Ani, 27 tahun. “Bujang dan gadis yang datang ke sini bersama-sama, boleh jadi awalnya berteman biasa, tapi sepulang dari sini bisalah mereka jadi pasangan seterusnya..” Pengalaman pribadi kah itu?

Yang jelas, setelah meninggalkan pulau Penyengat, masih ada yang menghadang di dermaga Panjang. Salah satunya, kenikmatan masakan khas Pinang yakni Mie Lendir. Mmmh, jangan terpengaruh nama, sebab adonan mie, kecambah, telur ayam + bawang goreng membuat yang menyantapnya bisa dipastikan berkeringat lantaran kuah kentalnya panas.. dan lezat. Masakan berkuah lainnya paduan dari mie kuning, kecambah, irisan timun dan bengkuang serta kuah kari ikan tamban semangkuk, namanya Lakse. Miripkah dengan Laksa masakan Betawi? Silahkan mencicipi, ditanggung halal.  

(dari berbagai sumber)