Maskun Iskandar

Ada Mayat yang Berprofesi

Oleh Maskun Iskandar

Naik ojek bukanlah hal yang luar biasa. Yang istimewa adalah apabila tukang ojeknya itu mayat. Anda mungkin tersentak kaget, “Mayat? Yang bener aja. Jangan bercanda, Bung! Siapa yang sudi diojeki oleh mayat?”

Ini bukan masalah sudi atau tidak sudi, melainkan soal ketelitian.  Ketidaktelitian itu terlihat pada seri “Mengasah Bakat Menulis (11) Telitikah Anda?”

Mari kita bahas:

Abdullah, 40, warga Buket Mon Sukon, Kecamatan Baktya, Aceh Utara, tewas menggenaskan dengan tubuh penuh luka aniaya. Mayat lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai penarik ojek ditemukan Jum’at (10/11) pukul 16.00 WIB di dalam jurang tidak jauh dari kediamannya. 

I. Bentuk Tulisan

Apakah tulisan ini berbentuk berita, feature atau opini?

Untuk mengetahui bentuk tulisan, kita menggunakan tiga tolok ukur (tolok ukur, ya, bukan tolak ukur), yaitu dari segi isi, struktur, dan bahasa.

A. Dari segi isi: berita menyampaikan informasi, feature menyampaikan informasi dan menghibur, sedangkan opini menyampaikan pendapat. Isi tulisan  tersebut berupa informasi tentang penarik ojek yang ditemukan tewas di jurang.

B. Dari segi struktur: berita terikat oleh piramid terbalik dan 5 w 1 h, feature dan opini tidak terikat oleh piramid terbalik dan 5 w 1 h.

Piramid terbalik adalah bentuk tulisan yang mendahulukan hal terpenting, kemudian penting dan lalu kurang penting.  Bagian terpenting itu ada pada bagian awal (intro) tulisan. Hal yang terpenting itu adalah hal yang dapat menjawab pertanyaan who, what, when, where, why, dan how.

Who          → Abdullah, 40, warga Buket Mon Sukon, Kecamatan Baktya,  Aceh Utara atau Abdullah atau penarik ojek.

What        → tewas atau ditemukan tewas.

When       → Jum’at (10/11) pukul 16.00 WIB.

Where     → di dalam jurang tidak jauh dari kediamannya. 

Why         → tidak ada.

How         → menggenaskan dengan tubuh penuh luka aniaya.

C. Dari segi bahasa: Bahasa berita lugas. Bahasa feature luwes. Bahasa opini formal atau luwes. Lugas itu tidak berbunga-bunga, langsung ke masalah pokok atau yang penting-penting saja.

Dilihat dari ketiga tolok ukur itu tulisan tersebut tergolong pada berita. Isinya menyampaikan informasi, strukturnya piramid dengan 5 w 1 h, dan bahasanya lugas.

II. Kekuatan dan Kelemahan

A.    Kekuatan

Tulisan tentang tewasnya Abdullah, tukang ojek, memenuhi persyaratan sebuah  berita karena memenuhi sebagian persyaratan pokok berita. Dalam “Mengasah Bakat Menulis (6) disebutkan ada empat belas persyaratan berita, yakni faktual, aktual, segera, informatif, istimewa, penting, menarik, berimbang, singkat, komplet, objektif, akurat, dekat, dan unsur manusia.

Apakah ini berita besar? Untuk itu ukurannya adalah nilai berita, yaitu berdampak, dramatis, konflik, name makes news, menyangkut kepentingan umum, aneh,  dan membawa kemajuan.

Berita tersebut tidak mengungkapkan mengapa tukang ojek itu tewas. Bila ia meninggal dunia karena dibunuh (ditandai dengan “tubuh penuh luka aniaya”), motif pembunuhannya belum diketahui. Akan tetapi, peristiwa itu dramatis.

B.     Kelemahan

Intro berita dimulai dengan who (Abdullah, 40, warga…). Ini tidak salah. Akan tetapi, Abdullah itu bukan orang terkenal, sehingga tidak mengakibatkan name makes news. Akan lebih baik jika dimulai oleh who lain, yaitu tukang ojek. Bayangkan, tukang ojek tewas dengan tubuh penuh luka.

Intro mestilah ringkas, padat, dan menarik. Oleh karena itu, hal yang tidak penting benar hendaknya dihapus atau dipindah ke alinea lain. Dalam hal ini tidak perlu disebutkan pada intro “warga Buket Mon Sukon, Kecamatan Baktya, Aceh Utara”, tetapi cukup “warga Buketmonsukon, Aceh Utara” (Buketmonsukon ditulis serangkai).

Kalimat kedua juga dapat diringkas.

Semula:

Mayat lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai penarik ojek ditemukan Jum’at (10/11) pukul 16.00 WIB di dalam jurang tidak jauh dari kediamannya. 

menjadi:

Penarik ojek ditemukan Jumat sore di dalam jurang tidak jauh dari kediamannya. 

Selain boros juga ceroboh. Ceroboh  karena ada kebiasaan sebagian wartawan yang menyerahkan tulisan kepada redaktur tanpa dibaca dulu. Akibatnya ada hal yang tidak logis bisa lolos, yakni bagian kalimat, “Mayat lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai penarik ojek….”

Pengakses situs ini mengomentari, “Masa, sih, ada mayat… yang berprofesi sebagai penarik ojek. La, siapa yang sudi diojeki oleh mayat?”

Yang berkomentar seperti itu ialah Maryani, Nailin In Saroh, Anita, Rina Yuliana, Puji Kurniasari, Desita Annisa Yuliyana, Eko Prahandoyo, Nur Sa’Bania, Dinda Rachmawati, Indah Wulansari, Ummi Hadyah Saleh, Komaruddin Bagja, Annisa Iriana Budiarini, dan Megah Apriyani.

Bravo atas ketelitian Anda sekalian!