Maskun Iskandar

Redaktur Itu Jantung Surat Kabar
Jantung Itu Kerap Berdebar (1)

(Seri 6)


Oleh
Maskun Iskandar

===================================

Pokok bahasan:

  1. Sosok Redaktur

===================================

Seorang wartawan memperoleh berita dari kepolisian. Ada perampokan di taksi. Korbannya wanita kaya separuh baya. Sopir taksi menyimpang ke jalan sepi dalam gelap malam. Seperti yang sering terjadi, taksi berhenti. Di sana tiga perampok sudah menanti. Mereka menguras harta mangsanya, termasuk telepon seluler. Korban diikat, mulutnya disumbat, lalu digulingkan ke selokan. Menjelang subuh si ibu ditemukan oleh tukang sayur. Kemudian diantarkan ke kantor polisi. Wartawan memberitakan kejadian ini. Cuma berita kecil. Yang besar justru peristiwa setelah itu.

Sehari sesudah berita itu dimuat tiba-tiba kantor koran itu diserbu oleh puluhan orang. Mereka riuh berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tinju. Sebagian mengamuk merusak mobil dan sepeda motor di halaman. Kaca gedung pecah berantakan bagai dibom teroris.

Di halaman ribut, di dalam gedung tegang. Di ruang rapat para wakil demonstran dan pemimpin surat kabar ramai berbantah-bantahan.

Wakil demonstran menuntut, “Kami minta berita itu diralat. Itu pencemaran nama baik. Saudara harus meminta maaf.”

Pemimpin surat kabar masih bersabar.

Wakil demonstran melanjutkan, “Permintaan maaf itu harus dimuat sehalaman penuh di seluruh surat kabar dan disiarkan di semua televisi.”

Pemimpin koran tersentak. Darahnya mulai mendidih. “Gila!” hardiknya. “Bung, tahu enggak? Berapa harga iklan di surat kabar? Tahu enggak berapa jumlah surat kabar? Tahu enggak berapa harga iklan di televisi? Wiih, bisa bangkrut kami!”

“Kami ‘gak mau tahu. Pokoknya, kalau tuntutan kami tidak dipenuhi, besok kami akan membawa massa lebih banyak lagi.”

“Enak aja! Gini aja. Gimana kalo kita selesaikan secara damai  melalui Dewan Pers.”

Para wakil demonstran saling melirik. Lalu, mereka berunding sambil berbisik-bisik menyoal kata “damai” dan “Dewan Pers”. Keputusannya: mereka menolak. “Kami tidak mau ke Dewan Pers. Dewan Pers pasti memihak pers. Namanya saja pake pers.”

“Bung keliru. Bung tidak tahu fungsi Dewan Pers.”

Pemimpin surat kabar kemudian menjelaskan apa itu Dewan Pers, apa fungsinya, dan apa keuntungannya bila beperkara melalui Dewan Pers. Akan tetapi, para demonstran tetap menolak.

“Oke, kalau begitu,” kata pemimpin surat kabar, “Kita ke pengadilan.”

“Tidak! Pengadilan bertele-tele. Para supir taksi tak ‘kan mau menunggu. Mereka minta ganti rugi sekarang juga.”

Kini giliran pemimpin surat kabar berunding dengan kawan-kawannya.

“Ya, udahlah! Berapa yang Bung minta?”

“Kami minta Rp3 miliar.”

Pemimpin surat kabar kaget. “Busyet! Ini pemerasan! ‘Gak sebanding dengan kesalahan kami.”

Kesalahan? Apa kesalahan surat kabar itu?

Begini: sewaktu memberikan keterangan kepada wartawan, polisi tidak memberitahukan merek taksi. Wartawan mendesak. “Pokoknya milik seorang tokoh penting,” kata polisi, ”tapi jangan ditulis namanya.”

Wartawan tidak menyebutkan nama tokoh itu dalam berita yang ditulisnya. Ia hanya menuliskan inisial.

Ya, cuma inisial. Inisial yang “ini sial”.

Demo sopir taksi

Sial karena pemilik perusahaan taksi mengerahkan para sopir untuk berdemo. Ia marah-marah. “Coba kalian pikir,” ujarnya. “Di Jakarta ini  selain aku, siapa lagi pemilik perusahaan taksi yang berinisial seperti itu. Semua orang tahu siapa yang dimaksud. Semua orang akan bilang, ‘Jangan naik taksi itu. Sopirnya sekongkol dengan penjahat.’ Nah, apa akibatnya? Kita akan bangkrut. Kalian bakalan nganggur. Besok kalian harus demo.”

Massa menyerbu kantor surat kabar itu dengan beringas. Redaktur yang mengedit berita tersebut berdebar-debar menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu. Ia teramat cemas. Terbayang bahwa kariernya akan segera berakhir. Tak habis-habisnya ia menyesali diri, mengapa tidak menghapus inisial tersebut. Padahal malam itu, waktu mengedit, niat sudah ada. Masalahnya hanya karena malam sudah larut. Ia terlampau lelah. Dalam keadaan seperti itu berkali-kali bagian layout berteriak, “Mas! Deadline  sudah lewat!” Akibatnya ia lupa menghapuskan inisial itu. Akibat tersebut berakibat: kantornya hancur, perusahaan harus menguras uang buat para pendemo. Akibat lainnya lagi: sang redaktur dipecat.

1. Sosok Redaktur

Mungkin Anda juga memperhatikan bahwa memang demikianlah nasib redaktur. Bila tulisan yang dieditnya itu bagus, yang dipuji, ya, wartawannya. Jika ada kesalahan, redakturlah yang kena damprat, bahkan dipecat.

Nasib redaktur itu ada persamaannya dengan pelatih sepak bola. Jika kalah, pelatihlah yang salah. Yang menonjol hanya kesalahan. Entah itu salah menerapkan strategi, salah mengukur kekuatan lawan, salah memilih pemain, dan salah lainnya. Kita lupa akan peranan pelatih yang sangat penting. Ia tidak ikut bermain di lapangan, tetapi turut menentukan kemenangan. Begitu pula halnya dengan redaktur. Redaktur juga tidak ke lapangan. Dia tidak turut melakukan  wawancara dan tidak ikut meliput, namun dia yang menggolkan suatu naskah.

Redaktur itu seibarat pengasah intan

Peran redaktur tecermin dari sebutannya: editor atau penyunting. Kata “editor” berasal dari bahasa Latin edere (e = keluar + dare = memberi). Edere berarti menjulang, menyembul, memberitahukan, atau menerbitkan. Adapun kata “penyunting” berasal dari kata “sunting” yang pada awalnya berarti hiasan rambut, seperti bunga, kembang goyang (bunga tiruan, umumnya dari logam, yang bergoyang-goyang), tusuk konde, dan lain-lain. Dengan suntingan membuat rambut menjadi mahkota bagi wanita. Jadi, penyunting itu bertugas memperindah naskah.

Sejalan dengan itu Floyd K. Baskette mengibaratkan redaktur sebagai pengasah intan yang menghaluskan, menggosok, menghilangkan cacat, dan membentuk batu menjadi permata.

Warren K. Agee, penulis buku dan profesor bidang jurnalisme, lebih tinggi lagi menilainya.  Redaktur itu hati nurani surat kabar, katanya.

Menurut kamus, hati nurani adalah hati yang telah mendapat cahaya Tuhan atau perasaan hati yang murni dan yang sedalam-dalamnya.

Boleh juga dikatakan bahwa redaktur itu jantungnya media massa. Jantung itu menentukan hidup dan mati. Letaknya tersembunyi. Besarnya hanya sekepal. Memompa darah 70—80 kali tiap menit. Mengubah darah kotor menjadi darah bersih. Menyalurkan makanan, oksigen, dan zat lainnya bagi miliaran sel yang tersebar di seluruh tubuh.

Marjorie Paxson, seorang penerbit di Amerika Serikat, menggambarkan redaktur sebagai orang yang tahu tata bahasa, ejaan, dan punya perhatian kepada hal yang detail. Seorang perfeksionis. Orang yang dapat mengerjakan tugas-tugas rutin tanpa merasa bosan; orang yang  menggunakan kreativitas dan imajinasinya untuk mengimbangi kerutinan, orang yang berpengetahuan luas mengenai berbagai hal. Orang yang berpikir cepat dan kaya inisiatif, hati-hati, cerdas, serta memahami tugasnya.”

Itulah sosok redaktur secara teoretis.

Anda mungkin menyela, “Redaktur mana yang dimaksud? ’Kan ada editor buku, majalah, film, surat kabar; redaktur foto, film, suara, dan naskah. Nah, apa semua redaktur seperti itu? Jangan dipukul rata, dong!”

Maaf! Saya tak bermaksud memukul [apalagi sampai] rata. Saya hanya belum menjelaskan bahwa yang kita bicarakan di sini terbatas pada redaktur naskah. Lebih terbatas lagi: editor naskah yang mempunyai anak buah. (Bersambung)

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo