Nano Suyatno

Kedaulatan Tanpa Rakyat, Daulat Tanpa Rakyat

(hasil baku mamaki dengan Irwan DW dan Heru Supanji  semalam)

negara ku kamu kita tak tuntas membangun pondasi segala sisi
rakyat dihilangkan kedaulatanNYA
rakyat disingkirkan dari rumah kemerdekaanNYA
ketika uang sebagai landasan kehidupan
rakyat dipaksa bernyanyi himne:

dibuai dibesarkan hutang..
pejabat atau penjahat di ini negeri berkokok kotek sama
mengabaikan halamanhalaman sejarah mencampakkan catatan
dirumah kaum kapitalis hingga sawah ladang luas kehilangan lagu
puncak gununggung pun juga
nenek moyangku bersenandung di haluan kapalNYA
ohhhh pelabuhan cinta dimana alamatMU
beta pintakan pada roch leluhur datuk moyang tetua adat
sebelum zaman menjadi sekarat menjadi laknatNYA
maafkan puan dan puan beta punya negeri tercinta

haruskah aku kamu kita bangkitkan roh sejarah roh segala rohNYA
dari rumah segala rumah dari balik tanah penuh darah harum kusuma
bangsa gugur tanpa tanda jasa nisanpun hanya tertulis IKLHASNYA
punggawa negeri sang pejabat namanya bertahta atas nama siapa rakyat
uang maha berkehendak melintir hingga usus rakyat terkuasai terbeli dengan
harga janjijanji esok hari dilupakan disembunyikan di lacilaci kebohongan

(ilustrasi: Hang WS, Yogya)

beta saratkan pada matahari bulan gemintang masihkah boleh
esuk dan esukNYA lagi betapa beta ingin melihat ibu tersenyum
membiarkan bungabunga kasih sayangNYA
tumbuh subur di ladang jiwa hati anakpinak ibu pertiwi
sahabat semoga ini bukan mimpi  tapi hakNYA

beta pintakan pada roh leluhur datuk moyang tetua adat
sebelum zaman menjadi sekarat menjadi laknatNYA
maafkan puan dan puan beta punya negeri tercinta
beta saratkan pada matahari bulan gemintang masihkah boleh
esuk dan esukNYA lagi betapa beta ingin melihat ibu tersenyum
membiarkan bungabunga kasih sayangNYA
tumbuh subur di ladang jiwa hati anakpinak ibu pertiwi
sahabat semoga ini bukan mimpi  tapi hakNYA

(Tulungagung, 07 April 2012)

Wajah-wajah Menginjak Bayangbayang

demi apa wajahwajah bertebaran dihiruk pikukNYA waktu
menginjak bayangbayang kian tak faham hanya bisu
membeberkan warna warna takdir kah jingga pilu kian tak
retak jantung hati jiwa menimbun pongah merapikan apaapa
dilahap dicerca dibalik tabir kebenaran berwarna tak jelasNYA
Kekasih tambatan hati beta olesiooo sayange
baik tidak baik Tete Manis beta punya cinta

(ilustrasi: Edy Pye, Tegal)

beta terinjak wajahwajah sedangkan bayangbayang itu
bergeliat mengepung di sisi keheningan gagu menarinari
tuanpuan ini kali iramamu tak bisa beta nikmati
sandiwaramu koeno sekalikaliNYA koeno sekali
mesti dipentaskan di persidangan kerakyatan
beta mabokkan  mata telinga mulut hingga muntah.. kan
muak mual berceceran di sepanjang jalan menuju rumahMU
kekasih beta sio sayang sayangee
peluk beta peluk beta peluk cintaMU

Kekasih tambatan hati beta olesiooo sayange
baik tidak baik Tete Manis beta punya cinta
beta mabokkan  mata telinga mulut hingga muntah.. kan
muak mual berceceran di sepanjang jalan menuju rumahMU
kekasih beta sio sayang sayangee
peluk beta peluk beta peluk cintaMU

(Tulungagung, 31 Maret 2012)

Obat dari Desa

(ilustrasi: Fuad Fathir, Surabaya)

alam semesta kesadaran terbacakah oleh ku kau kita kehilangan
pemaknaanNYA terhapus pasti dari saku nurani perih menggurat
membentuk garisgaris kehidupan tanpa arah kepastianNYA
ketika serangga kecil diutus olehNYA wowww para tuhantuhan bingung
nabinabi palsu menjual resep kemanjuran sembari menyebarkan
bisabisa kebiadaban yang melalaikan ramuan cintakasihNYA
ohhhh jelantir van tomcat namamu keren van amerika yha
pantes saja geramanmu merobek televisi bergaung
dari lorong pesing hingga pedestrian kemewahan
geram sang tabib desa menawarkan segala tawarNYA
ramuan jampijampi desa ditolak tidak higienis
ohhhh dasar tuhantuhan van kapitalis
nabi van matrialis
u twee onbezonnen (baca kalian berdua kurang ajar)
jelantir van tomcat mendesirkan angin di segala arahNYA
semua menjadi lupa oarang desa tak perlu tuhan dan nabi
cukup gedebong pisang busuk masalah selesai
jelantir van tomcat ngacir tanpa jejak
betapa semakin malunya seorang aku yang tinggal didesa
dipaksa mengamini penghilangan tradisi budaya kami
padahal ini terus terjadi setiap hariNYA

(Tulungagung, 30 Maret 2012)

Lupa Itu Lupa Apa Lupa

(ilustrasi: Edy Pye, Tegal)

ini lupa aku sajakkan lupa pada lupa
aku lupa sajak  lupa siapa aku siapa diaNYA
selalu mengagnggu lupaku pada sicintaMU
siapa lupa kau dan aku  lupa sajak lupa rasa
senikmat sajak lupa berwajah kaku biru
merah kuning hening sajak lupa
betapa semakin parahnya aku kian lupa
padahal sajak sajak berjajar berbaris
di halaman jiwa halaman kehampaan
di lipatan ketiak hari siapa berani lupa desah
desah wanita mengajak memeras rasa lupa itu
wajahwajah perempuan lupa pada rupa lupa melipat
hasrat memburu lupa cintaNYA itu tak ku lupa
semoga aku tetap lupa pada siapa tak kecuali pun
hanya padaMU aku tak berani lupa

(Tulungagung, 29 Maret 2012)

*) di Desa kami jika orang dikencingi Jelantir/ tomcat cukup diolesi gedebong pisang yang sudah busuk, cepat sembuh dan segera mengering.

Tergusur Gusur Semuanya

tuan.. puan.. silahkan rampok kami
lindas kami pecundangi kami jerat kami dengan
kitab kitab kebohonganmu atau setumpuk rencana
di balik gundukan kebusukan tuanpuan tersenyum
menghitung laba rugi sembari membuang harga diri
di selokan gotgot pedestrian di jalan mana suka meletakkan
bangkai sisa jarahan kemarin hari sebelumNYA
masihkah aku kau kita punya kesabaran dililit talitali
menjerat lehermu ku kita menyerah di bawah pohon pengharapan
seoarang aku akan terus berjalam menyalami matahari
sahabat sejati orangorang pencari maknaNYA

(Ilustrasi: Hang Ws, Yogya)

tuan puan gusur semau tuan puan menggusur
hak segala hak manusiawi membantai si nurani
di lipatan draf silahkan menggusur pijakan tanah pertiwi
tergusur gusur semua hingga jidatmu puas tuan puan
atas nama penghuni negeri di bawah garis kemiskinan
ketika perut menuntut dan akal menjadi mati
haruskah aku kau kami  mengibarkan bendera revolusi
demi sebuah tegak lurusnya negeri pertiwi

disini tergusur gusur semua semau tuan puan
kami hanyalah rakyat yang tersisihkan
tapi kami punya pilihan mengadilimu tuan dan puan
menggantung puan dan tuan di alu alun
kami bisa marah tuan dan puan
tapi kami  memilih jalan kesabaran

masihkah aku kau kita punya kesabaran dililit talitali
menjerat lehermu ku kita menyerah di bawah pohon pengharapan
seoarang aku akan terus berjalam menyalami matahari
sahabat sejati orangorang pencari maknaNYA
atas nama penghuni negeri di bawah garis kemiskinan
ketika perut menuntut dan akal menjadi mati
haruskah aku kau kami  mengibarkan bendera revolusi
demi sebuah tegak lurusnya negeri pertiwi
kami bisa marah tuan dan puan
tapi kami  memilih jalan kesabaran

(Tulungagung, 27 Maret 2012)

Rumah Suryo (baca: Suryowijayan)

(ilustrasi: Hang Ws, Yogya)

rumah gedheg dan enam anakanak didekap kehangatan cinta ibu
di tengah kota yogyakarta enam anakanak menelusuri nasib di tembok
benteng kraton di empat sudut
berkejaran di alunalun bermain dengan orangorang bule
ohhhh kebebasan mencari jiwa hati di gerbang waktuNya
mengejar asa di ujung rambut do’ado’a emak yha ibu

enam anakanak melingkari jemari waktu
bapak emak melimpahi kasih sayang tanpa cemeti dan belati
dibimbing enam anakanak merajut benang memintal kain asa
menanam bungabunga masa depan
menyirami jiwa dengan mantramantra leluhur
di rumah suryo anakanak memahami maknaNya
dari rumah suryo enam anak melangkah menyalami matahari
tanpa bimbangNya

(Yogyakarta, 0203 1981)

Nano Suyatno –yang juga dikenal sebagai Mbah Giwang– adalah Penyair yang telah merambah dunia sastra lebih dari 31 tahun lalu