Maskun Iskandar

Redaktur Itu Jantung Surat Kabar
Jantung Itu Kerap Berdebar (2)

(Seri 6)


Oleh
Maskun Iskandar

===================================

Pokok bahasan lanjutan:

2. Redaktur sebagai pemimpin
3. Redaktur sebagai penyunting
4. Konsekuensi tugas redaktur

===================================

2. Redaktur sebagai Pemimpin

Editor naskah tersebut dikelilingi oleh tiga kepentingan yang sering tidak sejalan, bahkan bertentangan, yakni antara kepentingan:

  • Narasumber yang opininya disalurkan lewat berita  wartawan,
  • Pemilik media yang lazimnya berorientasi bisnis.
  • Pembaca yang beraneka ragam kebutuhannya.

Seorang wartawan mungkin tanpa beban ketika ia menulis suatu berita. Ia hanya berpikir bahwa ia memperoleh berita bagus.  Lain lagi bagi redaktur. Redaktur akan menimbang suatu berita dari berbagai segi. Apakah itu tidak merugikan bisnis pemilik media. Apakah bertentangan dengan visi, misi, dan kebijakan medianya. Apakah tidak akan dituntut oleh pihak yang merasa dirugikan. Apakah tidak menyinggung perasaan penganut suatu agama.

Jadi, bagus kata wartawan belum tentu baik bagi pembaca, dan belum pasti baik pula bagi pemilik media. Hal ini terkadang menyulitkan bagi redaktur untuk membuat keputusan karena redaktur harus menjaga kredibilitas medianya.

Kemudian dalam struktur organisasi pun, redaktur berada pada posisi tengah, yakni antara pemimpin tingkat atas dan wartawan. Kedudukan seperti itu juga kadang merepotkan. Redaktur acap kali menjadi tumpuan keluhan wartawan. Sebaliknya ia juga menjadi tempat atasan menumpahkan omelan. Misalnya begini:

Seorang wartawan membuat berita tentang balita gantung diri. Polisi mencurigai anak itu dibunuh oleh Rn, ibunya. Rn kesal terhadap suaminya yang kawin lagi. Akan tetapi, si anaklah yang menjadi sasaran pelampiasan kemarahan.

Menurut redaktur, berita tersebut akan lebih menarik, bila wartawan datang ke tempat kejadian. Mengecek apakah keterangan polisi itu benar. Jika mungkin menanyai si ibu, ayah si anak, dan narasumber lain yang kompeten. Mendeskripsikan keadaan rumah dan rumah tangga, menceritakan latar belakang kejadian itu, dan seterusnya.

Wartawan tersebut tidak datang ke rumah keluarga korban. Alasannya: tempat itu jauh. Tak punya lagi uang untuk ongkos naik bus. Hari sudah sore, khawatir tidak sempat mengejar deadline.

Pemimpin redaksi menganggap bahwa itu cuma alasan yang dicari-cari. Katanya, wartawan sekarang malas-malas, manja, banyak omong, banyak tuntutan, tetapi kerjanya payah.

Wartawan mengatakan kepada redaktur bahwa ia sanggup bekerja keras, asalkan kesejahteraan diperhatikan. Pemimpin naik Jaguar, kami berdesakan naik angkot, ujarnya.

Pemilik media senantiasa mengatakan bahwa perusahaannya rugi. Agen banyak yang nunggak dan iklan sepi karena dicaplok oleh televisi.  Adapun wartawan melihatnya dari sudut yang berbeda. Mereka tidak mau tahu kesulitan bos. Dalam keadaan begini, apa yang harus dilakukan oleh redaktur?

Redaktur itu pemimpin. Dia mempunyai anak buah, yakni wartawan dan  koresponden. Bawahannya itu perlu ditingkatkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilannya. Dengan demikian, redaktur berfungsi sebagai pendidik. Mendidik itu berbeda dengan mengajar. Mengajar hanya memindahkan ilmu, sedangkan mendidik bukan hanya memompakan pengetahuan, melainkan juga mengubah perilaku, kebiasaan dan kepribadian peserta didik.

Ki Hajar Dewantara

Misalnya, atasan menilai bahwa wartawan itu malas dan manja. Bila hal ini benar, redaktur harus “… mangun karsa,” kata Ki Hajar Dewantara (Sistem among Ki Hajar Dewantara: ing ngarsa sung tulada, ing madia mangun karsa, tut wuri handayani; ‘di depan memberi teladan, di tengah membina motivasi, di belakang mendorong dengan semangat’).

Karsa itu kehendak. Kehendak itu keinginan dan harapan yang keras. Dengan kata lain, redaktur berkewajiban membina motivasi wartawan, membangun kreasi wartawan, dan arif mengakomodasi hal yang kontradiktif antara atasan dan wartawan. Misalnya, ia harus mengetahui, mengapa wartawan itu malas. Apakah karena gaji kecil, suasana kerja tidak nyaman, kehilangan idealisme, ada ketidakadilan, dll.

Penyebab tersebut mengakibatkan keseimbangan jiwa seseorang terganggu. Dalam keadaan demikian dia memerlukan dorongan untuk berbuat sesuatu. Perlu motivasi, begitu!  Motivasi itu misalnya begini:

Charles S. Taylor, penerbit harian The Boston Globe, di New England, Amerika Serikat, pada tahun 1850 merasa jengkel karena wartawannya sering membuat berita secara ngawur. Data sering salah. Isi berita dikarang-karang. Kadang-kadang subjektif, memasukkan pendapat sendiri ke dalam berita. Untuk mengatasi masalah tersebut, lalu ia membuat ketentuan: pada setiap tulisan harus dicantumkan nama penulisnya. Dengan adanya by-line wartawan menjadi malu bila tulisannya jelek karena namanya akan jelek pula.

Contoh lain tentang motivasi bertebaran di buku psikologi. Ya, psikologi sebab di balik naskah yang dieditnya redaktur berhadapan dengan manusia yang kepentingannya bermacam-macam dan berbeda-beda seperti disebutkan tadi. Redaktur sebagai pemimpin ada baiknya membaca buku psikologi.

 Menurut pakar psikologi, ada empat hal yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin:

©  suportif                                 ©  direktif,

©  partisipatif,                           ©  orientasi prestasi

(House dan Mitchell dalam Sarwono, 1997

Suportif berarti memberikan dukungan. Dalam hal ini membangkitkan semangat para wartawan.

Direktif berarti memberikan pengarahan dan petunjuk bagi wartawan. Umpamanya, dengan membuat petunjuk operasional (term of reference, TOR), kerangka acuan wawancara, outline, dan lain-lain.

Partisipatif: Redaktur itu bukan mandor yang hanya bisa memberikan perintah. Ia harus tahu benar bidang pekerjaan wartawan dan harus terlibat langsung dengan pekerjaan tersebut.

Orientasi kerja: Apa yang dikerjakan bersama wartawan itu harus bermuara pada hasil yang lebih baik, yakni isi tulisan yang lebih dibutuhkan oleh pembaca, teknik menulis yang lebih berkualitas, dan tata wajah yang lebih indah.

Pakar lain menyebutkan pemimpin itu harus kreatif, gigih, adil, berani, luwes, jujur, disiplin, rasional, teliti, hati-hati, arif, dan lain-lain.

Begitu teorinya. Pada praktiknya kadang kita lupa. Jika tidak alfa, tidak akan terjadi demo sopir taksi seperti yang diceritakan di awal tulisan ini. Seorang redaktur mungkin merasa telah arif, teliti, dan berhati-hati. Namun, acap kali sepulang dari kantor ia tetap tak nyenyak tidur. Berdebar-debar setelah menurunkan tulisan. Masalahnya, sering terjadi tragedi yang tidak disangka-sangka. Masyarakat, pejabat, pemuka agama, pemimpin adat, politikus, pengusaha, dan lain-lain kini semakin sensitif. Yang disangka redaktur aman-aman saja, eh, tak tahunya menyinggung perasaan orang lain.

3. Redaktur sebagai Penyunting

Kepemimpinan itu melekat dengan tugas redaktur sebagai penyunting. Tugas pokok redaktur tersebut ialah:

  • Membuat rencana isi untuk rubrik yang dikelolanya.
  • Menyediakan bahan tulisan.
  • Menyunting naskah.
  • Menyajikan penampilan yang menarik.

Ad a. Perencanaan Isi

          Katakanlah bahwa rubrik itu seumpama lahan. Kita tentu ingin agar lahan tersebut produktif. Ingin supaya rubrik yang kita kelola  menjadi rubrik favorit. Dibaca dan disenangi oleh pembaca, sehingga menjadi rubrik andalan bagi media kita.

Hal yang harus diperhatikan untuk mencapainya ialah:

  • Memahami visi, misi, dan kebijakan media kita sebab hal inilah yang menjadi karakter media tersebut. Semua itu ibarat cetakan tempat tulisan diarahkan, dituangkan, dan dibentuk.
  • Mematuhi “style book”, buku panduan yang dibuat khusus untuk suatu media agar ada keseragaman penulisan dan gaya menulis.
  • Mengenali segmen pembaca media. Dengan membuat angket atau cara lainnya, kita dapat mengukur siapa pembaca media kita. Kelompok usia berapa yang terbanyak, di mana umumnya mereka tinggal, apa rata-rata pekerjaan mereka, berapa penghasilan, apa hobinya, dll. Dengan demikian, kita dapat mengira-ngira  apa yang dibutuhkan oleh mereka.

Bertolak dari ketiga hal  itu kita dapat membuat rencana isi rubrik. Umpamanya kita buat dua belas tema pokok dalam setahun dengan mengacu pada visi, misi, dan kebijakan media. Satu bulan satu tema. Tiap tema dipecah-pecah menjadi beberapa topik. Topik-topik tersebut kita jadikan pegangan dalam mengisi rubrik kita.

Ad b. Menyediakan Bahan Tulisan

Setelah rencana tersusun, kewajiban kita berikutnya adalah mengisi rencana tersebut dengan tulisan. Dalam hal penyediaan naskah setidaknya ada dua sumber pasokan.

Pertama, dari wartawan kita sendiri. Wartawan memperoleh bahan tulisan dari hasil liputan dan wawancara di tempatnya bertugas (departemen, pengadilan, kepolisian, dll.).

Kedua, dari sumber luar, misalnya tulisan dari pakar, pengamat, internet, makalah, ringkasan buku, dll. Kita bisa meminta kepada pakar untuk menulis topik tertentu. Dapat pula kita minta kepada wartawan untuk mewawancarai pakar dengan topik tersebut.

Ada kemungkinan kita menyajikan topik yang sudah kita rencanakan sejak semula. Namun, ada kemungkinan pula kita mengetengahkan topik yang sedang aktual.

Topik yang sedang aktual biasanya lebih disukai pembaca. Selain itu pembaca juga lebih menyukai tulisan yang tampil beda, entah itu lebih baru, lebih mendalam, lebih lengkap, lebih jelas, dan sebagainya. Untuk itu adakah Anda terbiasa menugasi wartawan untuk membuat tulisan eksklusif?

Dalam mencari bahan tulisan kita menginginkan agar hal itu dilakukan secara efektif dan efisien. Begitulah, supaya wartawan tidak banyak buang waktu dan buang tenaga.

Untuk itu sebaiknya editor membuat petunjuk operasional (TOR) atau kerangka acuan wawancara. Panduan bagi wartawan dalam melakukan peliputan dan wawancara ini berisi: ringkasan informasi awal, permasalahan, topik, angle, daftar calon narasumber, deadline, dan daftar pertanyaan pokok untuk masing-masing narasumber.

Kadang-kadang ada narasumber yang sukar atau tidak dapat ditembus oleh wartawan. Dalam keadaan demikian editor perlu turun tangan sebab editor biasanya lebih berpengalaman, lebih luas pengetahuannya, lebih banyak relasinya, lebih senior, dan lebih dipercaya.

Ad c. Menyunting Naskah

Menjelang petang atau sore hari wartawan sudah tiba di kantor surat kabar. Mereka membawa bahan tulisan hasil wawancara atau liputan. Wartawan biasanya langsung saja menulis, tanpa membuat ragangan (outline) terlebih dulu. Jika berita yang ia tulis itu mudah dan sederhana, ya, bisa saja ia langsung menulis.

Kebiasaan menulis tanpa rencana tersebut akan merepotkan redaktur ketika menyunting. Anda tentu sering menjumpai tulisan wartawan yang:

<  Tidak jelas tujuannya apa dan arahnya akan ke mana,

<  Topik tidak spesifik. Terlalu umum dan kadang ada beberapa topik sekaligus.

<  Struktur tidak teratur. Loncat dari satu masalah ke masalah lain, lalu kembali lagi ke masalah semula, sehingga pembaca bingung mengikuti jalan pikiran penulis.

<  Informasi diulang-ulang. Sudah disebutkan di atas, ditulis kembali di tempat lain.

<  Materi intro tidak menarik. Hal yang menarik justru ada di tengah atau di akhir tulisan.

<  Dan lain-lain.

Semua itu mungkin tidak akan terjadi seandainya ia membuat outline terlebih dahulu. Bila redaktur memandu wartawan membuat outline, tentu redaktur tidak akan repot mengedit. Repot karena tulisan tanpa perencanaan seperti itu harus ditulis ulang (rewrite).

Teknik menyunting akan kita bicarakan secara khusus. Baik itu tentang cara menyunting maupun permasalahan-permasalahan apa saja yang sering kita jumpai ketika menyunting. Silakan baca “Menyunting Itu Membosankan, Tetapi Juga Menyenangkan”

Ad d. Menyajikan Penampilan

Selain menyunting, redaktur juga berkewajiban untuk menampilkan naskah-naskah yang telah dieditnya itu tampil menarik di medianya. Untuk itu ia bekerja sama dengan dengan rekannya (redaktur pelaksana, fotografer, ilustrator, staf artistik, dll.).

Redaktur juga berkewajiban mengatur komposisi isi, terutama untuk isi rubrik yang dikelolanya. Komposisi itu ialah keseimbangan antara tulisan yang berat dan yang ringan, yang menarik dan kurang menarik, yang berilustrasi dan yang tidak, dst.

Di samping itu juga menjaga agar tidak ada tulisan ganda. Sering kita lihat di suatu media ada tulisan yang sama atau bersamaan isinya terdapat dalam satu edisi, meski kadang-kadang berbeda halaman, atau tulisan yang sama sudah dimuat pada edisi sebelumnya.

4. Konsekuensi Tugas Redaktur

Stres? Itu risiko biasa

Tiap jabatan dan pekerjaan membawa konsekuensi. Konsekuensi tugas redaktur antara lain:

  • Tetap tenang, meski tegang Redaktur bekerja dalam suasana tegang dan tergesa-gesa terutama dikejar “hantu” deadline. Naskah yang harus diedit menumpuk, sedangkan tenggat (deadline) kian mendesak. Namun, dalam keadaan demikian dia dituntut untuk sanggup tetap tenang.  Biarlah berlelah-lelah daripada harus menanggung risiko belakang hari. Ya, seperti kejadian demo sopir taksi itu.
  • Sabar dan bugar. Pekerjaan mengedit itu membosankan. Duduk berjam-jam di ruang tertutup. Mata terus-menerus menatap monitor. Ini mengundang banyak penyakit. Meski masih muda kadang-kadang redaktur itu sudah berkaca mata baca. Jangan heran pula bila sang editor sering terganggu pencernaannya. Stres? Jangan dikata, itu risiko yang biasa ia derita. Soalnya, acap kali redaktur itu gemas karena yang ditulis oleh wartawan jauh dari harapannya.  Redaktur memang dituntut untuk sabar dan tetap bugar, walau jantung kerap berdebar.
  • Kerja sama. Penerbitan pers adalah produk kerja sama. Oleh sebab itu, redaktur harus pandai-pandai menjalin kerja sama bukan hanya di selingkup redaksi, melainkan juga dengan bagian iklan, pemasaran, promosi, dan lain-lain.
  • Berilmu dan berpengalaman. Seseorang diangkat sebagai redaktur karena luas wawasan, dalam pengetahuan, dan banyak pengalamannya. Tanpa itu tidak akan tampil tulisan yang baik karena redaktur harus menambal di sana sini pada tulisan yang dieditnya. Ilmu dan pengalaman juga sangat berguna tatakala ia membuat perencanaan.
  • Berjiwa pendidik. Redaktur berkewajiban membimbing wartawan. Oleh karena itu, ia harus berjiwa pendidik. Mendidik adalah mentransfer ilmu dan mengubah perilaku, kebiasaan, dan kepribadian. Misalnya, mengubah kebiasaan wartawan yang umumnya bekerja tanpa perencanaan, baik dalam mencari bahan tulisan maupun ketika membuat tulisan.
  • Mencintai bahasa. Sebagian besar pekerjaan mengedit itu memperbaiki bahasa. Konsekuensinya redaktur harus mencintai bahasa dan mahir berbahasa.
  • Kreatif dan kaya inisiatif. Bisnis media adalah jasa melayani masyarakat. Masyarakat itu dinamis. Redaktur harus selalu memantau masalah yang sedang berkembang, yang sedang digemari,  dan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk itu diperlukan redaktur yang kaya inisiatif  dan kreatif.

Tidak ringan memang tugas dan kewajiban seorang redaktur. Tugas pokoknya memang hanya mereparasi naskah, tetapi tugas ikutannya banyak sekali, konsekuensi dari tugasnya itu tidak ringan, dan risikonya berat. Salah sepatah kata saja dapat membuat jantung berdegup. Misalnya lupa mencoret inisial pemilik perusahaan taksi, ternyata akibatnya fatal. Namun, salah itu sekolah. Kita bisa belajar dari kesalahan kita dan orang lain.

=============================================================================================

Daftar Pustaka

Agee, Warren K., “Tinjauan Soal Menyunting”,  Pedoman untuk Wartawan (Handbook for Third World Journalism), editor Albert L  Hester dan Wai Lan J. To, terj. Abdullah Alamudi, USIS, Jakarta, 1992.

Baskette, Floyd K. et. al, The Art of Editing, edisi ke-4, Macmillan Publishing Co. New York, 1982

Ensiklopedi Nasional Indonesia, PT Cipta Adi Pustaka, Vol 4, Jakarta 1989.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003, edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka.

Sarwono, Sarlito Wirawan, Psikologi Sosial, jilid II. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, 1997.

Webster’s Students Dictionary, American Book Company, New York, 1962

=============================================================================================

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo