Maskun Iskandar

Menyunting Itu Membosankan,
Tetapi Juga Menyenangkan
(1)

(Seri 7)


Oleh
Maskun Iskandar

===================================

Pokok bahasan:

  1. Karakter redaktur
  2. Tolok ukur naskah layak muat

===================================

Ada 41 orang yang dibawa ke rumah sakit, termasuk enam orang yang meninggal. Di Garut saja setidaknya ada sembilan orang yang meninggal dunia, namun sebagian tidak melapor dan tidak juga dibawa ke rumah sakit.

Seorang redaktur  koran Jakara tertegun ketika mengedit naskah yang ia terima dari korespondennya di Garut, Jawa Barat. Koresponden tersebut melaporkan bahwa kemarin terjadi gempa dahsyat di Garut, Tasikmalaya, dan sekitarnya. Rumah roboh. Tiang ambruk. Genting pecah berantakan. Tembok berguguran. Korban bergelimpangan. Ada yang tergencet. Ada yang tertimbun reruntuhan. Puluhan orang menderita luka berat, sebagian di antaranya tewas.

Nah, pada saat membaca jumlah orang yang meninggal, redaktur itu bingung.

Dalam berita yang ditulis oleh koresponden itu pada kalimat pertama disebutkan, Ada 41 orang yang dibawa ke rumah sakit, termasuk enam orang yang meninggal.”  Anehnya pada kalimat kedua dikatakan, Di Garut saja setidaknya ada sembilan orang yang meninggal dunia….”

Gempa di Garut

Mestinya angka pada kalimat pertama lebih besar ketimbang pada kalimat kedua. Manakah yang benar, angka enam pada kalimat pertama atau sembilan pada kalimat kedua?  Membingungkan, bukan?

Saat meneruskan membaca kalimat kedua, mendadak redaktur itu terkakak-kakak. Silakan Anda simak, Di Garut saja setidaknya ada sembilan orang yang meninggal dunia, namun sebagian tidak melapor….”

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, redaktur itu bergumam, “Wah… wah… wah! Orang meninggal dunia… disuruh melapor.”

1. Karakter Redaktur

Begitulah seni menyunting. Saat mengedit hati ini kadang-kadang merasa gemas, geram, gusar, jengkel, jemu, bahkan marah. Akan tetapi, ada kalanya menyunting itu juga mengasyikkan dan menyenangkan.

Mengapa terjadi perbedaan suasana hati seperti itu?

Pertama, karena tabiat redaktur itu majemuk. Redaktur juga manusia. Karakternya berbeda-beda. Beraneka warna seperti mozaik.

Kedua, karena naskah yang diedit oleh redaktur itu amat variatif. Berbeda-beda tingkat kesulitannya dan berlain-lainan jenis kesalahannya. Contoh-contoh mengenai hal ini nanti akan saya tunjukan. Sekarang saya akan bercerita dulu tentang karakter redaktur.

Ketika menjadi wartawan, saya pernah mempunyai redaktur yang tidak sabaran. Dia tidak pernah mau menunjukkan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh wartawan.  Jika ada tulisan wartawan yang banyak salah, ia akan melambaikan tangan memanggil wartawan tersebut.

Kali ini yang ia panggil itu wartawan yang baru pindah dari koran lain dan belum kenal watak redaktur tersebut.

“Kamu ke sini! Ya, kamu!” ujar redaktur.

Si wartawan menghampiri sambil terbungkuk-bungkuk ketakutan. Dia meraih sandaran kursi hendak duduk, tetapi Pak Redaktur menghardik, “Siapa suruh kamu duduk?”

 Selang sebentar redaktur itu dengan nada datar bertanya, “Sudah berapa lama kamu jadi wartawan?”

“Hampir tiga tahun, Pak!”

“Apa katamu? B a p a k? Apa aku ini bapakmu, hah!”

“Maaf… Mas!”

“Mas… mas… mas…. Apa aku orang Jawa, dipanggil mas?”

Lutut wartawan gemetar seakan berhadapan dengan guru killer.

“Heh! Apa di koranmu dulu kamu tidak diajari nulis?”

“Diajari….”

“Diajari? Ini tulisan, apa benang kusut? Ini tulisan, apa salak mentah?”

Wartawan diam saja menunduk.

“Heh, lihat sini!” kata redaktur sambil mengacungkan naskah wartawan tersebut. Naskah dijepitnya dengan empat ujung jarinya. Kedua jempol dan telunjuk saling mendekat tepat di tengah bagian atas kertas. Sekejap kemudian ibu jari dan telunjuk kanan pelan memilin kertas tersebut.

Wartawan ternganga. Ia menanti apa yang akan terjadi.

Kini kertas itu bukan hanya dipilin, melainkan juga—sreeekkk—dirobek sampai terbagi dua.

Bunyi  “sreeekkk” itu tidak keras, tetapi pasti hati wartawan serasa diiris. Apalagi kemudian sobekan kertas tersebut  dilemparkan ke muka si wartawan. Lalu, disusul dengan omelan.

Sakit hatikah para wartawan diperlakukan seperti itu? Pada awalnya, ya. Namun, kami berpikir bahwa ini salah satu di antara berbagai cara pemimpin menjatuhkan mental lawan. Ada yang mengolok-olok dengan mengata-ngatai wartawan “orang udik”. Ada juga yang sinis, seperti tokoh wartawan Rosihan Anwar. Akan tetapi, di sebalik itu hati mereka baik.

Saya banyak belajar dari redaktur “killer” tersebut. Saya terdorong untuk mempelajari tulisannya. Ia memang penulis hebat. Cerdas. Bahasanya lincah dan berdaya getar. Kata-katanya sederhana, tetapi meresap dan imajinatif.  Sewaktu saya membaca laporannya tentang Perang Vietnam, wuih, asyik benar seakan membaca novel pemenang Nobel.  Anak didiknya tersebar di berbagai koran dan majalah dan umumnya mereka menjadi orang penting.

Lain lagi sewaktu saya bekerja di suatu harian sore di Jakarta. Redaktur saya itu sangat teliti. Membaca naskah tidak cukup satu kali. Titik koma dia perhatikan betul. Perfeksionis. Ia juga mengetahui banyak hal, gemar membaca, sampai-sampai komik anak-anak pun dilalap pula. Ia dijuluki “Ensiklopedi Hidup”. Salah satu kebiasaannya yang mengesankan dan mungkin jarang dilakukan oleh editor lainya, yakni mengajak ngobrol wartawan.

Wartawan diminta bercerita tentang berita yang diperolehnya. Ditanya apa yang menarik dari berita itu, apa keistimewaannya, dan lain-lain.

Mengapa kebiasaan itu mengesankan?

Wartawan biasanya menulis tanpa perencanaan. Seketika tiba di kantor ia langsung mengetik. Lalu, tanpa dibaca lagi naskah segera diserahkan kepada redaktur. Akibatnya? Ya, akibatnya kacau seperti berita gempa itu tadi.  Contoh-contoh lainnya akan saya beberkan nanti.

Dengan mengajak ngobrol, wartawan biasanya terilhami untuk memilih topik tulisan, memilih intro, kadang judul, dan mengetahui materi apa yang harus dan yang tidak perlu ditulis. Dengan obrolan tersebut juga separuh pekerjaan menulis sudah terselesaikan. Wartawan lebih lancar saat menulis dan redaktur pun tidak terlalu repot ketika mengedit.

Redaktur itu (kini sudah almarhum) mengajari saya membuat tulisan secara lengkap. “Coba Bung perhatikan pers Barat,” katanya. “Mereka selalu menyertakan latar belakang pada berita yang mereka buat, sedangkan kita umumnya tidak.”

Suasana di ruang redaksi

Saya juga belajar ketelitian (walau ini tidak mudah saya laksanakan). Ia berpesan, “Baca kembali tulisan sebelum diserahkan kepada redaktur. Jangan sampai ada salah ketik, meski satu huruf pun. Lain ‘kan artinya bias dan bisadaerah dan darahlokal dan loyal, event dan even.”

Jika tidak teliti mengedit naskah, terjadilah hal seperti ini: Wartawan bermaksud menulis, “Dua kali ia menyurati suaminya yang selingkuh….”, tetapi yang tertulis,  “Dua kali ia menyunati suaminya yang selingkuh….”

Selain yang galak dan yang baik seperti itu, tak jarang pula kita menjumpai redaktur yang angkuh. Mereka itu sadar benar akan kekuasaan dan kedudukannya yang lebih tinggi daripada wartawan. Di samping itu ada pula redaktur yang berpolitik membelah bambu: menginjak yang di bawah dan mengangkat yang di atas. Hal ini biasanya menjadi sumber konflik antara redaktur dan wartawan.

2. Tolok Ukur Naskah Layat Muat

Baik. Kini mari kita bicarakan masalah kedua, yaitu problem dan tingkat kesulitan naskah yang kita edit.

Sekaitan dengan itu ada tiga hal yang akan kita perbincangkan:

  • Pertama, tolok ukur naskah layak muat.
  • Kedua, permasalahan-permasalahan dalam menyunting.
  • Ketiga, contoh-contoh penyuntingan.

Tolok ukur naskah layak muat merupakan panduan untuk  menilai suatu naskah.  Faktor penentu naskah layak muat ada tiga, yakni:

  • Visi dan misi
  • Segmen pembaca
  • Kualitas tulisan

Ad 1. Visi dan Misi

Saya tidak ingin muluk-muluk mendefinisikan visi dan misi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa visi itu sesuatu yang diinginkan, sedangkan misi adalah kewajiban yang harus dikerjakan. Selain itu ada juga kebijakan perusahaan. Visi biasanya dicantumkan di bawah logo. Visi dijabarkan menjadi misi dan kebijakan perusahaan.

Ketiganya seibarat sungai. Adapun tulisan seumpama air. Sungai itu membatasi dan mengarahkan ke mana air akan menuju. Kadang berkelok, kadang bercabang, ada yang dialirkan ke irigasi petani, dibendung menjadi waduk yang multiguna, dan sebagainya. Tiap batang sungai mempunyai alur sendiri  untuk mencapai muara.

Visi, misi, dan kebijakan tersebut juga merupakan jiwa yang membentuk karakter suatu penerbitan. Karakter itulah yang membedakan dengan penerbitan lain. Lain cara menulis, lain cara menyajikan tulisan, dan lain pula pembacanya.

Umpamanya begini: Seorang tokoh diisukan terlibat skandal seks. Beberapa surat kabar getol sekali menyiarkan gosip tersebut, bahkan fotonya direka-reka agar seolah-olah benar. Koran lain memuatnya sebagai berita kecil yang seakan-akan bukan berita penting. Koran lainnya lagi sama sekali tidak menyiarkan. Semua itu menunjukkan karakter media masing-masing.

Contoh lainnya: sikap media tentang konflik antaragama, pertentangan antarsuku atau antaretnis, pendirian menyikapi suatu kasus politik, dll.

Jadi, salah satu patokan untuk menilai suatu naskah layak muat atau tidak, ya, visi, misi ini, ditambah lagi dengan kebijakan perusahaan. Akan tetapi, hal ini tidak berarti naskah yang berlainan—bahkan bertentangan dengan visi, misi, dan kebijakan pimpinan media—tidak boleh dimuat. Contoh:

Hans Bague Jassin

Dulu, sekitar tahun 1970-an, terjadi kasus yang menghebohkan. Ketika itu majalah Sastra memuat cerita pendek tulisan Ki Panji Kusmin, “Langit Makin Mendung”. Cerpen tersebut dituduh menghina agama (Ada cerita malaikat kelayapan di tempat pelacuran Planet, Senen, Jakarta). Pemuda-pemuda Islam demo. Majalah Sastra diadukan ke pengadilan.

Pemimpin redaksinya, H. B. Jassin, belum pernah membaca cerpen itu sebelumnya, tetapi ia yang mempertanggungjawabkan di pengadilan.

Para seniman umumnya bersimpati kepada Pak Jassin, termasuk Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya, Mochtar Lubis.  Mochtar Lubis tidak pernah melarang wartawannya menulis berita yang tidak sejalan dengan keinginannya itu. Misalnya, di harian tersebut dimuat juga wawancara dengan Buya Hamka yang tidak memihak kepada Pak Jassin. (Bersambung)

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo