Meliuk Anggun di Atas Es dengan Jilbab

Zahra Lari
dari Abu Dhabi

(Dikutip dari Jurnal Nasional, 20 Apr 2012)

SEMENTARA pemakaian jilbab dalam olahraga sepak bola perempuan masih diperdebatkan, dalam olahraga ice skating seorang perempuan Uni Emirat Arab bisa unjuk kebolehan dengan tetap mengenakan jilbab. Berbeda dengan FIFA yang masih melarang jilbab, dalam olahraga yang melombakan keindahan meluncur di atas es ini jilbab tidak dilarang.

Zahra Lari, yang masih berusia 17 tahun tercatat dalam sejarah menjadi satu-satunya perempuan dari Arab yang ikut lomba ice skating lingkup internasional. Seperti dikutip AFP, selain itu ia juga menjadi perempuan pertama yang mengenakan jilbab dalam lomba itu.

“Di negaraku perempuan tidak terlalu banyak yang menjadi atlet terlebih ice skating,” kata Zahra setelah mengikuti lomba yang diikuti 50 negara dalam perebutan piala Eropa.

Kala itu ia mengenakan penutup kepala berwarna hitam, sementara pakaian untuk ice skating yang dikenakannya berwarna oranye dihiasi warna merah muda.

Meluncur di ajang internasional,
dengan tetap memakai hijab

“Aku meluncur di atas es dengan tetap memakai hijab, pakaian yang saya kenakan pun sesuai dengan tradisi Islam,” katanya. “Peserta perempuan lainnya sangat baik kepadaku. Menurutku mereka bisa menerima aku dengan baik. Aku tidak pernah punya masalah, mereka sangat terbuka. Ini bukanlah sebuah pameran, namun olahraga dan ayahku setuju.”

Roquiya Cochran, ibunya yang kelahiran Amerika sebelumnya harus beberapa kali meyakinkan suaminya untuk bisa mengizinkan anak putrinya itu ikut perlombaan ice skating.

“Saya harus lebih dulu meyakinkan dia. Pada awalnya dia melihat dengan cara pandang bahwa anaknya menari di depan penonton laki-laki. Namun setelah menyaksikan sendiri, dia bisa melihat betapa cantiknya ia menari di atas es, dan ia menyukainya, ia ingin anaknya bahagia. Dia memakai pakaian tertutup, dia tidak melanggar aturan.”

Zahra menuturkan bahwa kecintaannya menari di atas es dimulai ketika ia menonton film Disney pada umur 11 tahun.

“Aku melihat film Putri Es lebih dari seratus kali, aku sangat suka! Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa itu yang ingin kulakukan.”

Tiga tahun kemudian ia mulai mewujudkan keinginannya dengan bergabung di sebuah klub ice skating di Abu Dhabi, dengan pelatih bernama Noemi Bedo.

“Usia yang baik untuk berlatih bagi skater dimulai pada umur 3 atau 4 tahun,” kata Bedo. “Namun dia sangatlah berbakat, dia sangat kuat dan mampu melompat lebih tinggi dari yang lain. Saya juga percaya (ia mampu melakukannya) di pertandingan olimpiade.”

Maklum, impian Zahra adalah ikut bertanding dalam olimpiade musim dingin. Sejauh ini pencapaian prestasi Zahra tidak terlalu mengecewakan.

Bersiap untuk Olimpiade 2014

“Ini menjadi pelajaran sangat berharga dan aku senang bisa memperlihatkan apa yang telah aku pelajari beberapa tahun terakhir ini,” katanya. “Aku tidak memiliki pengalaman bertanding seperti yang lainnya namun aku merasa harus yakin dan melihat ke depan untuk mengikuti perlombaan di masa-masa mendatang.”

Zahra juga mengatakan, “Untuk Sochi (olimpiade di musim dingin 2014) aku siap 100 persen, aku bisa melakukannya. Selain itu aku akan mencoba untuk olimpiade 2018.”

Untuk mewujudkan impiannya itu, ia disiplin dengan bangun pagi pukul 4.30 pagi, lalu berlatih sebelum pergi ke sekolah.

“Aku sudah di atas es sejak pagi hingga jam 7.30 dan jam 4 sore aku kembali berlatih selama satu setengah jam. Tidak sulit, aku mencintainya, dan aku ingin sukses.”

Zahra selain bertekad untuk sukses lewat olahraga yang dicintainya, ia juga ingin mendorong teman-temannya meraih mimpi yang sama.

“Aku ingin mendorong perempuan-perempuan di Uni Emirat Arab dan Timur Tengah untuk meraih mimpi mereka dan tidak membiarkan siapa pun mengatakan kepada mereka untuk tidak terjun di bidang olahraga, bukan hanya ice skating namun seluruh cabang olahraga.” (Nuswantoro/AFP)