Maskun Iskandar

Menyunting Itu Membosankan,
Tetapi Juga Menyenangkan
(2)

(Seri 7)


Oleh
Maskun Iskandar

===================================

Pokok bahasan lanjutan:

  1. Tolok ukur naskah layak muat (lanjutan)
  2. Problem-problem menyunting
  3. Beberapa Contoh penyuntingan

===================================

Ad 2. Segmen Pembaca

Tiap penerbitan pers mempunyai kelompok pembaca masing-masing. Pengelompokan ini  didasarkan pada:

  • Usia
  • Jenis pekerjaan dan penghasilan
  • Tempat tinggal
  • Hal yang disukai dan tidak disukai
  • Hobi
  • Dll.

Kesibukan Redaktur

Pembaca adalah konsumen yang menentukan suatu tulisan akan dibaca atau tidak, yang memutuskan koran kita akan dibeli atau tidak. Media melayani keinginan dan kepentingan pembaca tersebut. Naskah yang kita edit pun harus disesuaikan dengan kebutuhan pembaca. Misalnya:

Pembaca kita kebanyakan berusia 25—50 tahun. Berpendidikan tinggi. Golongan ekonomi kelas menengah ke atas. Umumnya tinggal di kota besar. Biasanya pembaca seperti ini tidak suka pada tulisan yang mengeksploitasi selera rendah masyarakat, entah itu yang sensasional atau pornografis.

Ad 3. Kualitas Tulisan

Sebagaimana telah dibahas terdahulu kualitas suatu tulisan ditentukan oleh (1) ide, (2) bobot isi, (3) teknik menulis, (4) bahasa.

Contoh-Contoh Penyuntingan

Sebagian—bahkan mungkin sebagian besar—pekerjaan menyunting itu memperbaiki kesalahan berbahasa, selain tentu saja mengubah judul dan intro. Kesalahan berbahasa juga bermacam-macam. Misalnya, penyusunan kalimat, pemilihan kata, pemakaian ejaan (ejaan ialah aturan penulisan huruf, kata, dan pemakaian tanda baca). Berikut beberapa contoh mengenai hal itu:

  •  Menyusun Kalimat

Sebagian wartawan sering tidak memperhatikan penyusunan kalimat. Umpamanya, sering dijauhkan antara subjek dan bagian yang menerangkan subjek, sehingga memungkin pembaca salah tafsir. Silakan Anda baca kalimat berikut ini:

Inflasi merupakan salah satu penyakit dalam dunia perekonomian suatu negara yang sangat menakutkan. Berbagai obat telah diracik oleh para ahli tetapi penyakit ini tidak kunjung pergi khususnya di Indonesia ini.

Adakah yang ingin Anda komentari?

Coba kita simak kalimat pertama, “Inflasi merupakan salah satu penyakit dalam dunia perekonomian suatu negara yang sangat menakutkan.”

Kalimat ini terdiri atas dua pokok pikiran, yakni:

  • Inflasi sangat menakutkan
  • Inflasi merupakan salah satu penyakit dalam dunia perekonomian suatu negara

Keduanya dijadikan satu kalimat menjadi, “Inflasi merupakan salah satu penyakit dalam dunia perekonomian suatu negara yang sangat menakutkan.

Cara menyusun kalimat seperti ini dapat menimbulkan salah paham. Mengapa? Ya, karena antara “inflasi” dan “yang sangat menakutkan” diletakkan berjauhan, sehingga mungkin pembaca tidak mengira bahwa “yang sangat menakutkan” itu “inflasi”.

Yang berdekatan dengan “sangat menakutkan” itu “negara”, sehingga boleh jadi pembaca akan mengira bukan “inflasi yang sangat menakutkan”, melainkan “negara yang sangat menakutkan”.

Anda tentu sering menjumpai cara penyusunan kalimat seperti itu. Berikut cara penyusunan lainnya:

Sebuah surat kabar Jakarta menurunkan headline dengan intro sebagai berikut:

Ketua Mahkamah Agung mengatakan tuduhan adanya persekongkolan atau kongkalikong, permufakatan rahasia untuk tujuan palsu atau curang sebagaimana dikemukakan oleh Tuada Pidum bersumber pada dukungan surat anonim yang diterima oleh Pembantu Rumah Tuada Pidum yang diserahkan oleh seseorang dan mengaku dari Yayasan Gandhi Seva Loka.

Kita tidak dapat segera menangkap maksud si penulis karena ada beberapa hal yang mengganggu. Pertama, istilah hukum: persekongkolan, kongkalikong, permufakatan rahasia untuk tujuan palsu atau curang. Bagi penegak hukum penyebutan istilah-istilah tersebut sangat penting. Bagi pembaca koran malah bikin pusing. Jadi, pilih salah satu saja, misalnya persekongkolan.

Kedua, pada berita itu tidak dijelaskan persekongkolan apa dan siapa yang bersekongkol.

Ketiga, di situ ada akronim yang tidak populer, yakni Tuada Pidum. Seharusnya dijelaskan kepanjangan Tuada Pidum pada alinea berikutnya.

Keempat, kata “dukungan” surat anonim. Apa yang dimaksud dengan “dukungan”?

Mungkin penulis berita tersebut ingin mengatakan bahwa tuduhan persekongkolan itu didasarkan pada—bukan dukungan atas—surat  kaleng.

Begitukah?

Belum tentu. Redaktur tidak boleh main tebak. Panggil wartawan yang menulis berita itu. Tanyakan apa yang ia maksud.

Kadang-kadang kita tidak sempat menanyakan kepada wartawan karena ia sudah keburu pulang. Ini tidak boleh terjadi. Wartawan harus menunggu. Soalnya, bila ada ketidakjelasan seperti itu dan redaktur meloloskan berita itu bergitu saja, maka kredibilitas media kita dipertaruhkan.

Berikut contoh lain cara wartawan membuat tulisan:

Sebagian wartawan ingin membuat tulisan yang indah.  Di Riau ada satu tabloid yang menyiarkan berita pencemaran Sungai Siak karena banyaknya sampah, sehingga sungai tersebut dijuluki “Got Raksasa”.  Silakan Anda baca kutipan intro berikut:

Sungai Siak di Riau

Begitu hari berpacu dengan cepatnya zaman, tatkala itulah bola kehidupan bergulir,  dan kini bola itu berada pada pandangan mata yang paling dekat. Sungai Siak, itulah nama yang tak jauh dari pendengaran masyarakat Riau, meskipun tak jauh kadang-kadang sungai ini begitu asing dan selalu dicuaikan.  Mungkin kalau sungai itu bisa berbicara, ia akan berkata,  “Wahai masyarakat Riau, tolonglah daku. Tak sanggup rasanya menanggung semua derita ini.” Dan untungnya ia tak bisa berbicara sehingga tak membuat malu dan membuat merah telinga orang Riau.

Di dunia jurnalistik telah lama kita mengenal gaya penulisan literary journalism  atau jurnalisme sastra. Sastra mengutamakan keindahan. Namun, indahkah ini?  Sesuatu itu indah bila menyentuh dan menggugah hati. Saya merasa ini seperti riasan yang menor, bedak tebal dan gincu merah menyala. Hemat saya, tulisan itu melebih-lebihkan hal yang tidak perlu. Yang pokok malah tidak ditulisnya, yaitu Sungai Siak telah tercemar berat.

  • Penulisan Angka

Problem penyuntingan lainnya ialah penulisan angka. Penulisan angka bisa menjemukan, tetapi dapat pula mengesankan.

Yang membosankan ialah bila banyak angka ditulis berdekatan. Contoh:

Jumlah penduduk Indonesia yang masih buta huruf ternyata cukup besar, mencapai 5,39 juta orang. Jumlah itu terdiri dari 2,80 juta orang usia 10–44 tahun dan 2,59 juta orang usia 44 tahun ke atas. Pada tahun 2003 jumlah penduduk usia 10–44 tahun yang buta huruf, diperkirakan mencapai 3,62% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Diproyeksikan sampai akhir tahun 2010 masih terdapat 1,6% dari jumlah penduduk Indonesia yang buta huruf sehingga pemberantasan buta huruf butuh waktu lama.

Angka putus SD/MI atau drop out (DO) juga masih tinggi mencapai 702.066 orang dengan perkiraan tahun 2010 masih 547.773 orang. Artinya, selama kurun waktu tujuh tahun dari tahun 2003 sampai tahun 2010 program paket A setara SD baru mampu menekan angka DO sebanyak 154.203 orang atau 23%.

Contoh lain:

Sebuah surat kabar di Lampung membuat judul:

247.487 Anak Terlantar

Angka tersebut ingin menunjukkan betapa banyak anak telantar (bukan terlantar).

Pada tubuh berita disebutkan bahwa jumlah ini lebih dari 49% dari seluruh anak di Lampung.

Saya pikir, untuk judul akan lebih baik bila menggunakan per sen:

49% Anak di Lampung Telantar

Contoh lain:

Wartawan Amerika Serikat, Mitch Albom, menulis berita pembunuhan seorang remaja dengan judul “A Bullet’s Impact”.

Ia memulai tulisan dengan angka yang mengesankan:

One night. One town. One bullet. One kid.

  • Pemilihan Kata

Adakah sesuatu yang ganjil pada kutipan berikut ini?

Pemain-pemain tua ini tetap dipertahankan karena menurut pelatih, mereka punya kelas yang beda. Mengenai bagaimana ia mendapatkan pemain muda lainnya untuk bergabung dengan seniornya ia mengatakan sebelumnya akan ada investasi antar klub.

Apakah Anda menemukan yang ganjil itu?

Ya, benar. Pada kalimat terakhir disebutkan “… akan ada investasi antar klub.”

Tentu saja yang dimaksud oleh wartawan “invitasi” bukan “investasi”.

Pada alinea berikutnya juga terdapat kesalahan:

Menurut pelatih tersebut, tim ini sebenarnya eksisnya sudah lama dan bukan baru pertama kalinya ikut even internasional macam SEA Games.

Bukan sekali dua kali saya menemukan event tertukar dengan even.  Pernah saya mempertanyakan hal ini dalam suatu pelatihan jurnalistik untuk redaktur. Salah seorang peserta menjawab, “Tidak salah karena event kalau diindonesiakan menjadi even. Bukankah export  menjadi ekspor, dan juga yang berujung huruf ‘t’ lainnya.”

Saya balik bertanya, “Apakah start bisa digantikan dengan star?”

Selain itu saya juga pernah menjumpai pemakaian istilah asing lainnya seperti ini:

Spead boat atau speed boat

Pagi hari pukul 6 kami ke dermaga kecil untuk menyewa perahu motor kecil empat orang termasuk pemilik perahu. Walau kecil spead boot ini sangat kencang karna ditunjang dengan mesin merek Yamaha berkekuatan 200 pk.

Andai saja wartawan sudi melihat kamus, ia tidak akan menulis speed boat dengan spead boot.

Di samping itu, yang sering juga terjadi collar (kerah)  tertukar dengan colour. Contoh:

Begitu juga yang terjadi dengan kebencian masyarakat terhadap kasus-kasus lain yang lebih besar, seperti kasus KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), kasus kejahatan kerah putih (white colour crime),

Untung, ya, tidak salah menulis kerah putih menjadi kera putih.

Selain kata atau istilah asing, kata atau istilah Indonesia pun acap kali tertukar. Misalnya, “tolok ukur” menjadi “tolak ukur” atau  “harga beras membubung” menjadi “harga beras membumbung” (bubung = makin naik, sedangkan bumbung = tabung bambu).

  • Ketidaktelitian

Selain malas melihat kamus, sebagian wartawan malas pula membaca naskahnya. Selesai mengetik langsung saja mereka menyerahkan naskah atau file kepada redaktur.  Apa akibatnya? Silakan baca ini:

Herman mengisahkan bahwa sudah sembilan tahun ia menjalani kehidupan sebagai anak jalanan sebelum masuk LP. Menurutnya, ia bahkan mungkin tidak akan mengenal ayahnya lagi. “Kata ibuku, pada waktu  usia empat tahun ayah saya pergi meninggalkan ibu. Kalau sekarang mungkin saya tidak mengenalnya lagi seandainya ia berkunjung ke sini,” ujar Herman yang masuk ke LP tersebut karena mencuri mobil di daerah Cililitan, Jakarta.  

Apakah Anda menemukan sesuatu yang ganjil?

Bila belum, coba baca lebih teliti lagi.

Nah, betul! Yang aneh itu ada pada baris ketiga, “…“Kata ibuku, pada waktu  usia empat tahun ayah saya pergi….”

Siapa yang berusia “empat” tahun?

“… ayah saya….” bukan? Ini ajaib: 4 (bukan empat) tahun sudah menjadi ayah.

Yang ini juga tak kurang “ajaibnya”:

Keunikan daerah Kendawangan ini adalah di semua rumah makan, menu daging yang diolah jenis masakan apa saja bukan terbuat atau berasal dari daging sapi tapi dari daging rusa. Di pasar pun semua pedagang daging yang dijual adalah daging rusa.

Yang “aneh” itu ada pada kalimat terakhir:

Di pasar pun semua pedagang daging yang dijual adalah daging rusa.

Ya ampun, “daging rusa” menjadi “pedagang daging”!

Jika bukan karena ketidaktelitian, tak mungkin terjadi hal seperti ini.

Nah, setelah melihat berbagai contoh editan dari berbagai penerbitan tadi, Anda mungkin akan mengatakan, “Wartawan memang ceroboh.”

Ya, memang benar. Akan tetapi, menurut saya, yang lebih ceroboh lagi itu editornya. Andai redaktur teliti menyunting, ya, tidak mungkin kesalahan itu lolos. Redaktur yang cermat itu bagai dokter menyelamatkan pasien. Jika kita menemukan kesalahan dan kemudian memperbaikinya, dada ini terasa plong. Dan, terasa lebih nikmat lagi karena orang lain tidak tahu bahwa kita telah menjadi penyelamat.

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo