Antara Hadits dan Perkembangan China yang Fenomenal

Oleh Lalu Mara Satria Wangsa

Lalu Mara Satria Wangsa

Saya sudah empat kali berkunjung ke Cina, di awali saat mendampingi Ketua Umum Kadin Indonesia (Aburizal Bakrie) pada 1994. Dulu, begitu turun pesawat di Bandara Internasional Bejing, saya melihat di kiri kanan masih terdapat pohon-pohon (sepertinya perkebunan), tapi ketika tahun silam saya kembali berkunjung pepohonan sudah berganti menjadi gedung-gedung tinggi. Luar biasa, memang.

Baca Komentar Marah Sakti Siregar atas tulisan ini.

(Dan baca juga: Menaranya tempat Mencetak Al-Qur’an)

di Kota Terlarang Beijing

Tidak bisa dipungkiri, kini China telah menjelma menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Bahkan telah menggeser posisi Amerika, sebagai eksportir terbesar di dunia. Selain memiliki surplus simpanan bank terbesar di dunia, cadangan devisa China diketahui juga paling besar di dunia.

Jauh sebelum era modern, jejak sejarah kemajuan China sudah bisa dilacak sejak Zaman Batu sebagaimana analisa para arkeolog dan antropolog. Ribuan tahun sebelum masehi, orang China sudah tahu cara menanam padi, membuat roda, dan bahkan mengenal tulisan.

Tidak heran, hingga sekarang, kata-kata “Carilah ilmu hingga ke negeri China” masih terdengar nyaring, Bukan saja di sekolah-sekolah, namun juga di majelis-majelis taklim. Sementara orang meyakini, kalimat ini diucapkan Rasulullah saw

Benarkah demikian?

Untuk mengukur suatu ucapan dari Rasulullah atau bukan, para ulama mengukur dengan ilmu hadits. Secara kuantitatif hadits terbagi dua, hadits mutawatir dan hadits ahad. Hadits mutawatir diriwayatkan oleh banyak orang, sehingga mustahil untuk berdusta. Sedangkan hadits ahad diriwayatkan oleh beberapa orang saja, bisa tiga orang (hadits masyhur), bisa dua orang (hadits aziz) atau bisa lebih satu orang (hadits gharib).

Di depan makam penyebar Islam

Secara kualitas hadits terbagi tiga, hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhaif. Namun hadits shahih juga terbagi dua, karena hadits itu secara mandiri memang shahih (shahih lidzatihi), atau karena dikuatkan oleh hadits lain (shahih lighoirihi). Begitu juga denganhadits hasan ada dua, karena hadits itu memang hasan (hasan lidzatihi) atau karena saling menguatkan satu sama lain (hasan lighoirihi).

Bagaimana dengan hadits dhaif atau hadits lemah? Dikatakan lemah, bila terdapat dua cacat. Dari sisi periwayat (misalnya, orang yang meriwayatkan hadits tersebut suka berbohong, benar-benar pendusta, suka berbuat fasik atau tidak mencerminkan nilai-nilai islami, dan lain-lain), atau juga cacat pada isi hadits-nya (misalnya bertentangan dengan hadits yang lebih shahih atau bahkan bertentangan dengan Al-Qur’an).

Hadits ‘Carilah ilmu meskipun ke negeri China

Dari sisi periwayat, hadits ini memang banyak dikabarkan banyak orang. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi, Abu Nu’aim, al-Khotib, al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dari Hasan bin Athiyah. Hasan bin Athiyah sendiri menerima hadits ini dari Abu A’tikah Tharif bin Sulaiman. Nah, para ulama hadits kemudian mempersoalkan Abu Athikah ini.

Keindahannya juga menawan para pencari ilmu

Syaikh Ismail bin Muhammad Al ‘Ajlawaniy dan Ibnul Jauziy memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits dhaif, bahkan hadits maudhu’at atau hadits palsu. Imam Bukhori menilai hadits ini munkar, Al-Marwazi menilai hadits ini bathil.

Untuk diketahui, kualifikasi dan penilaian terhadap perawi dari ulama hadits sering berbeda. Tidak heran Al Mizziy menilai, meskipun hadits ini dhaif namun memiliki banyak jalur, sehingga kualitasnya bisa naik menjadi hadits hasan. Begitu juga dengan Al-Dzahabiy, yang bahkan menilai hadits ini shahih.

Dilihat dari sisi isi (muatan) hadits, sebenarnya hadits ini tidak bermasalah. Karena ulama hadits modern, mantan mufti Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, sempat berandai-andai. Katanya, bilamana hadits ini shahih bukan berarti bicara tentang keutamaan negeri China, melainkan terkait dengan kewajiban mencari ilmu. Jadi secara isi, sang mufti, masih membuka peluang bila hadits ini shahih.

Dan secara isi juga, memang, hadits ini tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih atau bertentangan dengan Al-Qur’an. Dengan demikian, lemah atau tidak dari sisi periwayat, namun yang pasti pesan moral ‘hadits’ ini dapat dipakai.

Meninjau Sisi Sejarah

Bila dilihat dari sejarah Islam era Rasulullah saw, saat itu ada dua kekuatan besar yang melingkupi jazirah Arab. Yaitu Kekaisaran Romawi yang cengkeramannya menjamah hingga ke Mesir dan dan sebagaian kawasan Syam (kini Suriah), juga Kekaisaran Persia yang kawasannya berbatasan dengan Irak. Kepada dua raja imperium ini, Rasulullah saw sempat berkirim surat dan mengajak masuk Islam.

di depan salah satu Vihara

Lalu dimana posisi China saat itu? Bila melihat alur sejarah, semasa Rasulullah masih hidup (tahun 571-632 M), China sedang disibukkan konflik bersudara antara kawasan Selatan dan Utara. Namun demikian, pada masa ini seni dan budaya China juga sedang berkembang pesat.

Pada tahun 589, atau ketika usia Nabi Muhammad saw sekitar 18 tahun, konflik saudara di China berakhir dan pemerintahan dikendalikan oleh Dinasti Sui, yang berada di bawah pemerintahan Kaisar Yang Jian, berhasil mempersatukan kembali Cina. Dinasti Sui berkuasa hingga tahun 618,  yang berarti tujuh tahun setelah Rasulullah menerima wahyu kenabian. Meskipun usia Dinasti Sui sangat singkat, namun era ini berhasil membangun Terusan Besar China dan membentuk lembaga negara.

Pada 18 Juni 618, ketika Nabi Muhammad saw berusia 47 tahun dan masih berada di Mekkah, Dinasti Tang menggantikan Dinasti Sui. Kaisar Li, pendiri Dinasti Tang, mulai membangun China. Era ini merupakan zaman kemakmuran dan perkembangan seni dan teknologi China.

Bila melihat sejarah kemajuan China saat itu, tidak mustahil bila kata-kata “carilah ilmu meskipun ke negeri China” memang keluar dari mulut suci Rasulullah saw.

Dengan ukuran dari Syaikh Baz bila hadits itu shahih, maka hadits itu tidak terkait dengan keistimewaan satu tempat, yang dalam hal ini adalah China. Pesan hadits itu adalah kewajiban mencari ilmu, meskipun jauh ke negara orang, yang tidak selalu terkait dengan ilmu agama saja.

Saat ini, Indonesia layak belajar dari kemajuan China. Jangan sampai –karena tidak mau belajar ke negeri orang– sebuah anekdot kelak menjadi kenyatan: China hardware, India software, sedang Indonesia no-ware. Semoga tidak.

Lalu Mara Satria Wangsa kini menjabat sebagai Wakil Sekjen Partai Golkar